
Pernikahan akan dilangsungkan pada siang hari menjelang sore. Meng Huan sudah berada di ruang pesta. Ia telah berdandan dengan rapi, tampak sangat tampan dalam pakaian pengantin serba merah. Jalinan kain merah berbentuk bunga diikat di dadanya. Ia tampak tidak sabar lagi menanti kedatangan pengantinnya.
Sementara itu, Ting Ting tengah dirias di dalam kamarnya. Pakaian pengantinnya berwarna merah cerah. Ia tampak cantik sekali saat itu. Untung saja kandungannya baru berusia tiga bulan, jadi tidak terlihat sama sekali dalam balutan gaun pengantin itu. Hiasan kepalanya indah dan berkilau, membuatnya bersinar. Namun sayangnya ia tidak tampak gembira.
Kemurungan ini diperhatikan oleh Ouwyang Ping yang selalu mendampinginya pada detik-detik menjelang akhir masa lajangnya.
“Ting Ting,” tegur Ouwyang Ping.
“Ya?”
“Mengapa kau kelihatan sedih?” tanya Ouwyang Ping. “Apa kau... menyesali pernikahan ini?”
Ting Ting menggeleng. “Kakak Huan begitu baik, mana mungkin aku menyesali pernikahan ini?”
“Lalu?”
“Entahlah,” desah Ting Ting. “Aku merasa tidak enak di sini.” Ia menekan dadanya. “Sepertinya... sesuatu akan terjadi hari ini dan akan mengubah seluruh hidupku selamanya.”
Ouwyang Ping tersenyum. “Tentu saja hidupmu akan berubah selamanya. Sebentar lagi kau akan menjadi Nyonya Chi. Kau bukan lagi Nona Luo yang bisa bersikap sesuka hatimu,” ucapnya menenangkan.
Ting Ting menarik napas. “Mudah-mudahan kau benar.”
“Nah, ayo kita keluar sekarang. Kakak Chi pasti sudah tak sabar lagi,” ajak Ouwyang Ping setengah menggoda.
Ting Ting menurunkan kain merahnya hingga menutupi seluruh wajahnya sampai bagian dagunya. Kain sutra merah itu begitu indah dan halus, dan kelak akan disingkap oleh pengantin pria.
Kedatangan mempelai perempuan disambut oleh para hadirin. Meng Huan menyambutnya dengan lega. Mereka bersisian menuju altar dan meninggalkan Ouwyang Ping sendirian di pintu masuk.
Di altar, duduklah Sen Khang sebagai wali dari mempelai perempuan. Dan karena Meng Huan yatim piatu, Ouwyang Kuan dan istrinya bersedia menjadi wali. Di dekat Sen Khang, duduklah Tuan Ouwyang Cu. Tuan Ouwyang Cu adalah orang pertama yang akan disuguhkan teh kehormatan karena ia merupakan orang tertua dalam keluarga, dan masih bisa dibilang kakek Ting Ting.
Suara pemimpin pernikahan mulai mengalun nyaring.
“Mempelai memberi hormat pada langit dan bu—“
“Hentikan pernikahan ini!”
Sebuah suara menggelegar penuh wibawa memotong perkataan pemimpin pernikahan.
Kontan semua orang yang berada di ruangan itu melihat ke arah pintu, melihat mereka yang masuk dari sana. Mereka bukan lain adalah Chien Wan dan kawan-kawan ditambah A Ming.
__ADS_1
“Kakak Wan! Fei Yu!” Ouwyang Ping berseru heran.
Perkataan Ouwyang Ping tidak digubris oleh Chien Wan. Bahkan Chien Wan sama sekali tidak memandangnya. Pandangan Chien Wan sepenuhnya tertuju kepada kedua mempelai.
Ouwyang Ping memandang Fei Yu dengan heran. Fei Yu tampak menahan kemarahannya dan memandang geram ke arah altar. Kui Fang dan A Nan tampak cemas setengah mati. Namun ekspresi A Ming-lah yang paling membuatnya heran dan khawatir.
“Chien Wan.” Sen Khang berdiri dan menghampiri Chien Wan. Wajahnya tampak kesal. “Ada apa ini?”
Chien Wan tak menggubrisnya. “Meng Huan, sebelum upacara dimulai aku ingin bertanya. Apakah selama ini kau jujur mengenai siapa dirimu?” tanya Chien Wan tajam.
Meng Huan tampak kesal, namun sorot matanya menampakkan kepanikan yang tak pernah ada sebelumnya.
Ouwyang Kuan turun dan menghampiri putranya. Ia agak gusar. “Chien Wan, apa-apaan ini? Kau mengganggu jalannya upacara!”
“Siapa nama ayahmu, Meng Huan?” tanya Chien Wan tanpa mempedulikan ayahnya.
“Ayahku....”
“Ayahmu bernama Chi Kian dan ibumu bernama Ho Chui Lan. Betul, bukan?”
Meng Huan menelan ludah. “Memang benar. Tapi apa hubungannya dengan....”
Meng Huan memandang kesal. “Kau ini bicara apa?” sentaknya.
Ting Ting menyingkap kerudungnya. “Kakak Wan, apa-apaan ini? Mengapa kau tega melakukan ini pada hari pernikahanku?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca menahan malu.
“Karena kami ingin menyelamatkanmu, Ting Ting!” Fei Yu tak tahan lagi.
Ting Ting terkejut menyadari kehadiran Fei Yu.
Meng Huan juga terkejut menyadari kehadiran Fei Yu. Dan orang di samping Fei Yu.
“Chi Meng Huan, kau adalah orang yang bertanggung jawab atas kejadian tiga bulan lalu di Wisma Bambu!” kata Chien Wan dengan suara garang dan mata menyala-nyala.
Berita ini sungguh mengejutkan semua yang hadir di sana.
“Apa?” Sen Khang terperanjat.
“Kakak Wan?” seru Ouwyang Ping dengan wajah pucat.
__ADS_1
Ting Ting tak percaya. “Tidak mungkin! Kakak Wan, kau jangan mengada-ada.”
“Itu benar!” sambar Fei Yu. “Kami punya bukti. Juga saksi!” Ia menarik A Ming ke sisinya. A Ming tak mempedulikan kehadiran orang-orang di sekitarnya. Pandangan matanya menatap Meng Huan dengan dingin.
“Katakan, A Ming. Katakan yang sebenarnya,” pinta Kui Fang mendesak.
A Ming menyibak jubahnya sehingga semua orang bisa melihat perutnya yang membesar. Semua orang terpaku. Terutama Tuan Chang yang hanya bisa membelalakkan matanya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Chi Meng Huan-lah ayah bayiku.”
Semua mata memandang Meng Huan yang tampak sangat terkejut dan pucat, juga panik. “Bo... bohong! Kau jangan sembarangan menuduh! Itu fitnah! Fitnah!” serunya marah. “Kau tak bisa membuktikan kalau itu anakku!”
Wajah A Ming semakin dingin. “Laki-laki keparat! Kau merayuku pada saat aku sedang patah hati. Kau berjanji akan setia padaku. Kau membujukku membalas perlakuan Luo Sen Khang padaku dengan menghabisi keluarganya. Aku sudah memaafkanmu karena telah membunuh ayahku. Tetapi sekarang kau menikahi Ting Ting dan tak peduli padaku dan bayiku!”
Kata-kata A Ming mengambang di udara dan setelah itu sunyi. Tak ada seorang pun yang mampu berkata-kata.
Sen Khang memandang perempuan itu dengan tak percaya. Membalas perlakuannya? Benarkah A Ming membantu menghabisi keluarganya hanya gara-gara ia menolaknya? Begitu mengerikan akibat yang ditimbulkan oleh rasa dendam akibat patah hati!
“Itu tidak benar!” Lagi-lagi Meng Huan membantah. Ia menoleh pada Chien Wan. “Kau tahu bagaimana rasanya difitnah. Tolong jangan biarkan kebencian perempuan ini mempengaruhi otakmu! Semua yang dikatakannya tidak benar!”
“Nama ayahmu Chi Kian. Nama ibumu Ho Chui Lan. Itu benar, bukan?” Chien Wan tak mempedulikan kata-kata Meng Huan.
“Benar! Tapi....”
“Tetapi kau sudah tahu sejak lama bahwa sebenarnya ayah kandungmu adalah Cheng Sam!”
“Apa?!” Kali ini hampir semua orang berteriak kaget. Meng Huan anak Cheng Sam?
“Bo....” Wajah Meng Huan pucat sekali. Kali ini ia tak dapat menyembunyikan sorot cemas di matanya.
“Kau merencanakan semuanya sejak lama, mungkin sejak tahu Cheng Sam ayahmu. Kau merayu A Ming untuk membantumu. Kau serang Wisma Bambu bersama ayahmu dan anak buahnya pada saat semua orang lengah. Kau memiliki bentuk tubuh yang sama denganku, menyamar menjadi aku dan menyerang Ting Ting sehingga dia mengira aku yang berbuat kekejaman itu. Dan tentu saja kau memperkuat kesaksian Ting Ting dengan mengatakan kau diserang olehku hingga terluka. Mungkin kau sendiri yang melukai dirimu saat itu.” Chien Wan berucap tajam.
Ting Ting terhuyung-huyung. Ia merasa amat terpukul. Benarkah hal itu? Apakah Chien Wan tidak berbohong? Jadi yang Meng Huan-lah yang selama ini menjadi musuh dalam selimut!
“Ka... Kakak Huan?”
Meng Huan mengetatkan geraham. Ekspresi ramahnya mengeras membentuk seraut wajah asing yang kejam dan tak kenal ampun. Lalu ia menunduk. Dan tiba-tiba suara tawanya menggelegar memenuhi ruangan.
***
__ADS_1