Suling Maut

Suling Maut
Masa Lalu Cheng Sam


__ADS_3

“Kami sekeluarga dan seluruh anggota perguruan ini mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan yang Anda sekalian berikan. Entah bagaimana kami dapat membalas jasa baik Anda semua,” ucap Ketua Kam saat menjamu mereka.


Pendekar Sung balas menghormat. “Anda tidak perlu bersikap begitu. Semua ini sudah menjadi kewajiban kami sebagai sesama anggota persilatan. Lagi pula, jika bukan karena laporan anak buah Anda; Pendekar Yang, kami semua takkan berada di sini.”


Pendekar Yang menyela, “Ketua, sebenarnya kita bisa membalas jasa Pendekar Ouwyang dalam hal ini.”


Ketua Kam memandang tertarik. “Bagaimana?”


“Pendekar Ouwyang mencari informasi tentang Cheng Sam. Aku sudah memberitahunya bahwa Cheng Sam pernah menjadi anggota perguruan kita. Tetapi aku tidak bisa menceritakan detilnya. Selain karena aku tidak begitu tahu, juga karena sebagai anggota biasa, aku tidak berhak membuka masa lalu perguruan kita.”


Ketua Kam terpaku. Ia memandang istrinya yang tampak agak resah.


Chien Wan memberi hormat. “Ketua Kam, Cheng Sam telah melakukan banyak dosa. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ada sesuatu hal yang harus kami ketahui mengenai masa lalunya untuk membongkar beberapa misteri yang tidak terpecahkan, dan kami menduga hal itu ada hubungannya dengan masa lalunya. Maka dari itu kami harus mengetahui masa lalunya,” katanya tenang.


Ketua Kam menghela napas.


Nyonya Kam menyentuh lengan suaminya, menatap penuh arti. Suaminya lalu mengangguk.


“Sebenarnya, masalah ini berhubungan dengan keluargaku. Ayahku adalah ketua perguruan sebelumnya. Cheng Sam adalah murid beliau,” kata Nyonya Kam.


Chien Wan memusatkan perhatian pada Nyonya Kam. Sejenak ia curiga, jangan-jangan perempuan inilah Adik Lan yang selalu disebut-sebut Cheng Sam. “Maaf, boleh aku tahu nama Nyonya sebelum menikah?”


Nyonya Kam agak heran, namun menjawab, “Nama gadisku adalah Ho Ying Sia.”


Chien Wan menggeleng muram.


Kui Fang menatapnya dan mengalihkan pandangannya kepada Nyonya Kam. “Apakah Anda mengenal seseorang yang biasa dipanggil Adik Lan?”


Nyonya Kam mendesah. “Ya. Cheng Sam biasa memanggil Adik Lan kepada kakak perempuanku, Chui Lan.”


Kui Fang mencengkeram lengan Chien Wan dengan bersemangat. “Kakak Wan!”


Chien Wan mengangguk.


Pendekar Sung melihat kedua anak muda itu dan mengangguk senang. “Bagus! Sekarang kita sudah tahu siapa Adik Lan itu. Tetapi itu tidak menjelaskan mengapa Cheng Sam sering pergi ke Kotaraja.”


“Sebentar!” Nyonya Kam memucat. “Kalian bilang Cheng Sam sering ke Kotaraja?”

__ADS_1


“Benar.”


“Ka... Kakak Lan tinggal di Kotaraja setelah dia menikah,” kata Nyonya Kam, suaranya sedikit gemetar. “Tetapi sekarang dia sudah meninggal dunia.”


“Kapan dia meninggal dunia?” sambar Kui Fang segera.


“Kira-kira sepuluh tahun yang lalu.”


“Berarti cocok!” Kui Fang mengangguk.


Chien Wan memusatkan perhatian lagi pada Nyonya Kam. “Ada hubungan apa di antara Cheng Sam dengan kakak Anda, Nyonya?”


Nyonya Kam tertegun. “Ini... ini masalah pribadi,” elaknya.


“Nyonya Kam,” kata Pendekar Sung tenang, “Cheng Sam telah melakukan kejahatan yang tidak termaafkan. Sekarang kami membutuhkan keterangan untuk mengungkap siapa rekan kejahatannya. Petunjuk yang kami dapatkan selama ini begitu simpang siur. Kami butuh informasi yang tepat. Begitu kami tahu rekan kejahatannya, kami akan segera membekuknya.”


Nyonya Kam menggeleng.


“Ibu,” tukas Cin Hu, “Cheng Sam itu penjahat besar! Benar dia bekas anggota perguruan kita. Namun tidak semestinya kita melindungi kejahatannya. Beritahu saja apa yang terjadi di masa lalu!”


“Tetapi....”


“Bukan Cheng Sam yang Ibu lindungi, tetapi mendiang Kakak Lan!” sergah Nyonya Kam akhirnya.


Ketua Kam menggeleng-geleng. Ia menyentuh lengan istrinya dan menatapnya penuh arti. “Sudahlah, Istriku. Kakakmu sudah meninggal dan kini Dunia Persilatan membutuhkan bantuan kita untuk meringkus Cheng Sam. Tidak ada gunanya kita melindungi kakakmu yang sudah meninggal.”


“Yah...,” desah Nyonya Kam pasrah.


“Cheng Sam pernah menjalin hubungan dengan kakak iparku,” bilang Ketua Kam. “Hubungan mereka sangat erat dan agak memalukan jika diingat. Mereka tidak mengindahkan tata krama. Dan....” Ketua Kam menggeleng. Wajahnya agak merah.


Pendekar Sung mengernyitkan kening, sementara Chien Wan dan Kui Fang juga agak tidak mengerti. “Mereka saling mencintai, jadi apa salahnya...?” tanya Pendekar Sung heran.


“Masalahnya, mereka bukan hanya saling mencintai. Mereka telah melanggar aturan susila kita. Mereka... melakukan hubungan suami-istri tanpa ikatan. Dan mereka bergaul dengan bebas di kalangan muda-mudi golongan hitam. Mereka... bergaul intim dengan siapa saja. Berganti pasangan dengan bebas. Itu sangat memalukan dan mencoreng muka perguruan kami,” jelas Ketua Kam.


Penjelasan itu membuat wajah mereka semua merah padam, terutama para pemuda-pemudi yang belum berpengalaman dalam masalah ini.


“Kakakku berbuat begitu karena dipengaruhi Cheng Sam. Lama-lama dia menyesal dan merasa malu. Dia meminta Cheng Sam menikahinya dan berhenti melakukan pergaulan seperti itu, namun Cheng Sam menolak. Akhirnya kakakku meninggalkannya dan menerima ketika mendiang ayahku menjodohkannya dengan seorang pemuda dari Kotaraja,” lanjut Nyonya Kam. Wajahnya berubah muram. “Namun saat pernikahan, Cheng Sam datang dan mengacau. Dia hendak membawa kakakku pergi. Terjadi keributan. Akhirnya ayahku murka dan mengusir Cheng Sam dari perguruan.”

__ADS_1


“Ternyata Cheng Sam sering mengunjungi kakak Anda. Pengusiran terhadapnya tidak ada gunanya,” gumam Pendekar Sung.


Nyonya Kam menutup mukanya. “Ya Tuhan! Tak sangka akhirnya aku mengungkapkan aib keluarga pada orang lain!” keluhnya.


Kui Fang memandang iba.


“Sekarang kalian semua sudah tahu aib perguruan kami. Tetapi apa hubungannya hal itu dengan masalah yang tengah kalian hadapi sekarang?” tanya Cin Hu pada Chien Wan.


“Kami sedang menyelidiki apakah Cheng Sam punya anak atau keponakan yang bisa diperalatnya untuk membunuh orang,” jawab Chien Wan tenang. “Belum lama ini ada seseorang menyamar menjadi aku untuk membunuh paman dan bibiku sendiri.”


“Oh?” seru Ketua Kam.


“Kalian dengar musibah di Wisma Bambu?” tanya Pendekar Sung.


“Kami mendengar peristiwa itu,” angguk Ketua Kam.


“Jadi kau Suling Maut!” seru Cin Hu bersemangat. Matanya membelalak penuh kekaguman pada Chien Wan. “Aku tidak menduga bahwa kau adalah dia. Seharusnya aku sudah tahu, melihatmu bertarung seperti itu dengan sulingmu pada pertempuran tadi!” katanya girang.


Ketua Kam dan istrinya juga kaget sekali mendengarnya.


Pendekar Yang terperangah. “Ternyata kau ini Suling Maut dari Lembah Nada! Aku tidak menyangka. Selama ini aku tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa!”


Chien Wan menggeleng. “Itu tidak penting,” gumamnya.


Kui Fang tersenyum menatap pemuda itu yang tampak malu. Ia tahu betul Chien Wan tidak suka bila nama julukannya disebut-sebut, apalagi sampai dipuji-puji seperti itu.


Ketua Kam berdiri dan memberi hormat. “Semoga keterangan kami ini bisa sedikit membantu mengungkap masalah yang kalian hadapi,” ujarnya tulus.


Chien Wan berdiri dan balas menghormat. “Terima kasih banyak, Ketua Kam.”


“Kamilah yang seharusnya berterima kasih. Berkat bantuan kalian semua, kami bisa terbebas dari cengkeraman Cheng Sam. Dan berkat bantuanmu, putriku bisa selamat dari penghinaan itu.” Ketua Kam menatap putrinya yang kini menunduk dengan muka memerah.


Chien Wan menghela napas. Wajah Ting Ting terbayang di benaknya, membuat dadanya sesak oleh sesal. Seharusnya penghinaan itu pun tidak perlu terjadi pada Ting Ting.


Kui Fang meliriknya dengan sedih.


Tak lama setelah itu, Chien Wan dan Kui Fang berpamitan untuk meninggalkan Perguruan Elang Merah. Mereka hendak menuju Wisma Bambu. Chien Wan merasa sudah saatnya ia kembali dan menemui sahabatnya. Ia ingin menghibur Sen Khang dan melakukan hal yang bisa dilakukannya sebagai sahabat dan juga sepupu.

__ADS_1


Pendekar Sung dan rombongan pun kembali ke Kota Lok Yang.


***


__ADS_2