Suling Maut

Suling Maut
Chi Sien Lung


__ADS_3

Kelelawar Hitam menceritakan semua yang diketahuinya kepada Sen Khang dan yang lainnya. Semua mendengarkan dengan seksama…


Pada sebuah perkampungan di daerah perbatasan, terdapat seorang Khitan yang hidup menyendiri di sebuah rumah yang cukup luas dan jauh dari rumah penduduk lain. Biasanya orang Khitan itu hidup sendiri dan suasana di sana selalu sunyi. Namun dalam beberapa bulan, rumahnya telah dua kali kedatangan tamu dalam jumlah besar.


Orang Khitan bernama Tonggu itu menyambut kedatangan tamu-tamunya dengan raut wajah gusar.


“Ini kedua kalinya kau datang dengan luka parah,” kata Tonggu sebal. “Sudah kukatakan, kalian tidak boleh gegabah. Semuanya harus dibicarakan dengan seksama sebelum kalian mulai bertindak!”


Cheng Sam memapah Meng Huan ke pembaringan.


Tiba-tiba, Meng Huan terbelalak melihat seorang perempuan hamil yang tengah duduk di ruangan itu. Perempuan itu langsung melompat berdiri dan membelalakkan matanya ketakutan.


“Perempuan dungu!” raung Meng Huan, menyerbu perempuan yang bukan lain adalah A Ming itu dengan bernafsu. Tak dihiraukannya nyeri di tubuhnya. Tujuannya hanya satu, yakni menghajar A Ming.


“Hentikan!” Tonggu mencengkeram pakaian Meng Huan sehingga gerakannya menjadi terhalang.


“Kenapa dia ada di sini?” bentak Meng Huan marah.


“Aku yang meminta anak buah kita mengikuti gerak-geriknya, Anakku,” sela Cheng Sam. “Dia melarikan diri dari kita dan tampaknya bermaksud untuk membocorkan rencana kita ke Wisma Bambu. Untungnya dia gagal melakukannya karena mereka mengiranya penjahat yang hendak mencelakakan Ting Ting.”


“Aku lebih suka dia tidak di sini lagi!” bentak Meng Huan.


“Tidak bisa!” tukas Cheng Sam. “Dia sedang mengandung anakmu. Anak itu darah daging kita. Dia harus melahirkan dulu anak itu. Setelah itu terserah kau. Kau mau membunuh atau mempertahankannya, aku takkan ikut campur.”


“Jadi kau menyuruh orang membawanya ke sini?” Meng Huan memelototi A Ming, seolah gara-gara A Ming-lah kesialan demi kesialan menimpanya.


“Ya. Dan sebenarnya, Tonggulah yang kuminta mengawasinya.”


Meng Huan mendengus. “Guru, lepaskan aku!”


Tonggu melepaskan cengkeramannya.


Meng Huan menyipitkan matanya memandang A Ming. “Puih!” Ia meludah dan tak menghiraukan A Ming lagi.


A Ming menahan tangisnya.


Selama tiga bulan mereka tinggal di rumah Tonggu. Selama itu pula Meng Huan memperlakukan A Ming seperti sampah. Meng Huan sama sekali tidak mempedulikan perempuan itu. Ia bahkan tidak mempedulikan kondisi A Ming yang hamil tua. Tak ada seorang pun yang memperhatikannya.


Akibatnya walau kandungannya semakin membesar, namun tubuhnya sendiri semakin kurus. Ia berusaha makan dengan baik, namun tentu saja tak tersedia makanan bergizi untuknya. Ia makan apa saja yang disediakan mereka.


Ia tak pernah bicara sepatah kata pun. Bahkan saat pada suatu hari ia dipukul oleh Meng Huan karena tanpa sengaja menyenggol kaki pria itu. Ia tidak mengaduh. Hanya terdiam dengan pandangan hampa.


Akhirnya tiba saat baginya untuk melahirkan. Tak ada seorang pun yang mempedulikannya. Chi Meng Huan bahkan tidak menggubris perkataan ayahnya bahwa ia harus menunggui A Ming di luar kamar. Ia malah pergi ke desa setempat untuk menghindar.


A Ming sangat tersiksa. Kelahiran anaknya saat ini sangat sulit. Tubuhnya lemah karena selama ini ia kurang makan. Ia menjerit-jerit kesakitan. Keringat membanjiri tubuhnya saat ia berusaha mengejan. Bidan desa membantunya sekuat tenaga.


“Aaah! Ayah!” jerit A Ming memilukan. Air mata mengalir dari sudut-sudut matanya.


Bidan mengusap alisnya yang basah oleh keringat. “Ayo, Nyonya! Dorong terus!”


“Aaaa!” A Ming mengejan sekuat tenaga.


Teriakan-teriakan terus terdengar di kamar itu hingga akhirnya melemah dan berganti dengan jeritan seorang bayi.

__ADS_1


“Oaaa! Oaaa! Oaaa!”


Cheng Sam keluar kamar mendengar tangis bayi itu memecah keheningan malam. Ia menunggu di luar kamar. Tak lama kemudian bidan keluar dengan wajah berseri.


“Cucu Anda laki-laki, Tuan!”


Cheng Sam menyeringai. Ia segera masuk ke dalam kamar.


A Ming sedang memeluk anaknya dengan berurai air mata.


Cheng Sam meraih bayi itu tanpa mempedulikan protes lemah sang ibu. Dengan cepat dibawanya bayi itu keluar.


“Jangan...! Mau dikemanakan anakku...?” tangis A Ming.


Cheng Sam terus melangkah ke kamar Meng Huan yang sementara itu sudah kembali. Ia berseru gembira dan menunjukkan anak itu pada Meng Huan. “Lihatlah, Anakku! Bayimu laki-laki!”


Meng Huan mendengus. “Singkirkan dia!”


“Tunggu, Nak. Ini putramu. Setidaknya gendonglah dia dulu!” bujuk Cheng Sam.


Meng Huan menggeleng. “Tidak. Berikan dia pada perempuan itu!”


Cheng Sam menghela napas. “Dia memang harus menyusu pada ibunya. Tapi setidaknya berilah dia nama.”


“Aku tidak peduli!”


“Meng Huan!” Tonggu sudah ada di pintu kamar dan mengerutkan kening dengan gusar. “Berilah dia nama!”


“Kuberi dia nama Chi Sien Lung.”


Cheng Sam sangat kecewa karena Meng Huan memberikan marga Chi untuk anaknya. Namun ia tidak membantah. Ia tersenyum senang. “Nama yang sangat bagus! Aku menyukainya!”


Tiba-tiba bayi itu menangis kelaparan.


Cheng Sam bergegas menuju kamar A Ming.


“Susui dia!” perintah Cheng Sam. “Sien Lung kelaparan!”


A Ming menerima putranya dan menyusuinya dengan patuh. Sepeninggal Cheng Sam, barulah ia menangis.


“Sien Lung... Sien Lung...!” isaknya tersedu-sedan.


***


“Chi Sien Lung?”


Sen Khang, Fei Yu, dan Ouwyang Ping tertegun mendengar kisah yang diceritakan oleh Kelelawar Hitam. Mereka sangat iba mendengar kemalangan nasib A Ming. Terutama Fei Yu. A Ming adalah sepupunya. Ia tak bisa membayangkan betapa menderitanya A Ming berada dalam cengkeraman mereka.


“Bagaimana kau bisa tahu sedetil itu, Kelelawar Hitam? Mereka tidak tahu kau mencuri lihat?” tanya Sen Khang.


“Malam itu kan berisik sekali. Perempuan itu terus menjerit-jerit. Mereka tidak bisa mendengar kedatanganku. Tapi sempat aku khawatir. Habis orang yang berpakaian aneh itu kelihatannya sangat hebat.”


“Enam Khitan Bersaudara?” tanya Ouwyang Ping.

__ADS_1


“Bukan. Cheng Sam menyebutnya Tonggu.”


Fei Yu mengusap mukanya. “Tonggu. Siapa lagi itu?” keluhnya.


“Bisa jadi dialah orang yang mengajari Meng Huan Tendangan Penghancur Jiwa,” gumam Sen Khang.


“Sepertinya begitu,” angguk Kelelawar Hitam. “Sepertinya Meng Huan patuh sekali pada orang itu.”


“Kapan peristiwa itu terjadi?” tanya Fei Yu. “Kapan A Ming melahirkan anaknya?”


“Dua minggu yang lalu.”


Fei Yu mendesah. “Chi Sien Lung... Chi Sien Lung....”


“Kenapa kau terus mengulang-ulang nama itu?” tanya Ouwyang Ping heran.


“Sadarkah kalian? Anak itu akan menjadi saudara anakku. Bila anak itu besar dalam didikan mereka, bisa dipastikan dia akan menjadi sama jahatnya dengan mereka. Bukan tidak mungkin mereka malah berencana mengadu domba anakku dengan dia di kemudian hari!” kata Fei Yu cemas.


Sen Khang mengangguk. Tubuhnya menegang. “Ini tidak bisa dibiarkan!”


“Jadi bagaimana?” tanya Ouwyang Ping.


“Kita cari akal untuk merebut anak itu dan ibunya!” usul Sen Khang.


“Setelah itu bagaimana?” Ouwyang Ping berseru cemas. “Siapa yang mau menampung mereka?”


“Ouwyang Ping, kau lupa A Ming itu sepupuku? Tentu saja kami yang akan menampung mereka!” sela Fei Yu.


“Tapi bagaimana dengan Ting Ting?” desah Ouwyang Ping. “Mau tidak mau, kalian akan tinggal di satu rumah. Bagaimana mungkin Ting Ting bisa bertahan melihat anak Chi Meng Huan? Ia bisa menerima anaknya sendiri karena dialah yang mengandungnya. Apalagi setelah dia menikah denganmu dan kau mengakui anak itu sebagai anakmu. Tetapi anak A Ming lain lagi masalahnya.” Ia menggeleng-geleng. “Ting Ting akan kembali diingatkan pada traumanya di masa lalu!”


“Habis mau bagaimana?” tukas Fei Yu kesal.


“Nanti saja kita bicarakan lagi. Sekarang yang penting, jangan sampai Ting Ting mendengar hal ini. Dia sedang hamil tua. Jangan-jangan berita ini bisa memperburuk kondisinya,” lerai Sen Khang.


Yang lain mengangguk-angguk.


Yang mereka tidak tahu, Ting Ting sejak tadi ada di tepi jendela, mendengarkan pembicaraan mereka. Ia sangat terpukul mendengarnya. Bukan karena kata-kata Ouwyang Ping. Namun karena ia membandingkan kekontrasan yang terjadi pada dirinya dan A Ming.


Di sini ia disayang dan dimanjakan oleh suami, kakak, dan sahabatnya. Sementara di sana A Ming tersia-sia. Padahal mereka sama-sama mengandung anak yang tak berdosa yang dihadirkan oleh benih seorang pendosa. Ia merasa dirinya begitu beruntung.


Tidak. Ia tidak pernah membenci A Ming. Ia tahu bahwa A Ming juga merupakan korban seperti dirinya. Hanya bedanya, dia korban pemerkosaan dan A Ming korban penipuan. Bahkan menurutnya A Ming bernasib jauh lebih malang daripadanya. A Ming mencintai bajingan itu!


Air mata mengalir tanpa sengaja. Diusapnya air matanya dengan cepat dan ia berbalik hendak kembali ke taman dan menunggu Fei Yu di sana. Namun di tengah jalan gerakannya tersentak karena tiba-tiba perutnya berkontraksi. Ia memegang perutnya dengan ngeri. Apalagi ia kemudian merasakan cairan hangat mengalir di antara kedua pahanya. Ia tahu ketubannya sudah pecah.


Ia ketakutan.


Ia tidak tahu apa-apa mengenai hal ini.


Hanya ada satu yang dapat dilakukannya; memanggil suaminya.


“Fei Yu! Fei Yu! FEI YU!”


***

__ADS_1


__ADS_2