Suling Maut

Suling Maut
Kenangan Masa Silam


__ADS_3

Hari-hari berikutnya, A Lee selalu lekat dengan Ouwyang Ping. Mereka tidak bisa dipisahkan. Bahkan kini A Lee tidak mau tidur kalau kakaknya tidak lebih dahulu memeluknya atau mencium pipinya. Kakaknya sendiri sama sekali tidak berniat jauh-jauh dari A Lee.


Ouwyang Kuan dan Sui She senang melihat keakraban mereka. Terutama Sui She. Tadinya Sui She khawatir kalau Ouwyang Ping tidak suka pada A Lee, namun segala kecemasannya tidak terjadi.


Ouwyang Ping suka sekali mengajak adiknya bermain di kaki bukit Lembah Nada. Sen Khang selalu mengikuti mereka ke mana pun mereka pergi.


Gadis itu menatap lembah tempat ia selalu bermain musik bersama Chien Wan. Tempat ini adalah tempat kenangan manisnya bersama Chien Wan. Sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di tempat ini. ia pun melamun mengingat masa lalu yang indah.


“... Suatu hari nanti, kita akan bermain musik di seluruh penjuru dunia. Kau dengan sulingmu... aku dengan harpaku....”


Ouwyang Ping menghela napas dan memejamkan matanya. Sekonyong-konyong hatinya pedih. Seharusnya ia tidak usah datang ke tempat kenangan ini. bahkan seharusnya ia tak perlu pulang.


Namun dirasakannya bajunya ditarik oleh seseorang. Gadis itu membuka mata dan melihat A Lee tengah menarik lengan bajunya dengan pandangan lugu dan senyum yang sangat lucu.


“A Lee....” Ouwyang Ping tersenyum dan meraihnya. Ia memangkunya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tak semestinya ia menyesali kepulangannya. Jika ia tidak pulang, mana mungkin ia bisa melihat adik kecilnya yang menggemaskan ini.


Peristiwa ini diamati Sen Khang. Sejak tadi ia memperhatikan ekspresi wajah Ouwyang Ping yang berubah-ubah. Seketika Sen Khang memahami bahwa sampai saat ini pun, gadis itu belum dapat melupakan masa lalu. Ia ingin sekali menghapus kenangan masa lalu gadis itu, ia ingin membasuh luka di hatinya. Ia ingin mengembalikan senyum yang dulu begitu menawan hati.


Sen Khang selalu mencintainya! Sejak dulu sudah begitu. Hanya saja dahulu ia tidak bisa mengungkapkannya karena gadis ini milik sahabatnya. Namun sekarang, mungkin ia mempunyai kesempatan. Tanpa disadarinya, perasaannya itu terlihat jelas di matanya.


Ouwyang Ping melihat pandangan itu dan menghela napas. Ia merasa aneh dengan perhatian Sen Khang padanya. Ia bukannya tidak menyadari perasaan Sen Khang, hanya saja ia tidak ingin pemuda itu menyukainya. Ia tidak akan pernah bisa melupakan masa lalu. Sen Khang akan mengalami kekecewaan bila terus menyukainya.


A Lee melompat dari pangkuan kakaknya dan berlari untuk mengejar kupu-kupu. Namun karena ia baru saja bisa berjalan, ia tidak bisa mempertahankan keseimbangannya. Ia terjatuh.


“A Lee!” teriak Ouwyang Ping kaget dan bergegas menghampirinya.


A Lee tidak apa-apa. Ia berdiri kembali sambil tersenyum lebar. Ia memandang kakaknya seolah ingin memberitahu kakaknya bahwa ia baik-baik saja.


Ouwyang Ping memeriksa seluruh tubuh A Lee dengan seksama. Betapa lega hatinya karena ia tidak menemukan luka sedikit pun pada tubuh adiknya.


Sen Khang menghampiri. “A Lee tak apa-apa?”


Ouwyang Ping menggeleng. Ia mengangkat A Lee dan menggendongnya. “Anak bandel!” marahnya tak bersungguh-sungguh. “Lain kali kalau kau lari seperti itu, kakak akan memarahimu!”


A Lee menunduk mendengar suara kakaknya yang biasanya lembut kini menjadi galak. Wajahnya mulai berkerut-kerut, lalu menangis.


Ouwyang Ping kaget sekali. “Eh, jangan menangis!”


Tetapi tangis A Lee bertambah keras.


“Baiklah, baiklah! Kakak tak marah lagi padamu. Diam, ya?” bujuk Ouwyang Ping lembut sambil mengusap air mata A Lee.


A Lee menengadah memandang kakaknya. Tiba-tiba ia berhenti menangis, lalu tersenyum lebar dengan wajah mungil yang masih penuh air mata. Kedua tangannya memeluk leher kakaknya erat-erat.


Ouwyang Ping tersenyum samar sambil mengusap kepala adiknya.


Sen Khang memperhatikannya dengan jantung berdebar. Pasti gadis ini akan menjadi ibu yang baik dan penuh cinta. Ia semakin jatuh hati.


***


Ting Ting sedang berada di taman belakang. Sejak taman belakang bukan lagi tempat terlarang, ia sangat suka berada di sana. Taman belakang penuh dengan bunga-bunga yang indah beraneka warna dan ragam. Keharuman memenuhi seluruh taman. Ia suka suka sekali menciumi bunga-bungaan di sana dan membelai-belai kelopaknya.


Di antara bunga-bunga yang begitu indah, Ting Ting benar-benar bagaikan bidadari. Kecantikannya berseri-seri. Sejak kecil sudah terlihat cantik, kini dalam usia yang hampir sembilan belas tahun ia sungguh memukau. Setiap pria yang melihatnya akan mengagumi dan jatuh hati kepadanya.


Namun demikian, satu-satunya pria yang dikasihinya ternyata tidak mencintainya. Hal itu tidak menjadi masalah. Karena ia akan terus mencintai pemuda itu dan akan terus mencoba untuk memenangkan hatinya.

__ADS_1


Diam-diam, Meng Huan memperhatikannya dari pintu pembatas taman. Ia begitu mencintai gadis itu dan sangat ingin memilikinya. Namun gadis itu hanya memikirkan Chien Wan dan itu membuatnya sedih.


Ia melangkah menghampiri Ting Ting.


“Sedang melamun, ya?” tegur Meng Huan lembut.


Ting Ting menoleh dan tersenyum manis. “Kakak Huan.”


“Memikirkan Chien Wan?” goda Meng Huan.


Wajah Ting Ting merona. Namun ia tidak mengelak.


Meng Huan memandangnya. Sekilas perasaan sedih melintas di wajahnya, namun hanya selintas hingga Ting Ting tidak menyadarinya.


“Kalau kau memang sungguh menyukainya, aku dengan senang hati akan membantumu supaya bisa bersamanya. Aku akan bicara pada Guru dan mencoba mengatur perjodohanmu dengannya. Aku yakin—“


“Kakak Huan!” sela Ting Ting sedih. Ia terharu mendengar ketulusan Meng Huan. “Kau sungguh sangat baik. Tetapi percuma saja kau bicara pada Ayah. Sekarang aku dan Kakak Wan adalah saudara sepupu. Ayah merasa hubungan darah kami terlalu dekat. Jadi tak ada gunanya.”


Meng Huan tercenung.


Saat mereka berdua tengah berdiam diri, datanglah seorang pelayan yang memberitahu mereka tentang kedatangan seseorang. Seseorang yang membuat wajah Ting Ting bersinar. Seseorang yang memang selalu dirindukan gadis itu. Chien Wan.


Gadis itu langsung saja berlari ke ruang depan, diikuti oleh Meng Huan.


Chien Wan baru saja tiba di Wisma Bambu. Kedatangannya disambut hangat oleh Tuan dan Nyonya Luo. Mereka bertukar kabar tentang keadaan masing-masing. Chien Wan menceritakan keadaan adiknya yang berumur setahun. Tuan dan Nyonya Luo penasaran ingin melihat anak itu. Mereka tidak datang ketika Sui She melahirkan karena Wisma Bambu tidak bisa ditinggalkan.


Ketika mereka tengah berbincang-bincang, Ting Ting menyerbu masuk.


“Kakak Wan!”


Chien Wan menoleh dan tersenyum kecil.


Meng Huan memperhatikan mereka dengan hati bergejolak. Rahangnya mengeras karena cemburu. Pandangan matanya terpaku pada pegangan tangan Ting Ting pada lengan Chien Wan. Ia sedih sekali melihat tatapan mesra Ting Ting pada Chien Wan. Meskipun begitu, ia mencoba menahan kecemburuan hatinya dengan menghampiri mereka sambil menyunggingkan sebuah senyum.


“Chien Wan,” sapa Meng Huan riang.


Chien Wan mengangguk membalas sapaannya, “Meng Huan.”


“Sayang sekali kau terlambat, Chien Wan.” Meng Huan menyeringai. “Sekitar tiga minggu yang lalu Sen Khang pergi. Katanya dia ingin menuju Lembah Nada untuk mengunjungimu.”


Chien Wan mengangguk. “Ya tadi Paman Luo sudah mengatakannya padaku.”


“Memangnya kenapa kalau Kakak tidak ada? Di sini kan ada aku!” sela Ting Ting.


Perkataan Ting Ting itu membuat ayah dan ibunya berpandangan. Lalu mereka menggeleng-gelengkan kepala. Mereka tak bisa berkata apa-apa lagi. Percuma saja menghalangi cinta Ting Ting yang demikian menggebu-gebu.


Chien Wan sendiri tak terlalu menanggapi.


Kedatangan Chien Wan membuat kebahagiaan memancar dari dalam diri Ting Ting. Tidak ada seorang pun yang tidak menyadari hal ini. Ting Ting membuntuti Chien Wan ke mana-mana dan selalu berusaha agar Chien Wan tidak pergi tanpa mengajaknya. Ia lengket pada Chien Wan dan tampak seolah tidak sadar bahwa Meng Huan ada di sekeliling mereka.


Awalnya Chien Wan tidak keberatan. Ia suka pada Ting Ting dan perlakuan gadis itu membuatnya terhibur. Ting Ting selalu berusaha membuatnya tersenyum dan membuatnya melupakan kesedihan yang membebani hatinya.


Namun anehnya, kebersamaannya dengan Ting Ting membuatnya merasa lebih terluka. Ia lebih tidak bisa melupakan masa lalunya. Ia sering mengeluh. Sebenarnya sangat mudah untuk mencintai Ting Ting. Betapa tidak? Ting Ting adalah tipe gadis yang sangat diidamkan oleh pria mana pun untuk dijadikan pendamping. Dia cantik dan penuh perhatian. Tetapi, mengapa sulit baginya untuk bisa menyukai gadis itu lebih dari sekadar adik?


Beban di hatinya semakin berat. Ia melihat Ting Ting semakin mengharapkannya. Ini tidak boleh terus dibiarkan! Maka ia pun berpamitan pada paman dan bibinya.

__ADS_1


“Mau pergi lagi?” Kening Tuan Luo mengernyit. “Kau ini sebenarnya mau ke mana?”


“Aku ingin mencari pengalaman, Paman.”


Tuan Luo memandangnya dengan menyelidik. “Kau yakin? Bukannya kau ingin pergi karena tidak bisa menerima perhatian Ting Ting padamu?”


Chien Wan tertegun. Rupanya pamannya ini tidak bisa dibohongi begitu saja. Ia menghembuskan napas dan mengangguk. “Ya. Itu juga.”


“Perasaan Ting Ting padamu begitu dalam dan istimewa, Chien Wan. Dia tidak ingin menikah dengan siapa pun selain kau,” bilang Nyonya Luo sedih. “Apa kau tidak punya perasaan sedikit pun padanya?”


Chien Wan menatap bibinya dengan tatapan putus asa. “Aku... tidak bisa, Bibi. Aku tak bisa membalas perasaannya. Hatiku sudah beku untuk urusan itu,” katanya pelan. “Aku rasa... Meng Huan pemuda yang baik. Dia lebih pantas untuk Ting Ting daripada aku.”


Tuan Luo menggeleng. “Itu sudah kami pikirkan juga, Chien Wan. Kami hendak menjodohkannya dengan Meng Huan, tapi dia menolak.”


Nyonya Luo menambahkan dengan hati-hati, “Apakah tidak mungkin bagimu untuk menerima perasaan anak itu dan mungkin... belajar mencintainya?”


Chien Wan terpaku, merasa terpojok.


Tuan Luo melihat perubahan di wajah Chien Wan dan ia tahu bahwa putrinya tak punya harapan lagi. Pandangan mata Chien Wan begitu dingin dan terluka. Peristiwa dua tahun lalu masih menjadi mimpi buruk baginya.


“Sudahlah, jangan kaupikirkan lagi. Kami mengerti dan tak bisa memaksamu. Lagi pula, sebenarnya aku sendiri memang kurang setuju jika kalian menikah. Kalian masih bersaudara sepupu, sebaiknya kalian tetap menjadi sepupu saja,” kata Tuan Luo.


Chien Wan merasa lega mendengarnya.


Nyonya Luo tidak membantah suaminya karena ia tahu bahwa suaminya benar.


Chien Wan pergi ke kamarnya dan sedang berkemas ketika pintu kamarnya terbuka. Ting Ting masuk dengan wajah marah dan kecewa. Ia baru saja mendengar berita tentang pamitnya Chien Wan dan ia sangat gusar. Mengapa begini? Ia sudah berusaha sekuat tenaga sampai merendahkan harga dirinya sebagai seorang gadis terhormat demi merebut cinta Chien Wan. Namun tetap saja ia gagal!


“Kakak Wan, kau terlalu!” Suara Ting Ting meninggi, tetapi juga gemetar. Bahunya menggigil dan sepasang tangannya yang dikepalkan tampak bergetar. Wajahnya memerah dan matanya berkaca-kaca.


Chien Wan memalingkan mukanya. Ia tak tega melihat keadaan gadis itu. Namun ia tidak boleh tetap di sana dan memberikan harapan semu pada gadis itu. Ting Ting harus bisa menerima kenyataan dan tidak boleh terus mencintainya seperti ini karena sampai kapan pun hatinya bukan untuk gadis itu.


“Kenapa kau tak pernah mencoba untuk mengerti aku?” Ting Ting menghentakkan kakinya dengan kesal.


“Ting Ting, bukankah kau sendiri sudah tahu bagaimana perasaanku terhadapmu? Kepadamu, aku hanya menganggap adik.”


“Dulu itu berbeda!” Ting Ting nyaris menjerit. “Dulu ada Ping-er di hatimu! Aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Tapi sekarang tak ada siapa pun di hatimu, mengapa tidak coba kau isi dengan aku? Apa bedanya aku dengan Ouwyang Ping?”


“Ting Ting, jangan bandingkan dirimu dengannya....”


“Apakah Ouwyang Ping masih ada di hatimu? Apakah kau tidak bisa mengusirnya dari benakmu? Ya Tuhan!” Ting Ting hampir menangis. “Sadarlah, Kakak Wan! Dia itu adikmu!”


“Ting Ting!” hardik Chien Wan dengan wajah memucat.


Ting Ting terpaku.


“Jangan kaubawa-bawa Ping-er dalam masalah ini! Dia tak ada hubungannya. Bukan karena dia aku tak membalas perasaanmu, tapi aku sendiri yang tidak bisa!” Suara Chien Wan yang biasanya pelan dan tak menampakkan isi hati itu berubah dingin dan begitu kering.


Ting Ting menggigit bibir sambil berurai air mata. Inilah pertama kalinya Chien Wan bicara dengan nada seperti itu padanya. Betapa dingin dan menusuknya nada suara Chien Wan, mengoyak sampai ke ulu hati.


“Ping-er adalah adikku!”


Ting Ting mulai menangis. Kata-kata Chien Wan menyakitkan hatinya.


“Aku pergi!” Chien Wan mengangkat buntalan pakaiannya dan berjalan melewati Ting Ting.

__ADS_1


“Kakak Wan!”


Namun Chien Wan sudah berkelebat dan menghilang meninggalkannya.


__ADS_2