Suling Maut

Suling Maut
Serangan Chi Meng Huan


__ADS_3

Hari sudah menjelang siang dan tempat pertemuan sudah menjadi ramai sekali. Para pendekar sudah berdatangan dan semuanya sudah menempati sekeliling arena pertandingan. Pendekar Sung telah selesai berdiskusi dan langsung menempati kursi kehormatan Ketua Persilatan.


“Saudara-saudara sekalian, harap tenang!”


Suara pengawal yang menggelegar membuat percakapan apa pun yang tengah dilakukan, terhenti seketika.


Pendekar Sung berdiri dan memberi salam, “Saudara-saudaraku sekalian, selamat datang!”


Semua pendekar membalas penghormatan itu.


“Sudah lama sekali sejak aku pertama kali menjabat sebagai Ketua Persilatan. Sudah waktunya bagiku untuk mengundurkan diri. Hari ini akan diadakan pemilihan Ketua Persilatan yang baru. Aku berharap, siapa pun yang kelak terpilih untuk menduduki jabatan, akan memimpin Dunia Persilatan dengan baik.”


Semua pendekar menyimak perkataan Pendekar Sung dengan seksama.


“Dengan demikian, aku membuka pertandingan memperebutkan jabatan ini. Pertandingan bisa dimulai sekarang!”


Dengan adanya aba-aba, maka pertandingan pun dimulai.


Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pertandingan menggunakan sistem menantang. Pertama-tama, dua pendekar saling berhadapan sampai ada salah seorang yang kalah. Sang pemenang akan ditantang oleh lawan yang lain. Kemudian setelah selesai, akan muncul penantang baru. Begitu seterusnya sampai ditemukan pemenangnya.


Pertandingan berlangsung seru. Ternyata cukup banyak pendekar yang berminat dengan jabatan Ketua Persilatan. Bagaimana tidak? Posisi itu memungkinkan adanya dukungan dari seluruh anggota Dunia Persilatan, dihormati oleh banyak orang, dan mendapat penghormatan tertinggi dari semua masyarakat dunia, bahkan kekaisaran.


Sudah cukup banyak pendekar yang maju ke arena. Menang dan kalah silih berganti. Penonton semakin bersemangat dan bergairah menyaksikan jalannya pertandingan.


Sen Khang menyaksikan pertandingan yang berlangsung dengan bergairah. Ia mengamati semua peserta dengan teliti. Menurutnya, tak ada satu pun dari mereka yang layak menggantikan Pendekar Sung, baik dalam hal kepandaian ilmu silat maupun dalam hal kebijaksanaan.


Sebaliknya, Chien Wan tidak begitu memperhatikan pertandingan yang tengah berlangsung. Ia malah lebih memusatkan perhatiannya pada beberapa orang pendekar yang duduk di kursi paling ujung. Di matanya, mereka tampak aneh. Gerak-gerik mereka agak mencurigakan sejak pertama kali mereka datang dan bergabung dalam barisan pendekar. Namun karena mereka tidak melakukan apa-apa, ia tidak mau berpikiran macam-macam.


“Kakak Wan,” bisik Kui Fang sambil menyentuh tangan Chien Wan. ia heran karena perhatian Chien Wan tidak tertuju kepada jalannya pertandingan, melainkan pada beberapa orang yang menurutnya sendiri tidak apa-apa.


Chien Wan menoleh dan menepuk tangan gadis itu. Ia tersenyum menenangkan.


Brak!


Seorang pendekar terlontar dari dalam arena. Ia segera bangkit dengan wajah merah padam. Secara fisik ia tidak terluka. Egonyalah yang terluka. Ia memberi hormat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lalu berbalik dan meninggalkan daerah arena.


“Silakan, siapa lagi yang berani?” tantang pria di atas arena dengan sombong. Ia pantas bersombong diri karena ia sudah menang tiga kali berturut-turut.


Semua peserta pertemuan berpandangan dan berbisik-bisik.


Pendekar Sung berdiri. Hatinya agak kurang puas dengan hasilnya.


“Apakah masih ada yang mau menantang?” tanyanya. “Bila tidak ada lagi yang ingin mengajukan tantangan, maka Pendekar Khu akan menjadi Ke—“


“Tunggu!”


Sesosok bayangan berkelebat dan mendarat di tengah-tengah arena. Pria itu mengenakan pakaian mewah dari sutra berwarna coklat tua. Wajahnya kaku dan datar, seperti wajah patung. Ia adalah salah satu dari pendekar yang sejak tadi diperhatikan Chien Wan.


“Boleh kami tahu siapa nama Anda dan dari aliran mana?” tanya Pendekar Sung ramah.


Orang misterius itu diam saja. Ia menatap Pendekar Khu dengan pandangan penuh ejekan.


Pendekar Khu gusar sekali dipandangi seperti itu. “Apa kau tuli?”


“Akulah Ketua Persilatan yang baru,” gumam orang misterius itu.


“Jangan sombong kau!” Pendekar Khu menerjang orang itu dengan pukulan dahsyat yang mengarah tepat ke arah dada. Orang itu diam saja seolah hendak membiarkan pukulan itu menghantamnya. Para pendekar memperhatikannya dengan menahan napas.


Namun secara mengejutkan, si misterius bergerak begitu cepat. Ia membungkuk dan melayangkan tendangan yang segera menyambar dada Pendekar Khu dengan sangat telak. Pendekar Khu tak sempat mengelak. Tendangan itu menghantamnya. Ia terlempar ke luar arena dan darah segar muncrat dari mulutnya. Ia tewas saat itu juga.


“Ah!” Semua peserta pertemuan terkesiap.

__ADS_1


Chien Wan bangkit dengan kaget. “Tendangan Penghancur Jiwa!”


Sen Khang ikut berdiri dengan geram. Akhirnya ia tahu siapa orang misterius itu. “Chi Meng Huan!”


Seruan kedua pendekar muda itu membuat semua orang kaget. Berita pembantaian di Wisma Bambu memang telah menyebar di Dunia Persilatan. Semua orang telah mengetahui pelaku pembantaian itu.


Tawa menggelegar menyeramkan.


Orang misterius itu menyobek kulit wajahnya. Ternyata ia mengenakan topeng kulit samaran. Ketika topeng terlepas, tampaklah wajah asli Chi Meng Huan. Wajah tampan yang diselubungi kekejian dan ambisi menyeramkan.


“Chi Meng Huan!” gumam dan seruan riuh memenuhi arena.


“Apa yang kaulakukan di sini?” bentak Pendekar Sung garang.


Meng Huan menyeringai. “Akulah Ketua Persilatan yang baru.”


“Jangan mimpi!” dengus Sen Khang dingin. “Penjahat dan pembunuh macam kau tak pantas menjadi Ketua Persilatan!”


Chi Meng Huan menelengkan kepala dan melipat kedua tangan di depan dada. “Tak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengalahkan aku!” katanya pongah.


“Omong kosong!” sambar Siu Hung. “Kau pernah kalah dari Kakek Ouwyang!” ejeknya.


Chi Meng Huan menoleh cepat dan menatap gadis remaja itu dengan pandangan menyeramkan. Siu Hung balas memelototinya tanpa gentar.


Sen Khang segera bertindak. Ia melompat ke tengah arena dan ke hadapan Meng Huan. Ia tidak mau Meng Huan sampai mencelakai Siu Hung. Memang tidak mudah bagi Meng Huan untuk mendekati Siu Hung karena banyaknya orang di sana. Namun ia tahu, jika ia tidak mengalihkan perhatian Meng Huan, akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


“Aku takkan biarkan kau mengacau di sini!” bentak Sen Khang galak.


Meng Huan memasang tampang prihatin. Ia menggeleng-geleng. “Kau tidak akan bisa mengalahkan aku dalam pertandingan adil, Sen Khang. Waktu itu kan kau berlaku curang dan membokongku,” ejeknya.


Amarah Sen Khang mendidih. “Keparat!”


Sen Khang menggertakkan geraham dengan penuh kemarahan. “Orang tak tahu balas budi! Nista! Aku menyesali hari saat ayahku membawamu ke rumah kami! Aku menyesali keberadaanmu dalam hidup kami!”


Wajah Meng Huan berubah keji. “Tak ada gunanya menyesali semuanya, Sen Khang. Toh nasi sudah menjadi bubur. Apalagi sekarang... adikmu sudah menjadi milikku.”


“Lebih baik dia mati daripada menjadi milikmu!”


“Kalau begitu kau harus kubunuh! Siapa pun yang mencoba menghalangiku memilikinya akan kuhabisi! Seperti orangtuamu!”


“Jahanam!” Sen Khang menyerang Meng Huan dengan mengerahkan seluruh kepandaiannya. Ilmu Pukulan Badai sungguh luar biasa. Gerakannya amat cepat, keras, dan mantap. Setiap gerakan selalu disertai deru angin yang kuat.


Meng Huan menyambut setiap serangan dengan santai. Tendangan Penghancur Jiwa tak kalah hebat dengan ilmu yang dimiliki Sen Khang. Tendangan demi tendangan dikerahkannya dengan penuh tenaga.


Pertempuran di atas arena terjadi dengan sangat cepat hingga bagi orang yang ilmu silatnya belum tinggi, tak mampu menyaksikannya. Karena gerakan tersebut sangat cepat, seolah-olah mereka menjelma menjadi bayangan yang berkelebatan.


Deru angin pertempuran terasa sampai ke luar arena.


Chien Wan terus memandang ke arena dengan cemas. Ia tahu betapa hebatnya Meng Huan sekarang. Chien Wan tak yakin kalau Sen Khang bisa mengalahkan Meng Huan. Kalau pun kali ini mereka tampak berimbang, itu karena Meng Huan belum mengerahkan Ilmu Pedang Bayangan.


Tak lama kemudian Sen Khang mulai terdesak karena Meng Huan mulai menggunakan gerakan-gerak dalam Ilmu Pedang Bayangan. Sen Khang tetap berusaha mengerahkan kekuatannya. Ia berusaha menyarangkan pukulan pada Meng Huan, namun tubuh Meng Huan seolah tak dapat disentuh.


“Kau takkan dapat membunuhku, Luo Sen Khang!” ejek Meng Huan sinis. “Kau tidak sebanding denganku!”


Sen Khang semakin marah. Ia terus menyerang. Tetapi kemudian ia menyadari bahwa kemarahan tak akan membuatnya menang. Maka ia menenangkan dirinya sambil terus memusatkan pikirannya. Dan berhasil! Gerakannya makin mantap seiring dengan semakin tenangnya pikirannya.


Sebuah pukulan yang keras tepat mengenai bahu Meng Huan. Meng Huan terperangah dan menatap gusar. Ia pun mengubah taktiknya. Gerakannya mendadak saja berubah.


Tendangan yang teramat kuat melayang ke arah kepala Sen Khang. Untung saja Sen Khang sempat mengarahkan lengannya untuk menangkis. Namun tetap saja tendangan itu melukainya. Krak! Tulang lengan Sen Khang terasa nyeri dan berbunyi mengilukan. Ia mundur dan meringis menahan sakit. Wajahnya pucat dan keringat dingin bermunculan di keningnya. Ia berusaha menggerakan tangannya, namun gagal.


Celaka, pikirnya cemas. Lengan kanannya patah. Sekarang tinggal tangan kiri yang bisa dipergunakannya. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. Ilmu Pukulan Badai takkan berguna hanya dengan satu tangan.

__ADS_1


“Ha ha ha!” Meng Huan tertawa mengejek. “Tanganmu patah, ya? Kasihan!”


Sen Khang mengetatkan geraham.


Ouwyang Ping sangat khawatir. Ia hendak melompat maju untuk membantu Sen Khang. Namun tangan Chien Wan menekan bahunya.


“Kakak...,” protes gadis itu.


Chien Wan menggeleng. Ia memandang ke arena. “Mundur, Sen Khang!” serunya.


Sen Khang menoleh. Ia mengangguk dan melompat turun.


“Pengecut!” maki Meng Huan berapi-api. “Jangan lari kau!”


Namun sebelum Meng Huan sempat mengejar, Chien Wan sendiri sudah melayang memasuki arena. Ia menatap tajam musuh bebuyutannya itu dengan tatapan dingin. “Kau membenciku. Akulah lawanmu,” katanya datar.


Meng Huan tertawa mengejek. “Jangan mimpi bisa mengalahkanku, Ouwyang Chien Wan! Baiklah! Setelah menuntaskanmu, barulah aku akan menghabisi yang lain!”


Chien Wan mencabut suling dari ikat pinggangnya dan bersiaga.


Meng Huan melompat dan dengan gerakan luar biasa menyambar pedang dari punggung salah seorang penonton yang ada di pinggir arena, membuat si pemilik pedang ternganga tanpa bisa berbuat apa-apa. Lalu ia mengerahkan Ilmu Pedang Bayangan yang dikombinasikan dengan Tendangan Penghancur Jiwa.


Terjadilah pertempuran yang kelak akan terus disebut-sebut orang sebagai pertempuran yang paling dahsyat sepanjang masa.


Tubuh Meng Huan seolah berubah menjadi puluhan dan mengepung Chien Wan. Setiap bayangan tubuhnya menyerang Chien Wan dengan pedang. Puluhan pedang berkilat mengelilingi Chien Wan, bersiap mengincar nyawanya.


Namun Chien Wan juga tak mau kalah. Sulingnya digerakkan dan makin lama maik cepat. Putaran dahsyat itu memantulkan cahaya yang berwarna-warni bak pelangi. Cahaya-cahaya itu menyerang pedang-pedang di tangan Meng Huan. Perpaduan cahaya dengan pedang menghasilkan pijaran bunga api yang mengerikan!


Meng Huan terkejut dan menggerakkan kakinya dengan lebih cepat. Namun Chien Wan telah mendapat banyak kemajuan dalam ilmu meringankan tubuhnya. Dengan mudah ia dapat mengelak setiap serangan.


Sebuah totokan dari suling Chien Wan mengenai titik utama kaki Meng Huan, membuatnya kesemutan dan mati rasa. Meng Huan tersentak dan menarik kembali kakinya. Untuk beberapa saat lamanya ia agak lengah.


Kesempatan inilah yang sejak tadi dinanti Chien Wan. ia melempar sulingnya ke angkasa. Suling Bambu Hitam berputar-putar mengeluarkan bunyi yang indah dan menyeramkan. Cahaya-cahaya kecil warna-warni mengelilingi suling itu.


Meng Huan terperangah. Ia tahu bahwa ia tidak mungkin bisa menyerang suling itu. berdasarkan pengalamannya dahulu, ia tahu ia tidak bisa menyentuh suling itu karena dilindungi oleh tenaga yang tidak terlihat. Maka ia mendekati Chien Wan dan menusukkan pedangnya ke dada Chien Wan yang tengah bersila mengerahkan tenaga dalamnya.


“Matilah kau, Ouwyang Chien Wan!”


“Kakak Wan!” Kui Fang berdiri dan hendak berlari untuk melindungi Chien Wan.


Namun Siu Hung yang pada saat itu berada di dekatnya segera menahannya. “Jangan bodoh! Penjahat itu tak akan dapat melukainya. Lihat saja!”


Kui Fang tak bisa bergerak karena Siu Hung mencengkeram lengannya erat-erat. Ia memandang arena dengan cemas.


Pedang yang ditusukkan ke arah Chien Wan ternyata tak bisa menyentuhnya. Cahaya kecil serupa pita yang sejak tadi mengelilingi suling tiba-tiba saja melesat ke arah pedang dan membelitnya. Meng Huan sangat terkejut karena pedangnya tertarik lepas dari tangannya.


Saat itulah Chien Wan melompat bangkit. Telapak tangannya menghantam dada Meng Huan. Chien Wan menggunakan Ilmu Nyanyian Dewa, satu-satunya ilmu tangan kosong yang dikuasainya. Walau Chien Wan tidak menguasai ilmu tersebut sehebat ilmu sulingnya, namun serangannya cukup untuk membuat Meng Huan terpukul mundur tanpa mampu mengelak.


Darr!!


Meng Huan terlempar dan darah segar muncrat dari mulutnya.


Chien Wan melompat menyambar sulingnya dan mendekati Meng Huan. Ia hampir berhasil mendekati Meng Huan namun gangguan datang.


Mendadak beberapa orang berlompatan dan mendekati Meng Huan. Salah satu dari mereka melemparkan bom asap ke arah Chien Wan.


Seluruh arena tertutup asap putih tebal.


“Keparat!” rutuk Chien Wan gusar.


***

__ADS_1


__ADS_2