Suling Maut

Suling Maut
Reuni Dengan Sung Siu Hung


__ADS_3

Sudah hampir sebulan Ouwyang Ping dan Sen Khang tinggal di Lembah Nada. Mereka cukup akrab dan sering berbincang-bincang. Sen Khang yang sangat terbuka, tanpa ragu bercerita mengenai berbagai hal. Namun Ouwyang Ping tidak seterbuka itu. Ia masih selalu berhati-hati saat bicara.


“Ping-er, apa kau tak ingin mengembara lagi?”


Pertanyaan itu diajukan Sen Khang kala mereka tengah bermain bersama A Lee di kaki bukit.


“Mengembara?” gumam Ouwyang Ping. “Aku masih kerasan di sini. Lagi pula....” Ia menunduk menatap A Lee yang sedang mencoba-coba memetik harpa. Setiap kali selesai memetik, A Lee cekikikan sendiri. Anak itu keasyikan dengan mainan barunya. Ia tersenyum. Menurut ayahnya ia pun dulu begitu. Lalu ia mulai memetik, mengimbangi petikan A Lee yang kacau. Ditatapnya A Lee penuh sayang.


“A Lee, ya? Kau tidak bisa meninggalkannya?”


Ouwyang Ping mengangguk.


“Sebentar lagi Chien Wan pasti pulang,” lanjut Sen Khang dengan nada aneh.


Petikan Ouwyang Ping terhenti. Ditatapnya Sen Khang dengan tajam. “Apa maksudmu?”


“Mungkin tanpa kausadari, kau masih menunggunya. Kau masih berharap padanya. Bukan begitu?” tanya Sen Khang serius. “Dan A Lee... apakah kau berkhayal seandainya A Lee itu anak kalian? Anak yang bisa kaumiliki bersama Chien Wan seandainya saja peristiwa itu tidak terjadi?”


Betapa marah dan tersinggungnya Ouwyang Ping.


“Kau jangan mengada-ada!” tukasnya tajam. “Aku tidak menganggap A Lee seperti itu! Aku sayang padanya karena dia adikku! Aku juga sudah lama menyadari kenyataan bahwa Kakak Wan tidak bisa menjadi yang lain selain kakakku....” Suaranya melemah dan tersendat sebelum kembali meninggi, “Jangan menganggapku seperti itu! Aku tidak terobsesi pada Kakak Wan seperti adikmu!”


Sen Khang terpana, tak percaya bahwa Ouwyang Ping yang biasanya lembut dan tenang itu akan berkata demikian keras dan kasar.


A Lee agak ketakutan mendengar teriakan marah kakaknya. Pandangan mata A Lee menampakkan kengerian. Apalagi wajah Ouwyang Ping masih tampak pucat dan matanya berapi-api.


“Ping-er, maafkan aku....”


Namun Ouwyang Ping sudah berdiri dan membawa A Lee kembali ke rumah. Sen Khang tak bisa meneruskan kata-katanya. Ia hanya berdiri memandangi kepergian gadis itu dan tak henti-hentinya menyesali dirinya.


Ouwyang Ping langsung menuju kamarnya. Ia melempar dirinya di pembaringan. Wajahnya murung dan dingin hatinya masih merasa marah. Mengapa Sen Khang tega mengatakan hal seperti itu? Tidakkah dia tahu bahwa sekarang ini aku sudah cukup menderita? keluhnya dalam hati. Air mata bergulir di pipinya yang pucat.


Tetapi....


Jangan-jangan benar seperti yang dikatakan Sen Khang. Jauh di lubuk hatinya ia masih berharap bahwa peristiwa itu tidak pernah terjadi. Ia berharap peristiwa itu suatu kesalahan dan Chien Wan bukan kakaknya. Ia berharap bisa menjadi istri Chien Wan dan bukan adiknya. Dan itu artinya....

__ADS_1


“Aku masih mencintai Kakak Wan,” gumamnya pedih.


Ouwyang Ping mengepal tinjunya kuat-kuat. Bagaimana caranya mengubah perasaannya? Ini tidak boleh terus dibiarkan. Jika ia terus memanjakan perasaan ini, ia berdosa. Perasaan cinta yang dimilikinya bukan cinta yang suci melainkan cinta yang amat terlarang.


Tidak mudah, namun harus diupayakannya dengan sekuat tenaga. Walau itu berarti ia harus tidak bertemu Chien Wan lagi untuk selamanya.


Akhirnya ia tertidur.


Sementara gadis itu tertidur, Sen Khang tidak bisa tenang. Ia telah sangat menyakiti perasaan Ouwyang Ping. Bagaimana jika gadis itu takkan pernah mau bicara lagi padanya? Ia sangat menyesal akan kelancangan mulutnya.


Perasaan tidak tenangnya terbawa sampai esok harinya. Ouwyang Ping memang masih mau bicara padanya. Namun sikap gadis itu menjadi agak dingin dan menjauh. Dan ia tak tahu bagaimana cara mengembalikan kedekatan yang sesungguhnya mulai terjalin di antara mereka.


Hari itu Sen Khang mengunjungi Hauw Lam di tempatnya berjaga. Mereka bercakap-cakap dengan penuh semangat mengenai keadaan Dunia Persilatan. Hauw Lam sangat kagum akan pandangan-pandangan Sen Khang yang luas mengenai berbagai masalah yang terjadi. Hauw Lam merasa suatu hari kelak pemuda ini akan menjadi salah seorang pendekar yang amat berpengaruh di Dunia Persilatan.


Saat itulah, beberapa orang terlihat menuju ke arah mereka. Hauw Lam langsung waspada. Namun kewaspadaannya segera menghilang digantikan oleh perasaan senang. Salah satu dari mereka ternyata adalah Sung Cen.


Sung Cen baru saja kembali dari Bukit Merak mengunjungi putrinya. Selama dua tahun, ia berhasil mengembangkan hubungan yang cukup menyenangkan dengan A Ming dan seluruh penghuni Bukit Merak. Ia mensyukuri keberuntungannya. Dan ia pun mendapati bahwa di balik sifat pendiamnya, ternyata A Ming memiliki kelembutan dan kepekaan. Ia semakin menyayangi putrinya dan kian bangga terhadapnya.


Ketika Sung Cen berpamitan pulang, tak disangka-sangka Fei Yu berkeinginan ikut dengannya ke Lembah Nada. Tidak tanggung-tanggung, Fei Yu mengajak serta A Ming dan A Nan. Yang mengagetkan Sung Cen, ternyata Fei Yu juga mengajak Siu Hung.


“Kakak Sung!” sambut Hauw Lam. “Selamat datang kembali.”


Sung Cen tersenyum. “Bagaimana keadaan kalian semua, Adik Hauw?”


“Baik, Kak.”


Sung Cen segera memperkenalkan putri dan keponakan-keponakannya kepada Hauw Lam.


Wajah-wajah itu asing bagi Hauw Lam karena ia tak pernah melihat mereka. Ia memberi hormat pada mereka semua. Benaknya berpikir, ternyata gadis berbaju hijau ini adalah putri Kakak Sung. Cukup cantik, pujinya dalam hati. Ia tidak terlalu menaruh perhatian pada yang lain-lain walau ia sempat melirik lebih dari sekali pada A Nan yang walau hanya seorang pelayan ternyata cantik dan anggun.


Sen Khang menghampiri mereka. “Paman Sung, lama tak jumpa.”


Sung Cen tersenyum. “Rupanya kau ada di sini. Lama kau tak mengunjungi Lembah Nada.”


“Ya. Ayahku membutuhkanku di Wisma Bambu,” jawab Sen Khang tertawa. Lalu pandangannya beralih pada Fei Yu yang tampak menyeringai lucu. “Kau ikut rupanya?”

__ADS_1


“Ya. Aku bosan di Bukit Merak. Sekali-kali aku pergi dari sana. Ayahku menyebalkan! Masih saja dekat dengan Cheng Sam!”


“Fei Yu, sudahlah.” Sung Cen menggeleng-geleng. Selalu soal Cheng Sam. Satu-satunya hal yang bisa membuat ayah dan anak itu bertengkar hanyalah perbedaan pandangan mengenai Cheng Sam. Sung Cen sendiri cenderung setuju dengan Fei Yu; Cheng Sam itu penjilat menyebalkan. Entah mengapa Tuan Chang begitu mempercayainya.


Sen Khang mengalihkan pandang dan melihat gadis berbaju hijau itu. Awalnya ia tak mengenali A Ming karena sewaktu mereka bertemu dulu, gadis itu berpakaian seperti biksuni. Kini baru terlihat bahwa ternyata sebenarnya gadis itu cantik dan menarik.


“Apa kabar, Nona Sung?” sapanya ramah.


A Ming balas menghormat dengan agak canggung.


Siu Hung yang sejak tadi menunggu giliran bicara, ternyata tidak bisa diam lebih lama lagi. Ia mengendap-endap melewati mereka dan bergegas lari ke gerbang Lembah Nada. Ia hampir sampai kalau saja sebuah tangan tidak segera mencekalnya.


“Nyaris saja!” omel Fei Yu. “Anak bandel! Kau kan sudah janji akan diam saja!”


“Habis aku bosan!” kilah Siu Hung memelas.


Sen Khang terbelalak. “Ternyata dia ikut juga!” serunya tertawa.


Siu Hung memandang angkuh. “Tentu aku ikut! Aku kan ingin membalasmu! Orang besar kasar yang menjewerku! Sekarang aku sudah sangat hebat. Kungfuku sangat maju. Aku latihan rajin sekali! Awas saja! Aku pasti bisa mengalahkanmu!” Ia mengacungkan telunjuknya ke muka Sen Khang.


Sen Khang berkacak pinggang. “Ternyata kau ini pendendam, ya?”


Fei Yu menepuk kepala gadis itu pelan. “Jangan besar mulut! Rajin apanya? Kau kan selalu melarikan diri dari pelajaran kungfu! Dasar!”


Siu Hung memberengut.


Sen Khang tertawa lagi dan menyoja ke arah gadis itu. “Baiklah, baiklah. Aku tidak akan menjewermu lagi. Kita lupakan saja semua itu, ya? Nanti aku akan mengajakmu berkeliling Lembah Nada,” bujuknya.


“Betul, ya?” Mata Siu Hung berbinar.


“Iya. Sekarang, ayo kita masuk. Kita temui semua penghuni Lembah Nada.” Sen Khang memandu mereka masuk. “Paman Sung, pasti semua orang senang sekali melihatmu. O ya, Ping-er juga ada di sini.”


Sung Cen tercengang. “Dan, Chien Wan?”


“Oh, dia tidak ada. Waktu aku dan Ping-er tiba di sini, dia sudah pergi. Katanya dia mau pergi mengembara.”

__ADS_1


Sung Cen pun tak mengatakan apa-apa lagi.


__ADS_2