Suling Maut

Suling Maut
Mencari Chi Meng Huan


__ADS_3

Chang Fei Yu benar-benar marah dan benci kepada penasihat ayahnya itu! Selama ini ia selalu punya perasaan bahwa sebenarnya Cheng Sam bermaksud buruk terhadap keluarga mereka. Ia menduga bahwa sesungguhnya Cheng Sam ingin memberontak terhadap ayahnya. Namun dugaan hanya tinggal dugaan karena ia tak punya bukti yang cukup untuk membeberkannya di depan ayahnya.


Bahkan seandainya ia punya bukti pun, belum tentu ayahnya akan mempercayainya. Peristiwa hari ini telah membuktikan bahwa ayahnya jauh lebih percaya pada Cheng Sam daripadanya. Ayahnya lebih mendengarkan perkataan Cheng Sam ketimbang dirinya. Cheng Sam sangat pintar bicara, pintar mengadu domba, serta memutarbalikkan fakta. Selama bertahun-tahun ayahnya termakan hasutannya.


Semenjak dahulu, Chang Cin Te dikenal sebagai tokoh aneh yang tidak cocok baik dengan golongan putih maupun hitam. Hal itu tidak menjadi masalah karena di Dunia Persilatan banyak pendekar yang seperti itu. Namun Dunia Persilatan agaknya menganggap Dewa Seribu Wajah lebih condong memihak golongan hitam.


Semua ini gara-gara Cheng Sam si ular berkepala dua!


Fei Yu khawatir dengan rencana Cheng Sam terhadap Luo Sen Khang dan kawan-kawannya. Walau di depan ayahnya Cheng Sam berencana mengundang mereka sebagai tamu, Fei Yu tahu pasti bahwa Cheng Sam berniat buruk terhadap mereka.


Selama ini, Fei Yu tak pernah mempunyai teman seorang pun. Kini ia tertarik kepada Sen Khang dan teman-temannya. Terutama sekali pada Ting Ting! Ia memang tak berani berharap dapat menjadi teman mereka. Kesan mereka terhadapnya sudah terlanjur buruk. Meski demikian, ia tak mau mereka salah paham terhadapnya. Jangan sampai mereka mengira dirinya orang yang licik dan jahat.


Fei Yu pergi ke kamar Ting Ting.


Ting Ting tengah duduk di meja dalam kamarnya sambil menyantap makanan kecil yang disediakan oleh A Nan. Ia sangat lapar, dan kebetulan makanan-makanan kecil yang manis itu memang kesukaannya.


Melihat Fei Yu masuk dengan wajah kesal, Ting Ting mencibir.


“Pasti kau habis dimarahi habis-habisan oleh ayahmu, kan?”


Fei Yu memandang Ting Ting sekilas, tetapi tidak menanggapi ejekan itu. Ting Ting jadi heran. Jika menilik sifat Fei Yu, ejekan itu pasti akan dijawabnya dengan sengit dan tak mau kalah. Namun kali ini tidak. Ia malah memalingkan muka dengan wajah murung.


Ting Ting tercengang. “Hei...,” sapanya hati-hati.


Fei Yu menoleh. “Pemuda yang waktu itu duduk di sampingmu...,” gumamnya bimbang, “apakah dia kekasihmu?”


Pertanyaan itu membuat Ting Ting kaget, wajahnya merona. “Kau ini bicara apa?!” sergahnya.


“Jawab saja! Apakah Chi Meng Huan itu kekasihmu?” sentak Fei Yu kesal.


“Jangan membentak-bentak aku!” hardik Ting Ting dengan wajah cemberut. Ia sama sekali tidak senang diperlakukan demikian oleh pemuda manja macam Chang Fei Yu. “Kakak Huan adalah kakak seperguruanku, bukan kekasihku!”


Fei Yu menghembuskan napas lega.


Ting Ting semakin heran. “Hei, kenapa kau bertanya seperti itu? Memangnya kau kenal Kakak Huan?”


Fei Yu tidak menanggapi. Ia berjalan ke arah pintu. Sebelum membuka pintu, ia menoleh ke belakang. “Habiskan makananmu, setelah itu beristirahatlah. Besok, kuantar kau pulang ke kakakmu,” katanya. Lalu ia menghilang di balik pintu sebelum Ting Ting sempat bereaksi.


Gadis itu mengerutkan kening dengan penuh tanda tanya. Mengapa tiba-tiba Fei Yu menanyakan soal Meng Huan? Dan jika Fei Yu benar-benar mengantarnya pulang besok.... Wajah Ting Ting memerah seketika. Berarti Fei Yu memang hanya ingin mengenal dirinya saja. Kalau begitu Fei Yu bukan orang jahat, cuma manja dan kekanak-kanakkan saja.


Ia merasa agak menyesal atas penilaiannya yang buruk terhadap Fei Yu.


***


Keesokkan harinya pagi-pagi sekali, Fei Yu sudah ada di depan pintu kamar Ting Ting. Ia mengetuk pintu kamar. Ketika pintu terbuka, Ting Ting sudah berpakaian rapi.


“Sudah siap? Ayo kita pergi sekarang,” ajak Fei Yu.


Ting Ting mengangguk. Tanpa banyak bicara, ia mengikuti Fei Yu keluar dari rumah itu. Ia berjalan cepat-cepat untuk mengimbangi langkah kaki Fei Yu yang ternyata cukup cepat juga.


Hari memang masih benar-benar pagi. Matahari belum lagi menampakkan wujudnya, masih berupa semburat cahaya keemasan di ufuk timur. Rerumputan masih basah dan lembap oleh butiran embun. Udara sangat sejuk bahkan lebih tepat dikatakan dingin. Maklumlah, mereka ada di daerah dataran tinggi.

__ADS_1


Mereka terus melangkah melewati jalan setapak yang menuju arah kota Lok Yang. Sudah cukup lama mereka berjalan. Matahari mulai tinggi dan cuaca semakin panas. Ting Ting mulai letih. Keringat membasahi wajah dan bagian-bagian tubuhnya. Wajahnya merah karena kepanasan, anak-anak rambutnya mengikal di seputar wajahnya dan melekat oleh keringat.


“Kita istirahat saja dulu,” kata Fei Yu kemudian, melihat betapa letihnya Ting Ting.


Ting Ting duduk di bawah pohon yang berdaun lebat. Ia kepanasan dan ingin berlindung dari sengatan sinar mentari yang panas. Ia menyeka peluh di wajahnya dengan lengan pakaiannya. Rambutnya agak berantakan, namun sama sekali tidak mengurangi kecantikannya.


Fei Yu menoleh dan terpesona. Gadis itu memang tidak pernah tidak cantik! Dalam keadaan yang bagaimana pun dia cantik. Ia diam memandanginya. Tak bosan-bosannya ia mengagumi pesona dara itu walau cuma dalam hati. Alangkah beruntungnya pemuda yang kejatuhan cintanya, pikir Fei Yu murung.


Diam-diam Fei Yu mengeluh. Perbedaan mereka sungguh besar. Dirinya terkenal sebagai putra datuk sesat Dunia Persilatan yang bertabiat aneh. Walau kesesatan ayahnya sebagian besar cuma dilebih-lebihkan, tetap saja mereka bukan berasal dari golongan putih. Sedangkan Ting Ting adalah putri seorang pendekar dari aliran lurus yang terkenal selalu melakukan kebajikan.


Ia tersenyum pahit. Seandainya pun Ting Ting menyukainya, hubungan mereka pasti takkan berhasil. Hubungan yang benar-benar tak punya harapan. Ditambah lagi Ting Ting sendiri tidak mempedulikannya.


Pandangan mata Fei Yu jatuh pada tusuk rambut Ting Ting yang terbuat dari batu mulia merah. Tusuk rambut itu bermodel sangat cantik walau tidak serumit perhiasan umumnya, sederhana namun amat memikat. Sesuai dengan karakter Ting Ting.


Fei Yu mendekat. Ting Ting heran melihatnya. Sebelum Ting Ting bergerak, Fei Yu sudah lebih dulu mencabut tusuk rambut itu. Ting Ting terkejut, refleks menjauhkan kepalanya. “Hei!” serunya kaget merasakan sejumput rambutnya terurai. Cepat-cepat dirapikannya rambutnya.


“Ini buat aku saja, ya?” pinta Fei Yu dengan wajah serius.


Ting Ting terperangah, lalu tertawa geli. “Untuk apa? Kau kan, laki-laki. Memangnya kau mau berdandan seperti perempuan, ya?”


Fei Yu meringis dengan wajah sedikit merona. “Untuk kenang-kenangan,” gumamnya.


Ting Ting menghentikan tawanya melihat ekspresi wajah Fei Yu yang serius. Gadis itu menggigit bibirnya dengan canggung. Ia tak mengerti mengapa Fei Yu menatapnya seperti itu. Kenang-kenangan katanya? Apa maksud ucapan Fei Yu itu?


“Aku tahu kau pasti benci padaku,” lanjut Fei Yu sambil memalingkan muka ke arah lain.


Ting Ting semakin tak mengerti. “Kau memang menyebalkan, egois, juga manja. Kau selalu menggoda dan menggangguku. Tetapi aku tidak punya alasan untuk benci kepadamu,” elaknya. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Yah... mungkin aku agak sebal padamu, tapi aku tidak benci sedikit pun!”


“Sekarang kau bisa bilang begitu. Suatu saat nanti—? ”


“Ting Ting!”


Panggilan yang diucapkan dengan nada lega itu memutuskan bicara Fei Yu. Keduanya menoleh ke asal suara. Seketika wajah Ting Ting berseri-seri melihat kedatangan tiga orang yang sangat dikenalnya: Sen Khang, Chien Wan, dan Ouwyang Ping. Khusus ketika melihat Chien Wan, wajahnya Ting Ting berubah sedih. Ia teringat kejadian malam itu, kala dirinya ditolak dengan begitu lugas oleh Chien Wan.


“Ting Ting.” Sen Khang mendekat dan tersenyum lega mendapati adiknya dalam keadaan baik-baik saja. “Kau tidak apa-apa?”


Ting Ting menganggukl. “Aku baik-baik saja, Kak,” jawabnya.


“Di mana Meng Huan?” tanya Chien Wan.


Ting Ting terkejut mendengar pertanyaan ini. selain karena yang berbicara adalah Chien Wan yang biasanya tak pernah banyak cakap, juga karena sadar bahwa Meng Huan tak tampak.


Keheranan Ting Ting makin bertambah karena pertanyaan Chien Wan tidak ditujukan kepadanya melainkan pada Fei Yu. Ting Ting melihat Fei Yu tampak muram. Gadis itu menoleh memandang Sen Khang dengan bingung. “Kak, apa yang....”


Sen Khang menggeleng, membuat Ting Ting sadar masalahnya serius. Ia pun bungkam.


Chien Wan tetap memandangi Fei Yu dengan dingin.


Fei Yu sangat kesal diperlakukan seperti itu. “Aku tak ada hubungannya dengan penculikan itu!”


“Penculikan apa?”

__ADS_1


Tak seorang pun mempedulikan pertanyaan Ting Ting. Sen Khang malah mengeluarkan sehelai kertas. “Lalu jelaskan maksud suratmu ini!” katanya geram.


“Surat apa?” sela Ting Ting lagi.


Sen Khang memberikan surat itu pada Ting Ting. “Kami pikir kau diculik bersama Meng Huan.”


Ting Ting membaca surat itu, dan seketika wajahnya memancarkan amarah dan rasa jijik yang luar biasa. Fei Yu memperhatikannya, dan menghela napas. Hal ini sudah diduganya sejak semula. Ting Ting akan sangat benci padanya, padahal ia sam sekali tidak bersalah. Ini semua gara-gara Cheng Sam!


Ting Ting mengangkat mukanya dan menatap Fei Yu dengan amarah menyala-nyala. “Kau!” jeritnya, “ternyata kau orang yang sangat jahat! Mengapa kau menculik Kakak Huan? Apa salahnya padamu?”


“Bukan aku yang melakukannya,” potong Fei yu gelisah.


“Aku tak percaya padamu!” seru Ting Ting. “Padahal aku mulai menganggapmu teman. Kusangka kau orang baik dan aku baru saja hendak membelamu di hadapan kakakku seandainya dia marah padamu. Ternyata....”


Gadis itu begitu marah dan kecewa hingga tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Tubuhnya gemetar. Ouwyang Ping yang sejak tadi diam saja, segera menghampirinya dan merangkulnya dengan sebelah tangan karena tangan satunya memegang harpa.


“Tuan Muda Chang,” kata Sen Khang berwibawa. “Kau sudah membawa adikku kembali. Aku akan anggap semua ini tak pernah terjadi jika kau mau membebaskan adik seperguruanku.”


“Bukan aku yang menculiknya,” bantah Fei Yu.


Sen Khang mengerutkan keningnya.


“Aku berkata yang sebenarnya!” teriak Fei Yu kesal.


“Tapi surat itu....”


“Kalian ingat laki-laki tua yang menyusulku di pertemuan itu? Namanya Cheng Sam. Dia penasihat ayahku, namun aku tak pernah mempercayainya. Aku selalu berusaha supaya dia dipecat dari Bukit Merak. Dia membenciku dan akan melakukan apa saja untuk menjatuhkan aku. Sekarang ini, bahkan ayahku lebih percaya padanya daripada aku,” jelas Fei Yu.


“Kaupikir kami percaya padamu?” tukas Sen Khang tajam.


Fei Yu menggertakkan gerahamnya. Ia menyadari bahwa apa pun yang dikatakannya, Sen Khang dan teman-temannya takkan pernah mempercayainya. Lagi pula mengapa mereka harus mempercayainya? Ayahnya sendiri tidak percaya padanya, padahal beliau mengenalnya seumur hidup. Apalagi mereka—orang-orang yang sama sekali tak mengenalnya.


Fei Yu tak sudi merendahkan dirinya. Ia juga tak sudi memohon agar Sen Khang dan yang lain mempercayainya. Ia terlalu angkuh dan harga dirinya terlalu besar untuk itu.


“Terserah!” dengus Fei Yu sinis. “Aku sudah mengatakan yang sebenarnya tapi kalian tidak mau percaya. Ya sudah! Datang saja ke kediaman kami dan temui ayahku, Dewa Seribu Wajah. Di sana dia yang berkuasa,” katanya sambil melipat tangan.


“Ayahmu? Bukankah kau yang bertanggungjawab dalam hal ini?” bantah Sen Khang.


“Semua hal yang terjadi di Bukit Merak adalah urusan ayahku.”


“Baik,” angguk Sen Khang. “Antarkan kami ke sana.”


Fei Yu cemberut sambil mengangkat dagu. “Itu bukan urusanku!”


Ting Ting langsung marah lagi mendengar hal ini. “Ternyata kau bukan hanya manja dan menyebalkan, tapi juga tidak punya rasa tanggung jawab! Kau benar-benar keterlaluan!” makinya tajam.


Fei Yu memandang gadis itu dengan marah. Kemudian ia membuang muka dengan angkuh dan melangkah pergi.


“Mau ke mana?”


“Tadi kan kalian minta diantarkan ke kediaman kami. Ikuti aku!”

__ADS_1


Tanpa menanti jawaban, Fei Yu berjalan ke arah kediaman keluarganya. Yang lain cepat-cepat menyusulnya.


__ADS_2