Suling Maut

Suling Maut
Melarikan Diri


__ADS_3

Fei Yu melangkah dengan hati-hati, dan berusaha supaya tak menarik perhatian para penjaga yang tengah menjaga kamar Cheng Sam. Ia bersembunyi sejenak sampai para penjaga itu lengah, lalu segera masuk ke dalam. Pintu kamar Cheng Sam tertutup rapat namun tidak dipalang sehingga mudah baginya untuk menyelinap masuk.


Hal penting yang harus dilakukannya bukan lain adalah untuk mencari suling milik Chien Wan. Sejak Chien Wan mengumumkan kehilangan sulingnya, ia sudah yakin benda itu disimpan Cheng Sam di kamarnya.


Ia mengedarkan pandang ke penjuru kamar. Sesungguhnya sulit baginya mencari suling itu. Ia tak tahu rupa suling itu. Yang diketahuinya, karena namanya adalah Suling Bambu Hitam, sudah pasti suling itu terbuat dari bambu dan berwarna hitam. Ia mendesah kesal karena tak melihat apa pun yang berbentuk suling dan berwarna hitam dalam ruangan tersebut.


Fei Yu mencari di meja, lalu di lemari. Ia mengorek-ngorek isi lemari Cheng Sam. Tetapi tak ada satu pun benda yang cukup penting di sana, apalagi suling. Ia mulai kesal, lalu ia menuju pembaringan Cheng Sam dan mencari-cari di sana. Tetap saja ia tak menemukannya.


Mungkinkah ada tempat penyimpanan rahasia di kamar ini? Atau jangan-jangan Cheng Sam tidak menyimpannya di sini, pikirnya kesal. Kepalanya sudah pusing karena sekian lama mencari tak juga ketemu. Ia menghenyakkan dirinya di atas pembaringan dan merebahkan diri di sana.


“Keras sekali tempat tidur si Cheng Sam!” gerutunya sebal. Ia membalikkan tubuhnya dan mengetuk-ngetuk alas tidur.


Tok tok!


Fei Yu kaget. Papan? Cheng Sam tidur di atas papan? Ia bangkit dengan heran dan menyingkap alas tebal pembaringan itu. Matanya menyipit. Ternyata di balik alas tebal terdapat lapisan kayu yang menjadi dasar. Sambil cemberut, ia menelusuri papan itu. Matanya yang tajam melihat bahwa ternyata papan itu tidak mulus. Pada bagian tengahnya ada bagian berbentuk kotak yang warnanya berbeda dengan bagian lainnya. Ternyata bagian itu adalah tempelan karena ada celah setipis ujung pisau pada sisinya.


Ia mengeluarkan kipasnya dan menggunakan ujungnya yang keras untuk mencungkil celah kecil itu. Dengan mudah ia melepaskan sambungan itu. Dan ia tersenyum penuh kemenangan.


Suling Bambu Hitam tergeletak di sana.


***


Kamar kerja Dewa Seribu Wajah tidak berbeda dengan kamar kerja lain pada umumnya. Ruangan itu cukup luas, berisi beberapa meja dan kursi. Pada sisi dalam terdapat rak pajangan dan buku-buku. Di depan rak itu terdapat meja tulis besar yang penuh kertas dan alat tulis. Dindingnya berhiaskan lukisan pemandangan air terjun yang sangat indah.


Yang membedakannya dari ruang kerja lain, pada salah satu pojok ruangan terdapat tungku pemanas dan gumpalan-gumpalan karet. Juga terdapat berbagai alat rias yang sangat lengkap. Di samping itu, ada sebuah lemari besar yang nyaris tidak bisa ditutup saking penuhnya.


“Lemari apa itu?” tanya Ting Ting setengah berbisik.


“Busana samaran Tuan Besar,” jawab A Nan, juga berbisik.


Mereka berhasil tiba di ruangan itu tanpa kepergok siapa pun. Kamar kerja itu sepi karena Dewa Seribu Wajah sedang tidak ada. Tak ada seorang penjaga pun menjaganya. Dewa Seribu Wajah tak merasa perlu melindungi ruang kerjanya karena ia berpikir tak ada benda miliknya yang cukup berharga untuk dicuri.


Keempat anak muda itu sebenarnya sangat tertarik dengan peralatan menyamar milik Dewa Seribu Wajah. Namun tak ada waktu untuk menganguminya karena mereka terdesak waktu.


“Di mana Meng Huan?” tanya Sen Khang.


A Nan memberi isyarat supaya mereka mengikutinya. Ia menuju rak pajangan di belakang meja tulis. Dengan pasti ia menghampiri pajangan berbentuk guci yang terletak pada rak di sisi sebelah kiri. Ia memutar benda itu ke kanan.


Semua serentak mundur saat rak pajangan itu bergeser miring, membentuk celah yang cukup besar untuk dilewati seorang bertubuh besar. Pada celah itu terdapat tembok batu yang tampak keras sekali. Pada sisi kiri-kanannya terdapat pula dinding yang terbuat dari susunan batu bata.


Lagi-lagi A Nan seperti tahu apa yang dilakukannya. Ia mendekati tembok batu itu dan meraba-raba sisi kanannya dan menekan salah satu batu bata. Segeralah tembok batu itu terangkat naik.


Sen Khang segera melompat masuk, sementara yang lain menunggu di luar. Ia melihat Meng Huan tengan duduk di atas tempat tidur yang terbuat dari batu.


“Meng Huan!”


Meng Huan terperanjat. “Sen Khang!” serunya gembira.


A Nan menyusul masuk dan cepat-cepat menarik mereka berdua keluar sebelum Sen Khang sempat melihat-lihat bagian dalam ruangan itu. “Kalian bicaranya di luar saja. Jika anak buah Cheng Sam datang, kita bisa gawat.”


Segera mereka berdua keluar. A Nan cepat-cepat mengembalikan posisi tembok batu dan rak pajangan seperti semula.

__ADS_1


“Sekarang, ayo kita pergi dari sini!” ajak A Nan.


“Tunggu!” tahan Chien Wan. “Aku harus mencari sulingku. Kalian pergi saja duluan, nanti kususul.”


“Tidak. Aku ikut,” tolak Ouwyang Ping.


“Kita cari sama-sama,” sela Sen Khang.


“Tidak,” geleng Chien Wan tegas. “Biar aku cari sendiri saja. Kalian pergilah.”


“Tapi....”


“Dengarkan kata-kataku, Ping-er!”


Suara Chien Wan yang tegas membungkam protes Ouwyang Ping. Gadis itu tidak bisa berkata apa-apa.


Sen Khang mengangguk. Ditepuknya bahu Chien Wan. “Kami tunggu kau di perbatasan Lok Yang.”


Segeralah Sen Khang, Ting Ting, Meng Huan, dan Ouwyang Ping pergi. Mereka dikawal oleh Kelelawar Hitam. Ouwyang Ping tampak segan mengikuti mereka. Namun ia tidak mau membantah perintah Chien Wan.


A Nan tinggal di tempat. “Tuan Muda lama sekali,” gumamnya.


Chien Wan menoleh. “Di mana kamar Cheng Sam?”


“Di dekat lorong tempat kalian ditawan.”


Tanpa mengatakan apa-apa Chien Wan melangkah menuju tempat itu. A Nan terkejut, lalu cepat menyusulnya.


“Tidak semudah itu,” kata Chien Wan dingin.


Mereka berjalan cepat ke arah paviliun Cheng Sam.


***


Sen Khang dan yang lainnya telah tiba di depan gerbang Bukit Merak. Kelelawar Hitam memandu mereka melewati jalan yang sempit. Anehnya perjalanan mereka sangat mulus dan nyaris tanpa hambatan.


Kemudahan ini membuat Sen Khang curiga, namun ia tak mengatakan apa-apa pada yang lainnya.


“Ayo jalannya lebih dipercepat! Kita masih jauh dari perbatasan,” kata Kelelawar Hitam setiap kali mereka mulai melambat.


Namun tiba-tiba Ouwyang Ping menghentikan langkahnya.


“Tunggu!”


Mereka semua berhenti.


“Nona Ouwyang, ada apa?” tanya Sen Khang cemas.


“Aku mencemaskan Kakak Wan. Sebaiknya aku menunggunya di sini,” kata Ouwyang Ping.


Sen Khang terkejut. “Tidak bisa. Kaudengar sendiri apa kata Chien Wan.”

__ADS_1


“Aku sangat cemas. Tidak apa-apa. Kalian pergi saja. Aku akan menunggu Kakak Wan. Nanti kami akan segera menyusul kalian.” Ouwyang Ping bisa menjadi sangat keras kepala jika ia mau.


Sen Khang mengerutkan kening. Lalu ia mengalah. “Baiklah,” ujarnya. Ia menoleh. “Kalian pergi saja duluan ke perbatasan. Aku akan menunggu Chien Wan di sini bersama Nona Ouwyang.”


“Ping-er.” Kelelawar Hitam menghampiri Ouwyang Ping dengan cemas. Ia enggan pergi bersama yang lain karena ia toh di sini demi Ouwyang Ping.


“Kelelawar Hitam, kau bantu aku, ya?” Ouwyang Ping berucap lembut. “Kauantar teman-temanku ke perbatasan kota Lok Yang dan tunggu di sana bersama mereka sampai kami datang.”


Walau segan, Kelelawar Hitam mengangguk.


“Kak, bagaimana ini?” Ting Ting memprotes.


“Pergilah bersama Meng Huan dan Kelelawar Hitam. Kami takkan lama.”


Meng Huan tidak mengatakan apa-apa karena ia tahu percuma saja membantah Sen Khang. Maka mereka bertiga pergi meninggalkan tempat itu.


Ouwyang Ping sangat gelisah. Ia terus-menerus melihat ke arah kediaman Dewa Seribu Wajah. Lalu ia berjalan mondar-mandir dengan resah. Ia sama sekali tidak sadar bahwa perbuatannya itu membuat Sen Khang pusing.


“Duduklah, Nona Ouwyang. Kau membuatku ikut-ikutan cemas. Chien Wan takkan apa-apa,” ujar Sen Khang akhirnya.


Ouwyang Ping tersipu malu. Ia pun duduk di samping Sen Khang.


Tak lama kemudian seseorang berlari dengan cepat ke arah mereka. Mereka segera berdiri karena mengira itu Chien Wan. Namun alangkah kecewanya mereka karena yang datang adalah Fei Yu.


Fei Yu berhenti dengan gusar. “Mengapa kalian malah bengong di sini?” tegurnya. “Mana kakakmu?” tanyanya pada Ouwyang Ping.


“Dia tidak ikut pergi bersama kami. Katanya dia ingin mencari sulingnya,” jawab Ouwyang Ping. “Kami sedang menunggunya. Yang lain sudah pergi ke perbatasan kota.”


“Aduh!” Fei Yu menepuk dahinya. “Konyol sekali sih! Jadi orang itu sedikitnya harus punya kepercayaan pada orang lain. Kalau begini malah merepotkan semua orang.”


“Maksudmu?”


“Maksudku?” Fei Yu memelototi Sen Khang. “Sekarang ini seluruh penjaga di Bukit Merak pasti sudah tahu perihal bebasnya kalian! Mereka pasti sedang sibuk mencari kalian. Kembalinya Chien Wan malah memudahkan mereka mengepungnya. Itulah maksudku!”


“Kakak Wan tidak semudah itu dikalahkan,” sela Ouwyang Ping.


“O ya?” dengus Fei Yu sinis. “Anak buah Cheng Sam sangat banyak. Kalau dikerahkan semuanya, jumlah mereka ratusan. Kepandaian mereka lumayan. Sehebat apa pun Chien Wan, tak mungkin ia bisa melawan mereka semua. Apalagi sulingnya tidak ada, jadi dia tidak punya senjata.”


“Sulingnya....”


Fei Yu meraih ke balik jubahnya dan mencabut sesuatu. Suling Bambu Hitam!


“Kau berhasil menemukannya!” seru Ouwyang Ping gembira.


Fei Yu menyerahkan suling itu pada Ouwyang Ping. “Sebaiknya aku kembali ke rumahku. Siapa tahu belum terlambat dan cecunguk-cecunguk itu belum menyadari kepergian kalian.”


“Kami ikut.”


“Astaga, tidak! Aku tidak menolong kalian untuk supaya tertangkap lagi,” tolak Fei Yu.


“Tuan Muda Chang, kami tidak selemah itu. Waktu itu kami berhasil tertangkap karena dibius. Kali ini kami takkan tertangkap semudah itu,” kata Sen Khang tegas.

__ADS_1


Fei Yu mendengus. “Ya sudah. Terserahlah!” Ia melangkah pulang diikuti Sen Khang dan Ouwyang Ping.


__ADS_2