Suling Maut

Suling Maut
Bebas


__ADS_3

Fei Yu mondar-mandir dengan hati gelisah. Sejak peristiwa penawanan Ting Ting dan teman-temannya, ia serasa bagai orang yang dipenjara di rumah sendiri. Sekarang Cheng Sam menempatkan beberapa penjaga di depan kamarnya, untuk mengawasinya. Ia tidak dapat bergerak dengan bebas. Sudah tiga hari dan ia masih belum tahu di mana mereka. Ayahnya belum juga kembali. Sedang usaha A Nan untuk mencari informasi tampaknya belum membawa hasil.


Cheng Sam keparat!


Fei Yu ingin sekali meninju wajah sombongnya itu. Ia yakin bisa mengalahkan Cheng Sam, namun ia mengkhawatirkan pemberontakan yang akan terjadi. Benar seperti yang dikatakan Cheng Sam, sekitar delapan puluh persen anak buah Dewa Seribu Wajah sekarang mengalihkan kesetiaan mereka kepada Cheng Sam. Jika ia memutuskan untuk melawan Cheng Sam, tentu anak buah lain yang masih setia yang akan menjadi korban.


Sekarang tinggal menunggu ayahnya. Ia yakin, walau banyak anak buah mereka yang berpaling, jika Dewa Seribu Wajah sendiri yang bertindak, mereka akan tunduk. Sekarang masalahnya, ayahnya sendiri sangat mempercayai Cheng Sam. Lalu bagaimana ini?


“Barangkali ayahku baru akan menyadari kekeliruannya jika Bukit Merak sudah diambil alih!” geram Fei Yu marah.


Ia menghela napas kesal. Entah bagaimana keadaan Ting Ting, pikirnya. Dengan hati-hati ia mengeluarkan tusuk rambut Ting Ting dari saku bajunya, kemudian dipandanginya dengan penuh kerinduan dan juga kepedihan. Ia ingin bertemu Ting Ting, ingin membebaskannya, dan ingin pergi bersamanya. Namun bagaimana caranya sedang di mana gadis itu berada saja ia tidak tahu?


Digenggamnya tusuk rambut itu erat-erat.


Datanglah A Nan dengan wajah berseri-seri. “Tuan Muda,” bisiknya sambil menarik Fei Yu ke ruang dalam. Ia takut pembicaraan mereka didengar oleh anak buah Cheng Sam yang sedang berjaga di luar.


“Bagaimana? Kau baik-baik saja?” tanya Fei Yu. Ia agak mengkhawatirkan A Nan. Sebagai pelayan kepercayaannya, gerak-gerik A Nan juga terbatas dan diawasi. Jika Cheng Sam tahu apa yang sedang dilakukan A Nan, tentu nasib A Nan akan celaka.


A Nan mengangguk pelan. “Saya baik-baik saja. Mereka tidak memandang saya sebelah mata karena saya ini pelayan rendahan,” senyumnya.


“Lalu?”


“Saya tahu di mana mereka ditahan, Tuan Muda.”


“Di mana mereka, A Nan?” tanya Fei Yu pelan, namun nada suaranya memancarkan semangat yang menggebu-gebu.


A Nan tersenyum melihatnya.


“Nona Ting Ting dan teman-temannya disekap dalam kamar besi yang dibangun di ruang bawah tanah dekat paviliun Cheng Sam, Tuan Muda,” lapor A Nan.


Wajah Fei Yu berubah serius. “Ruang bawah tanah? Kapan mereka membangun kamar besi di sana?”


“Empat tahun yang lalu, sewaktu Tuan Besar dan Tuan Muda pergi ke utara. Saya tahu sejak lama. Saya pikir mereka membangunnya atas perintah Tuan Besar.”


“Aku tidak tahu akan hal itu. Pasti ayahku juga tidak tahu!” geram Fei Yu. “Ruang bawah tanah itu sudah puluhan tahun tidak digunakan. Kakekku membangunnya untuk menyembunyikan diri dari kejaran musuh. Tidak disangka sekarang digunakan untuk memenjarakan orang!”


“Penjagaannya ketat sekali, Tuan Muda.”


Fei Yu menoleh. “Siapa yang memberimu informasi ini?”


Wajah A Nan agak merona. “Eng... salah seorang anak buah Cheng Sam yang bernama A Yip suka pada saya. Kebetulan dia ditugaskan untuk mengawasi saya. Sekalian saja saya manfaatkan dia untuk mencari informasi bagi saya. Tentu saja saya sangat berhati-hati. Dia tidak tahu sama sekali saya sedang memanfaatkannya.”


Fei Yu menghela napas terharu. A Nan rela mengorbankan harga dirinya demi menjalankan tugas dari Fei Yu. Dia benar-benar seorang pelayan yang setia.


“Tuan Muda....”


“Bagaimana caranya supaya kita dapat membantu mereka?” tanya Fei Yu separuh melamun.


A Nan terdiam. Ia tidak tahu jawaban atas pertanyaan itu.


Fei Yu berpikir keras. Tiba-tiba sebuah gagasan menyelinap di otaknya. Setiap orang butuh makanan untuk bisa hidup. Ia tahu Cheng Sam belum berniat membunuh tawanan itu, karenanya pasti mereka diberi makanan. “A Nan, kau tahu bagaimana cara mereka diberi makan?”


“Beberapa orang bergiliran membawanya ke sana secara bergantian,” jawab A Nan.


“Cari tahu siapa yang bertugas malam ini.”


***


Di dalam kamar tahanan, Sen Khang dan Chien Wan sibuk memikirkan cara untuk meloloskan diri. Sen Khang telah mengatur sebuah rencana dan dengan penuh semangat mulai membeberkan rencananya.

__ADS_1


“Nanti, saat ada orang membawakan kita makanan, kita hajar dia. Saat itu kita bisa kabur.”


“Tapi....” Chien Wan tampak ragu.


Ting Ting menoleh heran. “Tapi apa, Kakak Wan?”


Chien Wan menghela napas. “Bila kucium dari baunya, rasanya ini ada di ruang bawah tanah. Apa kalian tidak mencium bau lembap dan sesak di dalam sini? Kalau memang benar, sulit bagi kita untuk meloloskan diri karena kita tak tahu jalan keluarnya.”


Sen Khang langsung mengendus-endus sambil berkonsentrasi. Penciumannya tidak setajam Chien Wan, namun ia seketika tahu bahwa Chien Wan benar. Ruangan ini berbau lembap dan sesak. Ia menjatuhkan diri dengan putus asa.


“Lantas, apa yang harus kita lakukan?”


Chien Wan berpikir-pikir. “Mungkin....”


Sen Khang dan Ting Ting langsung tegak kembali.


“Kita bisa menyandera pengantar makanan dan memintanya menunjukkan jalan keluar,” lanjut Chien Wan. “Dengan cara ini, kita mungkin bisa meloloskan diri dan mencari Ping-er.”


Ting Ting merasa sedih dalam hatinya. Yang ada di benak Chien Wan selama ini hanya dua hal: Suling Bambu Hitam dan Ouwyang Ping. Tentu saja yang terutama adalah Ouwyang Ping. Ting Ting merasa putus asa dan kehilangan harapan. Memang sudah tak ada kesempatan lagi baginya.


Sen Khang mengangguk-angguk. “Bagus sekali! Tak disangka kau ternyata pintar sekali!”


Mereka menyiapkan rencana sebaik-baiknya.


Saat makan malam, pintu ruang tahanan terbuka. Seseorang melangkah masuk dengan hati-hati. Kepalanya tertunduk.


Sen Khang menerjang dengan tinjunya.


Tak disangka, orang itu mengelak dengan gerakan yang sangat ringan dan gesit. Ia bergegas menutup pintu dan berbalik. “Jangan serang. Ini aku!” desisnya. Ia mengangkat muka dan tampaklah wajah yang sudah mereka kenal. Chang Fei Yu!


Ternyata Fei Yu berhasil menyusun rencana yang bagus. A Nan berhasil mengetahui siapa penjaga yang mendapat giliran mengantarkan makanan untuk tahanan. Fei Yu berencana untuk membuat pingsan penjaga itu dan mengambil alih kunci ruangan darinya. Yang menjadi masalah adalah bagaimana caranya untuk bisa meloloskan diri dari kamarnya sendiri dengan penjagaan ketat seperti itu.


Akhirnya Fei Yu berhasil mencapai ruang bawah tanah tanpa menimbulkan kecurigaan. Salah satunya adalah karena malam itu cuaca sedikit mendung sehingga ia dapat menyamarkan mukanya dengan cara menunduk. Lalu setelah tiba di dalam, ia melakukan serangan terhadap para penjaga dengan totokan hingga mereka pingsan.


“Kau...!”


“Jangan banyak bicara. Ikuti aku!” desis Fei Yu sambil membuka kembali pintu kamar besi.


Chien Wan dan yang lain tak punya pilihan kecuali mengikuti Fei Yu keluar dari kamar besi itu. Mereka berjalan menembus lorong yang gelap dan menanjak. Perjalanannya cukup jauh karena jalan itu berkelok-kelok.


Makin lama, udara yang mereka rasakan semakin segar. Akhirnya mereka tiba di muka lorong itu. Letaknya tak jauh dari paviliun tempat mereka semua tak sadarkan diri. Satu per satu keluar dari mulut lorong itu.


Saat itu A Nan datang sambil berlari-lari kecil.


“Tuan Muda!”


“Bagaimana mereka semua?” tanya Fei Yu.


“Tidur seperti bayi.” A Nan menyeringai. “Bukan itu saja. Tadi A Yip meracau. Dia memberikan informasi yang sangat penting. Katanya Chi Meng Huan disekap dalam ruang rahasia di dalam kamar kerja Tuan Besar.”


“Bagus, A Nan!” puji Fei Yu.


“Tuan Muda Chang, bisa aku tahu kalian sebenarnya sedang apa?” tanya Sen Khang gemas.


“Kami sedang berusaha membebaskan kalian!” desis Fei Yu kesal.


“Kau tahu di mana Ping-er?” sela Chien Wan.


Fei Yu tercenung. “Maksudmu, gadis yang membawa harpa itu? Memang dia tidak bersamamu?”

__ADS_1


“Tidak. Cheng Sam bilang dia telah... membunuhnya!” Suara Chien Wan terdengar parau. “Tapi aku tak percaya. Firasatku mengatakan Ping-er masih hidup.”


“Aku tidak tahu. Mungkin dia disatukan dengan Chi Meng Huan.”


“Aku tidak mengerti dirimu,” desis Ting Ting. Dan seketika perhatian Fei Yu beralih padanya. “Kau sebenarnya jahat atau baik? Kau menjebak kami sehingga kami ditawan. Sekarang kau membebaskan kami.”


Fei Yu cemberut. “Terserah kau saja mau anggap aku jahat atau baik. Sebaiknya sekarang kita ke kamar kerja ayahku. Untung saja ayahku sedang pergi.”


“Bagaimana dengan sulingku? Kau tahu di mana Cheng Sam menyembunyikannya?” tanya Chien Wan.


“Suling?”


“Cheng Sam merampasnya saat kami disekap.”


Fei Yu menoleh menatap A Nan.


“Tidak disebut-sebut mengenai suling. Tapi kalau Anda sekalian ingin tahu, malam ini Cheng Sam sedang pergi ke Kota Lok Yang. Besok dia baru kembali,” bilang A Nan.


“Kalau begitu, pasti disimpan di kamarnya,” gumam Fei Yu.


“Sebaiknya kita ke kamar kerja Tuan Besar sekarang, jangan bergerombol di sini. Nanti ada penjaga yang datang.” A Nan tampak gelisah dan menoleh kanan-kiri berkali-kali.


“Benar,” angguk Fei Yu setuju.


Tiba-tiba, sesosok bayangan hitam berkelebat menghampiri mereka disusul oleh bayangan keemasan. Mereka sangat terkejut dan bersiap-siap untuk melawan yang datang, mengira mereka musuh. Namun gerakan mereka dihentikan sebuah pekikan.


“Kakak Wan!”


Chien Wan terkejut. Ia menatap dua orang yang datang. Seketika wajahnya berseri-seri. “Ping-er!”


Ouwyang Ping menghampiri Chien Wan dengan penuh kebahagiaan. Tangan mereka saling bergenggaman dengan erat. Tidak memperhatikan wajah Ting Ting dan Sen Khang yang langsung keruh.


Sen Khang mengalihkan perhatian pada sosok berbaju hitam di sisi Ouwyang Ping. Hatinya heran dan juga curiga dengan kehadiran sosok asing itu.


Fei Yu membelalakkan mata. “Paman!”


Kelelawar Hitam menyeringai. “Lama tidak jumpa, Bocah!”


Ouwyang Ping segera memperkenalkan mereka. “Teman-teman, ini Kelelawar Hitam. Dialah yang menolongku tiga hari yang lalu saat aku hendak di bawa ke ruangan Cheng Sam.”


Semua segera memberi hormat dan dibalas dengan malu-malu oleh Kelelawar Hitam. Semua, kecuali Fei Yu yang memang sudah menghampiri pria itu dan memberinya tepukan akrab di bahunya.


“Kau mengenalnya?” tanya Sen Khang pada Fei Yu.


“Dia bisa dikatakan guruku,” sahut Fei Yu sambil memandang masam pada Kelelawar Hitam. “Guru yang datang dan pergi sesuka hatinya.”


Kembali Kelelawar Hitam tersipu.


“Ya sudah. Sebaiknya kalian pergi saja sekarang,” suruh Fei Yu dengan mata terus melirik ke arah paviliun Cheng Sam. “Paman Kelelawar Hitam bisa mengantar kalian. Dia tahu jalan.”


“Bagaimana dengan Kakak Huan?” seru Ting Ting pelan.


Fei Yu meliriknya sekilas. “Aku hampir lupa. Kalau begitu, kalian pergi ke kamar kerja ayahku bersama A Nan, setelah itu tinggalkan tempat ini bersama Paman. Aku akan mengerjakan yang lainnya.”


A Nan menatap cemas. “Tuan Muda mau ke mana?”


“Ada hal penting yang harus kulakukan,” bilang Fei Yu singkat. Tanpa menunggu reaksi yang lain, ia pergi meninggalkan tempat itu.


“Ayo kita bebaskan Meng Huan,” ajak Sen Khang bersemangat.

__ADS_1


Mereka semua segera mengikuti A Nan menuju kamar kerja Dewa Seribu Wajah.


__ADS_2