Suling Maut

Suling Maut
Orangtua Chien Wan Disandera


__ADS_3

Chien Wan melangkah menuju Wisma Bambu. Ia tidak bermaksud menemui Sen Khang sekarang ini. Belum saatnya. Tujuannya ke sana adalah untuk menemukan petunjuk yang tertinggal. Pada waktu itu dirinya terlalu berduka dan tidak berpikir untuk mencari petunjuk yang mungkin ditinggalkan oleh si pelaku. Tentu saja mungkin sudah terlambat untuk mencari petunjuk karena sudah sebulan lebih berlalu semenjak peristiwa itu.


Ia menghela napas. Sebentar lagi peringatan 40 hari meninggalnya Tuan dan Nyonya Luo. Betapa besar keinginannya untuk pergi ke sana dan memberikan penghormatan di hadapan papan arwah paman dan bibinya. Namun ia tahu, kehadirannya tanpa disertai bukti kuat bahwa ia tidak bersalah hanya akan menimbulkan kekacauan tiada tara.


Saat ini ia telah tiba di dekat Hutan Bambu. Ia melakukan perjalanan secara sembunyi-sembunyi. Sebabnya, ia melihat banyak orang yang datang ke tempat itu. Chien Wan mengenal mereka sebagai pendekar-pendekar yang telah menyerangnya selama sebulan belakangan ini.


Chien Wan besar di Wisma Bambu. Hutan Bambu adalah tempatnya bermain. Ia lebih tahu soal seluk-beluk Hutan Bambu dibanding siapa pun, bahkan Sen Khang sendiri. Maka ia menuju tempat-tempat persembunyian yang diketahuinya agar tak ada seorang pun yang melihatnya.


Diam-diam ia menelusuri seputar Hutan Bambu, berusaha mencari jejak apa saja yang dapat mengarahkannya kepada si pelaku yang sebenarnya.


Mendadak ia menemukan sebuah petunjuk!


Kain berwarna hitam tersangkut di rumpun semak berduri. Carikan itu sangat kecil dan hampir tidak terlihat. Ia menghampirinya dan melepaskannya dari belitan duri. Diperiksanya dengan seksama. Jarinya mengusap-usap kain itu. Bahannya terasa sangat halus dan licin. Ia mengendus-endus kain itu. Tercium olehnya bau harum yang samar-samar.


Ia menyimpan cabikan itu di dalam sakunya. Lalu mulai menelusuri kembali tempat itu. Ia pun tiba di depan makam Sung Cen.


Dengan sedih ia berlutut di sana. Diulurkannya tangannya untuk mengelus nisan kayu bertuliskan darah itu. Aneh, pikirnya kemudian sambil memperhatikan makam sederhana itu. Seharusnya makam itu tidak terawat, tetapi agaknya ada orang yang datang dan membersihkannya.


Pasti Sen Khang atau Meng Huan, pikirnya sedih. Mereka memang membencinya, namun tetap saja bagi mereka Sung Cen tidak bersalah sehingga mereka mau mengurusi makamnya.


Tiba-tiba telinganya yang tajam menangkap suara desiran di belakangnya.


Ia berbalik. Sebatang pedang melaju tepat ke arah wajahnya. Ia cepat menghindar, namun ujung pedang sempat menggores bahu kirinya. Chien Wan jumpalitan menghindari serangan-serangan pedang yang membabibuta.


Si penyerang mengenakan topeng hitam dan berpakaian ringkas. Dari bentuk tubuhnya, Chien Wan tahu penyerang itu perempuan. Gerakannya cukup lihay dan terlatih. Dan ia tampaknya tahu bahwa suling adalah senjata maut Chien Wan. soalnya sejak tadi si penyerang membuat sibuk Chien Wan dengan serangan-serangan ke arah tangan. Chien Wan sama sekali tak punya kesempatan untuk mencabut sulingnya.


Chien Wan ingin segera menuntaskan pertarungan itu. Maka ia melakukan gerak tipu. Ia menyerang kaki si orang bertopeng. Ketika orang itu menangkis, Chien Wan melompat ke atas sambil mencabut sulingnya.


Si orang bertopeng melihatnya dan ia membanting bom asap.


“Hei!” Chien Wan menutup saluran pernapasan dan memejamkan mata karena asap tebal menyelubunginya.


Ketika asap menipis, orang bertopeng pun lenyap.


Chien Wan tertegun. Orang itu pasti bukan salah satu pendekar yang ingin menangkapnya. Selain karena gerakan orang itu misterius, dia juga memakai topeng. Mengapa? Orang itu juga tidak menimbulkan suara berisik yang dapat memancing kedatangan orang ke tempat ini. Padahal bisa saja orang itu berteriak mengatakan bahwa Suling Maut ada di sini.


Siapa sebenarnya orang bertopeng itu? Anak buah Cheng Sam-kah?

__ADS_1


***


Ouwyang Kuan dan istrinya tiba di penginapan di sebuah desa yang berbatasan dengan Hutan Bambu. Mereka sengaja mengenakan pakaian layaknya sepasang suami-istri dari dusun agar tidak menarik perhatian.


Wajah Sui She pucat dan letih. Tubuhnya semakin kurus akibat kesedihan hatinya.


Suaminya memandangnya dengan prihatin.


“Istriku, minumlah teh ini.” Ouwyang Kuan mengangsurkan cangkir teh ke hadapan istrinya.


Sui She meminumnya dengan malas.


“Apakah Ping-er ada di sana?” gumamnya melamun.


“Mungkin saja.”


Sui She tercenung. Hatinya terasa sakit. Mengapa Ouwyang Ping tidak membela kakaknya? Benarkah di mata Ouwyang Ping, Chien Wan bersalah? Benarkah Chien Wan begitu terpojok sehingga tak bisa membela diri?


“Jangan terus memikirkannya, Sui She,” peringat Ouwyang Kuan.


“Sudahlah, kita jangan membicarakan hal itu di sini.” Ouwyang Kuan melirik kiri-kanan. Ia khawatir ada orang mengawasi mereka saat itu. Untung saja tidak ada seorang pun di dekat mereka.


Sui She menuruti suaminya.


Pesanan mereka datang dan mereka menyantapnya tanpa semangat.


Saat itu, muncul beberapa orang berpakaian ringkas ke dalam penginapan. Mereka adalah rombongan Pendekar Hua, salah seorang pendekar yang paling bernafsu menangkap dan membunuh Chien Wan. Malangnya, ia mengenali wajah Ouwyang Kuan.


Ia memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengepung meja Ouwyang Kuan.


Ouwyang Kuan sangat gusar. “Apa-apaan ini?” serunya sambil berdiri.


Sui She ikut berdiri.


Pendekar Hua memberi hormat dengan gaya menyebalkan. “Salam Tuan dan Nyonya Ouwyang. Rupanya Anda berdua datang juga pada peringatan 40 hari korban pembunuhan di Wisma Bambu.”


Ouwyang Kuan menatapnya dengan tajam. “Kalau ya, lantas mengapa?”

__ADS_1


“Hebat! Hebat!” Pendekar Hua bertepuk tangan sambil tertawa keras.


Ouwyang Kuan sangat geram. Digesernya tubuhnya untuk berada sedekat mungkin dengan istrinya, melindunginya.


“Kau benar-benar sangat tahu sopan santun. Padahal putramu sendiri yang membunuh Tuan dan Nyonya Luo. Kau benar-benar berani. Kalau aku jadi kau, aku akan sangat malu menampakkan diri di Wisma Bambu,” ejek Pendekar Hua.


“Anakku tidak bersalah!” pekik Sui She marah.


“Sui She!” desis Ouwyang Kuan.


Pendekar Hua terbelalak. “Tidak bersalah? Alangkah butanya kasih seorang ibu! Jelas-jelas saksi mata mengatakan Suling Maut bersalah, tapi kau menentangnya. Luar biasa!” ejeknya.


“Jangan bicara begitu pada istriku!” bentak Ouwyang Kuan.


“Kalau kau benar-benar yakin anak kalian tidak bersalah, kalian tentu mau mengatakannya di depan semua orang?” seloroh Pendekar Hua licik.


“Tentu saja!” sambar Sui She.


“Kalau begitu, tentu kalian tidak keberatan pergi ke Wisma Bambu bersama kami!”


“Jelas keberatan!” bentak Ouwyang Kuan. “Kami bisa datang sendiri! Bukan sebagai tawanan siapa pun!”


Pendekar Hua menelengkan kepala. “Kalau begitu, tak ada jalan lain. Serbu!”


Serentak anak buahnya menyerbu Ouwyang Kuan dan Sui She.


Sepasang suami-istri itu jelas bukan orang lemah. Mereka terlatih dengan ilmu-ilmu Lembah Nada selama bertahun-tahun. Mereka sangat lihay. Namun seperti umumnya orang Lembah Nada, kecuali Tuan Ouwyang tentunya, mereka lihay bila menggunakan alat musik. Tanpa alat musik, kemampuan mereka sedang-sedang saja. Mereka keliru karena berpikir mereka tidak akan diserang dalam perjalanan. Mereka meninggalkan alat musik mereka di rumah karena takut terlalu mencolok.


Pemikiran itu jelas merupakan kekeliruan. Bila saja mereka membawa alat musik mereka, tentu dengan mudah mereka dapat mengatasi keroyokan para pendekar yang dibutakan amarah ini.


Ruangan yang sempit membuat gerakan mereka terbatas. Jumlah pengeroyok yang banyak membuat mereka makin terpojok. Maka akhirnya mereka dapat ditaklukan.


Pendekar Hua menyeringai congkak. “Ternyata hanya segini saja kemampuan orang Lembah Nada!”


Ouwyang Kuan dan Sui She geram sekali. Namun di bawah todongan pedang mereka tidak bisa apa-apa. Mereka hanya bisa pasrah saja ketika rombongan pendekar itu menggiring mereka bak pesakitan.


***

__ADS_1


__ADS_2