Suling Maut

Suling Maut
Chien Wan Sembuh


__ADS_3

Dewa Obat berkelebat dan menarik Ouwyang Ping keluar dari tempat itu.


“Guru, ada apa?” Sen Khang menghampiri.


“Tanaman itu mengandung racun. Yang paling kuat terdapat pada bunganya. Kita baru bisa memetiknya bila sudah mengoleskan penawar pada kulit telapak tangan.”


Ouwyang Ping terperangah. “Beracun? Padahal bunga itu indah sekali!”


“Itu tanaman Bunga Dewi Siluman. Bahan penting dalam pembuatan racun mematikan.”


“Apa yang akan terjadi bila kita sampai terkena racunnya, Guru?” tanya Sen Khang.


“Menyentuh kelopak bunga itu sama saja seperti menyentuh bara, dan lebih menyakitkan. Setelah itu, kulit yang tersentuh akan gosong dan akan terus menyebar ke sekujur tubuh sampai ajal datang menjelang.”


“Ya Tuhan!” seru Ouwyang Ping ngeri. Untung ia belum sempat menyentuhnya.


Siu Hung dan Tuan Ouwyang datang bersama Dewa Obat dan melihat ke sekeliling.


Tuan Ouwyang tidak tampak terkesan, namun Siu Hung sebaliknya. Ia tampak senang sekali melihat semua tanaman aneh yang memenuhi taman itu.


“Wah! Buah-buahan di sini kelihatannya lezat sekali!” serunya.


“Kau mau?” tanya Dewa Obat.


“Ya!”


“Ha ha ha ha!” Dewa Obat melompat dengan gerakan sangat ringan ke sebuah pohon yang sarat dengan buah-buahan merah yang bergelantungan. Gerakannya sangat cepat dan ringan, seolah tubuhnya tak memiliki bobot. Tangannya bergerak cepat menyambar satu buah merah itu. Lalu ia melemparkannya ke arah Siu Hung yang sedang sibuk bertepuk tangan.


Karena lemparannya meleset jauh, Siu Hung jumpalitan menangkapnya. Ilmu ringan tubuhnya cukup tinggi. Namun yang paling mengagumkan adalah refleksnya. Ia dapat bergerak secara otomatis dengan kecepatan dan kesigapan yang mengagumkan.


Dewa Obat mendarat dan memperhatikannya dengan takjub. Seperti dugaannya, gadis itu memiliki bakat yang luar biasa! Ia mendengus iri pada Tuan Ouwyang yang hanya menyeringai puas.


Siu Hung mengomel sambil melihat tangannya yang berlepotan air buah. Saat ia menangkapnya, tekanan tangannya menyebabkan buah itu hancur. Akibatnya buah itu tak dapat dimakan lagi.


“Kenapa Kakek Pai tidak memperingatkan aku? Lihatlah! Buahnya jadi hancur!”


Dewa Obat terkekeh. “Kalau begitu kau ambil saja yang lain. Kelompok tanaman buah di sebelah selatan itu semuanya bisa dimakan dan rasanya sangat lezat pula,” suruhnya.


Dengan girang Siu Hung melangkah dan memetik buah-buahan itu. Ia memetik beberapa supaya semua orang kebagian juga.


“Buah itu tidak beracun, kan?” Tuan Ouwyang memelototi Dewa Obat dengan curiga. “Jangan-jangan kau mau meracuninya supaya dia tidak bisa lagi jadi muridku!” tuduhnya galak.


Dewa Obat memandang jengkel. “Bisa-bisanya kau bilang begitu!”


“Huh!”

__ADS_1


Sen Khang dan Ouwyang Ping berpandangan cemas. Gawat, pikir mereka. Kalau dibiarkan, bisa-bisa kedua orang tua itu bertengkar lagi!


“Guru, itu buah apa? aku belum pernah melihat buah seperti itu,” kata Sen Khang mengalihkan pembicaraan.


“Itu Persik Darah.”


“Persik Darah?” gumam Sen Khang takjub.


“Buah itu dinamakan seperti itu karena warnanya merah menyerupai darah. Namun walau namanya agak menyeramkan seperti itu, buahnya sendiri amat manis dan enak. Buah ini sangat langka, hampir tidak bisa ditemukan di daerah mana pun,” jelas Dewa Obat.


“Wah!” Ouwyang Ping ikut kagum. Saat Siu Hung mendekat dengan tangan penuh buah, ia mengambil satu dan mengamatinya. Bentuk buah itu tak berbeda dari persik biasa yang warnanya putih bersemu merah muda. Namun warnanya benar-benar merah seperti darah.


“Enak!” seru Siu Hung dengan mulut penuh buah. “Sayangnya Kakak Ouwyang tak bisa merasakan buah seenak ini, ya?”


Perkataan Siu Hung membuat Tuan Ouwyang teringat sesuatu. “Tin Fung, cucuku punya cacat pada indera perasanya. Dia tak bisa merasakan apa-apa pada lidahnya. Menurutmu, apa kau bisa menyembuhkannya?”


Dewa Obat menggeleng. “Aku juga sudah memeriksanya kemarin. Lidahnya diselubungi semacam selaput tipis yang menghalangi kepekaan akan rasa. Cacat itu adalah cacat bawaan, tidak bisa diobati.”


Tuan Ouwyang merengut.


“Ngomong-ngomong, mana Kakak Ouwyang dan Kui Fang?” tanya Siu Hung.


“Ke pantai,” jawab Ouwyang Ping.


“Dia sudah benar-benar sehat. Tak apa-apa kalau dia mau jalan-jalan ke pantai!” bantah Dewa Obat.


“Aku tak begitu yakin dengan kemampuanmu!” dengus Tuan Ouwyang.


“Lalu kenapa kau datang ke sini?” Dewa Obat menatap dingin.


“Gara-gara Sung Han! Dia yang menyuruh Chien Wan dibawa ke sini!”


“Hei!” Siu Hung berkacak pinggang. “Jangan bawa-bawa ayahku, ya!”


“Sung Han? Maksudmu murid adik seperguruanku yang sekarang menjadi Ketua Persilatan adalah ayahmu?” tanya Dewa Obat pada Siu Hung.


“Betul!”


“Bagus sekali! Kalau begitu, kau termasuk cucu keponakanku!” Dewa Obat tertawa senang dan menatap Tuan Ouwyang penuh kemenangan. Hatinya senang karena murid Tuan Ouwyang masih bisa dibilang kerabatnya juga.


Tuan Ouwyang cemberut dan memelototi Siu Hung yang dianggapnya telah membuka rahasia.


Lamat-lamat, suara musik yang begitu merdu terdengar dari arah pantai. Lagu yang amat memikat terdengar begitu indah di telinga mereka walau hanya samar-samar. Mereka semua tercengang mendengarnya, terutama Ouwyang Ping. Lagu itu adalah lagu ciptaan Chien Wan! Artinya kemampuan Chien Wan meniup suling benar-benar telah pulih!


“Kita ke pantai!” ajak Tuan Ouwyang.

__ADS_1


Mereka segera berlari ke arah pantai.


***


Chien Wan dan Kui Fang berada di tepi pantai yang berpasir putih dan berkarang-karang besar. Mereka duduk di atas batu karang besar yang menghadap ke laut. Angin bertiup cukup keras menerpa mereka. Rambut mereka melambai-lambai tertiup angin, pakaian mereka berkibar—termasuk selendang sutra Kui Fang.


Awalnya mereka berniat duduk dan diam saja memandangi lautan luas yang airnya berwarna biru gelap. Chien Wan ingin memandang langit bersih yang terhampar menaungi permukaan air laut, mendengarkan debur ombak yang memecah di batu karang, melihat burung camar yang beterbangan. Ia ingin menikmati segala hal yang terbentang di hadapannya.


“Kakak Wan, apa kau bisa meniup sulingmu?” tanya Kui Fang lembut.


Kui Fang memang orang yang paling mengerti dirinya. Chien Wan tersenyum pada gadis itu dan meraih suling yang disimpannya di balik jubah. Saat ini perasaannya amat tenang dan damai. Secara alamiah ia mulai meniup lagu ciptaannya, dimainkannya dengan penuh perasaan.


Lagu yang amat indah mengalun seolah menentramkan seisi pulau. Bahkan suara indah yang dihasilkan telah menenggelamkan suara deburan ombak. Semua benda berhenti bergerak karena meresapi musik yang amat indah. Musik para dewa! Begitu julukan Tuan Ouwyang terhadap musik cucunya.


Sepasang mata Kui Fang berkaca-kaca. Ia selalu terpesona bila mendengarkan permainan suling Chien Wan, namun tak pernah perasaannya begitu terharu seperti saat ini. Kebahagiaan melanda jiwanya. Kemampuan Chien Wan telah pulih kembali. Suling Maut telah kembali!


Yang lain tiba di pantai. Mereka terdiam, tak berani mengusik keseriusan Chien Wan dalam meniup sulingnya. Mereka ikut menikmati dan meresapi keindahan musik Chien Wan. Mereka semua, kecuali Dewa Obat, sudah pernah mendengarkan lagu itu. Namun tetap saja mereka terpesona.


Dewa Obat hampir berteriak. Chien Wan lebih berbakat dari pada Tuan Ouwyang sendiri!


Chien Wan menyudahi permainan sulingnya. Ia menghela napas dalam. Perasaannya menjadi lega. Ia merasakan ketenangan dan kedamaian luar biasa yang hampir tak pernah dirasakannya selama ini. Apalagi sejak peristiwa yang menimpa Wisma Bambu. Dilihatnya Kui Fang yang duduk di sampingnya, tampak begitu terharu. Dengan sayang, ia menepuk tangan gadis itu. Sejenak tak ada yang bersuara. Chien Wan dan Kui Fang tak tahu bahwa mereka tengah disaksikan oleh Tuan Ouwyang dan yang lainnya.


Tiba-tiba, terdengar suara tepukan tangan memecah keheningan. Keduanya segera membalikkan tubuh dan melihat semua orang ada di sana. Tuan Ouwyang tersenyum penuh kepuasan sambil mengangguk-angguk. Ouwyang Ping menatap dengan mata berkaca. Di sisi gadis itu, berdiri Sen Khang yang mengacungkan ibu jari sambil mengedipkan mata. Siu Hung-lah yang tadi bertepuk tangan dengan gembira. Sementara Dewa Obat tampak mengangguk senang.


“Kalian semua....” Chien Wan merasa terharu melihat dukungan mereka semua terhadapnya.


“Kakak Wan.” Kui Fang menggamit lengannya, mengajak turun.


Chien Wan melompat turun dan membantu Kui Fang turun juga. Lalu mereka berdua menghampiri orang-orang yang berkerumun di pantai.


“Kakak Wan!” Ouwyang Ping menghampiri kakaknya dan menggenggam tangannya erat-erat.


Chien Wan tersenyum sambil meremas tangan adiknya sesaat.


“Ping-er.”


“Kakak sudah pulih kembali!”


Chien Wan mengangguk.


“Kalau begitu, mulai besok kalian bisa mulai latihan!” potong Dewa Obat. “Sudah cukup banyak waktu terbuang.”


“Baik!” Sen Khang tertawa.


***

__ADS_1


__ADS_2