Suling Maut

Suling Maut
Menetap Sementara di Pulau Ginseng


__ADS_3

Setibanya di kediaman Dewa Obat, Chien Wan segera diperiksa dengan cepat dan seksama. Dewa Obat membuka pakaian bagian atas Chien Wan dan mulai menekan bagian yang memar menghitam di dada Chien Wan. Kui Fang menanti di dekat mereka sambil memegangi suling Chien Wan.


Dewa Obat menceburkan Chien Wan ke dalam Kolam Teratai Gurun di dekat kediamannya yang dikelilingi tanaman aneh dan langka. Kemudian Dewa Obat melompat ke tengah kolam dan bersila di atas batu besar di tengah kolam. Ia mengerahkan tenaga dalamnya sehingga air kolam bergolak. Tubuh Chien Wan terangkat dari dasar kolam.


Tubuh Chien Wan terlentang di udara dan mulai berputar bak gasing. Air kolam bergolak seolah mendidih dan memuncratkan gelombangnya menyirami tubuh Chien Wan. Pemuda itu diam saja karena ia memang dibuat tidak sadar oleh Dewa Obat.


Yang lainnya telah tiba di sana dan terkesima melihat cara pengobatan yang aneh itu.


Kolam Teratai Gurun merupakan kolam yang berisi air panas abadi. Yang membuatnya makin menakjubkan bagi siapa saja yang melihatnya, di kolam itu tumbuh tanaman teratai yang bunganya berwarna biru pekat dengan bagian inti berwarna keemasan. Itulah bunga teratai gurun, bunga langka yang memiliki khasiat luar biasa sekaligus mengandung racun yang mematikan.


Gabungan air panas abadi dengan hawa teratai gurun ternyata begitu dahsyat akibatnya bagi Chien Wan. Tubuh Chien Wan menggigil keras walau disirami air yang bukan main panasnya.


Dan....


“Aaaa!” Chien Wan berteriak keras dan terjaga dari pingsannya. Wajahnya pucat pasi sementara kulitnya merah sekali. Sekejap kemudian, darah kental hitam yang bergumpal-gumpal menghambur dari mulutnya dan ia kembali tak sadarkan diri.


Dewa Obat melompat menyambar tubuh Chien Wan yang mulai terjatuh dari udara dan menggendongnya masuk ke dalam rumah. Kui Fang mengikutinya sambil membawa pakaian Chien Wan. Setibanya di dalam, Dewa Obat memakaikan kembali pakaian Chien Wan. Chien Wan ditidurkan di atas dipan kayu dan disuruhnya Kui Fang menunggui pemuda itu.


“Kalau dia sadar, panggil aku!”


Kui Fang mengangguk.


Dewa Obat kembali keluar dan melihat tamu-tamunya berkumpul di ruang tamu. Ia menghampiri mereka dan duduk di dekat Sen Khang, sejauh mungkin dari Tuan Ouwyang. Dalam hatinya ia masih sebal dengan Tuan Ouwyang.


“Dewa Obat, mengapa luka Chien Wan bisa separah itu? Padahal tendangan yang diterimanya kelihatannya tidak berbahaya,” tanya Sen Khang. Sejak awal ia memang penasaran dengan hal ini.


“Dia juga tertusuk pedang. Chi Meng Huan menggunakan Ilmu Pedang Bayangan!” sambar Tuan Ouwyang.


Dewa Obat mengerutkan kening. “Ilmu Pedang Bayangan adalah ilmu yang sakti dan berbahaya. Kena tusukan sekali bisa membuatnya luka parah. Apalagi kalau dikombinasikan dengan Tendangan Penghancur Jiwa.”


“Tendangan Penghancur Jiwa?” Sen Khang belum pernah mendengarnya.


“Tendangan Penghancur Jiwa muncul lagi di Dunia Persilatan,” gumam Tuan Ouwyang. “Bagaimana bocah itu bisa mempelajarinya?”


“Ilmu itu menghilang dari Dunia Persilatan semenjak puluhan tahun lalu, tetapi bukan berarti tidak punya pewaris. Semua ilmu yang menghilang dari dunia sebenarnya bukannya menghilang, tetapi sengaja disembunyikan sampai ada waktu yang tepat.” Dewa Obat menggeleng. “Masalah begini sulit diketahui umum. Kalau saja Pei Pei ada di sini, kita bisa bertanya padanya!” Ia melotot pada Tuan Ouwyang.


“Dia tinggal di dekat Lembah Nada!” Tuan Ouwyang menyeringai mengejek.


Mata Dewa Obat menyipit. “Jadi dia selama ini berdekatan denganmu? Dasar bodoh! Mengapa kau tidak bersamanya?”


Tuan Ouwyang mendengus. “Kau pikir mudah meninggalkan istriku yang galak itu?!”

__ADS_1


“Mengapa juga kau menikahi perempuan itu?”


“Aku pikir Pei Pei sudah menikah denganmu, Bodoh!” seru Tuan Ouwyang jengkel.


Dewa Obat mengibaskan tangan.


Sen Khang dan Ouwyang Ping berpandangan heran. Mereka tak mengerti akan isi pembicaraan kedua pria tua itu. Siapa itu Pei Pei? Kedengarannya seperti nama seorang gadis.


***


Dewa Obat memandang Sen Khang dengan penuh minat. Sejak semula ia mengagumi kharisma dan wibawa yang dimiliki Sen Khang. Mata elang Sen Khang adalah mata seorang pendekar sejati. Kalau saja Sen Khang dididik oleh orang yang tepat, ia akan menjadi orang yang sangat disegani di Dunia Persilatan.


“Siapa namamu tadi?” tanyanya.


“Namaku Luo Sen Khang, Dewa Obat.”


Dewa Obat mengangguk-angguk. “Siapa gurumu? Apa si Suling Tua ini?” tanyanya sambil menunjuk Tuan Ouwyang.


Tuan Ouwyang menggerutu mendengar julukan itu.


Sen Khang menggeleng. “Sayang sekali aku tidak cukup beruntung untuk menjadi murid Kakek Ouwyang. Guruku adalah ayahku sendiri. Dan aku pernah belajar pada paman guru ayahku sendiri.” Ia tersenyum.


“Huh! Justru kau beruntung tidak dijadikan murid oleh si Suling Tua!” kata Dewa Obat pongah. “Orang seberbakat kau tidak memerlukan guru yang payah seperti dia. Kau harus belajar dariku!” ujarnya tanpa bisa diganggu gugat.


“Ayo, panggil aku guru!”


Sen Khang tersenyum gembira dan berlutut di hadapan Dewa Obat. “Guru!”


Dewa Obat mengangguk-angguk puas. “Berdirilah, Sen Khang.”


“Terima kasih, Guru.”


Ouwyang Ping menatap Sen Khang dengan gembira. Sen Khang bisa menjadi murid orang sehebat Dewa Obat. Ini merupakan suatu berkah! Dewa Obat bukan orang sembarangan. Buktinya ia bisa menang melawan Tuan Ouwyang—Ouwyang Ping masih ingat cerita ayahnya beberapa hari lalu bahwa kakeknya dikalahkan oleh Dewa Obat.


Siu Hung bertepuk tangan. “Kakak Luo, kau sudah diangkat menjadi murid!” serunya girang. “Nanti kita adu ilmu, ya? Kau mewakili Kakek Pai, aku mewakili Kakek Ouwyang. Kita lihat siapa yang paling hebat!”


Dewa Obat tersenyum pada Siu Hung. “Bagaimana kalau kau juga jadi muridku saja?”


Tuan Ouwyang melompat bangkit dari duduknya. “Apa?” serunya sambil menggebrak meja.


Dewa Obat tidak mengacuhkannya. “Kau tinggalkan saja si Suling Tua itu. Dia sangat menyebalkan. Kepandaiannya juga tidak seberapa.”

__ADS_1


“Tidak bisa! Bocah itu aku yang menemukan. Seenaknya saja kau mau memintanya. Langkahi dulu mayatku!” bentak Tuan Ouwyang.


Dewa Obat berdiri. “Ayo! Kaupikir aku takut?!”


Ouwyang Ping berpandangan cemas dengan Sen Khang. Agaknya masalah antara Tuan Ouwyang dan Dewa Obat dahulu itu cukup serius. Dan sekarang amarah semakin disulut karena Dewa Obat menginginkan Siu Hung.


“Berhenti!” Siu Hung melompat di antara kedua pria tua yang sekarang tengah berhadapan dengan marah itu. “Kalian keterlaluan! Memangnya aku ini barang yang bisa diperebutkan?”


“Dia yang mulai!” seru Tuan Ouwyang.


“Dia itu selalu memarahimu dan mengatai kau sebagai ‘anak bandel’. Aku lain. Kau akan kusayangi seperti cucuku sendiri,” tukas Dewa Obat.


Siu Hung mengerutkan kening. “Kakek Pai. Aku ini murid Kakek Ouwyang. Biar dia cerewet dan suka marah-marah, aku tak berminat berganti guru. Aku tidak mau menjadi muridmu!” katanya santai.


Tuan Ouwyang menyipitkan matanya, lalu menyeringai puas.


Dewa Obat merengut.


“Lagi pula, “ sambung Siu Hung dengan mata berbinar-binar nakal, “siapa yang bisa menandingi kecerewetan Kakek Ouwyang kalau bukan aku? Orang lain tak akan tahan! Dia itu sangat bawel dan suka mengoceh!”


Tawa Dewa Obat meledak. Ia tak bisa menahan geli melihat kelakuan gadis remaja yang sangat lucu itu. Ia semakin geli melihat tampang Tuan Ouwyang yang berubah masam mendengar kata-kata Siu Hung.


“Ya sudah. Aku tak akan memaksa.” Dewa Obat menoleh dan memandang dingin pada Tuan Ouwyang. “Aku tak akan mengambilnya. Tapi itu bukan karena aku takut padamu! Itu karena dia sendiri tidak mau!”


“Hah!” balas Tuan Ouwyang.


Saat itu, Kui Fang keluar dari kamar. Wajahnya berbinar.


“Kakak Wan sudah sadar!”


Segeralah semuanya bergegas masuk ke kamar Chien Wan.


Chien Wan duduk sambil bersandar di kepala pembaringan kala mereka semua masuk. Ia langsung diperiksa oleh Dewa Obat dengan seksama. Dewa Obat meletakkan sisi kepalanya di dada Chien Wan untuk mendengarkan irama napasnya. Lalu ia memeriksa nadi pemuda itu, kemudian lukanya.


“Baik. Kau sudah pulih,” angguk Dewa Obat puas.


Serentak semua menghela napas lega.


“Tapi kau harus beristirahat setidaknya seminggu sampai kau benar-benar pulih. Lagi pula kalian memang harus tinggal di sini selama dua bulan. Sesuai perjanjian!”


Chien Wan mengangguk.

__ADS_1


***


__ADS_2