Suling Maut

Suling Maut
Kedatangan Tuan Ouwyang Cu


__ADS_3

Sementara itu di Wisma Bambu, suasana tampak lebih meriah daripada biasanya dengan adanya rencana pernikahan Meng Huan dan Ting Ting. Para pelayan sibuk menghiasi ruangan dengan kertas dan kain merah. Pintu depan sudah digantungi kain merah yang dihias membentuk bunga dan tirai.


Memang agak aneh melangsungkan pernikahan di tengah suasana berkabung. Dalam keadaan normal, Sen Khang takkan pernah berpikir untuk mengadakan upacara perkawinan di tengah masa berkabung. Namun ia sadar bahwa pernikahan tidak bisa ditunda lebih lama lagi. Berita kehamilan Ting Ting harus dirahasiakan serapat mungkin. Dan bila nanti ia melahirkan, biarlah orang mengira itu anak suaminya.


Undangan-undangan telah dikirimkan. Mereka sengaja tidak mengundang banyak orang, hanya sanak keluarga dan kerabat saja. Hanya orang-orang yang mengetahui keadaan Ting Ting sajalah yang diundang ke pesta tersebut. Namun karena pernikahan ini dilaksanakan secara mendadak, dan letak Wisma Bambu cukup jauh, banyak dari para undangan yang berhalangan hadir.


Sen Khang dapat memakluminya.


Pendekar Sung datang bersama Tuan Chang sehari sebelum pernikahan. Mereka membawa hadiah pernikahan dan mengucapkan selamat.


Yang tak disangka-sangka, Tuan Ouwyang Cu datang bersama Siu Hung dan A Te. Mereka membawa A Lee.


Melihat putra bungsu yang sudah sebulan lebih ditinggalkannya membuat Sui She langsung meninggalkan pekerjaannya dan berlari menyambut A Lee. “A Lee!”


A Lee merentangkan tangannya dan melompat turun dari junjungan Siu Hung, tepat masuk ke dalam pelukan ibunya.


Sui She menciumi putranya penuh kerinduan. Setelah puas menghujani anaknya dengan ciuman, ia menoleh pada ayah mertuanya dan Siu Hung. “Ayah, mari masuk! Kau juga Siu Hung, A Te.”


Tuan Ouwyang Cu berkacak pinggang dengan angkuh. “Anak kurang ajar ini memaksa ikut!” sungutnya. “Pakai mengajak A Lee segala lagi!”


Siu Hung mencibir. “Jangan dengarkan kakek cerewet ini, Bibi!” bantahnya. “Dia sendiri yang memaksaku dan A Lee menemaninya. Eh, A Te juga diajak! Habis dia tahu, dia kan sudah tua. Jadi takut jatuh di jalan,” sindirnya.


“Enak saja! Siapa yang takut jatuh?!” hardik Tuan Ouwyang Cu.


“Mengapa kau marah-marah? Memangnya yang mulai mengajak bertengkar siapa? Kau sendiri, kan?” cibir Siu Hung.


“Dasar!” maki Tuan Ouwyang Cu.


Pendekar Sung bergegas keluar mendengar kedatangan putrinya. Betapa khawatirnya ia mendengar pertengkaran kedua orang itu. Ia segera mendekati putrinya dan menariknya. “Kau memang bandel!” desisnya. Ia memberi hormat pada Tuan Ouwyang Cu. “Maafkan kelancangan anakku, Tuan Ouwyang.”


Tuan Ouwyang Cu mendengus. “Anak itu memang lancang sekali!”


Ouwyang Ping yang ikut keluar segera mendekati kakeknya dan memegang lengan pria tua itu dengan sayang. “Kakek, sudahlah. Jangan ribut terus dengan Siu Hung.”


Tuan Ouwyang Cu senang sekali melihat cucunya tampak lebih cerah dan cantik. Namun ia mendengus menutupi kegembiraannya. “Huh! Kau tidak tahu sih! Anak itu sangat menyebalkan dan kurang ajar! Apa saja selalu dicelanya!”

__ADS_1


Siu Hung balas mendengus dan memonyongkan bibirnya. “Kau juga sama saja. Menyebalkan!” ejeknya.


“Siu Hung!” tegur Pendekar Sung kaget. Sekarang ini putrinya menjadi lebih nakal dibanding dulu. Ia khawatir Tuan Ouwyang Cu akan kehilangan kesabaran dan tak mau lagi mengajari Siu Hung. Sama seperti guru-guru Siu Hung selama ini.


“Jangan cemas, Adik Sung.” Ouwyang Kuan keluar sambil tertawa-tawa. “Ayahku dan putrimu sangat cocok. Sifat mereka sama. Ayahku takkan membiarkan teman bertengkarnya ke mana-mana.”


Tuan Ouwyang Cu berkacak pinggang. “Sung Han! Kau ini tidak bisa mengajar anak. Aku akan mengajarinya bagaimana bersikap!” katanya dengan suara menggelegar.


Sebelum Pendekar Sung menjawab, Siu Hung terlebih dahulu menyela, “Memangnya bisa?”


“Pasti bisa! Dasar kau bocah besar mulut!” maki Tuan Ouwyang.


Wajah Pendekar Sung berseri. Dengan perkataannya itu, tersirat maksud Tuan Ouwyang mengangkat Siu Hung menjadi muridnya. “Dengan senang hati kuserahkan pendidikan putriku pada Anda, Tuan Ouwyang.”


Siu Hung meringis. “Mati aku!”


Tuan Ouwyang Cu kelihatan puas sekali.


Sen Khang yang sejak tadi sibuk memberi instruksi pada pelayannya, mendengar suata-suara di luar. Ia bergegas keluar dan melihat Tuan Ouwyang Cu. Segeralah ia memberi hormat pada pria tua itu. “Kakek Ouwyang, terima kasih mau datang ke pernikahan adikku.”


Tuan Ouwyang mengibaskan tangannya. “Sudah, jangan basa-basi denganku!” elaknya. “Kenapa tidak sekalian saja kau juga menikah? Kami sudah siap jika kau mau melamar cucuku!” tambahnya dengan suara menggelegar sehingga semua orang yang berkumpul di sana menjadi kaget.


“Kakek!” sergah Ouwyang Ping sambil menarik jubah kakeknya dengan keras. Pipinya merah padam.


Ouwyang Kuan dan Sui She berpandangan sambil tersenyum. Masalah itu pernah mereka bahas dengan mendiang Tuan dan Nyonya Luo beberapa bulan lalu. Dan sampai saat ini pun mereka masih mengharapkan hal itu bisa terjadi.


“Hei, kenapa diam saja?” sentak Tuan Ouwyang pada Sen Khang. Ia tak peduli walau jubahnya sejak tadi ditarik-tarik cucunya. Biar saja jubahnya sobek, pikirnya konyol.


Sen Khang tergagap. “Oh, eh, itu....” Ia melirik Ouwyang Ping, tak berdaya.


Ouwyang Ping tak mau melihat Sen Khang. Ia menarik jubah Tuan Ouwyang lebih kencang. “Kakek, kalau kau terus mengatakan hal yang bukan-bukan, aku akan memusuhimu! Aku tak akan bicara lagi denganmu!” ancamnya dengan suara pelan.


Semua orang yang ada di sana tersenyum walau sebenarnya mereka kasihan juga melihat Sen Khang dan Ouwyang Ping yang salah tingkah.


Sen Khang merasa iba melihat gadis yang dikasihinya itu terus menunduk menahan malu, maka ia angkat bicara. “Kakek, ayah dan ibuku baru saja meninggal. Tak pantas rasanya membicarakan hal itu. Sedangkan Ting Ting... Kakek kan tahu....”

__ADS_1


Tuan Ouwyang mengangkat tangannya. “Baiklah, baiklah! Dari tadi aku tidak dipersilahkan duduk. Kalian benar-benar tidak menghargaiku!” gerutunya kesal.


Siu Hung tertawa mengejek. “Kakek jahil! Bilang saja kau sudah capek berdiri. Kaki tuamu itu tak mampu lagi menahan berat badanmu! Kasihan...,” godanya.


“Kau sendiri? Dari tadi mengeluh terus! Capek lah, lapar lah!” balas Tuan Ouwyang sengit.


“Sudah! Sudah!” tukas Ouwyang Ping. “Kalian berdua bertengkar terus. Seperti anak kecil saja!”


Segeralah mereka duduk di tempat masing-masing di dalam ruang tengah yang sudah dihias. Para pelayan menyediakan minuman dan hidangan kecil.


“Pernikahannya kapan sih?” tanya Siu Hung.


“Besok,” jawab Ouwyang Ping.


“Kok tamunya sedikit sekali?”


“Memang sengaja tak mengundang banyak orang. Waktunya terlalu sempit,” jelas Ouwyang Ping lagi.


“Ooo....” Siu Hung memonyongkan mulut sambil mengangguk-angguk. “O ya, Kakak Ouwyang sudah ke sini, kan? Mana dia?”


“Dia memang sudah datang sebentar, tapi pergi lagi. Dia pergi bersama Kui Fang.”


“Kui Fang?”


“Kau kenal Kui Fang, kan?”


“Tentu saja!” angguk Siu Hung. “Dia kekasih Kakak Ouwyang, kan?”


Ouwyang Ping tersenyum.


“Ada juga orang yang mau jadi kekasihnya, ya?” Siu Hung tertawa konyol. “Padahal kakakmu itu kan dingin sekali orangnya! Bicara saja hanya sepatah-dua patah kata. Tersenyum hampir tidak pernah. Tapi sekalinya bicara, bisa membuat orang diam menahan malu! Kadang-kadang aku takut padanya!” ceritanya panjang-lebar penuh semangat.


“Kakak Wan memang orang yang pendiam,” angguk Ouwyang Ping.


“Kau juga sama saja!” tukas Siu Hung. “Makanya aku heran. Habis kakekmu itu kan cerewet sekali. Untunglah kalian tidak mirip dengannya. Kalau mirip, celakalah aku! Bisa payah aku melawan kalian!”

__ADS_1


Ouwyang Ping tertawa. Siu Hung memang lucu sekali!


***


__ADS_2