Suling Maut

Suling Maut
Kelelawar Hitam


__ADS_3

Ouwyang Ping mengerjap-ngerjapkan mata saat mulai terjaga dari pingsannya. Ia bangkit dengan kaget. Ia memandang sekeliling. Ia ada di dalam sebuah gua, berbaring di atas pembaringan batu beralaskan bulu beruang yang tebal. Dengan panik ia mencari-cari harpanya. Hatinya lega mendapati harpa itu ada di sudut pembaringan batu. Cepat-cepat ia meraih dan memeriksanya. Harpa itu baik-baik saja, syukurlah. Ia lega sekali.


Ia menurunkan kakinya ke lantai, berusaha menumpukan tubuhnya di sana. Namun ia merasa sangat lemas dan nyaris terjatuh jika saja ia tidak cepat-cepat berpegangan pada tepi pembaringan.


Seseorang masuk ke gua dengan gerakan cepat sekali dan langsung memapahnya.


Ouwyang Ping sangat kaget. Gerakan orang itu luar biasa. Rupanya orang ini memiliki ilmu ringan tubuh yang amat hebat. Gadis itu kembali duduk di atas pembaringan. Ia mengawasi orang itu dengan cemas.


Orang itu adalah seorang pria berpakaian serba hitam. Ia berusia kira-kira 40 tahunan, seusia dengan ayah Ouwyang Ping. Wajahnya yang berkerut dan tirus sekali, tanda betapa kurusnya dia. Sesungguhnya ia tidak terlalu buruk jika hidung dan tulang pipinya normal. Hidungnya bengkok menandakan hidung itu pernah patah. Tulang pipinya yang sebelah kanan lebih tinggi dari yang sebelah kiri, akibatnya bibirnya tertarik hingga miring. Meski begitu, matanya indah dan jernih sekali. Secara keseluruhan ia tampak sangat polos dan rapuh.


Ouwyang Ping berpikir-pikir dan teringat sesuatu. Ditatapnya laki-laki itu dengan tercengang dan juga sedikit takut. “Kau... apakah kau ini si Kelelawar Hitam?”


Laki-laki itu tersenyum lebar dan mengangguk senang. “Rupanya kau kenal aku,” sahutnya bangga. Suaranya aneh, kecil dan tinggi menyerupai cicit tikus. Sejujurnya jika dilihat dari rupanya, julukan kelelawar sebenarnya kurang pas. Ia lebih pantas dijuluki Tikus Hitam, bukan Kelelawar Hitam.


Perasaan takut Ouwyang Ping langsung sirna. Ia memandangi Kelelawar Hitam dengan heran. Pada pertemuan para pendekar, ia mendapat kesan bahwa Kelelawar Hitam adalah pencuri misterius yang kejam dan selalu meresahkan masyarakat. Namun begitu ia berhadapan langsung dengan orangnya, ia tidak yakin lagi dengan kesan itu.


Kelelawar Hitam salah tingkah dipandangi seperti itu oleh Ouwyang Ping. Ia mundur menjauhi Ouwyang Ping. “Eng... kau takut melihat wajahku?” tanyanya cemas. “Baiklah, aku tak akan dekat-dekat.”


“Bukan begitu. Aku tidak takut melihat wajahmu,” seru Ouwyang Ping. “Mendekatlah.”


Kelelawar Hitam memandang ragu.


“Sungguh!”


Kelelawar Hitam menghembuskan napas lega, lalu ia mendekat ke pembaringan. “Syukurlah. Selama ini orang-orang selalu takut melihat aku. Karena itulah aku cuma keluar pada malam hari atau pagi-pagi sekali. Bagaimana pun aku kan perlu makan.”


Ouwyang Ping tersenyum. “Lalu, bagaimana kau bisa menolong aku?” tanyanya heran. “Dan... mengapa teman-temanku tidak bersama kita?”


“Teman-temanmu?” gumam Kelelawar Hitam ragu. “Aku tidak tahu. Aku hanya melihatmu saja. Memangnya apa yang terjadi?”


“Aku ingat aku dan teman-temanku dijamu oleh orang Bukit Merak, selanjutnya kami dibawa untuk menemui teman kami yang ditawan, lalu kami semua lemas karena ternyata kami diberi obat bius. Aku tak ingat apa-apa lagi.” Ouwyang Ping memijit-mijit keningnya dengan sedih.

__ADS_1


“Agaknya kau dipisahkan dari yang lain. Saat itu aku hanya melihatmu hendak dibawa ke kamar Cheng Sam. Waktu orang yang membawamu lengah, aku langsung mengambilmu dan harpamu. Aku tidak tahu ke mana teman-temanmu.” Kelelawar Hitam tampak menyesal. “Maaf, ya?”


Ouwyang Ping cepat menggeleng. Ia merasa malu karena terdengar begitu tidak berterima kasih. “Tidak, jangan minta maaf. Aku sangat berterima kasih karena kau menolongku. Tapi, apa yang kaulakukan di Bukit Merak?”


Wajah Kelelawar Hitam merona. “Aku hendak mengambil makanan dari dapur mereka. Masakan mereka sangat enak. Aku sudah sering pergi ke sana diam-diam. Dan hari ini aku sangat senang karena mereka memasak banyak sekali hidangan pesta. Aku memakan beberapa mangkuk makanan. Lalu aku bersembunyi sampai mereka lengah dan selanjutnya menyelinap keluar. Saat itulah aku melihatmu.”


“Tadi kaubilang, aku mau... dibawa ke....”


“Kamar Cheng Sam,” angguk Kelelawar Hitam. “Dia mata keranjang. Aku takut dia kurang ajar padamu, apalagi kau sedang tidak sadar. Jadi kau kubawa.”


Tubuh Ouwyang Ping menggigil mengingat betapa nyarisnya dia menjadi korban perbuatan tidak senonoh. Ia masih belia, namun sudah memahami perilaku laki-laki berkat pendidikan yang diberikan kakeknya. Kalau bukan karena Kelelawar Hitam, tentunya dia....


“Kenapa kau? Kau kedinginan?” tanya Kelelawar Hitam cemas.


Ouwyang Ping menggeleng. Ia memaksakan seulas senyum. “Aku hanya memikirkan teman-temanku.”


“Nanti akan kucari mereka,” janji Kelelawar Hitam. “Aku sudah sering menjelajahi Bukit Merak. Aku tahu seluk-beluknya. Mungkin aku bisa mencari di mana mereka ditawan.”


“Pertama kali aku ke sana itu kira-kira lima tahun yang lalu. Tentu saja aku tersesat karena jalan di sana rumit sekali. Kemudian aku bertemu dengan bocah itu. Dia ingin mempelajari ilmu silat selain ilmu keluarganya. Saat melihatku, dia merengek memintaku mengajarinya. Sebagai imbalannya, dia mengajakku menjelajah Bukit Merak dan memberitahukan tempat-tempat yang bisa dilalui tanpa diketahui orang lain. Dia juga bilang, aku boleh datang kapan saja untuk makan,” kisah Kelelawar Hitam senang.


“Bocah itu...?”


“Chang Fei Yu, anak Dewa Seribu Wajah,” bilang Kelelawar Hitam. “Dia anak yang manja dan angkuh, namun sebenarnya hatinya baik. Dia sangat tidak akur dengan penasihat ayahnya yang bernama Cheng Sam. Aku sering melihat mereka bertengkar.”


Ouwyang Ping merenung. Pantas saja ilmu meringankan tubuh Fei Yu yang ditunjukkannya pada pertemuan para pendekar waktu itu begitu hebat. Rupanya dia belajar pada Kelelawar Hitam. Dan, jika memang perkataan Kelelawar Hitam benar, berarti mereka semua telah salah menilai Fei Yu.


Kelelawar Hitam memperhatikannya dengan senang. “Kau tahu? Kau mirip sekali dengan gadis yang kukenal sewaktu muda,” katanya.


“O ya?”


“Betul,” angguk Kelelawar Hitam. “Waktu melihatmu pertama kali, aku kaget. Kukira dia hidup kembali dan diculik Cheng Sam. Akhirnya aku sadar kau jauh lebih muda darinya.”

__ADS_1


“Siapa temanmu itu?” Ouwyang Ping tertarik mendengarnya.


“Dia gadis yang sangat cantik, putri seorang bangsawan. Dia menikah dengan tuan muda dari Lembah Nada. Kabarnya dia sudah meninggal dunia. Namanya Sie Hui Lun.”


Ouwyang Ping tersentak kaget. “Hei! Itu nama ibuku!”


Kelelawar Hitam membelalakkan matanya. “Jadi kau ini...?”


“Namaku Ouwyang Ping, aku dari Lembah Nada.”


“Astaga! Pantas saja aku merasa seperti mengenalmu!” Kelelawar Hitam menatap gadis itu dengan takjub. Matanya yang berkaca-kaca tampak bahagia. Dengan ragu, ia mengulurkan tangan untuk mengelus lembut lengan Ouwyang Ping.


Elusan itu membuat hati Ouwyang Ping hangat. “Rupanya kau teman ibuku.”


Kelelawar Hitam tersipu. “Yah... sebenarnya dibilang teman juga bukan. Ibumu... tidak terlalu menyukaiku. Dia tidak suka ada di dekatku. Padahal dulu wajahku tidak seperti ini. Wajah burukku ini akibat bertarung mati-matian dengan seorang musuh, suaraku juga berubah karena kena semacam racun sepuluh tahun lalu. Tetapi ibumu dulu sangat mencintai ayahmu dan tak mempedulikanku. Padahal aku... sangat menyukainya.” Wajahnya memerah.


Ouwyang Ping memandang iba. Ia memang tidak pernah mengenal ibunya karena ibunya meninggal saat melahirkan dirinya. Namun ia sering mendengar berbagai hal tentang ibunya, terutama dari kakeknya. Tuan Ouwyang Cu sering menceritakan masa muda ibu dan ayahnya. Mendiang ibunya disebut-sebut sebagai gadis yang angkuh dan ketus. Untung hal itu tidak menurun pada Ouwyang Ping.


“Aku mau menjadi temanmu, Kelelawar Hitam. Aku menyukaimu,” kata Ouwyang Ping lembut.


Senyum Kelelawar Hitam melebar. Matanya berbinar. “Sungguh?”


Ouwyang Ping mengangguk.


“Oh, aku senang sekali!” seru Kelelawar Hitam.


“Semua orang memanggilku Ping-er. Kau boleh memanggilku begitu.”


Kelelawar Hitam berjalan hilir-mudik. “Ping-er... Ping-er...,” gumamnya. Lalu ia berbalik dan memandangi gadis itu dengan sorot mata berseri-seri. “Namamu bagus sekali!”


Namun wajah Ouwyang Ping tampak mendung. Ia memikirkan teman-temannya yang entah bagaimana nasibnya di Bukit Merak. Bagaimana jika Cheng Sam—yang menurut cerita Kelelawar Hitam tidak menyenangkan—mencelakakan mereka. Ia betul-betul risau memikirkan mereka. Terutama Chien Wan.

__ADS_1


__ADS_2