Suling Maut

Suling Maut
Amarah dan Nestapa


__ADS_3

Sen Khang maju dengan amarah yang luar biasa. Ia langsung menerjang dan merenggut kerah baju Chien Wan, menyingkirkannya dari jenasah ibunya. Setelah itu ia mendorong Chien Wan dengan keras hingga Chien Wan terjungkal dan menabrak meja.


Bruk! Meja itu langsung ambruk karena tertimpa bobot tubuh Chien Wan.


“Sen....”


“Jahanam! Mengapa kaulakukan ini, Bajingan!” raung Sen Khang murka.


Chien Wan bangkit dengan susah payah. Tubuhnya gemetar dan sejenak kepalanya berputar melihat pemandangan di sekitarnya. Mayat-mayat bergelimpangan di sekelilingnya dengan bergelimang darah. Tubuh Nyonya Luo yang tadi berusaha disadarkannya kini tampak jelas. Ia tidak mungkin lagi disadarkan karena sudah tewas!


Sebelum Chien Wan sepenuhnya bangkit, Sen Khang menerjangnya lagi dan meninju wajahnya dengan keras sekali. Membuatnya kembali terpelanting. Namun Sen Khang tidak mau berhenti, terus saja memburunya dengan serangan-serangan yang lebih dahsyat lagi.


“Jahanam kau! Biadab!” maki Sen Khang sambil terus memukuli Chien Wan dengan membabi-buta. Air mata mengalir deras di wajahnya yang garang. Hatinya hancur menyaksikan malapetaka itu. Orangtuanya tewas. Di kediaman mereka sendiri. Oleh sahabat baiknya.


“Kakak Luo, jangan!” Kui Fang berusaha mendekat, ingin memisahkan mereka. Namun Meng Huan menahannya karena takut pukulan itu juga akan melukai gadis itu.


Kedukaan mendalam membuat Sen Khang tidak dapat melihat kehancuran di wajah Chien Wan. Juga tidak menyadari bahwa Chien Wan sama sekali tidak berusaha melawan.


“Kau lebih buas dari binatang!” teriak Sen Khang.


Bak! Buk! Bak! Buk! Pukulan itu terus melayang ke tubuh Chien Wan. Chien Wan seolah mati rasa. Ia tak dapat merasakan sakit itu karena hatinya lebih sakit.


“Kakak Ouwyaaaang!!” jerit Kui Fang pilu sambil terus berusaha meronta.


Ouwyang Ping yang sejak tadi dalam keadaan mati rasa, menyadari apa yang sedang terjadi. Dengan cepat ia menarik tubuh Chien Wan dan menghalangi pukulan Sen Khang dengan tubuhnya.


Sen Khang tersengal-sengal menarik serangannya.


Pandangannya tertuju pada Sen Khang dan Ouwyang Ping yang berdiri di hadapannya. Ia kebingungan karena amarah Sen Khang. Ia menatap mereka dengan penuh pertanyaan dan melihat ekspresi jijik yang tak dapat disembunyikan dalam pandangan mereka.


Meng Huan menghampiri. “Pembunuh!” serunya murka.


Chien Wan terpaku. “Apa? Apa maksudmu?” serunya gemetar. “Bukan aku... aku tidak melakukan....”


Sen Khang tak bisa menahan dirinya. Ia mendorong Ouwyang Ping yang menghalanginya ke pinggir dan kembali menerjang Chien Wan. Dicengkeramnya kerah bajunya. Pandangannya membara menatap wajah Chien Wan yang bengkak menyedihkan.


“Apa yang tidak kaulakukan, ha?!” bentaknya tersengal-sengal. “Dengan mata kepalaku sendiri aku melihatmu berlutut di samping jenasah ibuku. Tanganmu menghunus pedang! Kau bajingan!”


Chien Wan melihat pedang di tangannya. Ia lupa bahwa sejak tadi ia menggenggam pedang itu dan tidak melepaskannya. Seolah pedang itu melekat di tangannya. Ia terguncang dan balas memandang Sen Khang. “Kau mengenalku sejak kecil. Mengapa kau bisa menuduhku seperti ini?” tanyanya sedih dan terluka.


“Menuduh?” geram Sen Khang. “Aku tidak akan menuduh jika aku tidak melihat sendiri!”


“Aku tidak melakukannya. Saat aku datang, mereka sudah tewas.” Chien Wan memejamkan mata dengan pilu. “Aku datang terlambat....”


“Dusta!” Sen Khang mendorong tubuh Chien Wan keras-keras hingga sahabatnya itu terhuyung. “


“Aku tidak berdusta.”


“Lantas mengapa pedang berlumuran darah itu ada di tanganmu?” bentak Sen Khang.


“Aku... aku mencabutnya dari tubuh ayahmu....”


“Bohong!!!” raung Sen Khang.


“Ka... kakak....”


Suara itu terdengar demikian lemah. Serentak mereka semua menoleh.


Ting Ting melangkah mendekati mereka. Gerakannya begitu lemah, nyaris merangkak. Ia kelihatan begitu kesakitan. Wajahnya pucat pasi sementara sekujur tubuhnya gemetar hebat.


Dan yang paling mengejutkan, pakaian Ting Ting yang biasanya selalu rapi dan indah kini terkoyak dan cabik-cabik. Terutama pada bagian bawah. Lengan pakaiannya sudah koyak menampakkan memar-memar di sekujur lengannya. Darah merembes pada celana yang dikenakan Ting Ting.


“Ting Ting!” Sen Khang melupakan amarahnya pada Chien Wan dan melesat menghampiri adiknya. Ia berhasil menangkapnya sebelum Ting Ting tersungkur.


Seketika, semua orang kecuali Chien Wan mendekat dan berseru panik meneriakkan nama Ting Ting.

__ADS_1


Sen Khang mengguncang-guncang adiknya, mengira Ting Ting pingsan. Namun ternyata Ting Ting tidak pingsan. Ia sangat kesakitan, namun tidak pingsan.


“Kak....”


“Ting Ting, kau kenapa?” Sen Khang sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi pada adiknya. Namun Ouwyang Ping terkesiap dan ia mendengarnya, lalu menoleh. “Apa yang....” Ia tidak melanjutkan kata-katanya karena melihat pandangan Ouwyang Ping bertumpu pada suatu titik di tubuh Ting Ting. Brang! Ia bagai ditampar kala menyadari adiknya telah diperkosa.


“Kakak Wan... Kakak Wan yang....” Ting Ting tidak melanjutkan kata-katanya karena ketidaksadaran langsung menghempasnya.


Sen Khang mengetatkan rahangnya. Ia berbalik dan melihat Chien Wan yang masih berada di dalam ruangan dengan wajah terpukul. “Jahanam!” teriaknya dengan amarah membara.


Chien Wan menggeleng. “Bukan aku! Aku tidak melakukannya! Aku tidak melakukan semua itu!” serunya.


“Keparat!” Sen Khang meletakkan adiknya yang pingsan di lantai dan langsung mendatangi Chien Wan dengan tekad kuat untuk membunuh di matanya.


Kui Fang segera bertindak. Ia mendorong Chien Wan. “Pergi! Lekaslah!”


Chien Wan sendiri juga menyadari. Ia harus pergi dari situ. Amarah Sen Khang tengah begitu membabi-buta. Ia tidak punya pilihan lain selain pergi. Saat ini, penjelasan bagaimana pun tidak akan didengar oleh Sen Khang. Kemarahan sudah mengaburkan segenap akal sehatnya.


Secepat kilat Chien Wan berkelebat pergi.


“Jangan lari kau!” bentak Sen Khang, hendak mengejar.


“Sen Khang!” Meng Huan menahannya. “Jangan dikejar. Sekarang ini yang paling penting adalah mengurus jenasah mereka dan merawat Ting Ting.”


Kepala Sen Khang bagai diguyur air dingin. Benar. Pembalasan dendam bisa ditunda. Yang penting ia harus mengurus pemakaman... Ia berjalan masuk dengan langkah terhuyung-huyung. Dihampirinya tubuh adiknya dan diangkatnya. Dibawanya adiknya itu masuk.


Sementara itu, Meng Huan mulai bekerja mengumpulkan semua jenasah di ruangan depan. Ia bekerja sambil terisak-isak. Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Ouwyang Ping dan Kui Fang yang membantunya sambil menahan mual.


***


Sen Khang mati rasa. Kemarahan menguasai benaknya, bercampur jadi satu dengan kepedihan dan kekecewaan. Ia diam membisu di sisi pembaringan adiknya, menunggunya sadar.


Setelah beberapa saat, Ting Ting tersadar. Ia membuka mata dan langsung melompat duduk. Selimut yang tadi diselubungkan Sen Khang ke tubuhnya tersingkap.


Sen Khang terjaga dari renungannya. Ia menghampiri. “Ting Ting!”


Sen Khang berusaha menenangkan adiknya. “Ting Ting, ini aku!”


“Lepaskan! Bukan ini yang kumau!” jerit Ting Ting sambil mengamuk dan memukuli kakaknya dengan kalap.


Plak!” Sen Khang terpaksa menampar adiknya untuk menenangkannya.


Ting Ting tersentak, terpana. Dipandangnya orang di hadapannnya dengan bibir gemetar. Tangisnya pun meledak tak terkendali.


“Kakak! Kakaaaaaakkk!!!!” jerit Ting Ting histeris.


Sen Khang meraup tubuh adiknya dengan perasaan hancur. Tubuh Ting Ting berguncang-guncang karena tangis hebatnya. Sen Khang mendekap adiknya erat-erat dengan menahan tangisnya sendiri.


Keributan ini membuat Meng Huan, Ouwyang Ping, dan Kui Fang datang.


Mereka terpaku melihat pemandangan yang menyedihkan itu.


“Mengapa Kakak Wan tega... berbuat begini terhadapku, Kak?” tangis Ting Ting pilu. Hatinya sungguh hancur. “Padahal... dia hanya perlu meminta pada... Ayah dan Ibu untuk menikahiku! Dia... tahu aku... mencintainya!”


Kui Fang membeku di tempatnya. Ia tidak pernah tahu bahwa ternyata Chien Wan dicintai sepupunya sendiri! Dan mengenai pemerkosaan itu.... Sedikit pun ia tidak percaya!


“Itu tidak benar!” serunya tanpa dapat menahan diri. “Untuk apa Kakak Ouwyang melakukan semua ini? Ini suatu kesalahan!”


“Kui Fang...!” Ouwyang Ping terkejut. Bahkan ia sendiri tidak yakin kakaknya tidak bersalah. Bagaimana mungkin Ting Ting bisa mengarang sesuatu seperti ini sedangkan kenyataan yang terlihat memang sesuai dengan yang diceritakan? Pembelaan Kui Fang terhadap orang yang baru beberapa saat dikenalnya itu membuatnya terpukul.


“Itu betul!” jerit Ting Ting hancur. “Kakak Wan begitu kejam! Dia... dia memaksaku...!”


“Bohong!” Kui Fang mundur sambil berpegangan pada ambang pintu. Tangannya gemetar hebat. “Kakak Ouwyang tidak mungkin sekejam itu! Mana mungkin orang sebaik dia tega membunuh orangtua kalian? Mana mungkin dia melakukan perbuatan hina begini? Apa motifnya?!” serunya tanpa bisa menahan diri.


Ting Ting tersentak. “Apa maksudnya? Siapa yang telah dibunuh?”

__ADS_1


Sen Khang langsung pucat. Betul juga, Ting Ting belum mengetahui semua kejadiannya....


“Kakak...?”


Sen Khang menelan ludahnya yang terasa pahit. “Ayah dan Ibu....” gumamnya pedih.


Ting Ting ternganga, lalu menggeleng-geleng panik. “Tidak... Tidak...!” jeritnya kalap. Lalu ia meronta melepaskan diri dari pelukan kakaknya dan berlari tersaruk-saruk menuju ruang utama tanpa peduli bahwa ia masih mengenakan pakaian yang koyak-koyak. Tak peduli walau sekujur tubuhnya, terutama bagian paling pribadi tubuhnya terasa sakit.


Meng Huan dan kedua gadis itu telah membaringkan semua jenasah di lantai dengan teratur. Semuanya berjumlah dua puluh tiga orang, termasuk ibu dan anak yang beberapa waktu lalu ditolong oleh Sen Khang dan Ouwyang Ping. Mereka juga menjadi korban.


Ting Ting terpaku menatap mayat-mayat itu. Ia memusatkan perhatian pada jenasah orangtuanya yang diletakkan berdampingan. Ia tak dapat mempercayai penglihatannya. Digosok-gosoknya kedua matanya, berharap semua itu cuma mimpi. Namun yang ada di hadapannya sekarang ini bukanlah mimpi.


“Aaaaa!!!” Ting Ting menjerit sekeras-kerasnya, lalu terkulai pingsan di samping jenasah orangtuanya.


Sen Khang memburu adiknya dan memeluknya dengan hati pedih.


Meng Huan terisak dan menghampiri kedua kakak beradik itu tanpa tahu harus mengucapkan apa.


Ouwyang Ping berdiri di sudut ruangan. Matanya terpejam. Ia tak tahu bagaimana cara menghibur mereka. Tak ada yang dapat dilakukannya. Bahkan ia juga tak yakin apakah mereka mau menerima penghiburan darinya mengingat dirinya adalah adik dari pembuat malapetaka itu.


Hanya Kui Fang yang tidak mau menerima semua itu. Ia tidak percaya sedikit pun bahwa Chien Wan melakukan semua itu. Pasti ada penjelasan mengapa Chien Wan ada di lokasi kejadian! Pasti ada penjelasan dan pasti ada penyelesaian!


Tanpa bicara sepatah kata pun, ia menyelinap keluar.


“Tunggu!”


Kui Fang berhenti dan menoleh.


Meng Huan berdiri dan menghampirinya. “Kau ini siapa? Dan apa hubunganmu dengan Chien Wan? Mengapa kau membelanya?” tanyanya tajam.


Kui Fang mengangkat mukanya. “Aku Wu Kui Fang, putri ketua Partai Kupu-Kupu. Aku membela Kakak Ouwyang karena aku mengenalnya! Dan siapa pun yang mengenalnya akan tahu tanpa keraguan sedikit pun bahwa dia orang yang baik. Karena itu aku berada di pihaknya!”


Sen Khang tersentak. Diletakkannya adiknya di lantai dan ia menghampiri Kui Fang. “Kau membelanya tanpa tahu apa yang kaukatakan! Dia jelas-jelas bersalah!” katanya gusar. “Jangan membelanya. Atau kau akan berhadapan denganku!”


Kui Fang balas memandang tanpa takut. “Kau sahabatnya. Kau mengenalnya sejak kecil. Tentu kau lebih tahu dia itu seperti apa. Dan kau—“ Ia memalingkan tubuh dan menatap Ouwyang Ping dengan tajam, “kau adiknya. Seharusnya kau berdiri di pihak kakakmu, bukan malah ikut-ikut memojokkan dia!”


“Kita semua melihat dengan mata kepala sendiri!” bentak Sen Khang gusar. “Aku melihatnya! Kau melihatnya! Semua melihatnya! Dia ada di tempat kejadian! Masa semua ini tidak membuatmu yakin?”


“Aku tidak akan meyakini sesuatu sampai aku lihat sendiri!”


“Kau melihatnya tadi!”


“Ya! Tapi aku tidak melihat Kakak Ouwyang membunuh. Aku hanya melihatnya berlutut di sisi ibumu dengan pedang di tangannya—yang menurut keterangannya dicabutnya dari tubuh ayahmu. Kau juga tidak melihatnya membunuh, tidak melihatnya menusukkan pedang itu ke tubuh ibumu. Dia tidak melakukan apa-apa saat kita tiba.”


Sen Khang tersentak lagi dan terhuyung.


“Apa kau tidak mau memikirkan kemungkinan ada orang yang ingin memfitnah Kakak Ouwyang?”


Giliran Ouwyang Ping yang tersentak. Pikirannya kembali terbuka.


“Aku pergi!”


Kui Fang kembali melangkah.


“Tung—“


“Biarkan dia pergi!” hardik Sen Khang. Kemarahan kembali merasuki otaknya. Ia tidak mau mendengarkan apa-apa lagi. Ia juga marah kepada Ouwyang Ping. “Dan kau? Apa kau juga tidak mau mencoba membuktikan kakakmu tidak bersalah?” ejeknya.


Ouwyang Ping tidak marah. Ia tahu betapa sedih dan terpukulnya Sen Khang. Ia pun tidak berkata apa-apa.


Ting Ting terjaga dari pingsannya. Namun begitu terjaga ia langsung teringat apa yang telah terjadi dan langsung menangis sejadi-jadinya.


Meng Huan yang sejak tadi menungguinya langsung merengkuhnya ke dalam pelukannya.


“Jangan menangis, Ting Ting. Kita akan balas dendam!” geram Meng Huan. “Aku bersumpah akan membalas dendam untukmu!”

__ADS_1


Ting Ting terus menangis tersedu-sedu.


__ADS_2