Suling Maut

Suling Maut
Di Bukit Merak


__ADS_3

Sen Khang, Chien Wan, dan Ouwyang Ping tiba di hutan tempat Ting Ting dan Meng Huan mengalami malapetaka.


“Ting Ting!” seru Sen Khang sekuat tenaga. “Meng Huan!”


“Ting Ting!” panggil Ouwyang Ping.


Chien Wan tidak ikut berteriak, namun ia memperhatikan keadaan di sekeliling mereka. Tiba-tiba ia melihat sebuah pisau tertancap di batang pohon. Pisau itu menusuk sepotong kertas yang dilipat-lipat yang tampaknya berisi pesan.


“Di sana!” tunjuk Chien Wan.


Mereka menghampiri pohon tersebut. Sen Khang mencabut pisau itu dan membuka lipatan kertas. Ia membaca, “Teman kalian kutawan. Datanglah ke Bukit Merak jika ingin membebaskannya. Chang Fei Yu.”


Mereka saling berpandangan.


“Chang Fei Yu?” tanya Ouwyang Ping heran. “Siapa dia?”


“Chang...” Mata Sen Khang terbelalak. “Astaga! Dia—“


“Tuan Muda Chang,” sambung Chien Wan.


“Tuan Muda Chang?”


“Benar,” angguk Chien Wan. “Rupanya dia ingin membalas kita karena telah menggagalkan rencananya,” duganya sambil mengerutkan kening.


“Aku harus menyelamatkan mereka!” seru Sen Khang cemas. Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan adiknya dan Meng Huan.


“Kami akan membantumu.”


Sen Khang menoleh menatap sahabatnya dengan penuh rasa terima kasih. “Dengan begini kau akan terlambat pulang ke Lembah Nada,” katanya.


“Guru akan mengerti,” jawab Chien Wan singkat.


“Benar, Kakak Luo. Mereka adalah teman-teman kami juga. Kami pasti membantumu,” sambung Ouwyang Ping.


“Terima kasih!” seru Sen Khang lega. Sebenarnya, ia juga sangsi apakah dirinya sendirian akan dapat menyelamatkan adik dan temannya. Chien Wan dan Ouwyang Ping akan menjadi bantuan yang sangat berharga.


“Bagaimana pun, semua ini karena kesalahanku juga,” gumam Chien Wan.


“Jangan bicara begitu!” peringat Sen Khang.


Ouwyang Ping menggamit lengan Chien Wan. “Itu bukan kesalahan siapa-siapa, Kak.”


Entah mengapa pemandangan itu membuat dada Sen Khang terasa nyeri dan ia terpaksa harus memalingkan wajahnya. “Ayo kita ambil barang-barang kita di penginapan,” ajaknya.


Chien Wan dan Ouwyang Ping menyetujuinya. Mereka bertiga segera kembali ke penginapan. Setelah membereskan urusan pembayaran, mereka berangkat.


***


Ting Ting mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, namun semua sendi tubuhnya terasa nyeri sehingga ia mengerang dan berhenti mencoba. Ia berbaring sambil membuka mata, mencoba memfokuskan perhatiannya dan mengembalikan kesadarannya.


Ia ada di atas pembaringan yang lembut dan empuk di dalam sebuah kamar yang luas dan indah. Pembaringannya berkelambu sutra putih yang halus dan tembus pandang. Ia berbaring di atas penutup tempat tidur yang terbuat dari kain halus dan bersulam indah. Kamar ini juga sangat wangi dan menyegarkan. Perabotannya mewah dan berseni tinggi.


Kemudian ia menatap dirinya sendiri, melihat dirinya masih utuh tidak kurang suatu apa. Pakaiannya juga masih lengkap, tak ada tanda-tanda telah diusik oleh orang. Sebagai anak gadis umumnya, ia telah dididik untuk menjaga kesuciannya. Maka dalam keadaan apa-pun, yang diperiksanya untuk pertama kali adalah keadaan pakaiannya. Jangan sampai tubuhnya disentuh oleh tangan-tangan yang tidak berhak.


Gadis itu mencoba bangkit. Ia menggigit bibir menahan nyeri dan berusaha sekuatnya melawan rasa lemas tubuhnya. Ia memegangi tepian pembaringannya. Kepalanya serasa berputar-putar, sehingga ia harus memijit-mijit keningnya untuk mengurangi rasa nyeri.


Saat itu pintu kamar terbuka dan masuklah seorang pemuda tampan berpakaian serba putih. Pemuda itu tersenyum lebar melihat Ting Ting telah sadar. Sungguh, pemuda itu kelihatan sangat memikat! Seperti pangeran dari negeri kahyangan.

__ADS_1


“Kau sudah sadar, Nona,” sapanya ramah.


Ting Ting seketika mengenalinya. “Kau... Tuan Muda Chang!” pekiknya. Ia sama sekali tak tertarik pada ketampanan Tuan Muda Chang.


Tuan Muda Chang memberi hormat dengan cara pendekar, yakni merangkapkan kedua tangannya di depan dada. “Nama lengkapku adalah Chang Fei Yu. Aku sangat tersanjung Nona masih ingat aku,” katanya sambil tersenyum senang.


“Kenapa kau membawaku ke sini? Kau menculikku?” seru Ting Ting. Rasa takutnya berubah menjadi marah. “Kalau kau mau menjebak kakakku dengan menyanderaku, percuma saja! Kakakku orangnya cerdik, ia takkan termakan jebakanmu!” makinya.


Senyum Chang Fei Yu sirna.


“Kakakmu?” gumamnya ragu.


“Ya! Kakakku adalah Luo Sen Khang!” sahut Ting Ting pongah.


Chang Fei Yu kaget. “Jadi... orang yang waktu itu bertarung denganku—Luo Sen Khang... adalah kakakmu?” tanyanya tak percaya. Ia tak menduga gadis cantik ini ternyata berhubungan keluarga dengan lawan bertandingnya. Tadinya ia mengira gadis itu hanya kebetulan saja duduk di dekat mereka.


“Jangan pura-pura tak tahu!” tukas Ting Ting sengit.


Pada dasarnya Chang Fei Yu memang bukan orang yang sabar dan lembut. Bahkan kenyataannya, ia selalu tak sabaran dan sinis. Apalagi ia adalah putra tunggal dari seorang ayah yang menjadi penguasa di Bukit Merak. Dengan ayah yang memanjakannya dan seluruh penghuni Bukit Merak yang menyanjungnya laksana pangeran, ia tumbuh menjadi pemuda yang semaunya sendiri dan angkuh. Karena itu, menghadapi Ting Ting yang begini ketus, hatinya menjadi kesal.


“Hei, kukatakan yang sebenarnya. Aku memang tidak tahu!” serunya.


“Lalu, apa maksudmu menculikku?” tanya Ting Ting.


“Aku—“ Chang Fei Yu menahan ucapannya. Wajah tampannya berangsur-angsur memerah.


Ting Ting cemberut melihatnya.


Chang Fei Yu memalingkan muka. “Aku cuma ingin berkenalan denganmu,” akhirnya ia mengaku.


Ting Ting tercengang. “Berkenalan? Beginikah cara seseorang bila ingin berkenalan? Setahuku, jika seorang pemuda ingin mengenal seorang gadis, maka pemuda itu akan mendekati si gadis dengan baik-baik. Tapi ini....”


“Aku... aku tidak tahu! Aku belum pernah mencoba berkenalan dengan seorang gadis. Aku cuma tahu cara ini!” katanya membela diri.


Mendengar penjelasan ini, amarah Ting Ting mulai hilang digantikan oleh rasa geli di hatinya. Ternyata meski pemuda ini adalah putra seorang datuk sesat, ia begitu kekanak-kanakkan.


“Lalu bagaimana caramu mengenal gadis?” tanya Ting Ting penasaran.


Chang Fei Yu mengangkat bahu. “Entahlah. Biasanya mereka yang datang padaku.”


“Huh!” dengus Ting Ting mencibir. “Kusangka Tuan Muda Chang itu adalah pria yang berpengalaman di Dunia Persilatan, terbukti dengan kelancangannya menantang Ketua Persilatan. Ternyata cuma seorang anak kecil!” ejeknya.


Chang Fei Yu berang mendengar ejekan itu.


“Hei! Aku sudah berusaha ramah padamu. Mengapa kau selalu menghina dan memandang rendah diriku?” seru pemuda itu kesal sekali.


Ting Ting melengos dan mencibir.


“Apa yang kauinginkan sekarang?”


“Aku mau pulang!” seru Ting Ting segera.


Chang Fei Yu menyeringai sinis. “Siapa yang mau membebaskanmu?” ejeknya. Kini ia ganti membalas ejekan-ejekan Ting Ting.


Ting Ting memandang sengit. “Kau...!”


“Kau apa? Tadi kan, kau sediri yang bilang bahwa aku ini menculikmu. Kalau aku penculik, buat apa aku membebaskanmu? Aku harus mendapatkan tebusanku dulu,” goda Chang Fei Yu nakal.

__ADS_1


Ting Ting menahan kedongkolan yang sudah semakin menggumpal di dadanya. “Apa sih, maumu?!” jeritnya kesal.


“Yaaah... setidaknya kau beritahukan dulu namamu,” kata Chang Fei yu dengan gaya menyebalkan.


Ting Ting menghembuskan napas sambil melipat tangan di dadanya. Bibirnya yang mungil dan indah cemberut.


Fei Yu menanti jawaban gadis itu dengan mata berbinar-binar nakal.


“Ting Ting.”


“Apa?” tanya Fei Yu nakal.


“Ting Ting,” ulang Ting Ting lebih keras.


Fei Yu meletakkan tangan di telinganya membentuk corong. “Sepertinya kau mengatakan sesuatu, ya? Aku tak dapat mendengarmu. Coba kauulangi lebih keras.” Ia makin senang mengganggu Ting Ting. Ia suka melihat wajah Ting Ting yang memerah karena kesal. Ting Ting terlihat jauh lebih cantik saat sedang marah!


Kekesalan Ting Ting sudah mencapai ubun-ubun.


“Ting Ting! Namaku Luo Ting Ting! Apa kau masih tak mendengar? TING TING!!!” jerit Ting Ting sekuat tenaga.


Fei Yu kaget sekali mendengar jeritan yang keras itu. Dalam hati ia bersyukur karena Ting Ting ia tempatkan di kamar yang letaknya paling jauh dari ruang utama.


“Ssst! Baiklah, baiklah, aku sudah dengar,” gerutu Fei Yu.


Ting Ting makin memberengut.


Fei Yu menatapnya dengan gembira. Ia senang sekali menggoda Ting Ting. Ia sudah akan menggodanya lagi kalau saja tak ada ketukan di pintu.


Tok tok tok!


Fei Yu mendecak kesal. “Siapa?”


“Saya A Nan, Tuan Muda.”


“Masuk!”


Pintu terbuka, dan masuklah seorang perempuan berpakaian pelayan. “Tuan Muda, Tuan Besar memanggilmu,” lapornya. Pandangan matanya seolah mengatakan bahwa Fei Yu akan menghadapi masalah serius dengan ayahnya.


“Ayah sudah pulang? Di mana Ayah sekarang?”


“Ada di ruang rapat. Tuan Cheng Sam juga ada di sana, membawa seorang tawanan,” bilang A Nan.


Fei Yu mengerutkan kening. Lalu ia mengangguk.


“Baiklah, aku pergi. A Nan, layani nona itu baik-baik. Tapi jaga supaya dia tidak melarikan diri, ya? Aku masih ingin bicara dengannya,” perintah Fei Yu sambil mengangkat sebelah alisnya dengan nakal pada Ting Ting.


Ting Ting menjulurkan lidah.


“Baik-baik, ya? Hati-hati, A Nan galak lho!” seru Fei Yu sambil tertawa sebelum ia menghilang di balik pintu.


Ting Ting menyambar bantal kayu lalu melemparkannya ke arah pintu dengan geram. “Pergilah ke neraka!” makinya tajam.


A Nan memperhatikan kejadian ini dengan menahan senyum. Ia sudah lama sekali mengabdi pada Keluarga Chang. Sejak kecil, ia dan ibunya telah ada di Bukit Merak. Usianya sekitar tujuh tahun ketika Fei Yu dilahirkan. Dirinyalah yang selalu menemani putra majikannya bermain. Sekarang setelah Fei Yu dewasa, ia menjadi pelayan kepercayaan bagi tuan mudanya. Ia sangat mengenal tabiat tuan mudanya.


Ting Ting merengut kesal sambil mencengkeram kelambu sutra. Ia menoleh pada A Nan. “Bebaskan aku!” serunya.


A Nan menggeleng, lembut namun tak dapat dibantah. “Tidak bisa, Nona. Tuan Muda menyuruh saya melayani Nona, dan juga menjaga supaya Nona tidak lari. Maaf, tapi saya hanya menjalankan perintah.

__ADS_1


“Ah, kau sama saja dengan dia!” maki Ting Ting marah.


__ADS_2