
Sementara Fei Yu berseteru dengan Meng Huan, A Ming dan Ouwyang Ping pun tampak tidak saling berbicara satu sama lain.
A Ming menjauhi Ouwyang Ping karena ia tidak mau berbicara dengan gadis yang dianggapnya telah merebut Sen Khang darinya. Ia selalu menatap Ouwyang Ping dengan penuh kemarahan bila ia yakin tak ada yang melihatnya. Ia marah karena Ouwyang Ping mempunyai segala yang diinginkannya dalam hidup ini; ayah dan ibu yang hebat, keluarga yang termasyur, didikan yang baik sejak kecil, kehangatan keluarga yang tidak diperolehnya, dan sekarang Sen Khang—pemuda yang dipujanya. Ia membenci Ouwyang Ping tanpa tahu bahwa sebenarnya gadis itu pun memiliki deritanya sendiri.
Kebencian A Ming tentu saja dirasakan oleh Ouwyang Ping—walau ia sendiri tidak tahu mengapa A Ming membencinya. Karena ia gadis yang tidak suka mencari masalah, ia pun tidak mau memperpanjang urusan. Bila A Ming tidak mau bicara dengannya, ia pun akan menjauh.
Kebencian ini pun disadari oleh Sung Cen.
“A Ming, aku perhatikan kau tidak menyukai Ping-er. Apa dia mengatakan sesuatu yang menyakitimu?” tanya Sung Cen.
“Tidak, Ayah.”
“Lalu mengapa?”
“Tidak apa-apa.”
Sung Cen tidak berhasil mengorek keterangan dari putrinya. Ia lalu mencoba bicara dengan Ouwyang Ping. Namun Ouwyang Ping juga tidak mengatakan apa-apa padanya.
Pada suatu malam, Ouwyang Ping dan Sen Khang tengah duduk di taman belakang dan bercakap-cakap ringan. Ouwyang Ping memetik harpanya pelan-pelan sementara mereka berbicara.
Percakapan mereka tidak terdengar karena terlalu pelan, namun kebersamaan mereka terlihat oleh A Ming yang sedang melintas di sana. Kemarahan membara di hatinya hingga ia harus mengepal tinjunya kuat-kuat untuk mencegah dirinya berteriak.
“Nona Ming, sedang apa?”
A Ming kaget dan menoleh cepat. Ia melihat Meng Huan ada di sana.
“Tuan Chi, aku....”
Meng Huan melongok ke dalam taman dan melihat kedua sejoli itu. Ia menatap A Ming dan seketika paham. Ia mendesah.
“Rupanya begitu,” gumamnya.
A Ming merona. Ia pun berbalik hendak pergi, namun Meng Huan meraih tangannya. Ia kaget sekali.
“Tuan Chi?”
“Sebenarnya kita senasib,” kata Meng Huan tanpa memandang A Ming. Tangannya masih mencekal tangan A Ming sementara matanya menerawang jauh.
A Ming tercengang. Wajah Meng Huan terlihat begitu kesepian dan sedih. Seketika hatinya merasa iba.
“Aku mendengar kisah hidupmu dan sebenarnya tak jauh beda dengan hidupku sendiri,” mulai Meng Huan. Ia melepaskan cekalannya dan melangkah menjauh. Tanpa sadar A Ming mengikutinya.
“Sejak kecil, aku dibesarkan oleh keluarga ini karena orangtuaku sendiri tewas. Aku tumbuh bersama dengan Sen Khang, Chien Wan, dan Ting Ting. Sejak kecil aku menyukai Ting Ting. Tetapi cintaku tidak terbalas karena Ting Ting mencintai Chien Wan. Chien Wan memang menolaknya, namun dia tetap saja mengharapkan orang itu. Ting Ting tak pernah mempedulikan aku. Dan aku harus menahan perasaanku dan terus tinggal bersamanya serta memperlakukannya seperti adikku sendiri,” kata Meng Huan pelan.
A Ming terpukau.
“Melihatmu seperti tadi mengingatkanku akan diriku sendiri. Seperti itulah aku saat melihat Ting Ting dan Chien Wan bersama. Sering harus mengepalkan tinju kuat-kuat, karena jika tidak begitu bisa-bisa aku menjerit.”
Air mata A Ming tergenang. Meng Huan betul-betul memahaminya! Meng Huan mengalami derita yang sama dengan dirinya. Senasib dengannya!
Meng Huan melihatnya dan menatap gadis itu dalam-dalam.
“Kita sama, A Ming.”
__ADS_1
Tanpa sadar, keduanya bergenggaman tangan dengan kuat dan erat. Perasaan senasib yang menumbuhkan rasa saling pengertian di antara mereka berdua, yang kelak akan menumbuhkan perasaan lain dalam diri mereka.
***
Sudah hampir dua minggu rombongan itu tinggal di Wisma Bambu. Selama itu, Tuan dan Nyonya Luo telah banyak berbincang-bincang dengan adik serta adik iparnya. Salah satu pokok pembicaraan adalah mengenai Sen Khang dan Ouwyang Ping.
Rupanya mereka berempat telah mengamati kedua anak muda itu dengan serius dan mempertimbangkan perjodohan di antara mereka. Tuan Luo memang selalu mempertimbangkan hubungan darah yang dekat di antara mereka. Namun ia mendukung rencana perjodohan ini karena toh Ouwyang Ping bukanlah anak kandung adiknya. Sehingga jika gadis itu berjodoh dengan Sen Khang, tentunya tidak apa-apa karena memang tak ada hubungan apa pun di antara mereka.
Mereka belum memutuskan untuk membicarakannya dengan kedua anak muda itu karena rencana itu masih mentah.
“Apa menurut kalian Sen Khang dan Ping-er akan setuju?” tanya Sui She cemas.
“Sen Khang sudah pasti setuju,” kata Tuan Luo. “Dia tidak pernah mengatakan apa-apa, namun aku dapat melihat kekagumannya pada Ping-er.”
“Tetapi, Suamiku, bukankah Sen Khang bilang ia akan menikah jika sudah menemukan cinta sejatinya?” tukas Nyonya Luo dengan nada khawatir.
“Memang,” angguk Tuan Luo. Lalu ia mendesah. “Dasar anak zaman sekarang! Aku tidak pernah mengerti pemikiran mereka. Selalu bertolak belakang dengan pemikiran orangtua!”
“Tidak juga, Kak. Aku sendiri cenderung setuju dengan pemikiran seperti itu. Pernikahan harus didasari oleh cinta sejati,” sela Sui She lembut.
“Pernikahan tanpa cinta jelas menimbulkan penderitaan,” kata Ouwyang Kuan sambil tercenung. “Aku sudah membuktikannya sendiri. Satu-satunya kebahagiaanku adalah ketika Ping-er lahir.”
Sui She meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat.
Tuan dan Nyonya Luo memperhatikan mereka dengan terharu. Lalu mereka mengalihkan pembicaraan.
“Jadi bagaimana dengan rencana ini?” tanya Tuan Luo.
“Bagaimana pun juga kita harus membicarakannya dulu dengan ayah mertuaku,” kata Sui She.
Maka dari itulah, mereka memanggil Sen Khang seorang diri ke kamar kerja Tuan Luo.
Sen Khang terkejut karena ia dipanggil seorang diri dan harus menghadapi empat orang yang dihormatinya. Ia semakin terkejut mendengar maksud mereka memanggilnya. Ternyata mereka hendak menjodohkannya dengan Ouwyang Ping!
Hal itulah yang sangat diinginkannya! Tak ada yang lebih diinginkannya selain menikah dengan gadis yang dicintainya—dalam hal ini tentu saja Ouwyang Ping. Namun ia tidak mau egois dan langsung menyanggupi tanpa menanyakannya terlebih dahulu pada Ouwyang Ping.
“Apakah kalian sudah membicarakannya dengan Ping-er?” tanyanya.
“Belum,” jawab Tuan Luo. “Kami ingin tahu dulu bagaimana pendapatmu mengenai hal ini.”
Sen Khang menghela napas.
Ouwyang Kuan melihatnya dengan cemas. “Sen Khang, kami tidak akan memaksa jika kau tidak menyukai Ping-er.”
Sen Khang tertawa parau. Tidak menyukai Ping-er? Sebaliknya, ia justru sangat mencintai gadis itu! Bagaimana mungkin ia akan menolak sesuatu yang memang didambakannya?
“Sen Khang?”
“Masalahnya bukan padaku.” Akhirnya Sen Khang merasa dia harus membuka rahasia hatinya sendiri di hadapan orangtuanya dan orangtua Ouwyang Ping. “Bukan aku yang harus ditanya apakah setuju dengan perjodohan ini, melainkan Ping-er. Aku sudah pasti setuju.”
Empat pasang mata terbelalak mendengarkan kejujuran Sen Khang.
“Kau... kau mencintai Ping-er?” tanya Sui She terbata.
__ADS_1
“Dengan sepenuh hatiku,” jawab Sen Khang tegas.
Keempat orang itu berpandangan dengan gembira. Mereka merasa lega mendengarnya sekaligus juga terharu. Terutama Tuan dan Nyonya Luo. Dahulu mereka menanyakan apakah di hati Sen Khang sudah ada seseorang dan anak mereka menjawab bahwa kelak ia akan memberitahu mereka bila saatnya tiba. Rupanya sekaranglah saat itu.
“Kalau begitu kita harus mempersiapkan segalanya!” Ouwyang Kuan berucap penuh semangat. Ia sangat menyukai pemuda itu dan sangat berharap putrinya bisa menemukan kebahagiaan di sisi pemuda seperti Sen Khang.
Mereka mulai bicara bersamaan, merencanakan ini-itu.
“Sebentar, Semuanya!”
Seketika mereka berhenti bicara.
“Dari pihakku sendiri tidak ada masalah, tetapi bagaimana dengan Ping-er?” tanya Sen Khang.
“Ada apa dengan Ping-er?” sambar Ouwyang Kuan.
Sen Khang menghela napas. “Selama ini aku menyukainya. Selama ini pula cintaku bertepuk sebelah tangan. Dia belum bisa menghapuskan kenangan masa lalu dari hatinya.”
Seketika suasana menjadi hening. Mereka semua terdiam dengan tidak enak. Pandangan mereka semua jatuh pada Sen Khang yang duduk dengan tenang.
“Maksudmu... dia masih mencintai...?” Nyonya Luo bahkan tidak sampai hati menyebutkan nama Chien Wan.
“Dia tidak mengakuinya, tapi ya. Memang begitu keadaannya.”
“Ini tidak boleh dibiarkan!” Ouwyang Kuan berdiri. “Chien Wan kakak kandungnya! Aku harus mengatakan sesuatu padanya!”
“Kakak Kuan!” Sui She menarik tangan suaminya, menahan langkahnya. “Jangan katakan apa-apa! Kasihan Ping-er!”
“Dia akan lebih menderita bila terus memanjakan perasaan terlarang seperti itu!”
“Tapi dia tidak bersalah! Itu semua salah kita!”
Ouwyang Kuan menggeleng. “Sudah dua tahun, Sui She! Dua tahun dia begitu! Ini harus dihentikan!”
“Bisakah Paman menghentikan perasaan cinta?”
Perkataan Sen Khang menghentikan gerakan Ouwyang Kuan, membuat kakinya lemas dan ia pun kembali duduk di kursinya.
Sen Khang menghela napas. “Aku tidak ingin menimbulkan kesulitan bagi Ping-er dengan mengatakan semua ini. Yang kuinginkan hanyalah supaya kalian tidak mendesaknya.”
“Lalu bagaimana...?” tanya Nyonya Luo.
“Biarkan aku berusaha dengan caraku sendiri. Aku akan berusaha memenangkan kepercayaannya. Mungkin suatu saat nanti dia bisa meninggalkan kenangan masa lalunya dan menerimaku dengan awal baru. Aku tidak ingin dia menerimaku hanya karena merasa harus berbakti terhadap kalian. Dia akan menderita dan aku tidak menginginkan itu,” jelas Sen Khang panjang lebar.
Tuan Luo menatap putranya dengan bangga. Tak disangka putranya itu memiliki jiwa sebesar ini. Ia pun mengangguk dan menepuk bahu putranya. “Baiklah jika itu kehendakmu.”
“Tapi....”
Bantahan Ouwyang Kuan ditukas oleh Tuan Luo, “Kita harus menerima keputusan Sen Khang.”
“Tetapi aku tidak ingin Sen Khang berkorban sebesar ini!” bantah Ouwyang Kuan.
“Ini bukan pengorbanan, Paman.” Sen Khang tersenyum.
__ADS_1
Tak ada lagi yang bisa dikatakan oleh Ouwyang Kuan.