Suling Maut

Suling Maut
Kesalahpahaman


__ADS_3

Tanpa mereka ketahui, sepasang mata tajam memperhatikan mereka. Sorot mata itu begitu kecewa, penuh dengan perasaan gundah dan cemburu.


Dia Luo Sen Khang.


Hari ini ia sengaja menunggu sampai semua orang sudah terlelap sebelum ia menemui Chien Wan. ia tahu pasti bahwa Chien Wan akan mengunjungi makam Sung Cen. Ia bermaksud berbicara dengan Chien Wan.


Namun ternyata Ouwyang Ping mendahuluinya. Maka ia sengaja tidak menampakkan diri. Ia ingin melihat apa yang terjadi selanjutnya. Ia tidak bisa mendenagr pembicaraan mereka karena ia berdiri agak jauh. Ia khawatir bila ia terlalu dekat, Chien Wan akan mendengar kedatangannya.


Dan apa yang dilihatnya membuat dadanya serasa mau meledak.


Ia sangat kecewa dan cemburu.


Ternyata mereka belum bisa melupakan kenangan masa lalu. Mereka belum bisa mengubah perasaan mereka, pikirnya sedih. Ternyata Chien Wan masih begitu berarti di hati Ouwyang Ping.


Sen Khang berbalik meninggalkan tempat itu dengan hati patah.


Ia tidak mengerti bagaimana mungkin Chien Wan dan Ouwyang Ping masih saja terus memupuk perasaan terlarang di antara mereka. Bagaimana mungkin seorang kakak bisa mencintai adiknya sendiri dengan cinta seorang pria terhadap seorang gadis?


Ia juga amat kecewa karena mereka berdua agaknya tidak pernah berusaha memikirkan perasaan orang lain.


Apa mereka tidak tahu perasaanku? Sen Khang mengumpat dalam hati. Dan bagaimana dengan Kui Fang? Chien Wan membawanya ke sini untuk bertemu dengan mereka semua. Itu jelas menunjukkan bahwa Chien Wan telah memindahkan perhatian pada Kui Fang. Apakah semua itu tidak berarti dibandingkan masa lalu yang dimilikinya bersama Ouwyang Ping?


Sen Khang menutup pintu kamarnya dengan gundah.


***


Pada pagi hari, Chien Wan keluar dari kamarnya dengan perasaan lebih lega dan segar dari sebelumnya. Pembicaraannya dengan Ouwyang Ping semalam benar-benar telah membuatnya lebih tegar dalam menghadapi apa pun. Ia lega sekali karena akhirnya masalah di antara mereka telah selesai. Kini baik dia dan Ouwyang Ping akan bisa berkonsentrasi dengan hubungan mereka selanjutnya sebagai kakak-beradik.


Setelah bangun tidur dan membersihkan wajah ia langsung mencari Kui Fang. Ia telah mengembangkan kebiasaan itu sejak mengembara bersama Kui Fang. Tak peduli di mana pun mereka berada, orang pertama yang dicarinya pada pagi hari adalah Kui Fang.


“Kakak Wan, aku di sini!”


Chien Wan menoleh ke arah taman kecil di depan kamarnya. Ia melihat Kui Fang sedang duduk berduaan dengan Sen Khang. Wajah gadis itu tampak segar dan berseri. Entah apa yang sedang dibicarakannya dengan Sen Khang sampai membuat wajahnya begitu cerah.


Entah mengapa Chien Wan merasa ada sesuatu yang membara di hatinya.

__ADS_1


Kui Fang melambai meminta Chien Wan datang, maka Chien Wan menghampiri mereka.


Anehnya, Sen Khang kelihatan tidak begitu senang melihat Chien Wan. Perasaan Chien Wan yang tadi mendadak suram kini semakin tidak nyaman melihat paras Sen Khang yang aneh.


“Sen Khang.”


“Kau agak kesiangan?” Sen Khang tersenyum kecil.


“Ya, tadi malam aku tidak bisa tidur.”


“Memikirkan sesuatu?” gumam Sen Khang agak sinis.


Chien Wan mengerutkan kening. “Aku pergi ke makam Paman Sung. Aku bertemu Ping-er di sana. Kami mengobrol cukup lama.”


Sen Khang menoleh dan menatap sahabatnya dengan pandangan muram. Ternyata Chien Wan tidak menyembunyikan keadaan semalam padanya dan Kui Fang. Bila demikian, berarti semalam memang tidak berarti apa-apa baginya! Tetapi mengapa mereka berpegangan tangan begitu?


Chien Wan semakin tidak nyaman. Mengapa sikap Sen Khang begini padanya? Dan mengapa pagi-pagi begini dia sudah bersama Kui Fang? Apa yang diinginkannya dari Kui Fang?


Kui Fang melihat keduanya bergantian. Ia merasakan ketegangan di antara mereka.


Mendengar pertanyaan itu, Sen Khang tersentak. Ia merasa malu dengan sikapnya. Dihembuskannya napas panjang. Ia meringis dan menatap Chien Wan dengan penuh permintaan maaf.


Chien Wan tersenyum tipis. “Ping-er bilang kau sangat baik padanya.”


“Eh?” Mata Sen Khang membelalak. “Ternyata tadi malam kalian membicarakan aku?” tanyanya malu. “Kalian bercakap-cakap dengan begitu serius, apa hanya membicarakan aku saja? Mana mungkin?”


Kalimat itu menyadarkan Chien Wan. Dipandangnya Sen Khang dengan penuh pertanyaan.


Wajah Sen Khang seketika merona. Ia kelihatan tampan sekali bila sedang tersipu-sipu seperti itu. “Eh..., ya. Aku melihat kalian semalam. Aku tidak bermaksud begitu!” tambahnya cepat. “Begini, aku hendak mencarimu untuk bicara soal kejadian yang lalu. Tapi kau tidak ada di kamarmu, jadi aku berkesimpulan kau sedang mengunjungi makam Paman Sung. Maka aku menyusul ke sana. Ternyata kau sedang bermain musik dengan Ping-er.


“Aku tidak bisa pergi. Kau tahu kan, aku suka sekali mendengarkan kalian bermain musik. Setelah itu kalian berhenti main dan berbicara. Aku tidak bisa mendengar apa yang kalian bicarakan. Tetapi aku melihat kalian....” Sen Khang hampir saja mengatakan ‘berpegangan tangan’, namun ia cepat menghentikan bicaranya. Ia tidak mau mengucapkannya di depan Kui Fang. Ia punya firasat bahwa Kui Fang belum tahu apa-apa soal masa lalu mereka semua.


Sekilas pengertian terpancar di mata Chien Wan. Tak heran Sen Khang bersikap begitu dingin ketika melihatku, pikir Chien Wan sedih. Ternyata Sen Khang cemburu. Bisa juga Sen Khang yang bijak merasa cemburu.


“Kalian ini bicara apa, sih?” Kui Fang tertawa. “Memangnya kenapa kalau Kakak Wan bicara dengan Ping-er? Mereka kan saudara kandung. Masa Kakak Luo cemburu pada Kakak Wan?”

__ADS_1


Sen Khang makin merasa malu mendengar godaan Kui Fang.


Chien Wan menghela napas. Mendadak beban di hatinya pun terangkat. Ditatapnya Kui Fang dengan lembut. “Jangan menggodanya.”


Kui Fang menghentikan tawanya. Sepasang matanya masih berbinar senang.


“Boleh aku bergabung?” sapa sebuah suara lembut.


Mereka menoleh dan melihat Ouwyang Ping menghampiri mereka. Penampilan gadis itu sudah rapi. Seperti biasa, ia membawa harpa di tangannya. Ia menghampiri mereka dan berdiri di samping Sen Khang.


“Kesiangan, Ping-er?” goda Sen Khang.


Ouwyang Ping menggeleng. “Aku baru menemani Ting Ting. Semalam ia agak demam.”


Sen Khang tertegun cemas. “Kenapa lagi dia?’


“Tidak apa-apa,” kata Ouwyang Ping menenangkan. “Kata Ibu, perempuan hamil memang sering merasa tidak enak badan. Mungkin pengaruh janin yang dikandungnya. Usia kehamilannya sekarang kan sudah sekitar dua bulan. Dia berada dalam masa sulit. Setiap pagi mual dan muntah. Untungnya dia mau makan.”


Sen Khang menghela napas. “Ting Ting sangat menderita. Dia tidak layak mendapat cobaan seperti ini. Dia tidak pernah melakukan kesalahan apa-apa. Mengapa dia yang harus menderita?” keluhnya.


Ouwyang Ping menyentuh lengan pemuda itu dengan iba. “Jangan bilang begitu, Kakak Luo. Itu sama saja dengan mempertanyakan kehendak Tuhan.”


Sen Khang mengangguk. “Kau benar.”


Kui Fang memandangi mereka berdua dengan penuh kekaguman. Ia berpendapat mereka berdua sangat serasi. Berdiri berdampingan seperti itu membuat mereka kelihatan begitu sempurna. Diam-diam ia melirik Chien Wan. Apakah dirinya juga serasi dengan Chien Wan? Alangkah senangnya hati Kui Fang bila bisa begitu serasi berdampingan dengan pemuda yang dipujanya itu!


“Kakak mau menengok Ting Ting? Tadi dia menanyakanmu,” kata Ouwyang Ping pada Chien Wan.


Chien Wan mengangguk. “Aku akan menengoknya.”


“Boleh aku ikut?” tanya Kui Fang.


“Tentu saja,” jawab Chien Wan.


Mereka berdua berjalan bersisian menuju kamar Ting Ting.

__ADS_1


***


__ADS_2