
Malam harinya, Chien Wan dan Kui Fang berbincang-bincang di taman. Masih banyak yang belum jelas bagi Chien Wan. Ia ingin menanyakan beberapa hal yang mengganjal di hatinya.
“Waktu itu, Ping-er dan Sen Khang begitu yakin aku bersalah. Bagaimana Ping-er bisa ikut membantu dalam sandiwara kalian?” tanya Chien Wan.
Kui Fang tersenyum. “Saat melihat kau di samping jenasah Nyonya Luo, Ping-er memang sempat mempercayai penglihatannya dan menyalahkanmu. Tetapi kemudian dia berpikir ulang dan merasa ragu sebab itu semua tidak cocok dengan karaktermu yang dikenalnya selama ini. Ditambah lagi dia akhirnya menyadari bahwa kau tidak bisa menggunakan pedang, jadi tidak mungkin kau membunuh menggunakan pedang. Maka dia meninggalkan Wisma Bambu dan mencari Pendekar Sung. Kami berjumpa di sana. Dan dia mendengarkan semua rencana kami dengan seksama.”
“Dan sekarang Sen Khang pun sudah percaya bahwa bukan aku pelakunya. Bagaimana dengan Ting Ting? Bukankah dia...?” Chien Wan menarik napas berat.
Seketika wajah Kui Fang berubah murung. “Ada yang tidak kukatakan di depan Ayah dan Ibu tadi, Kak. Mengenai Ting Ting....”
“Dia kenapa?” tukas Chien Wan.
“Ternyata dia mengandung.”
Chien Wan terperangah. Ting Ting hamil? Betapa beratnya cobaan yang harus dihadapi gadis itu! Tidak cukupkah penderitaannya selama ini sehingga harus mengalami lagi hal yang menyakitkan itu?
“Aku tidak ingin memberitahu siapa pun mengenai hal ini, kecuali Kakak Wan. Jangan sampai aib ini tersebar luas. Jangan sampai orang-orang tahu bahwa sekarang Ting Ting mengandung anak haram. Kasihan dia.” Kui Fang termenung sedih.
Chien Wan terpekur. Pikirannya berkecamuk.
“Sekarang Kakak Luo dan Ping-er sudah akrab lagi,” celetuk Kui Fang setelah beberapa lama.
“Hm?” Chien Wan bergumam tanpa terlalu menaruh perhatian. Ia masih disibukkan oleh pikirannya sendiri.
“Ya. Tadinya kan, Kakak Luo sempat bersikap dingin pada Ping-er karena ia mengira kau bersalah. Baginya Ping-er itu sama bersalahnya denganmu hanya karena dia adikmu. Syukurlah sekarang mereka sudah dekat lagi.”
Perhatian Chien Wan terusik.
“Dekat?”
Kui Fang mengangguk. “Kakak Luo dan Ping-er agaknya saling menyukai.”
Perasaan Chien Wan sedikit terguncang mendengar pernyataan itu. Ia tidak mengetahui bahwa Sen Khang menyukai Ouwyang Ping karena selama ini Sen Khang tak pernah mengatakan maupun menunjukkan perasaan hatinya.
“Kakak Wan?”
__ADS_1
Chien Wan menghela napas dan melihat ke langit. Langit tampak menawan. Bulan tidak bersinar penuh, namun bintang-bintang berkelip-kelip dengan indah. Lalu ia kembali menatap Kui Fang.
“Sudah malam. Tidurlah.”
Kui Fang memang sudah lelah dan mengantuk. Ia hampir tak dapat menahan kuapnya. Maka mendengar suruhan Chien Wan, ia tidak membantah. Ia berdiri dan tersenyum pada pemuda itu.
“Baiklah. Kau juga tidur saja sekarang, Kak. Selamat malam.”
“Selamat malam.”
Sepeninggal Kui Fang, Chien Wan tidak langsung pergi ke kamarnya. Ia duduk di taman sambil berpikir.
Ternyata dia bukan orang yang peka, pikirnya dalam hati. Selama ini ia selalu memikirkan dirinya sendiri sehingga tidak menyadari perasaan sahabatnya sendiri. Ia tidak pernah memikirkan kebahagiaan sahabatnya sementara Sen Khang tak henti-hentinya mendukung kebahagiaannya.
Semestinya selama ini ia mendorong Sen Khang untuk mendekati Ouwyang Ping dan mengatakan bahwa ia merestui mereka. Namun apa yang dilakukannya? Terus-menerus menyesali diri karena patah hati. Terus-menerus mengenang masa lalu yang takkan pernah kembali lagi.
Chien Wan meletakkan kedua sikunya di meja batu dan menumpukan dagunya di telapak tangan yang terbuka. Ia memejamkan kedua matanya. Sekarang ia tidak lagi merasa sedih saat mengingat Ouwyang Ping. Kenangan masa lalu memang terlalu indah untuk dilupakan, namun kini ia sudah bisa hanya menganggapnya sebagai kenangan belaka. Bukan kenyataan.
Dan jika Sen Khang mencintai Ouwyang Ping—adiknya, ia akan mendukungnya dengan sepenuh hati.
Chien Wan menengadah. Karena melamun, ia kehilangan kewaspadaannya. Ia tidak mendengar langkah kaki yang mendekatinya karena tahu-tahu saja seorang perempuan muda yang cantik dan lembut ada di hadapannya. Perempuan itu mengenakan gaun sutra berwarna hijau. Dia adalah kepala pengawal Kelompok Hijau di Partai Kupu-Kupu. Namanya Lan Sie.
“Nona Lan,” sapa Chien Wan sambil berdiri.
Lan Sie tersenyum. Ia duduk sehingga mau tidak mau Chien Wan duduk kembali.
“Malam yang indah. Bukan begitu?” senyum Lan Sie memikat.
Chien Wan mengangguk.
Lan Sie mengeser tubuhnya sehingga ia berdekatan dengan Chien Wan. Tangannya di atas meja dan dekat dengan tangan Chien Wan. “Aku sangat mengagumi nama besarmu, Pendekar Ouwyang. Selama ini aku selalu yakin bahwa kau tidak mungkin melakukan kejahatan itu,” ucapnya penuh kesungguhan.
“Terima kasih.”
Tangan Lan Sie bergeser sehingga kini berada di atas telapak tangan Chien Wan. Tangan perempuan itu halus dan memikat.
__ADS_1
Chien Wan terkejut. Ditatapnya Lan Sie dengan heran.
“Kau sangat mengagumkan, Pendekar Ouwyang. Aku sungguh iri dengan Nona Kui Fang,” desah Lan Sie.
Kening Chien Wan berkerut. Ditariknya tangannya hingga lepas dari pegangan Lan Sie. “Aku tak mengerti apa maksudmu,” katanya dingin. Ia kurang suka dengan sikap perempuan ini.
Lan Sie menatap Chien Wan penuh rayu. “Kau begitu memperhatikan Nona. Aku jadi merasa... alangkah senangnya diperhatikan seperti itu.”
Chien Wan berdiri. “Sudah malam. Aku ke kamarku dulu,” pamitnya. Tanpa menunggu tanggapan Lan Sie, ia berbalik dan pergi menuju kamarnya.
Lan Sie tercengang tidak percaya. Lalu ia merengut kesal.
“Dasar sombong!” geramnya.
***
Beberapa hari kemudian, Chien Wan menghadap Ketua Wu dan berpamitan. Ia tidak bisa berlama-lama di Partai Kupu-Kupu walau ia merasa sangat kerasan di sana. Ia punya kewajiban yang harus dijalankannya. Pembunuh itu masih berkeliaran dan identitasnya belum terungkap. Ia harus mencarinya sekuat tenaga.
Kui Fang terlebih dahulu tahu akan rencana Chien Wan. Ia pun berkeras ingin pergi bersama Chien Wan. Ia mengatakan bahwa dirinya pun memiliki kewajiban untuk membantu Chien Wan. Sebagai sahabat Chien Wan dan Sen Khang, katanya tegas.
Ketua Wu tidak dapat mencegahnya.
“Kami akan membantumu dengan cara kami sendiri, Chien Wan. Kami akan membersihkan nama baikmu sekaligus mencari siapa pelaku sebenarnya. Kau jangan cemas. Aku sudah mengirimkan beberapa anak buahku untuk menyelidiki masalah ini,” bilang Ketua Wu bersungguh-sungguh.
Chien Wan memberi hormat. “Terima kasih atas kebaikan Paman. Aku sangat menghargainya.”
Kui Fang memandang ayahnya. “Ayah, aku juga pergi bersama Kakak Wan.”
Ketua Wu menghela napas. Ia dan istrinya sudah berulang-kali membicarakan hal ini. Sebenarnya mereka keberatan mengizinkan putri mereka pergi lagi padahal baru saja kembali. Namun keinginan Kui Fang sangat keras. Ia tidak dapat dicegah.
Maka mereka membiarkan gadis itu pergi.
Keduanya meninggalkan Partai Kupu-Kupu pada pagi hari, kala embun masih menetes di dedaunan dan matahari belum bersinar terang. Udara sangat sejuk dan segar, membuat keduanya berjalan dengan bersemangat.
***
__ADS_1