
Sejak munculnya gosip yang menjatuhkan nama Sam Hui, sejak Sam Hui sendiri muncul dengan berita mengejutkan bahwa ada seseorang yang tengah mengancam keselamatan Partai Kupu-Kupu, semua orang jadi bersikap tertutup terhadap satu sama lain. Dan walau tidak dikemukakan secara terang-terangan, semuanya mengarahkan kecurigaan terhadap Sam Hui. Jangan-jangan dia sendiri orang yang ingin mengancam keselamatan partai mereka.
Sam Hui menjadi tertekan dengan keadaan ini, namun ia tetap bertahan.
Namun kesabaran ada batasnya. Sam Hui tidak tahan lagi menghadapi semua permusuhan yang ditujukan pada dirinya. Maka dia pun menghadap Ketua Wu dan mengutarakan maksudnya. Pada saat itu mereka hanya berdua saja, tidak menyertakan anggota partai lainnya.
“Jadi kau ingin mengundurkan diri?” tanya Ketua Wu heran.
Sam Hui mengangguk.
“Mengapa?”
Sam Hui menarik napas panjang. “Ketua, aku telah mengabdi pada Partai Kupu-Kupu sejak berumur 15 tahun. Sudah hampir tiga puluh tahun aku menetap di sini. Namun selama ini pula, aku belum melakukan apa-apa yang berguna untuk kelangsungan Partai Kupu-Kupu. Maka aku tidak ingin menunggu tiga puluh tahun lagi supaya bisa berarti bagi partai ini. Aku akan pulang saja ke kampung halamanku di Kang Lam,” katanya panjang-lebar.
“Kau pulang karena tidak tahan menghadapi kecurigaan kami?”
Sam Hui menunduk. “Salah satunya begitu.”
Ketua Wu tercenung. Sebenarnya ia sangat berat melepaskan Sam Hui. Akhir-akhir ini ia memang agak mempercayai gosip tentang keburukan Sam Hui. Namun bila ia memikirkannya lagi, selama ini Sam Hui sangat setia. Sam Hui mencintai Partai Kupu-Kupu melebihi nyawanya sendiri. Kalau saja sikap Sam Hui belakangan ini tidak begitu mencurigakan, ia takkan pernah membiarkan Sam Hui pergi. Bagaimana pun, Sam Hui adalah orang kepercayaannya yang paling diandalkan olehnya. Ilmu kepandaian Sam Hui sangat tinggi, bahkan setara dengan dirinya sendiri.
“Tekadmu sudah bulat?”
Sam Hui mengangguk dengan berat hati.
Ketua Wu mendesah. “Kalau memang demikian, apa lagi yang harus kukatakan? Semua keputusan ada di tanganmu.”
Sam Hui memberi hormat. “Terima kasih, Ketua. Maafkanlah semua kesalahanku selama ini,” ucapnya terbata-bata. Lalu ia berlutut dan memberi hormat.
Mau tak mau, Ketua Wu terharu sekali. “Bangkitlah, Sam Hui.”
Sam Hui bangkit dengan patuh. Ia menunduk dengan mata berkaca-kaca. Ia teringat semua hal yang pernah dialaminya di Partai Kupu-Kupu. Hal ini membuatnya sangat berat untuk meninggalkan partai.
Berita pengunduran diri Sam Hui dengan cepat tersebar di seluruh partai. Semua orang sangat terkejut mendengarnya. Kebanyakan dari mereka menerimanya dengan berat hati. Sebab walau belakangan ini semua mencurigai Sam Hui, tetap saja pria itu adalah sosok yang sangat mereka hormati. Namun juga, ada beberapa orang yang sangat senang dengan pengunduran diri Sam Hui.
Kui Fang sangat terpukul dengan pengunduran diri Sam Hui. Apalagi Sam Hui pergi tanpa pamit padanya.
“Kepergiannya adalah untuk kebaikan semuanya, Kui Fang,” hibur Ketua Wu.
“Aku masih sulit percaya,” gumam Kui Fang lirih. “Paman Sam orang yang baik. Dia tidak akan pernah melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan semua orang padanya.”
“Kui Fang...,” tegur Nyonya Wu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kui Fang pergi menuju kamarnya. Langkahnya gontai dan tak bersemangat.
Sam Hui pergi... Chien Wan tak kunjung datang... Kui Fang mendesah dan merebahkan dirinya di pembaringan. Ia merasa amat kesepian.
Baginya Sam Hui bukan sekadar orang kepercayaan ayahnya saja. Sejak kecil Sam Hui menyayanginya seperti keponakan sendiri. Bahkan Sam Hui lebih memanjakannya ketimbang ayahnya sendiri. Sekarang dia pergi. Berpamitan pun tidak. Tentu saja Kui Fang merasa sedih sekali.
Kepergian Sam Hui bukan hanya menimbulkan kesedihan dalam diri Kui Fang, tetapi juga menimbulkan guncangan dalam susunan kepengurusan partai. Sam Hui adalah penasihat dan perencana partai yang sangat hebat. Tak ada yang bisa menggantikannya. Bahkan Wie Yun Cun yang menggantikan posisinya pun tidak.
***
Sam Hui berjalan meninggalkan Partai Kupu-Kupu. Tujuannya jelas. Bukan Kang Lam seperti yang diungkapkannya pada Ketua Wu, melainkan Kota Lok Yang. Ia ingin menemui Ketua Persilatan. Dengan berbekal kenyataan yang ditemuinya, ia akan melaporkan sesuatu pada Ketua Persilatan. Mungkin bila ia bergerak cepat, partai yang dicintainya masih bisa diselamatkan.
Namun di tengah perjalanan, ia dihadang.
“Berhenti!”
Sam Hui langsung waspada. Ia menoleh ke asal suara.
Ternyata ia sudah dikepung oleh beberapa orang yang sudah dikenalnya. Ia menyeringai. Sesuai dengan dugaannya, mereka tidak akan membiarkannya lolos dengan mudah.
__ADS_1
“Apa maumu, Lan Sie?”
Yang mengepungnya adalah beberapa orang berpakaian warna-warni yang dipimpin oleh seorang perempuan bergaun hijau yang bukan lain adalah Lan Sie, anggota Partai Kupu-Kupu juga.
“Aku diperintahkan untuk membunuhmu!” bentak Lan Sie.
“Oleh siapa? Wie Yun Cun?” ejek Sam Hui.
“Tidak usah tahu oleh siapa!”
Seketika saja orang-orang berpakaian warna-warni itu mengeroyok Sam Hui.
Para anggota Partai Kupu-Kupu mempunyai kepandaian silat yang tinggi dan gerakan yang terkenal lincah dan membingungkan. Sam Hui mengenal betul gerakan silat mereka karena ilmu silatnya sendiri pun persis seperti itu. Maka dengan mudah ia dapat mengatasinya.
Namun beberapa saat kemudian, Sam Hui dikejutkan oleh serangan bertubi seseorang yang memiliki kepandaian luar biasa. Ia terpukul mundur dan tak mendapat kesempatan untuk mengelak karena serangan itu berlanjut dengan dahsyat. Ia bahkan tidak berkesempatan melihat siapa penyerangnya itu.
Buk! Buk! Dar!”
Sam Hui terlempar karena dua pukulan dahsyat mendarat di dadanya, membuatnya muntah darah.
Penyerangnya yang luar biasa sakti itu berdiri di hadapannya dan menyeringai.
Sam Hui terbelalak mengenalinya.
“Kau Chi....”
Sebelum Sam Hui selesai bicara, penyerang yang bukan lain dari Chi Meng Huan itu langsung berkelebat meninggalkan mereka semua.
Kini Sam Hui berada dalam kondisi kritis. Semua anggota Partai Kupu-Kupu yang pada awal serangan tadi mengeroyoknya kini mengelilinginya. Semua mengacungkan senjata masing-masing, siap menghujamkannya di tubuh Sam Hui.
Sam Hui sudah siap untuk mati.
Namun tiba-tiba terdengar suara melengking yang langsung menghantam gendang pendengaran mereka semua. Semuanya segera menyingkir sambil menutupi telinga masing-masing sekuat-kuatnya.
Sam Hui memusatkan perhatian. Ia sudah nyaris pingsan. Pandangannya kabur. Namun sebelum ia jatuh tak sadarkan diri, ia sempat berseru, “Pendekar Ouwyang...!”
Setelah itu, kegelapan menyelubungi pandangannya.
***
Saat sadar kembali, Sam Hui sudah berada di kamar yang cukup luas namun sederhana. Ia tengah dikelilingi oleh beberapa orang pria.
“Saudara Sam, kau sudah sadar!”
Sam Hui terkejut melihat Pendekar Sung berada di situ. Pendekar Sung tidak sendirian karena teman-temannya; Pendekar Fu, Pendekar Phang, Pendekar Chin, dan Pendekar Lei juga ada di sana. Ia segera memaksakan dirinya untuk bangkit walau tubuhnya masih terasa lemah.
“Pendekar Sung, aku baru saja hendak ke Kota Lok Yang mencari Anda... huk huk!” Sam Hui terbatuk sambil memegangi dadanya.
Pendekar Sung segera menenangkannya. Ia meraih mangkuk minum dan membantu Sam Hui meneguk airnya.
“Aku dan teman-temanku ini berencana untuk mengunjungi Partai Kupu-Kupu. Di tengah jalan kami bertemu dengan Chien Wan yang juga hendak menuju Partai Kupu-Kupu, jadi kami putuskan untuk melakukan perjalanan bersama.”
“I... ini di mana?”
“Ini rumah salah seorang sahabat kami, Hartawan Ma.”
“Oh, ya... aku tahu....” Sam Hui mengangguk. “Berarti tidak jauh dari partai kami....”
“Ada apa mencariku, Saudara Sam?”
Sam Hui langsung panik lagi. “Pendekar Sung! Anda harus menolong kami! Partai kami... huk huk!” Ia batuk lagi dan memegangi dadanya yang nyeri.
__ADS_1
“Bicara saja pelan-pelan, Saudara Sam. Untung saja Chien Wan lewat di tempat itu dan menemukanmu.”
“Mana Pendekar Ouwyang?”
Chien Wan yang sejak tadi berdiri di sudut kamar segera menghampiri. “Paman Sam.”
“Pendekar Ouwyang, yang menyerangku adalah Chi Meng Huan! Dia yang menyerangku tadi! Selama ini dia berada di Partai Kupu-Kupu!”
Chien Wan tertegun. “Apa?”
Pendekar Sung dan teman-temannya juga sangat kaget mendengarnya.
“Ternyata yang selama ini kutakutkan telah terjadi,” kata Sam Hui sedih. Wajahnya pucat menahan sedih dan sakit akibat luka. “Wie Yun Cun dan aku tidak pernah akur. Namun aku tak menyangka dia tega mengkhianati partai kami dan bekerja sama dengan orang jahat.”
“Maksudmu, Chi Meng Huan dan rombongannya bekerja sama dengan Paman Wie?” Chien Wan kaget. Tak disangkanya Wie Yun Cun juga terlibat.
Sam Hui mengangguk. “Dua bulan yang lalu, Wie Yun Cun menjadi agak aneh. Ia sering menyelinap keluar malam-malam dan pergi menuju daerah partai kami yang sebelumnya tidak pernah dikunjunginya. Karena aku khawatir, aku mengikutinya. Namun aku selalu tak sempat memergoki siapa yang dijumpainya.
“Wie Yun Cun sering terlihat berbincang-bincang penuh rahasia dengan beberapa orang anggota kami. Aku semakin mencurigainya, namun tak punya bukti. Selama dua bulan ini aku diam-diam menguping pembicaraan setiap anggota kami, bahkan ketua kami sendiri.”
“Maksudmu, kau juga curiga bahwa Paman Wu juga....” Chien Wan tertegun.
Sam Hui menghela napas. “Kecurigaan itu sempat melintas dalam benakku. Namun segera hilang karena aku kemudian menyadari bahwa Ketua Wu terlalu jujur untuk mau bergabung dengan penjahat. Dari menguping itu, aku menyadari bahwa ternyata ada beberapa anggota yang berencana berkhianat terhadap partai. Mereka dipimpin oleh Wie Yun Cun.”
“Dari mana kau tahu bahwa Chi Meng Huan-lah penjahat yang bekerja sama dengan mereka?” tukas Pendekar Sung.
“Chi Meng Huan-lah yang melukaiku.”
Chien Wan tertegun. Ia berpandangan dengan Pendekar Sung.
“Kalau begitu kita harus pergi ke Partai Kupu-Kupu untuk menangkap Chi Meng Huan dan rombongannya!” kata Pendekar Fu bersemangat.
“Sebentar,” kata Chien Wan. Ia menatap Sam Hui. “Paman Sam, apakah kau pernah memergoki Chi Meng Huan atau salah satu anak buahnya ada di dalam ruang lingkup partai?”
“Tidak,” geleng Sam Hui muram.
“Pernahkah Kui Fang mengatakan sesuatu padamu yang menegaskan kecurigaanmu?”
“Nona?” Sam Hui heran mendengarnya.
“Paman pernah melihat Chi Meng Huan, tetapi tidak tahu wajah sekutunya. Kui Fang sebaliknya. Ia pernah melihat semua anggota rombongan Chi Meng Huan. Bila ia melihat salah satu dari mereka, pasti dia akan mengatakannya pada ayahnya atau pada Paman.”
Sam Hui tercenung. “Tidak,” katanya pelan. “Nona tidak pernah mengatakan apa-apa.”
“Kalau begitu, kita memang betul-betul tidak punya bukti.”
Pendekar Sung menengahi. “Kalau begitu, sebaiknya kita mengawasi diam-diam dari kejauhan. Apabila mereka bertindak, barulah kita juga bertindak.”
“Aku akan ke sana terlebih dahulu. Aku ingin mengawasi keadaan di sana.” Chien Wan menoleh dan memandang Sam Hui. “Paman, adakah pintu atau lorong rahasia yang bisa kulewati supaya tidak ada seorang pun yang tahu aku ada di sana?”
Sam Hui mengangguk.
“Aku menjadi anggota Partai Kupu-Kupu selama tiga puluh tahun. Semua jalan atau lorong di sana sudah kuhapal di luar kepala. Aku akan membuatkanmu peta. Kau bisa mempelajarinya sebelum mulai menyelinap di sana.”
Chien Wan mengangguk.
“Dan selama Chien Wan mengawasi keadaan di sana, sebaiknya kita bersiap-siap di tempat yang tidak terlihat untuk kemudian melakukan penyerangan bila diperlukan,” putus Pendekar Sung.
“Dua hari lagi adalah hari besar partai kami,” ujar Sam Hui setengah merenung. “Mungkin mereka akan membongkar rencana busuk mereka pada hari itu.”
“Kalau begitu kita akan mendatangi Partai Kupu-Kupu untuk melihat keadaan selanjutnya,” putus Pendekar Sung.
__ADS_1
Rencana itu langsung disetujui oleh semuanya.
***