
Kui Fang berbaring di tempat tidurnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang penat karena terlalu banyak berjalan. Namun walau tubuhnya penat, pikirannya terus berputar cepat. Ia memikirkan semua kejadian yang dialaminya beberapa waktu belakangan ini. Dan anehnya, ia tidak bisa mengingat kapan ia tidak memikirkan Chien Wan.
Ia baru beberapa bulan mengenal Chien Wan, dan baru beberapa waktu melakukan perjalanan bersama Chien Wan. Ia belum tahu apa-apa tentang masa lalu Chien Wan. Ia tidak tahu apakah Chien Wan pernah menjalin hubungan dengan gadis lain atau tidak. Ia juga tidak mengenal dengan baik bagaimana keluarga Chien Wan.
Ada beberapa hal yang tidak dipahaminya mengenai hubungan keluarga Ouwyang. Ia seringkali berpikir betapa berbedanya Chien Wan dengan Ouwyang Ping. Walau kakak beradik, mengapa wajah mereka sama sekali tidak mirip? Dan juga tentang adik bungsu Chien Wan yang bernama A Lee. Ia belum pernah melihat A Lee, namun katanya anak itu baru berusia setahun. Bagaimana orangtua Chien Wan bisa mempunyai anak lagi setelah kedua anaknya yang lain dewasa?
Namun itu semua tidak menghalanginya untuk begitu mempercayai Chien Wan. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia bisa memiliki keyakinan yang begitu kuatnya tentang Chien Wan, sementara orang lain—bahkan adiknya sendiri—tidak mempercayainya. Ia tidak memahami gelora perasaannya sendiri manakala bersama Chien Wan. Ia tidak memahami penderitaannya sendiri tatkala berjauhan dengan Chien Wan. Ia juga tidak memahami kuatnya keinginannya untuk membuat nama baik Chien Wan kembali bersih.
Inikah yang dinamakan cinta?
Wajah Kui Fang merona.
Selama hidupnya, baru kali ini ia merasakan perasaan seperti ini. Ia merasa sangat bahagia, namun juga cemas.
Bagaimana jika Chien Wan tidak menginginkan cintanya? Bagaimana bila cintanya tidak membuat Chien Wan bahagia?
Kui Fang mendesah.
Ia bangkit dari pembaringannya dan beranjak keluar kamar. Langkahnya pelan dan tak menimbulkan suara. Chien Wan ada di kamar sebelah, dan gerakan sekecil apa pun akan terdengar olehnya karena pendengarannya sangat tajam—sebagai kompensasi dari indera perasanya yang tak berfungsi.
Ia membuka pintu kamar dengan hati-hati dan tertegun melihat sosok berbaju hitam tengah berdiri bersandar di pilar, membelakanginya.
“Kakak Wan?”
Chien Wan berbalik dan tersenyum. “Kau belum tidur?”
“Kakak Wan sendiri, mengapa ada di sini?”
Chien Wan menghela napas. Ia tidak ingin mengatakan bahwa ia mencemaskan keadaan Kui Fang. Bahwa selama ini sebenarnya ia selalu menunggu selama beberapa saat di depan pintu kamar di mana Kui Fang tidur, hanya untuk memastikan keadaan aman dan tak ada gangguan yang akan menyakiti gadis itu.
“Kakak Wan?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya tidak bisa tidur saja.”
Kui Fang tersenyum gugup. “Mau mengobrol?”
Chien Wan menggeleng. “Sebaiknya kau tidur. Kita tadi berjalan cukup jauh. Kau pasti letih sekali.”
“Aku tidak letih.”
Melihat gadis itu tampak segar dan tidak mengantuk sedikit pun, Chien Wan tidak mendesak. Ia melangkah menuju taman kecil yang ada di depan kamar mereka yang bersebelahan. Kui Fang mengikutinya.
Beberapa saat lamanya mereka hanya diam saja. Malam itu tidak cerah. Awan gelap memenuhi angkasa, menutupi cahaya bintang. Sesekali bunyi gemuruh terdengar di angkasa.
__ADS_1
“Akan hujan sebentar lagi,” kata Chien Wan sambil menatap angkasa.
Kui Fang tersenyum. “Aku suka hujan.”
“Ya, tapi kau juga tidak mau sampai kebasahan, kan? Sebaiknya kau kembali ke kamar,” suruh Chien Wan.
“Kan belum turun.”
Chien Wan tidak memaksanya.
Kui Fang melibatkan kedua lengannya di sekeliling tubuhnya karena merasa udara malam yang dingin mulai membuatnya menggigil. Chien Wan melihatnya dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia melepaskan jubah hitamnya. Ia berdiri dan menyelubungi bahu gadis itu dengan jubahnya.
Gadis itu menengadah. Sinar matanya penuh dengan kelembutan. Tangannya terjulur ke bahunya sendiri karena merasakan tangan Chien Wan di sana. Ia menyentuh tangan besar di bahunya itu dengan halus dan sedikit gemetar. Senyumnya mengembang ragu.
Chien Wan menunduk dan menatap gadis itu. Ia tidak tersenyum. Sekilas perasaan mendalam berkelebat di matanya. Namun ia cepat mengalihkan pandangannya dan melepaskan tangannya dari sentuhan gadis itu. Ia kembali duduk di bangkunya dan mengeluarkan sulingnya.
Kui Fang duduk bertopang dagu melihat Chien Wan meniup sulingnya. Ia menikmati lagu lembut yang ditiup Chien Wan. Semilir angin membuainya dan lagu itu seperti meninabobokannya. Sepasang matanya mulai berat dan perlahan-lahan menutup. Kepalanya terkulai di meja batu.
Ia tertidur.
Chien Wan menarik napas dan menghentikan permainan sulingnya. Diliriknya langit yang semakin kelam. Setitik air hujan mulai turun menimpa tangannya, disusul oleh titik-titik kecil lainnya. Ia berdiri dan membungkuk di atas tubuh Kui Fang. Dengan hati-hati ia mengangkat tubuh gadis itu dan membopongnya masuk ke kamar.
Ia meletakkan gadis itu ke atas tempat tidur dan menyelimutinya.
Chien Wan memandanginya dengan penuh sayang. Ia tersenyum kecil dan membetulkan letak selimut Kui Fang. Tangannya terjulur dan menyingkirkan seuntai rambut yang menutupi wajah mungil gadis itu. Disentuhnya pipi halus itu sekilas. Kemudian ia keluar.
Mata Kui Fang terbuka lebar. Ia menyentuh pipinya sendiri yang merona merah.
“Kakak Wan....”
***
Pendekar Sung berada di ruang baca, tengah membaca surat yang dikirimkan oleh sebuah perguruan silat di daerah utara. Keningnya berkerut berusaha menyerap informasi ini.
Chien Wan dan Kui Fang masuk. Mereka langsung waspada melihat raut wajah Pendekar Sung yang kelihatan serius.
“Paman Sung, ada apa?” tanya Kui Fang langsung.
Pendekar Sung mengalihkan perhatian dari surat yang tengah dibacanya. Ia melihat kedua anak muda itu dan melambaikan tangan menyuruh mereka duduk. Ia sendiri menghampiri untuk duduk bersama mereka.
“Aku menerima surat dari Pendekar Yang, salah seorang tetua Perguruan Elang Merah. Ia memohon bantuan untuk mengusir serombongan orang yang datang memporakporandakan perguruan mereka. Pendekar Yang dan kawan-kawan tidak bisa menangani mereka karena kalah ilmu. Sekarang markas perguruan itu ditempati oleh mereka dan beberapa anggota penting disandera,” kata Pendekar Sung serius.
“Apa itu rombongan Cheng Sam?” tanya Chien Wan seketika.
__ADS_1
“Tampaknya bukan. Dalam suratnya tidak disebutkan. Hanya disebutkan bahwa mereka itu merupakan orang-orang tak dikenal.”
“Pendekar Yang sendiri sekarang bagaimana, Paman?” tanya Kui Fang.
“Kabarnya ia dan anak buahnya sedang bersembunyi tak jauh dari markas, menunggu saat yang tepat untuk membebaskan ketua mereka.”
“Jadi ketua mereka disandera?”
“Ya. Ketua perguruan itu bernama Kam Meng Siu. Dia dan keluarganya ditawan oleh rombongan itu.”
“Paman berniat membantu mereka?” tanya Kui Fang.
“Itu merupakan kewajibanku. Aku akan mempersiapkan anak buahku dan menghubungi para pendekar lain yang bisa membantu,” kata Pendekar Sung.
“Sebaiknya kami ke sana lebih dulu,” kata Chien Wan.
Pendekar Sung mengerutkan keningnya. “Kalian ini bagaimana? Bukankah kalian mau mencari Cheng Sam? Sudahlah. Masalah ini biar ditangani oleh kami saja. Kalian sebaiknya segera pergi mencari petunjuk itu.”
“Kakak Wan curiga rombongan penjahat itu ada hubungannya dengan Cheng Sam,” sela Kui Fang.
“Benarkah?” Pendekar Sung bertanya ragu.
Chien Wan mengangguk. Mau tidak mau kagum akan pengertian Kui Fang terhadap jalan pikirannya.
“Hm!” Pendekar Sung mengangguk-angguk. “Kalau begitu baiklah. Kalian pergilah sekarang. Letak perguruan itu tidak terlalu jauh dari Bukit Merak. Lewat hutan di sebelah utara.”
Sekilas mata Chien Wan berkilat. Hanya sekilas sehingga Pendekar Sung mengira itu cuma khayalannya saja.
Chien Wan dan Kui Fang kembali ke kamar mereka untuk membereskan barang-barang mereka dan segera pergi menuju tempat yang dimaksud Pendekar Sung.
Mereka berjalan dengan langkah cepat.
“Kakak Wan, apa kau yakin mereka ada hubungannya dengan Cheng Sam?”
“Dilihat dari letak perguruan itu, ada kemungkinan begitu. Tidak mungkin Cheng Sam bisa menghilang begitu mudah tanpa jejak. Dia pasti bersembunyi di suatu tempat yang dekat setelah menyelinap masuk ke Bukit Merak.”
“Tapi di surat itu, Pendekar Yang tidak mengatakan bahwa orang itu Cheng Sam!”
“Pendekar Yang mungkin tidak mengenalnya. Atau mungkin juga dia menyamar. Kau ingat dia bisa membuat samaran?”
Kui Fang seketika teringat akan hal itu dan meringis. Ia tidak bertanya lagi dan membiarkan Chien Wan diam memikirkan berbagai kemungkinan yang berkecamuk di benaknya.
***
__ADS_1