
Tak berapa lama kemudian, rombongan Pendekar Sung tiba di penginapan itu. Ketika mereka tiba, pemilik penginapan sedang marah-marah. Dibantu pelayannya, ia membereskan meja dan kursi yang terbalik-balik akibat pertarungan tadi.
“Dasar orang-orang kasar!” gerutu juragan pemilik penginapan kesal.
Kui Fang menghampiri. “Ada apa, Paman?”
Juragan itu menoleh dan tersenyum manakala melihat bahwa yang menyapanya itu adalah seorang gadis yang manis dan ramah. “Tadi ada suami-istri sedang makan. Eh datang rombongan orang kasar mengganggu mereka dan menyerang mereka. Mereka berkelahi dan merusakkan barang-barangku!” adunya.
“Suami-istri?”
“Iya! Padahal mereka kelihatannya orang baik-baik. Mereka menyebut-nyebut Wisma Bambu dan Lembah Nada.”
“Lalu, apa yang terjadi?”
“Mereka berdua dapat dikalahkan. Terus mereka dibawa pergi.”
“Ke mana?” kejar Kui Fang penasaran.
“Wah, itu aku tidak tahu, Nona.”
Kui Fang merasa cemas dan menyampaikan informasi ini pada yang lain.
“Mungkinkah sepasang suami-istri itu ayah dan ibuku?” seru Ouwyang Ping cemas.
“Mungkin saja,” gumam Tuan Chang muram.
Rombongan itu duduk di salah satu meja besar. Mereka terdiri dari: Tuan Chang, Pendekar Sung, Kui Fang, Ouwyang Ping, Sam Hui, Wen Chiang, dan A Nan. Anehnya Fei Yu tidak kelihatan.
“Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mereka?” tanya Ouwyang Ping.
“Tenanglah, Ping-er.” Tuan Chang tersenyum pada gadis yang tengah gelisah itu.
“Mereka tidak akan bertindak gegabah dan melakukan tindak kekerasan terhadap Tuan dan Nyonya Ouwyang. Apa pun yang terjadi, Tuan dan Nyonya Ouwyang merupakan orang-orang yang dihormati di Dunia Persilatan. Lagi pula, nama Tuan Ouwyang Cu masih sangat berpengaruh,” komentar Sam Hui tenang.
“Betul, Ping-er!” angguk Kui Fang kuat-kuat.
Ouwyang Ping terdiam.
“Setelah menikmati makan siang, kita langsung berangkat. Kalau tidak kita bisa kemalaman.” Pendekar Sung mengusulkan.
Yang lain menyetujuinya.
Mereka cepat-cepat menyelesaikan makan siang mereka. Setelah beristirahat sejenak, mereka pun meneruskan perjalanan.
__ADS_1
Ouwyang Ping gelisah sekali. Ia yakin bahwa sepasang suami-istri yang diceritakan pemilik penginapan itu bukan lain adalah ayah dan ibunya. Mengapa mereka datang ke Wisma Bambu? Tidakkah mereka tahu bahwa saat ini berbahaya bagi siapa saja yang menjadi kerabat Chien Wan untuk muncul ke permukaan?
Kui Fang meliriknya. Tanpa mengatakan apa-apa, ia menepuk bahu Ouwyang Ping; menenangkan tanpa kata.
Mereka terus berjalan sampai akhirnya tiba di Hutan Bambu. Tak seorang pun mereka jumpai dalam perjalanan. Agaknya semua orang sudah lebih dahulu pergi ketimbang mereka. Mereka bisa dibilang merupakan rombongan yang datang paling akhir.
Di tengah perjalanan mereka melihat sebuah kuburan.
“Itu...?” tunjuk A Nan.
Kui Fang menyahut, “Itu makam Paman Sung-nya Kakak Wan.”
Pendekar Sung sangat terpukul. Ia bergegas menghampiri makam sederhana itu. Kesedihan melanda hatinya. Ia tahu kakaknya juga tewas dalam peristiwa pembunuhan di Wisma Bambu, namun hatinya masih belum yakin sampai ia melihat dengan mata kepala sendiri. Dan sekarang ia melihat penegasan dari kematian kakaknya.
Pria itu berlutut. “Kakak Cen, ampunilah adikmu yang tidak berbakti ini. Aku tidak pernah mampu melakukan kewajibanku sebagai adik,” ucapnya sedih. “Terimalah penghormatanku.” Ia membenturkan dahinya ke tanah sebanyak tiga kali, sebagai tanda bakti dari saudara muda.
Tuan Chang mendekat dan memegang nisan Sung Cen. “Jangan khawatir, Saudaraku. Beristirahatlah dengan tenang. Mengenai A Ming, aku dan Adik Sung Han akan mencarinya dan menjaganya baik-baik.”
Mereka diam di depan makam Sung Cen selama beberapa lama. Masing-masing dengan pikiran mereka sendiri. Kemudian mereka segera melanjutkan perjalanan menuju Wisma Bambu.
Ketika itu, muncullah beberapa orang pendekar yang rupanya hendak datang pula ke Wisma Bambu. Mereka adalah rombongan pendekar dari selatan, merupakan sahabat-sahabat Tuan Luo semasa hidupnya. Tanpa mengatakan apa-apa, mereka bergabung dengan rombongan Pendekar Sung.
***
Keadaan Ting Ting pun sudah jauh lebih baik. Kadangkala isakannya masih terdengar saat menjelang tidur. Namun kini ia sudah tidak pernah lagi mengutarakan maksudnya untuk bunuh diri. Bahkan usaha bunuh dirinya pun sudah berhenti. Hal ini tentu saja membuat Sen Khang dan Meng Huan lega.
Saat tengah bekerja itulah, ia dikejutkan dengan laporan pelayannya bahwa saat ini berpuluh-puluh rombongan pendekar berada di luar gerbang Wisma Bambu. Mereka menyampaikan maksud mereka untuk menghadiri upacara peringatan 40 hari kepergian Tuan dan Nyonya Luo.
Sen Khang terkejut sekali. Masalahnya ia tidak pernah mengabarkan kejadian yang menimpa keluarganya itu kepada siapa pun. Semenjak kejadian itu, ia dan juga Meng Huan serta Ting Ting tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki mereka keluar dari Wisma Bambu. Jadi bagaimana mungkin mereka tahu peristiwa ini?
Ia keluar dan disambut oleh banyak pendekar yang langsung mendatanginya.
“Pendekar Luo, kami atas nama Partai Kun Lun menyampaikan bela sungkawa!”
“Pendekar Luo, kami perwakilan dari Wu Tang menyampaikan turut berduka cita!”
“Kami dari Hua San mengucapkan bela sungkawa!”
“Kami dari Perkumpulan Garuda Terbang!”
“Kami dari Perkumpulan Tangan Dewa!”
“Kami dari Partai Langit Lembayung!”
__ADS_1
Sen Khang kewalahan menerima begitu banyak tamu yang mengerubunginya dan mengucapkan bela sungkawa. Ia sangat terharu sehingga tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya sanggup merangkapkan kedua tangannya di depan dada dan memberi hormat dengan sepenuh hati.
Meng Huan tiba di dekatnya dan meniru cara Sen Khang.
“Silakan masuk, para pendekar sekalian!” ucap Meng Huan ramah. “Maaf kami tidak sempat mempersiapkan diri akan kedatangan Anda sekalian.”
Para ketua rombongan masuk ke dalam rumah sementara anak buahnya sibuk mendirikan tenda darurat di halaman luar Wisma Bambu.
Walau sempat kebingungan, akhirnya Sen Khang dan Meng Huan dapat menjamu para tamu ala kadarnya.
“Peringatan 40 hari-nya baru akan diadakan besok pagi. Silakan menginap saja di sini, Tuan-tuan. Mohon maaf karena kamar kami terbatas,” kata Meng Huan mengambil alih peran Sen Khang sebagai tuan rumah karena dilihatnya temannya itu hanya bisa terpaku diam.
“Jangan risaukan hal itu, Saudara Chi,” ujar perwakilan dari Hua San.
Tiba-tiba, beberapa orang menerobos masuk dan langsung menghadapi Sen Khang—yang langsung berdiri dengan waspada. Ternyata mereka adalah Pendekar Hua dan beberapa adik seperguruannya. Mereka menawan Ouwyang Kuan dan Sui She.
“Saudara Luo, kami membawa orangtua dari pembunuh keji itu!” kata Pendekar Hua bangga.
Sen Khang pucat pasi melihat Ouwyang Kuan dan Sui She yang tertawan dan didorong ke tengah-tengah mereka semua. Kebencian membara di hatinya. Pandangan matanya membara kala menatap sepasang suami-istri yang kini memandangnya dengan sedih.
“Sen Khang...,” tegur Sui She pedih. Sepasang matanya basah. “Sen Khang, jangan menatap kami seperti itu, Nak....”
Gigi Sen Khang beradu dan menimbulkan suara gemeretak. “Beraninya kalian datang kemari!” geramnya.
“Sen Khang, kami ingin berbelasungkawa. Bagaimana pun kami—“
“Diam!” sergah Sen Khang murka. “Aku tidak mau melihat kalian lagi!”
“Sen Khang!” seru Meng Huan khawatir. Ia tidak mau mereka meributkan masalah ini saat sedang banyak penonton. Disentaknya lengan Sen Khang. “Jangan sekarang.”
Sen Khang membuka mulutnya hendak membentak Meng Huan, namun melihat situasinya seperti ini, terpaksa ia membungkam. Dengan penuh kegusaran, ia berbalik dan meninggalkan mereka semua tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Meng Huan menatapnya putus asa. Lalu ia memberi hormat pada semua pendekar yang hadir. “Harap Anda sekalian mengikuti pelayan yang akan menunjukkan kamar. Mohon maaf atas kejadian ini.”
Para pendekar itu merasa tidak enak hati. Di satu sisi mereka memaklumi kemarahan Sen Khang yang berkobar. Namun di sisi lain mereka juga merasa gundah melihat Ouwyang Kuan dan istrinya yang merupakan orang-orang terhormat diperlakukan seperti pesakitan. Mereka melemparkan pandangan tidak setuju pada Pendekar Hua sebelum mengikuti pelayan.
Pendekar Hua sangat kesal karena tindakannya bukan hanya tidak dipuji, melainkan mendapat tatapan penuh celaan dari rekan-rekannya. Ia langsung mencengkeram lengan Ouwyang Kuan dan istrinya, hendak menyeret keduanya pergi. Namun Meng Huan menghentikannya.
“Maaf, Pendekar Hua. Paman dan Bibi Ouwyang sebaiknya tetap di sini. Aku pribadi ingin bicara dengan mereka.”
Pendekar Hua melotot, namun tidak bisa berkata apa-apa. Dengan gusar ia berbalik dan meninggalkan ruangan.
***
__ADS_1