
Sebuah perahu merapat ke dermaga Pulau Ginseng. Perahu itu bukan lain adalah perahu yang ditumpangi oleh rombongan Tuan Ouwyang Cu.
“Inikah Pulau Ginseng?” seru Kui Fang kagum melihat betapa subur dan hijaunya pulau itu.
“Indah sekali!” puji Ouwyang Ping.
Tuan Ouwyang mencibir. “Indah apanya? Lembah Nada jauh lebih indah!” gerutunya tidak senang.
“Huh! Bilang saja kau iri!” ejek Siu Hung sambil melompat turun dari perahu.
Yang lain mengikutinya dan turun ke pantai. Sen Khang menambatkan perahu pada tonggak yang ada di dermaga.
Tuan Ouwyang melotot dan ikut turun ke pantai. “Siapa bilang aku iri? Buat apa aku iri pada si Tua itu? Huh! Kalau bisa memilih aku tidak akan sudi menginjakkan kaki ke tempat ini!” dengusnya.
“Jadi kenapa datang?”
Semua menoleh ke arah datangnya suara. Tampak seorang laki-laki tua yang sebaya dengan Tuan Ouwyang berdiri di hadapan mereka. Dialah Dewa Obat Pai Tin Fung. Ia memakai pakaian berwarna serba coklat yang sudah lusuh. Rambutnya berwarna putih dan digelung seadanya. Wajahnya dingin dan pandangan matanya tajam menusuk. Ia tampaknya bukan orang yang suka bicara.
Keadaan Dewa Obat sungguh bertolak belakang dengan Tuan Ouwyang.
“Pai Tin Fung, kita jumpa lagi akhirnya,” kata Tuan Ouwyang.
Dewa Obat tak mempedulikan ucapan Tuan Ouwyang. Padangan matanya langsung menghujam Chien Wan. Sebagai ahli pengobatan, sekali lihat saja ia langsung tahu bahwa Chien Wan tengah menderita luka dalam dan butuh pengobatan dengan segera.
“Ada apa mencariku?” tanya Dewa Obat dingin.
Tuan Ouwyang mendecak jengkel. “Kau sudah tahu, kan? Cucuku Chien Wan sedang sakit. Aku ingin kau mengobatinya!”
Dewa Obat membalikkan tubuh.
“Pulanglah kalian! Aku tak mau mengobatinya!”
“Apa?” pelotot Tuan Ouwyang. “Aku susah-susah begini datang menemuimu. Kau malah mengusirku?” serunya kesal.
“Siapa yang menyuruhmu?” dengus Dewa Obat.
“Kau...!”
“Kakek.” Chien Wan mendekat dan melerai. “Kalau Tuan Pai tidak mau menyembuhkanku..., aku tak ingin memaksa.” Suaranya begitu parau dan napasnya sesak.
“Kakak Wan!” Kui Fang bergegas menghampiri untuk menghampiri Chien Wan. Ia cemas mendengar nada pasrah itu.
“Dewa Obat, saya mohon sembuhkanlah kakak saya!” mohon Ouwyang Ping.
Dewa Obat memandang wajah Ouwyang Ping yang tampak begitu sedih. “Siapa kau?”
“Saya... Ouwyang Ping,” jawab Ouwyang Ping.
__ADS_1
“Kau cucu si Suling Tua?”
Ouwyang Ping mengangguk.
Dewa Obat mendengus. “Kalau begitu kau tak berhak meminta pertolonganku! Semua keturunan Ouwyang Cu tak berhak meminta pertolonganku!”
Ouwyang Ping ternganga.
Kui Fang berlari mendekati Dewa Obat. “Dewa Obat, saya bukan keturunan keluarga Ouwyang. Saya mohon, sembuhkanlah Kakak Wan!” pintanya amat sangat.
“Kau siapa?”
“Nama saya Wu Kui Fang.”
“Apa hubunganmu dengan Ouwyang Cu?” tanya Dewa Obat.
Kui Fang terpaku. Apa hubungannya dengan keluarga Ouwyang? Saat ini ia memang orang asing.
“He, Pai Tin Fung! Kau keterlaluan!” seru Tuan Ouwyang sengit.
Dewa Obat mendengus. Tanpa mengatakan sepatah kata pun ia berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.
“Dewa Obat!” seru Kui Fang sambil berlari mengejar. “Dewa Obat, kumohon!”
Dewa Obat terus melangkah.
Langkah Dewa Obat terhenti. “Apa yang kau tahu mengenai masalah itu?” tanyanya galak.
Kui Fang mundur selangkah. “Saya....”
Chien Wan sangat khawatir Kui Fang akan mendapat masalah. Maka ia mendekat tanpa mempedulikan lukanya. Ditariknya Kui Fang ke dekatnya.
“Sudahlah, Kui Fang.”
Kui Fang segera memegangi Chien Wan yang sebenarnya masih lemah.
“Pai Tin Fung, kau keterlaluan!” Tuan Ouwyang mendekat dan gusar melihat kebekuan hati Dewa Obat.
Dewa Obat menatapnya dengan geram.
Sen Khang mendekat. Sejak tadi ia diam saja menyaksikan semua itu. Ia pun angkat bicara. “Dewa Obat, adalah hak Anda untuk tidak menolong Chien Wan. Adalah juga hak Anda untuk mengusir kami semua dari sini sebab ini rumah Anda. Tetapi, tidakkah tergerak hati Anda menyaksikan penderitaan Chien Wan? Dia dilukai oleh seorang jahat yang telah memperdaya kami semua dengan berpura-pura menjadi orang baik. Chien Wan terkena imbas kejahatan, padahal ia tak pernah melakukan kesalahan apa pun.”
Dewa Obat melirik Sen Khang. Diam-diam ia mengagumi kebijaksanaan dan ucapan tenang Sen Khang. Di saat teman-temannya memohon dengan panik, pemuda itu menggunakan kata-kata tenangnya untuk mengetuk hatinya, memohon pengertiannya sebagai sesama manusia.
Ia mengelus-elus dagunya yang berjenggot pendek. Lalu ia mengangguk.
“Baik. Aku akan menyembuhkannya. Dengan satu syarat.”
__ADS_1
“Apa?” sambar Tuan Ouwyang.
Dewa Obat melirik jengkel. “Kalian semua harus tinggal di sini selama dua bulan penuh!”
Semua berpandangan. Apa tujuan Dewa Obat sebenarnya?
“Dan aku akan menyembuhkannya bila di dalam rombongan ini ada seseorang yang tidak bermarga Ouwyang, tapi masih memiliki hubungan keluarga dengan keluarga Ouwyang. Dalam hal ini, murid tidak termasuk!”
Semua tercengang. Apa maksudnya?
“Pai Tin Fung, mengapa syaratmu begini membingungkan?” seru Tuan Ouwyang kesal.
Di saat yang lain masih bingung memikirkannya, Siu Hung terkekeh. “Kalian ini kok bodoh sekali, sih? Masa permintaan mudah begini masih tidak mengerti juga?”
Serentak semua menoleh, termasuk Dewa Obat.
“Apa maksudmu, Bocah bandel? Jangan sok!” kata Tuan Ouwyang kesal.
Siu Hung mencibir sambil menghentakkan kaki. “Aduh! Masa kau tidak tahu? Masa kau tak mengerti? Orang yang dimaksud itu kan Kakak Luo! Kakak Luo tidak bermarga Ouwyang jadi ia tidak termasuk keluarga Ouwyang. Tapi dia memiliki hubungan keluarga dengan keluarga Ouwyang. Dia keponakan Bibi Sui She dan Bibi Sui She itu istri Paman Ouwyang Kuan. Jadi Kakak Luo adalah orang yang dimaksud!” jelasnya panjang-lebar. “Ini kan mudah sekali. Kakek memang bodoh!”
Dewa Obat terbahak-bahak mendengarnya, terutama pada bagian di mana Siu Hung mengatai Tuan Ouwyang bodoh.
Tuan Ouwyang mendengus jengkel, juga terkejut. Tidak biasanya Dewa Obat tertawa begini girang.
“Bocah pintar! Bagus sekali!” puji Dewa Obat. Ia kelihatan gembira sekali. “Siapa namamu?”
“Sung Siu Hung! Aku putri Pendekar Sung!” Siu Hung tak pernah lupa menyebutkan nama ayahnya bila memperkenalkan diri. Tanda bahwa ia sangat memuja dan bangga pada ayahnya.
“Kau benar-benar pintar. Juga berani!”
Siu Hung tampak begitu puas dengan dirinya sendiri. Ditatapnya Tuan Ouwyang dengan menyombong. “Nah, dengar kan? Dia tahu aku pintar! Memangnya kau? Dasar Kakek cerewet, jahil, sombong, dan besar mulut!”
“Sudahlah, cukup!” Dewa Obat tertawa terbahak-bahak. “Kusembuhkan dia sekarang!” Ia menarik lengan Chien Wan dengan tenaga yang luar biasa kuat sehingga semua orang tercengang. Chien Wan memang kurus, namun sebagai pria dewasa tentu saja bobot tubuhnya cukup berat. Dengan mudahnya Dewa Obat mengangkat Chien Wan seperti mengangkat sekarung kapas saja.
Kui Fang berlari mengikuti langkah Dewa Obat yang pergi membawa Chien Wan.
Ouwyang Ping berseri-seri memandangi Siu Hung. Ingin rasanya ia memeluk Siu Hung. Kali ini omong besar Siu Hung benar-benar mendatangkan keberuntungan buat mereka. Akhirnya Dewa Obat bersedia menolong Chien Wan!
“Anak bandel! Kenapa kau mengata-ngatai aku di depan si Tua itu, ha?” omel Tuan Ouwyang.
Siu Hung memberengut. “Kakek jelek! Mestinya kau senang karena Kakak Ouwyang sekarang sedang disembuhkan! Semua ini kan berkat mulutku. Coba kalau tadi aku tidak bicara. Pasti dia tidak mau menyembuhkan Kakak Ouwyang!” katanya bangga.
“Anak sombong!” maki Tuan Ouwyang.
Mereka berlari menyusul Dewa Obat ke arah perginya pria tua itu tadi.
***
__ADS_1