
Tidak ada perubahan apa pun di Wisma Bambu. Keadaan tetap berlangsung seperti biasanya. Tuan dan Nyonya Luo menjalani kehidupan yang tenang dan damai. Kalaupun ada masalah, itu merupakan masalah keluarga yang kecil dan nyaris tak berarti.
Mereka memang memikirkan Ting Ting yang murung dan sedih setelah ditolak oleh Chien Wan. Namun mereka tahu bahwa tidak ada yang dapat mereka lakukan. Mereka pun mulai mempertimbangkan perjodohan Ting Ting dengan Meng Huan.
Mereka tengah bercakap-cakap ringan di kamar kerja ketika seorang pelayan datang mengabarkan kedatangan rombongan dari Lembah Nada.
“Adikku dan keluarganya datang?” Tuan Luo sangat gembira. Ia dan istrinya bergegas keluar.
Sui She berdiri dan berseru gembira, “Kakak! Kakak Ipar!”
“Sui She!” Tuan Luo langsung menghampiri adiknya dan menggenggam tangannya erat-erat sementara istrinya merangkul. Hatinya senang sekali melihat adiknya itu tampak sehat dan semakin cantik saja.
Ouwyang Kuan dan yang lain-lain segera memberi hormat.
Sen Khang tersenyum dan menghampiri ayah-ibunya. “Ayah, Ibu.”
“Sen Khang!” Nyonya Luo mendekat dan meraih tangan putranya. “Ibu sudah kangen sekali padamu.”
“Ibu, beberapa waktu yang lalu aku mengirim seorang ibu dan anak laki-lakinya ke sini. Mereka mengalami musibah dan aku tidak tega melihat mereka terlunta-lunta. Kusuruh mereka ke sini dengan tujuan supaya Ayah dan Ibu mempekerjakan mereka. Apakah mereka betul-betul datang?” tanya Sen Khang serius.
“Ya, mereka datang ke sini. Saat itu mereka tampak sangat menyedihkan, terluka dan lemah. Aku menerima mereka di sini. Mereka ada di ruang pelayan. Aku mempekerjakan A Mei—nama perempuan itu—di sini sebagai pelayan dapur.”
“Mereka baik-baik saja?”
“O ya! Mereka sudah kembali pulih setelah mendapat pengobatan dan makanan yang cukup.” Ibunya menenangkan.
Sen Khang tersenyum lega.
Sui She mengambil A Lee dari gendongan Siu Hung. “Lihatlah keponakan barumu, Kak. Namanya Ouwyang Lee.”
Tuan dan Nyonya Luo menatap A Lee. Anak kecil montok itu balas menatap mereka berdua dengan tatapannya yang tajam. Sejenak tak ada senyum di wajah anak itu, wajahnya tampak serius. Namun sekejap kemudian, wajah montok nan tampan itu seolah bersinar bersamaan dengan senyumnya yang merekah lebar. Lesung pipinya di sebelah kiri mempermanis wajahnya.
“Aih, manisnya!” puji Nyonya Luo kagum.
“Anakmu sangat tampan, Sui She!” kata Tuan Luo.
“Tapi dia tidak mirip Chien Wan, atau apakah mataku salah?” Nyonya Luo menatap heran.
“Wajah Chien Wan merupakan perpaduan antara Sui She dan Adik Kuan, dan cenderung lebih menyerupai Sui She. Anak ini... menurutku dia mirip Tuan Ouwyang Cu,” komentar Tuan Luo.
“Kakak betul. Dia mirip ayahku,” angguk Ouwyang Kuan. “Semua ciri keluarga Ouwyang, terutama dagu yang keras kepala itu, ada pada A Lee,” lanjutnya sambil tertawa.
Setelah melepas rindu sejenak, mereka semua duduk. Tuan dan Nyonya Luo diperkenalkan kepada A Ming, Fei Yu, A Nan, dan Siu Hung. Mulailah mereka bercakap-cakap ramah.
“Bibi, Ting Ting mana?” tanya Ouwyang Ping pelan pada Nyonya Luo di sela-sela percakapan keluarganya.
“Mungkin dia sedang pergi bersama Meng Huan ke belakang,” jawab Nyonya Luo.
Fei Yu mendengarkannya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat mendengar nama Ting Ting disebutkan. Dua tahun sudah berlalu sejak pertemuannya yang terakhir kali dengan Ting Ting, namun tak sekali pun ia melupakan gadis itu. Hanya itu satu-satunya alasan ia mau ikut ke Wisma Bambu; untuk bertemu Ting Ting!
Tak sadar, tangannya meraba ke saku pakaiannya. Tusuk rambut milik Ting Ting yang diambilnya dulu masih ada di sana. Ia selalu menyimpannya dan terkadang memandanginya dengan hati sedih.
Ia menoleh ke pintu, dan saat itulah Ting Ting masuk!
__ADS_1
Gadis itu tampak luar biasa cantik! Sejak dulu Ting Ting selalu cantik, namun kini ia bertambah jelita. Ia mengenakan pakaian berwarna merah jambu yang sangat indah, rambutnya dijalin sedemikian rupa menyerupai putri bangsawan, dan wajahnya amat cantik meski tanpa polesan. Kulitnya putih bersih dan memerah di bagian pipi, menambah pesona dirinya. Sepasang matanya yang bersinar bak bintang menatap mereka dengan gembira.
“Bibi Sui She! Ping-er!” seru Ting Ting dan bergegas menghampiri mereka.
“Ting Ting!” Sui She berdiri dan menyambut keponakannya dengan rangkulan hangat. Ouwyang Ping tersenyum di dekatnya.
Meng Huan—yang selalu mengikuti Ting Ting ke mana pun—muncul tak lama kemudian. Wajah tampannya berseri.
“Kalian semua datang!” serunya gembira. “Sayang sekali kalian baru datang sekarang sehingga tak sempat berjumpa Chien Wan.”
“Chien Wan? Chien Wan datang ke sini?” tanya Sen Khang.
“Betul. Kira-kira sebulan yang lalu.”
Sen Khang melirik Ouwyang Ping yang tampak agak resah.
Sung Cen melihat mereka berdua dan menghela napas. Lalu ia mengambil inisiatif untuk meredakan suasana dengan memperkenalkan putri dan keponakan-keponakannya kepada Ting Ting dan Meng Huan.
Tentu saja Ting Ting dan Meng Huan terkejut sekali melihat Fei Yu, dan semakin heran karena Fei Yu diperkenalkan sebagai keponakan Sung Cen. Rupanya selama ini Sen Khang memang tak pernah menceritakan hal tersebut kepada mereka.
Fei Yu meringis dan memberi salam.
Ting Ting dan Meng Huan membalasnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka tak ingin mengatakan apa-apa di depan orang-orang tua.
***
Selama beberapa hari ini mereka tinggal di Wisma Bambu. Sen Khang menyempatkan diri menjenguk ibu dan anak yang ditolongnya bersama Ouwyang Ping beberapa waktu yang lalu. Ibu dan anak itu tampak sehat dan bahagia. Mereka sangat gembira karena bisa bertemu lagi dengan kedua penolongnya.
Dalam beberapa hari ini, para pemuda dan pemudi itu mulai saling mengenal dengan lebih baik. Mereka mulai bergaul akrab satu sama lain. Namun setelah beberapa lama, mulai tampak ada antipati di antara mereka yang tidak dapat disembunyikan.
Karena tabiat mereka berbeda, mereka pun mengungkapkan ketidaksenangannya dengan cara yang berbeda pula. Meng Huan tidak pernah terang-terangan mengungkapkan kekesalannya karena ia memang selalu bersikap sopan. Sementara Fei Yu terbiasa selalu terus-terang dengan perasaannya, maka ia tidak pernah menyembunyikan ketidaksukaannya.
Ditambah lagi, Fei Yu cenderung suka menumpahkan kekesalan hatinya kepada siapa saja yang sedang berbicara kepadanya. Termasuk dengan Ting Ting sendiri, yang pernah mencoba mengakrabkan dia dengan Meng Huan.
Dengan demikian, bisa terlihat siapa yang selalu mendapat simpati dari yang lain.
Saat Fei Yu mendapat kesempatan untuk bicara dengan Ting Ting, Meng Huan selalu ada di sekitar mereka.
“Ada apa? Kau takut dia kuculik lagi?” tantang Fei Yu sinis.
Meng Huan terkejut disemprot seperti itu. “Aku tidak—“
“Kau ini sungguh menyebalkan!” dengus Fei Yu.
Wajah Meng Huan merah padam. Ia marah bercampur malu karena dikata-katai di depan Ting Ting. “Tuan Muda Chang, tolong jangan berkata seperti itu. Kalau kau tidak suka aku ada di dekat kalian, aku akan menyingkir.”
“Tunggu!” Ting Ting menengahi. Ia menatap Fei Yu dengan kesal. “Kau ini kenapa sih? Selalu mencari gara-gara!”
“Kenapa kau malah membelanya?” seru Fei Yu kesal sambil menuding Meng Huan.
“Tentu saja aku membelanya!” Ting Ting meradang. “Kakak Huan itu kakak seperguruanku. Sedang kau... kau....”
“Aku apa?”
__ADS_1
“Kau dulu pernah menculikku! Kau ini... bajingan!” Sesaat kemudian Ting Ting menutup mulutnya sendiri, tak percaya ia mengatai Fei Yu seperti itu. Ia menyesal dan hendak minta maaf.
Fei Yu terpaku, rahangnya mengeras. “Baiklah, aku memang bajingan!” katanya. Lalu pandangan matanya yang terpukul berubah sinis. “Jangan salahkan aku kalau aku berbuat macam-macam suatu hari nanti. Kau sendiri kan yang bilang aku bajingan?”
Tanpa menunggu tanggapan Ting Ting, ia langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Hanya A Nan dan Siu Hung yang selalu mendukung Fei Yu. Mereka melihat pertengkaran itu dan bergegas menyusul Fei Yu untuk menenangkannya.
Fei Yu menumpahkan kekesalan hatinya dengan marah-marah seorang diri di hutan. Ia menoleh ketika mendengar suara orang berlari. Dilihatnya A Nan dan Siu Hung datang menyusulnya.
“Tuan Muda!”
“Mau apa ke sini? Tidakkah kaulihat aku sedang kesal?” bentak Fei Yu.
“Tuan Muda, marah-marah tidak akan menyelesaikan masalah.”
“Setidaknya kekesalanku reda!”
“Kekesalan Tuan Muda berhubungan dengan Nona Ting Ting, karena dia tidak mengerti perasaan Tuan Muda. Menurut saya, seharusnya Tuan Muda berterus-terang padanya,” usul A Nan.
“Apa yang harus kukatakan?” sentak Fei Yu kesal.
“Bahwa kau suka dia, tentu saja!” sela Siu Hung lucu.
Wajah Fei Yu merona. “Siapa bilang aku suka dia!”
Siu Hung tertawa. “Ih, lucunya! A Nan, dia tidak sadar mukanya merah seperti kepiting rebus!”
“Diam kau, Anak bandel!” Fei Yu mengumpat dan mengulurkan tangan untuk menjewer telinga Siu Hung.
Siu Hung berlari ke belakang A Nan, bersembunyi sambil terus menjulurkan lidah meledek Fei Yu.
A Nan tersenyum lembut. “Tuan Muda, kau kan sangat menyukai Nona Ting Ting. Tapi kalau kau tidak mencoba mendekatinya dan berterus-terang, mana mungkin dia tahu kalau kau suka padanya? Apa kau rela dia menikah dengan Chi Meng Huan?”
Fei Yu mendengus. “Chi Meng Huan tidak pantas untuknya!”
“Tapi dia lebih lembut dan memperhatikan Nona Ting Ting,” sambung A Nan. “Kami kaum perempuan cenderung menyukai lelaki yang memperhatikan kami ketimbang yang bersikap ketus dan galak setiap kali bicara dengan kami.”
“Kalau begitu kalian semua buta!” tukas Fei Yu galak.
“Mungkin saja,” gumam A Nan.
“Ah sudahlah!” Fei Yu berbalik dan pergi meninggalkan A Nan dan Siu Hung yang saling berpandangan.
Fei Yu pergi ke taman belakang tempat ia dan Ting Ting bertengkar beberapa saat yang lalu. Ia mengira saat ini Ting Ting sudah pergi dari sana, namun dugaannya ternyata keliru. Ia menghentikan langkahnya melihat Ting Ting sedang berdiri di sana seorang diri. Di antara bunga-bunga yang beraneka warna dan harum.
Ia berhenti melangkah dan diam di tempat, tanpa sadar mengeluh dalam hati. Ting Ting semakin cantik saja, pikirnya. Cinta yang dipendamnya selama dua tahun kini semakin melimpah. Ia punya banyak cinta dalam hatinya untuk gadis ini, ia hanya tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya.
Ting Ting menegang saat menyadari bahwa dirinya tidak sendirian. Ia menoleh dan mendapati Fei Yu ada di sana, berdiri mematung di tepi taman. Wajahnya muram dan kesal. Pertengkaran tadi masih terbayang dalam ingatannya.
“Fei Yu, sedang apa kau di sana?” tegurnya.
“Tidak apa-apa!” elak Fei Yu. Lalu ia berbalik dan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Ting Ting merengut kesal melihatnya.