Suling Maut

Suling Maut
Prahara di Wisma Bambu


__ADS_3

Chien Wan semakin dekat ke Wisma Bambu. Ia memperlambat langkahnya sesaat karena merasa sangat letih. Ia pun menghentikan larinya dan memandang ke sekelilingnya.


Keadaan di sana sunyi. Ia tidak terlalu heran karena suasana di Hutan Bambu memang selalu sunyi. Namun anehnya, saat ini terlalu sunyi. Bahkan suara angin yang menghempas pepohonan pun nyaris tak terdengar.


Kening Chien Wan berkerut.


Ia pun melangkah lagi.


Sesuatu tampak di hadapannya dan ia membelalak karena terkejut. Tak sadar ia mulai berlari.


Dalam jarak beberapa meter di depannya, tampak sesosok tubuh berbaring di tanah. Ia semakin mendekat ke sosok itu dan betapa terpukulnya dirinya mengetahui sosok itu bukan lain adalah Sung Cen!


Chien Wan melompat menghampirinya. Perasaannya hancur melihat pria itu tergeletak berlumuran darah. Ia berlutut untuk memeriksa kondisi Sung Cen. Kondisinya sangat mengenaskan. Di sekujur tubuh Sung Cen terdapat luka-luka bekas sabetan pedang. Wajah Sung Cen rusak tersayat, membuatnya terpaksa harus memejamkan mata menahan mual. Ia pun menghela tubuh Sung Cen agar bersandar ke lengannya.


“Paman Sung! Paman!” panggil Chien Wan berulang-ulang. Ia meraba bagian bawah hidung Sung Cen dan meraba nadinya. Napasnya sudah terhenti dan nadinya sudah tak berdenyut. Namun tubuhnya masih hangat, pertanda Sung Cen belum lama tewas.


Chien Wan mengetatkan rahang. “Siapa yang melakukan hal ini? Siapa?” serunya sambil terus mengguncang-guncang tubuh Sung Cen.


Tetapi seperti apa pun Chien Wan bertanya dan mengguncangnya, tetap tidak terdengar sahutan karena Sung Cen memang sudah tewas.


Air mata mengalir di pipi Chien Wan yang pucat pasi. Ia amat berduka.


Sesaat lamanya ia membeku seolah tak dapat bergerak lagi. Sung Cen adalah orang yang disayanginya di samping orangtuanya sendiri. Dalam hatinya, Sung Cen menempati tempat khusus yang tak tergantikan oleh siapa pun. Kematiannya dengan cara yang mengenaskan seperti ini benar-benar membuatnya terguncang. Amarah dan kepedihan berbaur dalam hatinya.


Ia baru akan mengangkat jenasah Sung Cen ketika tiba-tiba sesuatu melintas di benaknya. Melihat bekas lukanya, tentu Sung Cen telah bertarung habis-habisan sebelum akhirnya terbunuh. Bagaimana Sung Cen bisa tewas di wilayah Wisma Bambu tanpa ada seorang pun yang mendengar pertarungan itu?


Jangan-jangan....


Chien Wan cepat-cepat meletakkan jenasah Sung Cen di sisi jalan dan langsung berlari bagai kesetanan menuju Wisma Bambu.


Ya Tuhan, jangan biarkan aku terlambat....


Chien Wan berlari sangat kencang dan akhirnya tiba di gerbang Wisma Bambu. Tidak ada seorang pun di sana dan Chien Wan tidak mau bersusah payah mengetuk pintu. Ia menerobos masuk dan bertabrakan dengan seseorang.


Chien Wan terpaku.


Orang yang menabraknya itu mengenakan pakaian hitam. Tangannya memegang pedang yang berlumuran darah. Wajahnya....


Chien Wan melihat dirinya sendiri!


Tanpa memberi kesempatan Chien Wan untuk bergerak, orang itu langsung melompat menjauh dengan kecepatan yang luar biasa. Chien Wan ingin mengejar, namun seketika teringat anggota keluarga Luo. Pasti terjadi sesuatu!


Ia berlari masuk dan melupakan niatnya mengejar orang yang menyamar sebagai dirinya itu. Ia terpukul sekali kala melihat beberapa tubuh penuh darah bergelimpangan di hadapannya. Darah yang menggenang begitu banyak hingga Chien Wan nyaris tidak bisa mengenali mayat-mayat itu. Ia mengenali salah satu dari pakaiannya. Dan orang itu Tuan Luo!


“Paman!” Chien Wan menghambur dan membalikkan tubuh itu. Tak peduli tubuhnya sendiri menjadi penuh darah.


Tuan Luo sudah tewas. Wajahnya rusak tersayat. Sepasang matanya membeliak dan mulutnya ternganga, pertanda bahwa ia tewas dalam keadaan shock. Sebuah pedang menembus dadanya tepat ke arah jantung. Dari sanalah mengalir darah yang membanjiri tubuhnya.


Chien Wan tak mampu menahan air matanya. Ia bahkan mulai menangis tersedu-sedu. Ia mengguncang tubuh Tuan Luo, seolah dengan begitu Tuan Luo akan hidup kembali. Ia melihat pedang yang masih menusuk dadanya itu. Dengan segenap harapan, dicabutnya pedang itu.


Namun percuma saja. Tuan Luo tidak bergerak sedikit pun. Chien Wan menggenggam pedang itu erat-erat. Dan ia teringat.


“Bibi....” Seketika ia tegang. “Mana Bibi?”


Ia meletakkan kembali Tuan Luo di tanah, dan melesat masuk ke dalam ruang utama. Dalam keadaan kebingungan, ia lupa bahwa pedang pembunuh itu masih ada di tangannya.


Keadaan di sana jauh lebih buruk. Semua orang di sana tewas berlumuran darah. Seisi ruangan porak-poranda dan bergelimpangan. Nyonya Luo tergeletak di tengah ruangan dalam kondisi serupa dengan suaminya; tertusuk di bagian jantung, hanya saja di dadanya tidak terdapat pedang.


“Bibi! Bibi!” serunya sambil mengguncang-guncang bibinya.

__ADS_1


Ia melihat berkeliling. Tubuhnya gemetar hebat. Dan ia tak kuasa menahan kehancuran hatinya. Ia meraung.


“Aaaaaa!!!!”


***


Sen Khang, Ouwyang Ping, dan Kui Fang sudah berada tak jauh dari Wisma Bambu. Mereka berjalan tanpa henti karena ingin segera menyusul Chien Wan. Namun tentu saja karena keadaan mereka sedang dalam kondisi letih, perjalanan tak bisa dilakukan secepat yang mereka inginkan.


Mendekat ke Hutan Bambu, perasaan Sen Khang tiba-tiba tidak enak. Ia mempercepat langkahnya.


Saat itu hari sudah gelap. Pada saat menjelang musim gugur, waktu memang cepat sekali menjadi gelap. Padahal menurut perhitungan jam, seharusnya matahari masih bersinar. Bulan pun sudah mulai menampakkan dirinya.


Saat memasuki Hutan Bambu, perasaan Sen Khang semakin tidak enak. Debaran jantungnya mengencang. Ia semakin mempercepat langkah. Kedua gadis yang bersamanya merasa heran, tetapi mereka tidak bertanya apa-apa. Mereka mengikuti saja langkah pemuda itu.


Saat melintasi jalan setapak di dalam Hutan Bambu, tak jauh lagi dari Wisma Bambu, tiba-tiba Kui Fang menjerit.


“Aaa!”


Sen Khang dan Ouwyang Ping berhenti berjalan dan langsung waspada.


“Ada apa, Kui Fang?” tanya Ouwyang Ping.


“Itu! Ada mayat di sana!” tunjuk Kui Fang. Tangannya terjulur menunjuk ke arah tepi jalan, memperlihatkan sesosok mayat pria yang berbaring membujur dan penuh luka.


Sen Khang dan Ouwyang Ping kaget sekali mengenali mayat itu, mereka berlari dan bergegas menghampiri.


Sen Khang segera berlutut dan mengguncang-guncang mayat yang mulai kaku itu.


“Paman! Paman Sung!” serunya panik.


Ouwyang Ping ternganga dan menggenggam gagang harpanya erat-erat.


Kui Fang ikut mendekat. “Siapa itu?” tanyanya takut.


Sen Khang berdiri dengan wajah pucat. “Ada apa ini?”


“Kita segera ke rumah induk!” ajak Ouwyang Ping.


Mereka bertiga berlari pergi tanpa membuang waktu lagi. Namun belum jauh berlari, mereka menabrak seseorang.


“Meng Huan!”


Sen Khang mencekal erat-erat lengan Meng Huan.


Meng Huan mengerjap-ngerjapkan mata dan langsung berseru, “Oh, Sen Khang! Syukurlah kau datang!” serunya.


Kondisi Meng Huan sangat menyedihkan. Wajahnya bernoda darah. Tubuhnya juga penuh darah. Lengan dan kakinya luka tersayat pedang. Pada pundaknya terdapat luka tusukan pedang yang terus mengucurkan luka.


“Ada apa? Apa yang terjadi?” seru Sen Khang sambil mengguncang lengan Meng Huan.


“Wis... Wisma Bambu diserang...!”


“Cheng Sam-kah?” teriak Sen Khang murka.


“Siapa Cheng Sam?” Meng Huan balik bertanya. Ia menggeleng kuat-kuat. Lalu ia melihat ke samping dan membeliak tajam menatap Ouwyang Ping. “Bukan! Chien Wan yang melakukannya!”


“Apa?” seru Ouwyang Ping kaget.


“Tidak mungkin!” seru pula Kui Fang.

__ADS_1


Sen Khang menyentak lengan Meng Huan dengan marah. “Jangan bercanda!”


Meng Huan tersengal. “Aku tidak bohong! Guru dan Bibi juga....”


“Ayah dan ibu?” potong Sen Khang cepat. Ia melepaskan cekalannya dan mulai berlari menuju Wisma Bambu tanpa mempedulikan teman-temannya lagi.


Makin dekat, mereka merasakan bau anyir darah yang begitu kuat.


Jantung Sen Khang berdetak kencang. Ia semakin tak dapat mengendalikan diri. Ia bergegas masuk melewati gerbang yang terbuka. Dan terpaku.


Ouwyang Ping dan Kui Fang ikut masuk dan mereka pun terpaku.


Tubuh Sen Khang mulai bergetar hebat. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Sekujur tubuhnya terasa dingin dan mati rasa. Sesaat, ia seolah tak dapat melihat apa pun, tak dapat mendengar apa pun. Seluruh panca inderanya mati. Pemandangan yang terpampang di hadapannya ini sungguh tak pernah terbayangkan akan dilihatnya.


Ruangan taman depan penuh dengan mayat yang berlumuran darah. Namun yang dilihatnya pertama kali tentu saja mayat ayahnya.


Wajah Tuan Luo tampak penasaran. Matanya terbuka lebar dan mulutnya menganga.


“Ayaaaaahh!” raung Sen Khang keras sambil menubruk jenasah ayahnya. Diguncang-guncangnya tubuh kaku itu dengan sekuat tenaga. “Bangun, Ayah! Bangun! Kau tak boleh mati!” teriaknya dengan air mata bercucuran. Namun tentu saja ayahnya yang sudah menjadi mayat itu tidak bergeming.


Ouwyang Ping dan Kui Fang terpaku di tempat mereka berdiri. Hati mereka seperti tertusuk. Perut mereka mual karena tak terbiasa melihat mayat dan darah sebanyak itu, hampir saja seluruh isi perut mereka keluar. Sekuat tenaga mereka menahan perasaan mual itu.


Meng Huan menyela mereka dan menghampiri jenasah gurunya. Ia menangis pilu.


Sen Khang menangis tersedu-sedu. Batinnya terpukul sekali. Ia tak kuasa menahan dirinya. “Siapa... siapa yang telah melakukan hal keji ini...?!” geramnya. Giginya gemeletuk sementara rahangnya mengetat.


“Chien Wan menyerang kami....”


Belum selesai Meng Huan bicara, Sen Khang berdiri.


Ouwyang ping tak tahan lagi. Ia mendekat dengan air mata bercucuran. “Kakak Luo....”


Sen Khang sama sekali tidak mendengarnya. Ia sibuk tenggelam dalam dukanya sendiri. Bahunya menggigil menahan sedih dan amarah. Kalau saja ia bukan laki-laki dan tidak dididik untu kuat sejak ia masih kecil, ia pasti sudah pingsan. Derita ini benar-benar memukul jiwanya.


“Sen Khang!”


Panggilan Meng Huan juga tidak didengarnya. Ia memejamkan mata, tak sanggup menghentikan deraian air matanya yang semakin deras. Ia berusaha mengeraskan hatinya. Diusapnya wajahnya dengan kasar. Ia pun membungkuk untuk mengusap wajah ayahnya supaya mata dan mulut yang terbuka itu menutup.


“Ayah... siapa pun yang melakukan hal ini... takkan kulepaskan...,” geram Sen Khang. “Aku akan membalaskan dendammu. Istirahatlah dengan tenang.”


“Sen Khang, ibumu....”


Sen Khang tersentak. Betul juga. Di mana ibunya?


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia masuk ke dalam ruang utama.


Napasnya tertahan.


Seisi ruangan porak-poranda. Namun ia tidak mempedulikan kerusakan ruangan maupun mayat-mayat pelayan yang bergelimpangan di ruangan itu. Yang dilihatnya hanyalah Chien Wan yang tengah berlutut di tengah ruangan dengan tubuh Nyonya Luo di pangkuannya. Pedang pembunuh itu masih ada di tangannya karena ia tak sempat melepaskannya. Darah yang melumuri pedang itu pun sudah mengering pula.


Chien Wan diam membisu. Matanya tak berkedip menatap wajah Nyonya Luo. Darah Nyonya Luo sudah mengering, demikian pula darah yang membasahi pakaian dan kulit Chien Wan. Ia mendengar kedatangan Sen Khang dan teman-temannya, namun tubuhnya tak bisa bergerak. Ia terlalu sibuk meratapi kedukaannya.


Sen Khang gemetar. Ia tidak percaya sedikit pun akan ucapan Meng Huan tadi. Ia mengira Meng Huan pasti hanya salah paham dan salah lihat, atau penjelasan lain yang masuk akal. Tak disangka ia melihat hal yang tidak dipercayainya itu dengan mata kepalanya sendiri!


Ouwyang Ping dan Kui Fang masuk diikuti Meng Huan.


“Kakak Wan!” seru Ouwyang Ping tak percaya.


Chien Wan tersentak dan menengadah. Dilihatnya wajah Ouwyang Ping. Ditatapnya muka yang pucat pasi itu. Ditemuinya sorot jijik di sepasang matanya yang indah. Dan ia tahu mereka pasti mengira dirinyalah yang telah melakukan kekejian ini.

__ADS_1


“Aku—“


Namun perkataannya tidak dilanjutkannya karena ia melihat amarah yang berkobar dahsyat pada diri Sen Khang. Kebencian yang dalam dan tidak dapat dihindarinya.


__ADS_2