Suling Maut

Suling Maut
Wu Kui Fang Membela Sam Hui


__ADS_3

Kui Fang termenung di dalam kamarnya. Hari ini sudah hampir dua minggu ia tidak berjumpa dengan Chien Wan. Ia sangat kecewa karena ayahnya tidak mengizinkannya ikut dengan Wen Chiang untuk menghadiri pernikahan Ting Ting dan Fei Yu. Maka ia harus puas hanya mengirimkan surat untuk kekasihnya saja.


Hatinya gelisah. Selain dicemaskan oleh kerinduannya terhadap Chien Wan, ia juga mengkhawatirkan Sam Hui. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa sekarang posisi Sam Hui menjadi begitu tidak mengenakkan di partainya? Padahal selama ini, Wie Yun Cun-lah yang selalu mencari gara-gara dengan semua anggota partai.


Wie Yun Cun memang tidak disukai oleh hampir seluruh anggota partai karena selalu mau menang sendiri dan merasa paling benar sendiri. Sedangkan Sam Hui disukai semua anggota termasuk keluarga Wu sendiri karena ia seorang yang baik hati dan berjiwa besar.


Tetapi mengapa sekarang menjadi seperti ini?


“Ini tidak bisa dibiarkan!” serunya.


Brak!


Pintu kamar terbuka, membuat Kui Fang tersentak dan segera melompat berdiri.


Ternyata yang masuk adalah Lan Sie, salah satu anak buah ayahnya.


Kui Fang mengerutkan kening tidak senang. Ia gusar akan kelancangan Lan Sie yang berani masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. “Ada apa, Kakak Lan? Mengapa kau memasuki kamarku tanpa disuruh?”


Lan Sie menunduk. Dalam hati ia gusar ditegur seperti itu oleh anak ingusan macam Kui Fang. Namun bagaimana pun juga ia adalah anak buah Ketua Wu dan Kui Fang adalah putri ketuanya. Ia tidak berani mencari gara-gara dengan Kui Fang.


“Maafkan aku, Nona Wu.”


Kui Fang mendesah. “Sudahlah. Ada apa, Kakak Lan?”


“Tadi aku kebetulan sedang lewat sini dan mendengar Nona sedang berteriak. Aku khawatir, jadi aku masuk tanpa mengetuk pintu. Sekali lagi, maafkanlah aku,” pinta Lan Sie.


Kui Fang merasa tidak enak karena telah bersikap kasar terhadap anak buah yang jelas-jelas memperhatikan dirinya. “Oh, begitu. Aku tidak apa-apa, Kakak Lan. Tadi aku hanya bicara sendiri saja.”


“Sungguh?”


“Benar. Sudahlah, jangan khawatir.”


Lan Sie menghela napas dan mengangguk. “Baiklah, Nona. Aku permisi dulu. Kalau ada apa-apa, teriak saja memanggilku. Aku berjaga di sekitar sini.”


Kui Fang mengangguk.


Lan Sie meninggalkan kamar Kui Fang dan menutup pintu dengan sangat perlahan.


Kui Fang memandangi kepergian Lan Sie sampai pintu kamar menutup. Ia berdiri dan keluar kamar untuk mencari Sam Hui.


Ia mendapati Sam Hui tengah berdiri sambil termenung di taman. Kedua tangannya bersedekap di dada.


Pria setengah baya itu tampak bermuram durja. Bahunya terkulai lunglai seolah sedang menahan beban yang teramat berat. Wajahnya yang berkerut-kerut kelihatan jauh lebih tua dari usianya yang sebenarnya.


Kui Fang mendekat dan berdiri di samping Sam Hui.

__ADS_1


“Paman Sam.”


Sam Hui menoleh kaget. Karena melamun, ia tidak dapat mendengar gerakan di sampingnya. “Eh, Nona.”


“Aku harap Paman tidak berkecil hati menerima sikap Ayah. Aku yakin Ayah sama sekali tidak bermaksud demikian. Ayah tidak akan pernah meragukan kesetiaan Paman,” kata Kui Fang.


“Tidak apa-apa, Nona.” Sam Hui tersenyum.


Kui Fang menghela napas. “Tetapi... mengapa sampai muncul kabar yang tidak menyenangkan itu?”


“Entahlah.”


“Apa ada orang yang tidak menyukai Paman?”


Sam Hui menyeringai, namun tidak menjawabnya.


“Dan mengenai kabar bahwa... Paman dan Ibu...?”


Sam Hui langsung bereaksi keras. “Jangan teruskan, Nona!”


Kui Fang terperangah.


“Berita itu disebarkan untuk menjatuhkan aku. Namun bila masalahnya sudah menyangkut gosip tidak menyenangkan mengenai hubunganku dengan Nyonya, itu merupakan penghinaan!” Sam Hui terengah. “Aku sangat menghormati ayah dan ibumu. Tak terlintas sedikit pun dalam benakku untuk mengkhianati ayahmu dengan menyukai ibumu seperti seorang laki-laki terhadap perempuan. Itu bukan saja menghina diriku, tetapi juga merendahkan ibumu!”


Sam Hui menjadi agak tenang.


“Sekarang yang paling penting adalah mencari siapa orang yang menyebarkan gosip yang tidak bertanggung jawab itu. Setelah itu, barulah kita dapat mengambil tindakan selanjutnya,” usul Kui Fang.


“Nona.” Sam Hui berubah serius. “Aku harap Nona tidak melibatkan diri dalam masalah ini,” katanya tajam.


“Apa maksudmu, Paman?”


“Aku mohon!” Sam Hui menatap Kui Fang dengan tajam bercampur cemas.


Kui Fang tidak mengatakan apa-apa. Hanya mengangguk sambil menahan protes yang sudah terdapat di ujung lidahnya.


***


“Ayah, mengapa Ayah tega bersikap seperti itu pada Paman Sam?” tanya Kui Fang esok harinya. Saat itu ia sengaja mendatangi kamar ayah dan ibunya ketika hari masih pagi. Ia tidak mau ada orang lain terlibat dalam pembicaraan mereka, terutama Wie Yun Cun. Ia selalu mempunyai kecurigaan mendalam terhadap orang itu.


Ketua Wu menatap putrinya sekilas sebelum memalingkan mukanya. “Aku tidak suka pada sikapnya.”


“Sikapnya yang mana? Dia kan selalu sopan dan setia terhadap Ayah.”


“Kui Fang,” tegur Nyonya Wu lembut. Tubuhnya masih agak lemah karena baru sembuh dari sakit yang berkepanjangan. Ia tidak mau suaminya bertengkar dengan anak mereka.

__ADS_1


“Kui Fang, aku tahu betapa sayangnya kau pada Sam Hui. Tapi kau harus tahu. Dua bulan terakhir, tepatnya setelah kau pergi bersama Chien Wan, sesuatu telah terjadi.” Ketua Wu menatap putrinya dengan serius. “Sikap Sam Hui sangat mencurigakan. Ia selalu saja mengintip segala kegiatanku, menguping pembicaraan orang, membuntuti aku ke mana saja aku pergi. Dia juga mulai berani mencari gara-gara dengan anggota lain, terutama Yun Cun.”


Kui Fang menggeleng. “Sejak dulu Paman Wie memang menyebalkan, Ayah. Bukan hanya Paman Sam seorang yang tidak menyukainya. Aku juga tidak.”


“Ditambah lagi dengan adanya gosip yang beredar mengenai Sam Hui,” tambah Ketua Wu. Diliriknya istrinya yang tampak sedih. Karena adanya gosip itulah, Nyonya Wu menjadi cemas berkepanjangan dan akhirnya jatuh sakit. Tentu saja gosip itu tidak benar sama sekali. Namun cukup membuat mereka terpukul.


“Semua ini hanya karena gosip yang entah datang dari mana,” lanjut Kui Fang tanpa mempedulikan teguran ibunya. “Paman Sam sudah bersama kita selama puluhan tahun, Ayah. Jangan hanya karena beberapa gosip saja nilainya langsung turun di mata Ayah.”


Ketua Wu menghela napas. “Sudahlah, Kui Fang. Jangan kaucampuri urusan partai.”


“Ayah, partai ini kan partaiku juga!”


“Kau masih terlalu kecil. Lagi pula setelah kau menikah nanti, partai ini bukan rumahmu lagi. Lembah Nada yang akan menjadi rumahmu.”


Perkataan ayahnya membuat wajah Kui Fang agak merona.


“Bahkan mungkin sebentar lagi kita akan kedatangan rombongan dari Lembah Nada yang datang untuk meminangmu,” kata Ketua Wu. Kali ini sambil tersenyum menggoda.


“Tidak semudah itu, Ayah.”


“Eh, kenapa?”


“Kakak Wan pasti takkan mau menikah sebelum ia berhasil menuntaskan persoalan yang menimpa Bukit Merak. Mereka berikrar untuk mencari Chi Meng Huan dan membalas dendam atas meninggalnya 23 anggota Wisma Bambu,” bilang Kui Fang. “Dan aku akan selalu mendukung semua keputusan yang dibuat oleh Kakak Wan.”


Ketua Wu berpandangan dengan istrinya.


“Bagaimana kalau mereka tidak berhasil membalas dendam? Apakah kau akan menunggunya selamanya?” tanya Nyonya Wu cemas.


Kui Fang mengangguk.


“Apa mereka sudah mendapat kepastian di mana Chi Meng Huan berada?” tanya Ketua Wu serius.


“Aku tidak tahu. Mungkin sudah, mungkin juga belum. Masalahnya aku kan berpisah dengan mereka setelah kami baru saja menginjakkan kaki di Daratan Tionggoan lagi. Aku belum sempat bicara dengan mereka.”


Ketua Wu mengangguk-angguk.


“Kalau saja partai kita sendiri tidak sedang mengalami masalah seperti ini, mungkin kita juga bisa membantu menyebarkan mata-mata untuk mencaritahu keberadaan Chi Meng Huan. Masalahnya, partai kita sendiri sedang kacau.”


“Aku tidak suka dengan keadaan ini, Ayah.” Kui Fang mengeluh sedih.


“Bukan hanya kau yang tidak menyukai keadaan ini, Kui Fang. Aku sendiri sesungguhnya tidak ingin ini terjadi. Tetapi harus bagaimana lagi?” Ketua Wu mengernyit bingung.


Kui Fang meringis.


***

__ADS_1


__ADS_2