
Nama baik Suling Maut Ouwyang Chien Wan telah berhasil dipulihkan kembali berkat dukungan sahabat-sahabat baiknya. Chang Fei Yu, Wu Kui Fang, dan Ouwyang Ping menyusun rencana yang sangat apik untuk membuka mata Luo Sen Khang dan menyadarkannya dari kebencian dan dendam yang membabibuta. Dan rencana mereka bukan hanya berhasil membuka mata Sen Khang, melainkan juga semua anggota Dunia Persilatan.
Namun di samping kebenaran yang telah terungkap, timbul juga kepedihan yang mendalam karena ternyata Luo Ting Ting mengandung sebagai akibat dari perkosaan yang dialaminya.
Chi Meng Huan menawarkan diri untuk menikahinya, namun pada saat upacara pernikahan mereka, terungkap lagi satu kenyataan mengerikan. Yang sama sekali tidak terbayangkan oleh mereka sebelumnya. Kenyataan yang sangat mengguncang hati mereka dan juga seluruh masyarakat Dunia Persilatan.
Pembunuh keji yang menghabisi nyawa Tuan dan Nyonya Luo serta penghuni Wisma Bambu lainnya ternyata adalah Chi Meng Huan!
Orang yang selama ini selalu mereka percayai sebagai seorang pemuda yang baik budi, tulus dan penuh kasih sayang. Pemuda yang selalu mengalah, penyabar, dan selalu menampakkan kasih sayang yang luar biasa terhadap sahabat-sahabatnya, terutama Ting Ting.
Dan penyebabnya?
Bukan lain daripada perasaan benci dan cemburu yang terpupuk selama bertahun-tahun. Ternyata selama bertahun-tahun ini, Chi Meng Huan memendam kebencian yang teramat sangat terhadap Chien Wan. Dan ia melakukan semua aksi kejahatannya hanya untuk membuat Chien Wan menderita.
Yang amat mengejutkan mereka semua, bukan hanya ternyata Chi Meng Huan adalah pembunuh keji dan orang yang telah menodai Ting Ting, namun ia juga adalah putra dari penjahat licik Cheng Sam. Dan mereka bekerja sama dengan orang Khitan untuk menguasai Dunia Persilatan.
Dan ternyata Chi Meng Huan diam-diam mempelajari ilmu silat tinggi yang dicurinya dari Bukit Merak, sehingga ia kini menjadi seorang penjahat berilmu luar biasa tinggi dan sulit dikalahkan. Dan dengan ilmunya itu ia berhasil melumpuhkan Chien Wan, membuatnya menderita luka dalam.
Chi Meng Huan sendiri terluka—walau tidak terlalu parah—oleh Tuan Ouwyang Cu.
Luka Chien Wan yang parah membuat kakeknya mengambil keputusan untuk membawanya ke Pulau Ginseng, tempat bermukimnya tabib yang luar biasa sakti, Dewa Obat Pai Tin Fung. Kakek Ouwyang mengajak serta Siu Hung, Sen Khang, Kui Fang, dan Ouwyang Ping untuk menemani mereka.
Kedatangan mereka ke Pulau Ginseng disambut dengan tidak ramah oleh Dewa Obat yang pernah berseteru dengan Kakek Ouwyang di waktu muda. Namun situasi yang kurang menguntungkan itu diselamatkan oleh keceriwisan Siu Hung. Dewa Obat langsung menyukai gadis nakal itu dan setuju menyembuhkan Chien Wan dengan syarat bahwa anak-anak muda itu harus tinggal di Pulau Ginseng selama tiga bulan untuk menemaninya. Dan bukan hanya itu, ia juga memberikan tambahan ilmu pada mereka semua sehingga dalam tiga bulan ini kemajuan mereka sangat cepat.
__ADS_1
Adapun Chi Meng Huan, ia dibawa kabur oleh ayahnya ke kediaman seorang Khitan yang sakti, Tonggu, yang ternyata adalah guru Chi Meng Huan. Kondisinya dengan cepat dapat dipulihkan oleh Tonggu.
***
A Ming telah menerima teguran yang teramat pedas dari pamannya. Ia merasa begitu malu dan tak berdaya. Cinta dan kepercayaannya telah dilabuhkan kepada orang yang salah. Ia telah berdosa kepada mendiang ayahnya, kepada teman-teman yang memperhatikannya, dan kepada dirinya sendiri.
Kebencian yang semula dirasakannya—terhadap Chi Meng Huan, terhadap Luo Sen Khang, dan terutama terhadap dirinya sendiri—kini telah sirna, digantikan oleh rasa malu dan pedih.
Apa yang akan dilakukannya sekarang ini? Bagaimana dengan bayi dalam kandungannya? Sekarang usia kandungannya sudah hampir lima bulan. Perutnya sudah membesar. Anak di dalamnya sudah mulai bergerak menendang perutnya. Dia sudah berjiwa! Tak mungkin lagi menggugurkannya.
A Ming mengusap air matanya.
Saat itu ia tengah berjalan-jalan di dalam taman. Ia sengaja mengurung dirinya pada siang hari di dalam kamarnya dan baru keluar saat hari telah senja. Ia tak mau semua anggota Bukit Merak melihat keadaannya.
Memang tak ada seorang pun yang berani mengomentari keadaannya. Bagaimana pun ia adalah keponakan pemilik Bukit Merak. Tak ada seorang anggota pun yang bermulut lancang karena mereka segan terhadap pimpinan mereka. Namun tetap saja A Ming merasakan malu yang teramat sangat.
Hubungannya dengan Chi Meng Huan berlangsung begitu saja. Ia sendiri juga tidak tahu sejak kapan ia berhenti mencintai Sen Khang dan beralih mencintai Meng Huan. Yang pasti ia tidak pernah mampu menolak permintaan Meng Huan.
Kebersamaannya dengan Meng Huan membuatnya percaya seratus persen pada pemuda itu. Maka ia tak mengucapkan sepatah kata pun pada yang lain saat ia mengetahui kenyataan bahwa Cheng Sam adalah ayah kandung Chi Meng Huan, bahwa sebenarnya Cheng Sam sering bertemu dengan Meng Huan di Hutan Bambu—di sudut yang tersembunyi.
Kasihnya pula yang telah membutakan matanya dan membenarkan setiap kelakuan Meng Huan. Ia menganggap sudah sepantasnya Meng Huan membenci keluarga gurunya karena mereka pilih kasih. Ia juga tidak menyalahkan Meng Huan saat kebencian meningkat menjadi pembunuhan.
Memang ia sangat gusar ketika Cheng Sam dan beberapa anak buahnya membunuh Sung Cen. Ia juga marah ketika tahu Meng Huan menodai Ting Ting. Namun ia memaafkan Meng Huan begitu saja. Bahkan ia rela mengikuti kelompok Cheng Sam karena Meng Huan berjanji akan segera bergabung dengan mereka dan menikahinya.
__ADS_1
Namun ia teramat marah dan kecewa ketika mengetahui Meng Huan akan menikahi Ting Ting. Apa gunanya pengorbanannya selama ini bila Meng Huan memilih untuk menikahi gadis lain daripada dirinya? Kemarahan itulah yang membuatnya membeberkan semua kebusukan Meng Huan kepada Chien Wan dan Fei Yu.
A Ming melangkahkan kakinya ke gerbang Bukit Merak. Ia bermaksud berjalan-jalan ke dalam hutan. Ia merasa tak nyaman berada di dalam wilayah Bukit Merak. Namun seorang penjaga menghentikannya.
“Nona mau ke mana?”
A Ming menggeleng. “Aku hanya mau jalan-jalan di sekitar sini. Sebentar lagi aku kembali.”
“Sudah hampir malam, Nona.” Penjaga gerbang keberatan.
“Sebentar saja.”
Penjaga malam tak berdaya mencegahnya. Ia membiarkan A Ming lewat.
A Ming tidak pergi jauh-jauh. Ia hanya berjalan-jalan di sekitar pintu gerbang. Ketika kakinya mulai penat, ia beristirahat di pinggir jalan. Ia duduk di batang pohon yang melintang.
“A Ming.”
A Ming terperanjat melihat seseorang muncul dari balik pohon.
“Meng Huan!”
Yang muncul memang Chi Meng Huan sendiri. Langkahnya agak limbung karena luka dalamnya belum sepenuhnya pulih akibat serangan Tuan Ouwyang dahulu. Ia tampak agak kurus dan mengibakan. Tatapan matanya menghujam A Ming dengan tajam.
__ADS_1
“Ya. Ini aku.”
***