
Tuan Chang berbaring di atas pembaringannya. Ia merasa sangat tidak keruan. Tubuhnya lemas sekali dan perutnya mual, sedang pandangannya berkunang-kunang. Ia kesal sekali, terutama bila mengingat kekeliruannya selama ini. Ia telah mempercayai orang yang salah dan terlalu keras kepala untuk mau mendengarkan perkataan putranya bahwa Cheng Sam tidak bisa dipercaya.
Sekarang dia harus membayar mahal untuk kekeraskepalaannya itu!
Fei Yu masuk dan langsung duduk di tepi pembaringan ayahnya. “Ayah.”
“Fei Yu....” Tuan Chang menggapai tangan anaknya dan meremasnya lemah. “Sekarang... kau pasti... menertawakanku.”
“Ayah ini bicara apa!” sergah Fei Yu. “Sudahlah, jangan terlalu memikirkan kejadian ini. Yang sudah berlalu ya biarlah berlalu.”
“Tapi sekarang... semua harta benda... milik kita warisan leluhur... telah lenyap. Aku tidak tahu... bagaimana aku... dapat... mempertanggungjawabkan... semuanya di hadapan... leluhur kita saat aku mati... nanti. Semua ini... salahku! Huk! Huk!” Tuan Chang terbatuk-batuk dan memegangi dadanya.
Fei Yu segera mengusap-usap punggung ayahnya, menenangkannya. “Jangan bilang begitu, Ayah. Ini bukan salahmu. Ini salah si Cheng Sam! Awas dia, akan kucincang dia!”
“Salahkulah... dia sampai... punya kesempatan... mengacau...! Salahku... karena mem... percayainya!”
“Ayah, jangan bicara lagi. Yang penting sekarang, Ayah harus segera sembuh. Setelah Ayah sembuh, aku akan pergi dan mencari jahanam itu dan menyeretnya ke sini untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya! Tapi sekarang kita tidak perlu memikirkan itu lagi. Ayah harus melupakan semuanya dan berjuang untuk segera sembuh!” Fei Yu meraih mangkuk obat dari meja dan meniupinya. Ia menyodorkan mangkuk itu ke mulut ayahnya. “Ayah minum obat dulu.”
Mata Tuan Chang berkaca-kaca. Ia menelan obat yang pahit itu dengan susah payah. Sepasang mata tuanya tak lepas-lepas memandangi putranya. Ia sama sekali buta selama ini! Karena terlalu mendengar kata-kata Cheng Sam, ia jadi selalu berselisih dengan Fei Yu. Ia menganggap Fei Yu anak kurang ajar yang selalu membantah orangtua. Ternyata ia keliru! Ia keliru tentang banyak hal. Fei Yu anak yang berbakti, sangat menyayanginya! Cheng Samlah yang durhaka dan tak tahu terima kasih!
“Sekarang Ayah tidur dulu. Aku dan A Nan akan menjaga Ayah.”
“Kau... pasti lelah.”
“Tidak.” Fei Yu tersenyum menenangkan.
Tak berapa lama kemudian, Tuan Chang pun tertidur.
Fei Yu menunggu beberapa saat sampai ayahnya benar-benar pulas. Ia keluar setelah meminta A Nan menjaga. Ia harus bicara dengan teman-temannya tentang langkah apa yang sebaiknya dilakukan.
Ketika ia keluar, ternyata Pendekar Sung beserta beberapa pendekar lain sudah menunggu di sana. Wajahnya agak memerah karena teringat bahwa dulu ia pernah menimbulkan kesan kurang menyenangkan di mata para pendekar itu. Namun ternyata mereka sudah melupakannya. Buktinya mereka mau datang untuk membantunya saat dia dalam kesulitan.
“Fei Yu, kami turut prihatin dengan kejadian yang menimpamu.” Pendekar Sung menghampiri dan menepuk bahunya.
“Terima kasih atas kedatangan Paman dan para pendekar yang lain.” Fei Yu memberi hormat kepada mereka semua. Wajahnya tampak pucat dan letih.
“Kami sudah mendengar ceritanya dari Pendekar Sung,” kata Pendekar Fu. “Sungguh disayangkan kami tidak mendengar tentang kejadian ini. agaknya tak ada satu pun anak buahmu yang mengabarkannya ke Kota Lok Yang.”
“Hampir semua anak buahku berkhianat dan mengikuti Cheng Sam,” beritahu Fei Yu.
“Begitu rupanya,” angguk Pendekar Lei. “Tetapi kau tidak perlu khawatir. Kami sudah mengerahkan anak buah masing-masing untuk mencari kabar keberadaan Cheng Sam. Segera setelah kami mendapat kabar, kami akan saling memberitahu satu sama lain dan melakukan tindakan.”
“Terima kasih, Saudara-saudara sekalian,” Pendekar Sung memberi hormat. “Kami sangat menghargai bantuan kalian.”
“Jangan sungkan. Bagaimana pun Tuan Chang adalah kerabat Anda, Pendekar Sung. Sudah menjadi tugas kita warga Dunia Persilatan untuk saling membantu bila yang lain mengalami musibah,” tukas Pendekar Kam.
Fei Yu tidak bisa mengatakan apa-apa karena terlalu terharu.
Siu Hung mendekati Fei Yu. “Menurutmu kita perlu memberitahu Paman Sung Cen dan A Ming?”
“Jangan,” cegah Fei Yu. “Aku tidak mau mereka menjadi cemas.”
“Jadi kalian tidak pulang bersama rupanya,” sela Pendekar Sung. Kesibukan tadi membuatnya tidak menyadari bahwa Fei Yu hanya pulang bertiga dengan Siu Hung dan A Nan.
“Kami pergi tanpa pamit!” sahut Siu Hung riang.
“Apa?” belalak Pendekar Sung.
Wajah Fei Yu merah padam manakala menyadari kekonyolan sikapnya beberapa waktu lalu. Ia pergi mengajak Siu Hung dan A Nan tanpa berpamitan pada Sung Cen. Tentu saat ini Sung Cen kebingungan memikirkan mereka. “Paman, itu salahku. Aku yang mengajak Siu Hung pulang lebih dulu. Mereka sekarang ada di Wisma Bambu.”
“Wisma Bambu?” Chien Wan mengerutkan kening.
“Panjang ceritanya. Nanti kuceritakan,” kata Fei Yu singkat.
“Tapi ada bagusnya juga kita pulang lebih dulu,” celetuk Siu Hung ringan. “Kalau kita tidak pulang, kita kan tidak akan tahu kejadian ini. Malah jangan-jangan kita terlambat menolong Paman Chang!”
Fei Yu mengangguk keras.
Perkataan putrinya itu membuat Pendekar Sung meringis dan batal memarahi mereka berdua.
***
Seminggu kemudian, keadaan Tuan Chang berangsur-angsur membaik. Pengobatan seksama serta perawatan yang telaten yang dilakukan oleh putranya dan para pelayan telah membantunya mendapatkan kembali kondisinya seperti dulu. Ia menyuruh putranya untuk mendata harta mereka yang hilang, dan mengumpulkan apa saja yang masih tersisa.
Fei Yu bekerja keras mendata kehilangan mereka. Ia dibantu oleh Chien Wan dan Siu Hung yang sementara itu tinggal di sana untuk membantunya. Mereka kehilangan banyak sekali, mulai dari harta berupa persediaan uang emas dan perak, perhiasan-perhiasan berharga yang bertatahkan batu mulia, pusaka-pusaka warisan leluhur, serta kitab-kitab sakti simpanan mereka.
Meski demikian, ternyata ada juga yang tidak sempat dijarah oleh Cheng Sam dan kawan-kawan. Perhiasan-perhiasan peninggalan mendiang ibu Fei Yu masih tersimpan di dalam kotak besar di kamar Fei Yu. Masih ada juga mangkuk-mangkuk besar yang terbuat dari emas dan perak peninggalan leluhur yang agaknya terlalu berat untuk dibawa.
__ADS_1
Dan yang paling melegakan hati Tuan Chang, pusakanya yang paling berharga ternyata tidak ikut terambil. Untung saja Tuan Chang meletakkannya di dalam lemari perlengkapan menyamarnya yang rupanya tidak dilirik sedikit pun oleh Cheng Sam. Pusaka itu berupa pedang yang terbuat dari batu giok. Usia batu giok itu sudah ribuan tahun sehingga kerasnya menyaingi baja.
“Ini pedang pusaka giok, Ayah. Cheng Sam tidak mengobrak-abrik lemari perlengkapan menyamarmu, Ayah. Rupanya dia mengira lemari itu isinya rongsokan semua,” kata Fei Yu.
Tuan Chang menyeringai. “Untung saja. Kalau isi lemari itu diambil, aku akan kesulitan mencarinya lagi. Itu akan kuwariskan kepadamu nanti.”
Fei Yu membelalak ngeri. “Astaga, Ayah! Apa gunanya rongsokan itu bagiku?”
“Rongsokan!” seru Tuan Chang gusar. “Isi lemari itu sangat berharga bagi penyamar ulung! Di dalamnya terdapat berbagai macam pakaian, aksesori, dan semua yang diperlukan untuk mengubah diri menjadi orang lain.”
“Tapi aku ini bukan penyamar,” tukas Fei Yu kalem.
Tuan Chang memberengut. “Terserahlah. Pokoknya jangan biarkan Siu Hung menyentuh lemari itu. Aku bisa pusing jika dia merengek minta diajarkan membuat samaran. Bukannya aku tidak mau mengajari dia. Kau kan tahu bagaimana dia bisa membuat guru-guru yang mengajarinya gila!”
Fei Yu menyeringai. “Terlambat.”
“Maksudmu—“
Kata-kata Tuan Chang terputus oleh serbuan Siu Hung ke dalam kamar Tuan Chang. Kedua tangannya penuh oleh barang bawaan yang diambilnya dari lemari perlengkapan menyamar.
“Paman! Di lemarimu banyak barang menarik! Pasti peralatan menyamarmu, ya? Nanti ajari aku, ya?”
Wajah Tuan Chang memucat.
Fei Yu tertawa dan meninggalkan ayahnya sambil bersenandung pelan.
Ia kembali ke perpustakaan karena ingin mulai mencari-cari lagi. Chien Wan sudah berada di sana dengan beberapa jilid buku di tangannya.
“Ada beberapa kotak yang tidak sempat dibuka Cheng Sam. Aku menemukan ini.” Chien Wan mengulurkan buku-buku itu.
Fei Yu menerima dan memeriksa. Saat membuka salah satu buku, wajahnya berseri. “Ini kitab peninggalan mendiang leluhurku. Kitab Ilmu Pedang Bayangan,” beritahunya. Ia membalik-balik halaman dan kembali muram. “Ini cuma sebagian kecil. Ternyata Kitab Pedang Bayangan terdiri dari lima jilid. Ini adalah jilid terakhir. Empat jilid awal sudah diambil Cheng Sam.”
“Tentu tidak berguna jika hanya empat jilid,” hibur Chien Wan.
Fei Yu menggeleng. “Kau tidak mengerti! Ilmu ini sangat dahsyat. Leluhurku sengaja membaginya dalam lima jilid karena sangat berbahaya jika seseorang langsung mempelajari semuanya sekaligus. Harus dimulai dari satu bagian, baru kemudian berlanjut. Kau tahu, mempelajari bagian pertama saja sudah sangat hebat. Mempelajari empat bagian sama saja membuatnya sesakti ayahku!”
“Ayahmu juga hanya menguasai empat jilid awal?”
Fei Yu menggeleng muram. “Hanya tiga jilid awal. Dan semua itu diwariskan padaku. Ayah baru akan memberiku jilid keempat dan menyuruhku mempelajarinya sendiri sebab Ayah sendiri tidak menguasainya.”
“Kalau begitu kau langsung saja belajar jilid kelima,” usul Chien Wan tenang.
“Jika dia mempelajarinya, berarti ilmu silatnya akan lebih tinggi dari ayahmu. Berarti lebih tinggi darimu.” Chien Wan tercenung.
Fei Yu mengangguk muram.
Chien Wan pun memahami gawatnya situasi ini. Seorang penjahat licik ada di luar sana, dengan kitab ilmu silat tingkat tinggi. Bila Cheng Sam mempelajari ilmu silat itu, betapa kacaunya Dunia Persilatan. Ilmu silat Fei Yu sangat tinggi. Bila ilmu silat Cheng Sam kelak akan lebih tinggi dari Fei Yu, siapa yang akan mampu menandinginya?
Tiba-tiba Chien Wan teringat. “Kau menguasai ilmu pedang, tapi kau kan tidak menggunakan pedang.”
“Aku tidak menyukai penggunaan pedang, jadi aku memvariasikannya dengan menggunakan kipas. Cara memegang kipasku kusamakan dengan cara memegang pedang. Bisa, kok.”
Chien Wan mengangguk-angguk.
Mendadak, datanglah anak buah Fei Yu dengan tergopoh-gopoh. “Tuan Muda!”
“Ada apa?”
“Barusan salah seorang pengawal Pendekar Lei datang. Katanya ada kabar tentang keberadaan Cheng Sam!”
Fei Yu dan Chien Wan langsung berdiri.
***
Pendekar Sung ada di ruang depan. Sejak kedatangannya ke Bukit Merak seminggu lalu, ia memutuskan untuk menginap di Bukit Merak dan membantu Tuan Chang memulihkan keadaan. Bantuannya sangat berguna bagi Tuan Chang dan Fei Yu. Fei Yu memang pemuda yang hebat dan cakap, namun dalam kepengurusan rumah tangga pengalamannya masih kurang. Bantuan Pendekar Sung sangat menolong mereka.
Laporan anak buah Pendekar Lei membuatnya heran.
“Paman, bagaimana?” Fei Yu bergegas menghampiri.
Pendekar Sung menoleh. “Fei Yu, ada hal yang membuatku heran.”
“Apa itu, Paman?”
“Mereka menemukan Cheng Sam muncul di wilayah Hutan Bambu. Tetapi tak ada seorang pun yang bisa memastikan karena hanya sekali saja dia terlihat di sana.”
“Hutan Bambu?” Chien Wan mengernyitkan alisnya dengan bingung.
__ADS_1
“Mau apa dia di sana?” Fei Yu cemberut. Lalu seketika ia tersentak. “jangan-jangan dia punya rencana buruk terhadap penghuni Wisma Bambu!” serunya.
Chien Wan menegang. Betul juga....
Pendekar Sung memandang kedua anak muda itu bergantian. Ia buru-buru menenangkan. “Jangan berpikiran buruk dulu. Mungkin saja pemberi informasi itu keliru. Masalahnya dia hanya sekali terlihat di sana. Bisa jadi yang dilihat itu bukan dia.”
“Tapi waspada tidak ada salahnya!”
“Paman Luo berilmu tinggi dan sangat waspada. Apalagi mendengar ceritamu, di sana juga ada Paman Sung, orangtuaku, Sen Khang, dan Ping-er. Mereka pasti bisa menjaga diri.” Chien Wan menenangkan Fei Yu, sekaligus juga menenangkan dirinya sendiri.
“Bagaimana kalau mereka sudah kembali ke Lembah Nada?”
Chien Wan tercenung memikirkan kemungkinan ini.
“Sebaiknya kita pergi ke sana untuk mengecek!” usul Fei Yu antusias.
Pendekar Sung menyela, “Bagaimana dengan Bukit Merak?”
Seketika Fei Yu tersadar. Tentu saja ia tidak dapat meninggalkan Bukit Merak saat keadaan tengah kacau begini. Ia menggeleng-geleng, tidak tahu harus berbuat apa.
Pendekar Sung berpikir-pikir. “Begini saja, bagaimana kalau kau saja yang pergi, Chien Wan?” usulnya.
Chien Wan menghela napas. “Kupikir juga begitu.”
Fei Yu tidak membantah walau sebenarnya ia sendiri sangat ingin ikut. Bagaimana pun kediamannya harus dipikirkan. Jangan sampai saat ia pergi, Cheng Sam datang lagi! Bagaimana pun, masih ada jilid terakhir Kitab Pedang Bayangan di tangannya. Jika Cheng Sam menyadari bahwa ia kehilangan jilid terakhir, bukan tidak mungkin ia kembali ke Bukit Merak untuk merampasnya.
Apalagi sekarang walau ayahnya sudah mulai pulih, namun kekuatannya belum kembali. Jika ia pergi, Bukit Merak akan kembali lemah.
Maka sudah ditetapkan bahwa Chien Wan akan pergi ke Wisma Bambu.
“Kau harus berhati-hati, Chien Wan,” pesan Fei Yu serius. “Ingat! Yang akan kauhadapi ini Cheng Sam. Kau tidak mengenalnya seperti aku jadi mungkin kau tidak tahu betapa berbahayanya dia! Kalau ada apa-apa, jangan ragu untuk menghubungiku!”
Chien Wan mengangguk.
“Tenang sajalah!” tukas Siu Hung. “Kakak Ouwyang kan hebat sekali!”
Fei Yu mendengus. “Aku tidak bicara soal kepandaian silat! Mungkin ilmu silat Chien Wan memang tinggi. Tapi aku bicara soal tipu muslihat. Cheng Sam jenis orang yang tidak segan-segan menggunakan tipuan untuk mencelakakan orang!”
“Aku tahu,” angguk Chien Wan.
“Dan ingat satu hal, Cheng Sam itu penjilat! Dia paling pintar meyakinkan orang untuk mempercayainya. Kau ingat itu, untuk jaga-jaga seandainya dia berusaha mempengaruhi Tuan dan Nyonya Luo—“
“Fei Yu.”
Panggilan itu membuat mereka semua menoleh. Tuan Chang muncul di ruangan dengan dipapah A Nan.
“Ayah! Mengapa kau keluar?” tegur Fei Yu. Segera ia memapah ayahnya untuk duduk di kursi besar. Tuan Chang menatap sedih.
“Ayah mendengar semuanya. Ayah menyesal karena dulu termakan bujukan Cheng Sam. Ayah....”
“Sudahlah, Ayah. Semuanya sudah berlalu,” hibur Fei Yu.
“Benar, Kakak Chang. Masa lalu tidak usah dipermasalahkan lagi. Sekarang kita harus segera menangkap Cheng Sam supaya dia bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya,” kata Pendekar Sung menimpali.
Wajah Tuan Chang berubah serius. “Ada satu hal yang harus kalian ketahui.”
“Ada apa, Ayah?”
“Selama ini aku sangat mempercayainya sehingga mengizinkannya berada di ruang kerjaku saat aku sedang membuat samaran. Aku khawatir ia mencuri belajar beberapa teknik menyamar. Aku tidak mengajarinya sehingga mungkin saja yang dipelajarinya itu bukanlah teknik yang mendalam. Namun aku merasa saat ini dia juga sudah bisa membuat topeng kulit samaran sendiri. Aku khawatir....” Tuan Chang menghela napas dan menggeleng.
“Anda cemas dia akan menggunakan keahliannya itu untuk menyamar dan membuat onar?” tanya Chien Wan tenang.
“Ya. Dia akan membawa-bawa nama Bukit Merak.”
Fei Yu meninju telapak tangannya sendiri. “Dia tidak akan kuampuni!”
Pendekar Sung yang selalu berpikiran panjang mendadak cemas. “Saat ini dia terlihat di Hutan Bambu. Bukan mustahil dia akan menyamar menjadi seseorang yang mungkin saja dipercaya oleh Tuan Luo. Dan dengan samarannya itu ia akan mempengaruhi Tuan Luo untuk mempercayainya.”
“Kalau begitu, Chien Wan harus tiba di sana secepat mungkin!” tukas Fei Yu. “Dan memperingatkan Tuan Luo bahwa akan ada seseorang yang mungkin saja akan menyamar menjadi salah seorang temannya!”
“Bagaimana jika itu sudah terjadi?” sela Siu Hung penasaran.
“Maka tugasku adalah membongkar penyamarannya,” kata Chien Wan tenang. “Apa yang harus kulakukan untuk mengetahui apakah seseorang menyamar atau tidak, Paman Chang?”
Tuan Chang menghela napas. “Sebenarnya ini rahasia, tapi... baiklah. Jika ada seseorang yang kaucurigai tengah menyamar, lihatlah bagian bawah telinganya tepat di belakang sambungan rahang yang bersambungan dengan telinga. Bila ada lapisan tipis di sana, bisa dipastikan ia sdang mengenakan kulit samaran.”
Chien Wan mengangguk. “Baiklah kalau begitu. Sebaiknya aku berangkat besok pagi-pagi sekali.”
__ADS_1
Kemudian Chien Wan pergi berkemas.
Esoknya, Chien Wan pergi meninggalkan Bukit Merak.