Suling Maut

Suling Maut
Penolakan Paman Khung


__ADS_3

Sudah beberapa hari Chien Wan dan Ouwyang Ping tinggal di Wisma Bambu. Selama itu, seluruh anggota Wisma Bambu memperlakukan mereka dengan ramah dan baik. Tuan dan Nyonya Luo memperlakukan mereka layaknya anak-anak mereka sendiri. Mereka selalu berlatih dan berkumpul bersama dengan Sen Khang, Ting Ting, dan Meng Huan.


Namun hati Chien Wan gelisah. Sudah beberapa hari ini ia tidak melihat Paman Khung. Ia pergi ke pondoknya, namun pondok itu terkunci. Ia bertanya pada peayan-pelayan yang biasa bertugas di bawah pengawasan Paman Khung, namun mereka juga tidak tahu. Bahkan mereka sudah beberapa hari tidak melihat Paman Khung, sama seperti Chien Wan.


“Paman Khung masih tidak ada?” tanya Sen Khang melihat kegelisahan sahabatnya. Saat itu mereka tengah berada di dekat pondok Paman Khung. Mereka hanya berdua saja karena Ouwyang Ping sedang membantu Ting Ting dan Meng Huan melakukan pekerjaan rumah untuk Nyonya Luo.


Chien Wan mengangguk.


Sen Khang melihat sekeliling, memastikan tidak ada orang di sekitar mereka. Ia sengaja mengajak Chien Wan berlatih berdua hari ini supaya bisa berbicara berdua saja. Setelah yakin tidak ada orang, ia mencondongkan diri pada Chien Wan. “Kau tahu mengapa Paman Khung tidak menyukai Ping-er?”


Chien Wan mengerutkan kening. Ternyata bukan hanya Ouwyang Ping saja yang merasakan ketidaksukaan itu. Sen Khang pun merasakannya.


“Ayolah, Chien Wan. Sikap Paman Khung jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada Ping-er. Aku tahu itu sama seperti kau. Aku kan mengenalnya sama sepertimu.”


Chien Wan menggeleng. “Aku juga tidak tahu.”


“Apa mungkin Paman Khung sebenarnya tidak menyukai Lembah Nada, sama seperti ayahku?” duga Sen Khang serius.


“Mungkin juga,” gumam Chien Wan. Sesungguhnya ia sendiri juga mempunyai dugaan serupa, hanya saja ia tidak pernah mengutarakannya.


“Jadi mengapa dia meminta Ayah mengirimmu ke sana?”


“Entahlah.”


“Dia menanyakan tugasmu?”


“Tidak. Dia hanya bertanya soal apakah aku diperlakukan dengan baik atau tidak.”


Kening Sen Khang berkerut mendengarnya.


“Sebenarnya tidak aneh juga kalau Paman Khung memendam perasaan tidak enak terhadap Lembah Nada,” ucap Sen Khang lambat-lambat. “Paman Khung sudah mengabdi pada keluargaku sejak lama sekali. Jadi sedikit banyak, dia pasti terpengaruh perasaan tidak suka ayahku. Apalagi dia juga tahu perihal bibiku. Tetapi yang membuatku heran, mengapa dia mengusulkan pada ayahku supaya mengirimmu ke sana?”


“Untuk menyelidiki?” gumam Chien Wan.


Kening Sen Khang berkerut. “Mungkin.”


“Kalian jangan menduga yang bukan-bukan.”


Chien Wan dan Sen Khang menoleh kaget mendengar suara itu. “Paman Khung!” seru mereka serentak. Tampak Paman Khung berjalan ke arah mereka dengan sikap kakunya yang biasa.


Chien Wan segera menghampirinya. “Paman dari mana saja?” tanyanya.


“Aku ada urusan,” jawab Paman Khung singkat.


“Sekitar delapan hari Paman pergi. Tanpa mengabari kami, juga tidak mengatakan apa-apa pada ayahku. Kami semua sangat khawatir!” kata Sen Khang.


“Maaf sudah membuat Tuan Muda dan keluarga khawatir.”


Permintaan maaf yang diucapkan secara datar itu membuat Sen Khang semakin gemas. Ia sudah hendak berbicara lagi kalau saja Chien Wan tidak menggeleng tajam. Terpaksalah ia menelan kedongkolan dan keingintahuannya dalam-dalam.

__ADS_1


“Kami mencemaskan keselamatan Paman. Sekarang setelah tahu Paman baik-baik saja, kami lega.”


Perasaan tidak enak membayang di mata Paman Khung. Diam-diam ia merasa menyesal karena telah membuat Chien Wan khawatir. Namun apa boleh buat. Ia harus melakukan sesuatu untuk kepentingan semua pihak. Ia mengeraskan hatinya dan berhasil menampakkan sikap tak acuh.


“Kalian selama ini mencariku. Ada yang ingin dibicarakan?”


Chien Wan tertegun. Ia merasa tidak enak menanyakannya.


Namun Sen Khang tidak sabar lagi. “Paman sangat kasar terhadap Ping-er waktu itu. Apa Paman tidak menyukainya?”


“Memang!”


Sahutan tegas itu tentu saja mengagetkan Sen Khang, apalagi Chien Wan. Mereka terpaku dan juga terpukul. Tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.


“Dan aku sangat tidak setuju jika Chien Wan memutuskan untuk bersamanya!” tambah Paman khung. Ia menatap pemuda asuhannya dengan tajam. “Kau tidak boleh bersama gadis itu!”


“Paman—“


Kata-kata Chien Wan dipotong oleh Sen Khang. “Mengapa Paman mengucapkan hal seperti itu? Chien Wan dan Ping-er telah dipersatukan oleh takdir. Mengapa Paman seenaknya saja bilang tidak setuju?”


“Aku tidak akan mengizinkan Chien Wan bersama gadis itu!” tukas Paman Khung sambil membalikkan tubuh membelakangi kedua anak muda itu, karenanya mereka berdua tidak melihat lintasan perasaan sakit yang membayang di matanya.


“Paman tidak adil!” serang Sen Khang gusar. “Paman tidak mengenal Ping-er!”


“Dia anak gadis Tuan Ouwyang Kuan.”


“Itu bukan alasan!”


“Tetap saja itu tidak menjelaskan keberatan Paman!”


Paman Khung berbalik. Wajahnya merah padam. “Hanya itulah satu-satunya alasan yang kalian dapatkan.”


“Tetapi—“


“Paman.” Chien Wan melangkah menghampiri Paman Khung, membuat Sen Khang menelan kata-katanya. Wajahnya tampak sedih. “Aku tidak bisa memenuhi keinginan Paman. Tidak kali ini.”


Paman Khung mengetatkan rahangnya. “Kau harus melakukannya.”


“Tidak, Paman.”


Ucapan Chien Wan tegas, tidak seperti biasanya. Ia menatap mata Paman Khung lekat-lekat dengan penuh tekad. Tak ada satu hal pun yang dapat mencegahnya bersama Ouwyang Ping. Bahkan juga Paman Khung, yang dihormati dan dikasihinya melebihi siapa pun.


“Dengar, Chien Wan. Aku sedang berusaha menjauhkanmu dari malapetaka! Gadis itu bukan untukmu. Masih banyak gadis lain di dunia ini. Mengapa pilihanmu jatuh padanya?” Paman Khung bertanya putus asa.


“Aku tidak menginginkan yang lain.”


“Ada Nona Ting Ting! Dia sangat cantik, juga sangat menyukaimu. Mengapa bukan dia yang merebut hatimu?”


Chien Wan menatap Paman Khung dengan resah dan kecewa. “Paman....”

__ADS_1


“Aku tidak ingin kau jatuh dalam bencana, Chien Wan!”


“Jika bersama Ping-er Paman anggap bencana dan malapetaka... maka aku sudah jatuh ke dalamnya, Paman.”


Kata-kata Chien Wan sungguh mengagetkan pria tua itu, membuatnya nyaris terhuyung karena ketidakpercayaan hebat yang melanda hatinya. Bagaimana pemuda yang senantiasa patuh dan pendiam ini bisa menentang sedemikian rupa demi seorang gadis? Keringat dingin membasahi kening Paman Khung. Mungkinkah cinta mereka sudah tertanam sedemikian kuatnya sehingga tidak mungkin dipisahkan lagi?


“Paman boleh minta apa saja dariku. Selama ini pun aku tidak pernah membantah keinginan Paman. Tapi jangan ini. Jangan minta aku untuk berpisah dari Ping-er, Paman.” Chien Wan memandang Paman khung penuh permohonan.


Paman Khung mundur beberapa langkah dengan kecewa. “Kau... kau sungguh mengecewakan!”


“Mencintai seseorang tidaklah mengecewakan, Paman!” Sen Khang tidak bisa menahan diri.


Sorot mata Paman Khung berubah dingin. “Kalau begitu, terserah! Aku takkan bicara lagi! Tapi aku tetap tak merestui!” Pria tua itu membalikkan tubuh dan melangkah pergi meninggalkan mereka dengan angkuh.


Chien Wan menghela napas berat.


“Sudahlah, Chien Wan. Paman Khung tidak bersungguh-sungguh. Dia hanya takut kau akan melupakannya setelah memiliki Ping-er. Itu saja.” Sen Khang berusaha menenangkan sahabatnya yang tampak resah.


“Aku sudah menentangnya,” gumam Chien Wan. “Entah mengapa dia begitu tidak menyukai Ping-er.”


“Tidak menyukai adalah ungkapan yang kurang tepat!” dengus Sen Khang. “Bagaimana orang tua itu bisa sepicik itu? Mengapa dia harus bilang dia tidak akan mengizinkanmu bersama Ping-er? Itu tidak masuk akal!”


Suara terkesiap membuat keduanya menoleh. Mereka terkejut sekali melihat Ouwyang Ping berdiri di sana dengan wajah pucat dan pedih. Chien Wan menghampiri gadis itu, berusaha menenangkannya. Sementara dalam hatinya ia bertanya-tanya berapa banyak yang sudah didengar Ouwyang Ping.


Dengan penuh pengertian, Sen Khang meninggalkan mereka.


“Paman Khung benar-benar tidak menyukaiku, kan?” tanya gadis itu sedih. “Sebenarnya aku ini melakukan kesalahan apa?”


“Tidak ada, Ping-er. Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa,” hibur Chien Wan.


“Apakah kau selalu mendengarkannya, Kakak Wan? Apakah kau selalu menuruti kata-kata Paman Khung? Apakah sekarang kau tidak menyukaiku lagi? Dia tidak mengizinkan kita bersama, apakah kau akan mematuhinya?” Ouwyang Ping bertanya pilu. Ia mencengkeram lengan baju Chien Wan. “Kau akan meninggalkan aku?”


Chien Wan menggeleng. “Tentu saja tidak! Kau ini bicara apa?”


“Tapi Paman Khung-mu....”


“Pelan-pelan aku akan memberi pengertian, Ping-er. Aku janji,” ucap Chien Wan tegas.


“Tak ada yang bisa membuat kita berpisah?” Air mata gadis itu merebak.


“Tidak ada!”


“Kakak Wan!” Ouwyang Ping membenamkan wajahnya di dada Chien Wan. Bahunya berguncang menahan isak. “Aku takut sekali kau akan menuruti permintaan Paman Khung dan meninggalkan aku!”


“Mana mungkin?” Chien Wan mengusap-usap bahu gadis itu. Lalu ia menghela Ouwyang Ping menjauh dari pelukannya. Ditatapnya wajah basah gadis itu lekat-lekat. Ia tidak pandai berkata-kata seperti Sen Khang, jadi ia tidak bisa mengungkapkan janji setianya pada Ouwyang Ping melalui kata-kata. Maka ia mengulurkan tangan ke lehernya dan meloloskan tali leontin yang dipakainya lewat kepala. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia mengulurkan leontin itu.


“Kak?” Mata Ouwyang Ping yang basah mengawasi perbuatan Chien Wan tadi dengan kaget. Tentu saja ia tahu perihal leontin itu. Suatu hari di Lembah Nada ia melihat leontin itu tergantung di leher Chien Wan dan ia menanyakannya. Chien Wan menceritakan bahwa ibunya memberikan leontin itu kepadanya sebelum kematiannya berikut pesan bahwa leontin itu diberikan oleh ayah Chien Wan. Dan sejak saat itu, leontin tersebut tak pernah lepas dari leher Chien Wan.


“Kau simpanlah leontin itu,” kata Chien Wan lembut.

__ADS_1


Memberikan benda yang paling penting pada seseorang untuk dijaga berarti juga memberikan cinta kepada orang itu. Mata Ouwyang Ping masih basah, namun kilaunya menampakkan kebahagiaan yang tiada tara.


Dengan penuh perasaan, digenggamnya leontin bergambar burung hong itu erat-erat.


__ADS_2