
Kelelawar Hitam telah berhasil memandu Meng Huan dan Ting Ting sampai ke perbatasan Kota Lok Yang. Mereka berhenti di tepi perbatasan untuk beristirahat. Karena hari masih cukup gelap, Kelelawar Hitam tidak merasa perlu untuk menyembunyikan diri. Namun ia tahu sebentar lagi matahari akan segera terbit, dan ia pun berpikir-pikir apakah ia perlu menyembunyikan diri.
Kegelisahan Kelelawar Hitam dirasakan oleh Ting Ting.
“Ada apa, Kelelawar Hitam?”
“Sebentar lagi matahari terbit. Aku tak mau orang melihatku,” kata Kelelawar Hitam.
“Kenapa?”
“Wajahku jelek sekali. Nanti orang-orang takut. Kau juga pasti takut melihat wajahku.”
“Tidak!” bantah Ting Ting cepat.
“Iya! Sekarang masih gelap, jadi kau tidak jelas melihatku. Nanti kalau sudah terang dan kau melihat jelas wajahku, kau akan takut.”
Ting Ting menghela napas. Ia sungguh-sungguh tidak takut pada Kelelawar Hitam. Sebaliknya ia menyukai pria itu, terutama karena pria itu telah menolong Ouwyang Ping dan mereka semua.
“Ping-er tidak takut melihatmu. Berarti aku juga tidak,” kata Ting Ting lembut.
Wajah Kelelawar Hitam berseri-seri. “Betul?”
Ting Ting mengangguk.
Meng Huan sejak tadi diam saja. Ia belum mengenal Kelelawar Hitam dan tidak tahu mengapa orang itu ikut dengan rombongan teman-temannya. Ia juga tidak mengerti bagaimana mereka bisa datang menyelamatkannya. Juga tidak tahu bahwa mereka semua berhasil lolos atas bantuan Chang Fei Yu. Banyak yang belum dimengertinya, karena itu ia diam saja.
Mereka menunggu cukup lama. Sambil menunggu, Ting Ting mulai menceritakan kejadian yang dialaminya bersama Sen Khang dan yang lainnya kepada Meng Huan. Tentu saja ia tidak menceritakan peristiwa antara dirinya dengan Fei Yu. Itu terlalu memalukan untuk diceritakan. Meng Huan mengerutkan kening mendengar bahwa Fei Yu-lah yang menolong mereka. Padahal ia sangat tidak suka pada Fei Yu.
Hari pun berlalu dan matahari mulai terbit. Makin lama makin tinggi. Dan Kelelawar Hitam makin gelisah. Namun ia sudah berjanji akan terus bersama Ting Ting dan Meng Huan sampai Ouwyang Ping dan teman-temannya kembali. Maka ia terus menundukkan muka supaya tidak perlu memperlihatkan wajahnya.
“Mereka lama sekali,” gerutu Ting Ting.
“Apa mungkin terjadi sesuatu?” gumam Meng Huan. “Atau Chang Fei Yu berulah lagi kali ini?”
“Chang Fei Yu? Kakak Huan ini bagaimana sih? Kan aku sudah menceritakan padamu bahwa justru dia yang menolong kita. Kalau bukan karena dia, kita belum tentu ada di sini sekarang ini,” kata Ting Ting cemberut.
__ADS_1
“Bisa saja dia sedang menyusun rencana jahat,” peringat Meng Huan. “Ingat, kita belum mengenalnya, Ting Ting.”
“Dia anak baik,” sela Kelelawar Hitam dengan tetap menundukkan mukanya.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Meng Huan—yang memang belum mengetahui ada hubungan apa antara Kelelawar Hitam dan Chang Fei Yu.
“Aku sudah mengenalnya selama lima tahun.”
Meng Huan tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia merasa tidak ada gunanya berkomentar tentang Chang Fei Yu jika mereka semua mempercayainya.
Tiba-tiba Kelelawar Hitam bangkit dengan waspada. “Ada yang datang!”
“Kakak Wan?”
“Bukan,” geleng Kelelawar Hitam. “Datangnya dari arah kota. Dalam jumlah banyak!”
Bersamaan dengan kata-kata itu, muncullah Cheng Sam yang didampingi oleh dua orang pria berpakaian asing—tampak seperti pakaian tradisional dari daerah Khitan. Sejumlah anak buah Cheng Sam mengiringi mereka. Ia sangat murka. Ia mendapat kabar lolosnya tawanan dari salah seorang anak buahnya yang segera pergi ke Kota Lok Yang begitu Chien Wan dan kawan-kawannya diketahui berhasil lolos.
“Rupanya kalian berhasil kabur!” bentak Cheng Sam. “Tapi percuma. Aku takkan membiarkan kalian lolos lagi!”
Cheng Sam dan kedua temannya yang berpakaian asing itu tidak ikut mengeroyok. Mereka menonton jalannya pertempuran dari tepian. Cheng Sam tampak kesal sekali dan tak henti-hentinya menoleh ke jalan yang menuju Bukit Merak. Hatinya bertanya-tanya, mengapa mereka hanya bertiga? Di mana yang lainnya?
Meng Huan dan Ting Ting tampak kewalahan. Mereka bukan orang yang lemah. Mereka sudah berlatih ilmu silat sejak kecil dan kepandaian mereka cukup lumayan. Namun menghadapi keroyokan seperti ini, ditambah lagi sejak kemarin mereka belum makan apa-apa, membuat mereka agak lemas. Karena itulah, setelah beberapa lama mereka tidak bisa membalas serangan. Yang bisa mereka lakukan hanya sebatas menangkis serangan lawan.
Kelelawar Hitam sekarang jadi kewalahan. Selain harus melumpuhkan lawan, ia juga harus melindungi kedua temannya. Gerakannya menjadi terbatas. Dan lama kelamaan mereka pun terdesak.
“Menyerah sajalah!” ejek Cheng Sam. “Kalau kalian menyerah, aku janji tidak akan membunuh kalian!”
“Jangan mimpi!” maki Meng Huan sambil berusaha mempertahankan diri.
“Aduh!!” Ting Ting menjerit saat sebuah pukulan mengenai bahunya. Pukulan itu sebenarnya diarahkan ke dadanya, namun pada saat yang genting ia berhasil memalingkan diri sehingga hanya mengenai bahunya. Walau begitu, pukulan itu cukup keras sehingga membuatnya terpelanting.
“Ting Ting!” teriak Meng Huan. Ia berusaha mendorong lawan-lawannya supaya bisa menghampiri Ting Ting.
Cheng Sam sudah mendekat hendak menawan gadis itu tatkala bunyi gemuruh menggema di angkasa. Alangkah kagetnya Cheng Sam saat melihat kemunculan dua sosok pria berpakaian serba perak dan membawa tambur dan pemukul di tangan mereka.
__ADS_1
“Orang Lembah Nada!” desisnya geram.
Ternyata yang muncul adalah Kam Sien dan Hauw Lam. Mereka diutus oleh Tuan Ouwyang Cu untuk menyusul Chien Wan dan Ouwyang Ping untuk menyampaikan sebuah pesan. Mereka sedang akan memasuki Kota Lok Yang saat mendengar suara pertempuran. Sebagai orang-orang berjiwa pendekar, mereka tergerak untuk membantu tanpa. Apalagi saat melihat ada seorang gadis yang terpukul sampai jatuh. Sekali lihat saja, mereka tahu mana yang jahat.
“Benar!” sahut Hauw Lam gagah. Ia menghadapi Cheng Sam sementara Kam Sien bergegas membantu Meng Huan.
“Jangan ikut campur urusan kami!” hardik Cheng Sam. “Mereka adalah pembangkang di daerah kami!”
Sejenak Hauw Lam ragu-ragu. Ia tidak mengenal ketiga orang yang sedang dikeroyok itu, namun ia mengenali Cheng Sam dan anak buahnya sebagai anggota Bukit Merak. Jika mereka memang sedang menyelesaikan urusan mereka dan bermaksud menertibkan anggotanya, ia tak berhak ikut campur.
Namun Ting Ting berteriak, “Bohong, Tuan! Kami bukan anggota Bukit Merak. Saya putri Tuan Luo dari Wisma Bambu. Mereka bermaksud menawan kami!”
Mendengar teriakan Ting Ting, keraguan Hauw Lam sirna. Ia menatap tajam Cheng Sam. “Atas dasar apa kau hendak menawan nona ini dan kawan-kawannya? Pasti kau bukan orang baik-baik!”
“Keparat!” Cheng Sam menerjang maju dan melayangkan serangan pada Hauw Lam.
Hauw Lam menangkis serangan itu dengan tongkat pemukul tambur. Gerakannya sangat lihay dan cekatan. Tak heran Tuan Ouwyang Cu menunjuknya sebagai salah satu pelindung Lembah Nada. Keahliannya sebanding dengan para pendekar Dunia Persilatan umumnya.
Pertempuran mereka berlangsung seru. Keadaan masih tidak seimbang, namun semangat Meng Huan dan Kelelawar Hitam mengembang karena mendapat bala bantuan yang begitu tangguh.
Kedua orang berpakaian daerah Khitan itu mulai gelisah. Mereka tak suka hanya berdiam diri saja, maka mereka menerjunkan diri dalam pertempuran dan langsung menghadapi Kam Sien dan Kelelawar Hitam. Tak disangka mereka ternyata sangat hebat! Ilmu silat mereka luar biasa. Segera saja mereka berada di atas angin. Kam Sien dan Kelelawar Hitam mulai terdesak.
Pada saat yang genting itu, Chien Wan, Sen Khang dan Ouwyang Ping tiba di sana. Betapa terkejutnya mereka melihat pertempuran itu. Tanpa banyak cakap lagi, mereka segera turun tangan.
Sen Khang menghampiri adiknya yang tengah sibuk melawan tiga orang anak buah Cheng Sam. Ia menggantikan adiknya dan dengan mudah ia dapat melumpuhkan ketiga penjahat itu.
Ouwyang Ping melompat dengan ringan sambil menjentik senar harpanya hingga menimbulkan bunga api yang merah keemasan. Bunga api itu langsung mengarah ke beberapa orang penjahat dan meledak tepat di tubuh mereka. Mereka menjerit sambil terpelanting.
Sedang Chien Wan langsung menuju ke arah Kam Sien dan Kelelawar Hitam. Ia meniup sulingnya dan menimbulkan suara melengking yang mengacaukan pendengaran kedua orang Khitan itu. Kedua orang itu terhuyung mundur.
Cheng Sam sangat terkejut melihat kedatangan orang yang paling tidak diharapkannya. Tak ada yang lebih ditakutinya selain tiupan suling Chien Wan. Ia sudah pernah mendapat celaka akibat suling itu. Rasa sakit akibat mendengar tiupan suling Chien Wan saat pertemuan para pendekar membuatnya kesakitan selama beberapa hari dan sampai sekarang pun telinganya masih agak tuli.
Ia tak punya pilihan lain. Segeralah ia melompat meninggalkan Hauw Lam dan berseru kepada anak buahnya dan kedua temannya, “Ayo pergi!”
Mereka semua—yang masih sadar tentunya—segera pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1