
Teriakan Sui She terdengar sampai kamar Paman Khung. Chien Wan dan Paman Khung terkesiap kaget. Mereka segera keluar kamar. Mereka melihat Sui She berjalan dengan langkah lemah yang tergesa sambil memanggil-manggil, “Anakku! Anakku!”
“Nona Sui She!”
Panggilan Paman Khung yang diucapkan dengan terkejut itu membuat Sui She menoleh. Wajah cantiknya yang dulu begitu pucat dan hampa, kini memerah dan berseri oleh cahaya kehidupan. Pandangannya terpaku pada Chien Wan dan wajahnya langsung bersinar. Senyum manis merekah di bibirnya kala ia bergegas menghampiri pemuda itu dan langsung menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Chien Wan.
“Putraku!” desahnya penuh kasih dan kerinduan.
Chien Wan terperanjat menerima pelukan itu. Ia berusaha melepaskan diri. “Nona Sui She, jangan begitu....”
Namun Sui She tidak melepas pelukannya. Ia berkata sambil menangis, “Maafkan Ibu karena sudah meninggalkanmu sendiri! Ibu tidak bermaksud membuangmu, Nak. Sungguh, Ibu tidak sengaja!”
Saat itu, Keluarga Luo ditambah Meng Huan telah tiba di sana. Mereka tercengang melihat Chien Wan didekap demikian erat oleh Sui She yang menangis tersedu-sedu. Chien Wan sendiri tampak kaget dan sangat malu sehingga tak sanggup bicara apa-apa.
Tuan Luo mendekat.
“Sui She, dia bukan anakmu. Kau tak punya anak! Chien Wan adalah muridku!”
“Tuan....” Paman Khung mendekati Tuan Luo, bermaksud bicara. Namun ia tak dipedulikan. Tuan Luo terlampau cemas dengan keadaan adiknya yang disangkanya bukan sembuh dari kegilaannya melainkan mengalami suatu kegilaan lain.
Akhirnya Sui She melepaskan dekapannya. Meskipun demikian, ia masih menggenggam erat lengan Chien Wan sehingga Chien Wan tak berkutik dan tak dapat melepaskan diri. Sui She menatap kakaknya lekat-lekat.
“Kakak tidak tahu apa-apa!” kata Sui She tegas. “Aku tak ingat apa yang terjadi pada diriku selama dua puluh tahun ini, tapi aku tidak lupa bahwa aku pernah melahirkan seorang putra. Dua puluh tahun yang lalu aku melahirkan bayi laki-laki. Mungkin aku melupakan wajahnya. Tapi aku tak mungkin melupakan tanda lahirnya!
“Sejak lahir ia dipisahkan dariku dengan paksa. Aku sangat hancur! Perasaanku mati dan aku lupa segalanya kecuali kesedihan dan kemarahanku karena dipisahkan dari buah hatiku!” Sui She menangis. Air matanya bercucuran, membuat semua terpaku menatapnya.
“Sui She....” Tuan Luo tak tahu harus berkata apa.
“Kini ia datang padaku! Takdir telah mempersatukan kami ibu dan anak. Dan aku akan memastikan bahwa semua ini tidak akan terjadi lagi! Aku akan mempertahankan anakku dan akan membunuh siapa pun yang mencoba untuk memisahkan kami!”
Tuan Luo terpana. Apa mungkin sebenarnya Sui She belum sembuh dari kegilaannya? Sui She memang sudah mengenali mereka semua dan perilakunya jelas-jelas mengungkapkan bahwa ia sudah sembuh. Namun ia mengakui Chien Wan sebagai putranya padahal menikah pun tidak. Mungkinkah ini merupakan salah satu bentuk kegilaan yang lain?
Chien Wan berusaha menjelaskan, “Nona Sui She, saya adalah pelayan Wisma Bambu. Saya bukan putra Anda. Saya....”
Ucapan Chien Wan dipotong cepat oleh Sui She, “Perasaan seorang ibu tidak mungkin salah, Anakku.” Sui She memandang sayang pada Chien Wan. “Mungkin kau membenciku karena dulu aku tidak merawatmu. Tetapi aku akan memperbaiki kesalahanku. Aku akan selalu menjagamu. Aku akan memberikan seluruh kasih sayang yang seharusnya kau dapatkan selama ini. Aku janji, tidak akan ada seorang pun juga yang dapat memisahkan kita, Nak!”
Chien Wan terpaku. Entah mengapa kata-kata Sui She membuat lidahnya kelu sehingga ia tak mempu mengucapkan sepatah kata pun.
Keluarga Luo dan Meng Huan terpana menyaksikan kejadian ini. Mereka tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan Sen Khang yang biasanya tak pernah kesulitan berbicara, kini tak mampu memberikan komentar atas kejadian luar biasa ini. Mereka hanya mampu terdiam menantikan tanggapan Tuan Luo selaku kepala keluarga.
Tuan Luo sudah akan berbicara kalau saja Paman Khung tidak menggamit lengannya. Tuan Luo menoleh dan melihat isyarat tanpa kata yang dilakukan oleh Paman Khung. Pria tua itu memintanya untuk mengikutinya dan ia tak punya pilihan lain kecuali menurutinya.
__ADS_1
***
“Baiklah,” kata Tuan Luo sambil melipat tangan di depan dada. “Kau selalu mempunyai usul untuk setiap keadaan yang melibatkan Chien Wan. Usul apa lagi yang ada di pikiranmu sekarang ini?”
“Hanya satu: biarkan Nona Sui She bahagia!”
Perkataan tegas Paman Khung membuat Tuan Luo mengerutkan kening. “Maksudmu?”
“Nona Sui She sudah mengakui Chien Wan sebagai anaknya. Mengapa Tuan tidak membiarkannya saja? Tuan lihat sendiri bukan, betapa bahagianya Nona Sui She saat ini? Selain itu dia sembuh secara tak terduga.”
“Paman Khung ini bagaimana?!” sentak Tuan Luo. “Adikku belum sembuh! Bagaimana bisa dia mengakui anak yang tidak pernah dilahirkannya? Paman, dia itu masih gadis! Dia belum pernah menikah dengan siapa pun. Lagi pula, bagaimana mungkin Chien Wan itu anaknya?”
“Saya tidak mengatakan bahwa Chien Wan benar-benar anaknya. Saya cuma mengatakan bahwa Nona Sui She mengakui Chien Wan sebagai anaknya. Jika dia bahagia dengan pemikiran seperti itu, biarkan saja! Kelak, perlahan-lahan kita akan mengatakan yang sebenarnya. Sekarang ini, biarkan saja mereka menjadi ibu dan anak.” Paman Khung menatap Tuan Luo dalam-dalam.
“Tidak bisa! Jika hal ini tersebar di luaran, reputasi adikku akan tercemar! Seorang gadis mempunyai anak di luar nikah. Ini akan menjadi skandal yang memalukan Wisma Bambu!” hardik Tuan Luo, lupa untuk bersikap sopan.
“Mana yang lebih utama; nama baik atau kesembuhan Nona Sui She?” tantang Paman Khung tenang.
Tuan Luo membuka mulut hendak menjawab, namun menutupnya lagi karena tak tahu harus menjawab apa.
“Tuan, selama ini Tuan melihat Nona Sui She menderita sakit. Dia sangat tidak bahagia. Mengapa kebahagiaan yang baru saja dinikmatinya ini harus dirampas darinya? Lagi pula, sekian lama kita berhasil menutupi keadaannya dari dunia luar. Hal ini juga tidak akan tersebar ke mana pun jika kita tidak memberitahu siapa-siapa!”
Perkataan Paman Khung terdengar masuk akal di otak Tuan Luo yang tengah berkecamuk. Ia sama sekali tidak memikirkan bagaimana Paman Khung bisa mengusulkan sesuatu seperti itu. Ia tidak menduga Paman Khung mempunyai maksud lain dengan usulnya itu. Yang ada di benaknya sekarang hanyalah kegembiraan atas kesembuhan adiknya dan betapa tepatnya semua yang dikatakan Paman Khung. Maka ia tidak lagi mempertimbangkan apa-apa.
***
Saat Tuan Luo dan Paman Khung kembali, mereka melihat Sui She tengah membujuk Chien Wan untuk memanggilnya ‘ibu’.
“Panggillah aku ibu, Nak. Kumohon...,” pinta Sui She penuh permohonan.
Chien Wan menelan ludah. Hatinya mulai goyah. Ia menatap Tuan Luo dengan tak berdaya.
Tuan Luo menghela napas. Usul Paman Khung itu tak ada salahnya dilaksanakan. Maka ia mengangguk pada Chien Wan.
Sui She menatap Chien Wan. Matanya berkaca-kaca. “Anakku, masa kau tidak mau memaafkan Ibu?”
Chien Wan pun luluh. “Ibu,” panggilnya lirih.
Wajah Sui She langsung bercahaya. Matanya yang basah bersinar-sinar. Sebutir air mata bening meluncur menuruni pipinya yang memerah. Pipi mulus itu dahulu pucat pasi bagai tak berdarah, namun kini tampak lembut kemerahan menandakan kesehatan dan kebahagiaannya. Senyumnya mengembang.
“Oh, Anakku...!” isak Sui She sambil memeluk Chien Wan erat-erat.
__ADS_1
Chien Wan tidak lagi berusaha menolak. Ia memejamkan mata. Entah mengapa hatinya terasa sangat nyaman dan hangat. Ia memang selalu merindukan belaian seorang ibu. Biarlah Sui She menyangkanya sebagai anaknya, ia pun akan berpura-pura Sui She itu ibunya.
Yang lainnya memandangi mereka dengan heran bercampur haru. Mereka tetap tak mengucapkan sepatah kata pun.
Sejak hari itu, keadaan Sui She semakin membaik. Ia semakin sehat dan bercahaya, persis seperti dahulu sebelum ia hilang ingatan. Ia sangat memperhatikan Chien Wan. Ia menyayangi dan memanjakannya. Ia ingin Chien Wan selalu di dekatnya. Ia sering memasak untuk Chien Wan, menambalkan pakaian Chien Wan yang sobek, dan melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang memang sewajarnya dilakukan seorang ibu.
Chien Wan sendiri menyukainya. Ia suka berada di dekat Sui She dan merasakan kedekatan yang menyentuh dengan perempuan itu. Ia sering meniupkan lagu lembut untuk ‘ibunya’ itu dengan sulingnya.
Kepandaian Chien Wan meniup suling memukau Sui She. Matanya berkaca-kaca mendengarkan lagu yang luar biasa merdu itu. Kemudian ia ribut menanyakan keberadaan kecapinya kepada kakaknya. Dulu sebelum sakit, ia sangat pandai bermain kecapi. Kepandaiannya itulah yang mengantarkannya ke Lembah Nada.
Namun selain meniup suling, Chien Wan diminta dengan sangat oleh Tuan Luo untuk tidak sekali-sekali menyebut perihal Lembah Nada. Tuan Luo tidak ingin Sui She diingatkan akan keberadaan tempat itu. Tuan Luo masih yakin bahwa Lembah Nadalah yang telah menyebabkan Sui She hilang ingatan. Kelahiran bayi yang diceritakan Sui She, Tuan Luo yakin, hanyalah ingatan yang keliru.
“Tetapi, Tuan.... Guru meminta saya—“
“Chien Wan,” tukas Tuan Luo. “Adikku sudah hampir sembuh. Kuharap kau mau bersabar sampai keadaan Sui She benar-benar sudah pulih. Setelah itu, barulah kita membujuknya sekali lagi untuk melepaskan keyakinan anehnya bahwa kau adalah putranya. Saat ini dia sedang bahagia sekali. Aku tak ingin dia sakit lagi.”
Chien Wan menghela napas. “Baiklah, Tuan.”
“Dan mulai sekarang, sebaiknya kau memanggilku Paman. Sui She sangat heran mendengar panggilanmu terhadapku. Kemarin dia memprotesku karena membiarkanmu memanggilku tuan. Dia bilang, masa seorang keponakan memanggil tuan pada pamannya?”
Chien Wan mengangguk lagi.
Saat itu, terdengar panggilan dari arah taman: “Anakku, di mana kau?”
Chien Wan memandang Tuan Luo yang segera memberi isyarat padanya supaya keluar dari ruang kerja tempat mereka tengah bicara.
“Aku di sini, Ibu.”
Wajah Sui She berseri-seri. “Ibu cari kau ke mana-mana. Apa kau dipanggil pamanmu?” tanyanya riang.
“Ya.”
Sui She memegang lengan Chien Wan. “Kau mau kan, menemani Ibu jalan-jalan? Sudah lama sekali Ibu tidak melihat-lihat lingkungan Wisma Bambu. Kau kan tahu, selama ini Ibu terkurung di Paviliun Taman Belakang. Atau kau bosan menemani Ibu dan ingin bersama sepupu-sepupumu?”
“Aku akan menemanimu, Ibu.”
Senyum Sui She melebar gembira. Ia menatap ‘putranya’ dengan bahagia.
Kasih sayang Sui She yang teramat besar terhadap Chien Wan membuat pemuda itu tak enak hati. Ia merasa bahwa ia telah menipu Sui She. Ia merasa tidak berhak mendapatkan kasih sayang yang seharusnya tidak dimilikinya. Namun melihat betapa bahagianya Sui She, Chien Wan tak tega mengatakan apa-apa. Ia pun bersikap seperti anak yang berbakti. Ia bersikap seolah-olah ia benar-benar menyayangi Sui She.
Lama-kelamaan, itu bukan lagi pura-pura. Chien Wan benar-benar menyayangi Sui She dari lubuk hatinya yang paling dalam. Ada sesuatu terpancar dari dalam diri Sui She yang membuat Chien Wan merasa sangat dekat dengannya. Diam-diam ia mulai berharap dalam hatinya. Ia berharap andai saja Sui She benar-benar ibunya. Namun itu hanya sekadar harapan yang takkan menjadi kenyataan.
__ADS_1
Ia tahu itu!