
Kedatangan Sung Cen dan rombongan disambut hangat oleh seluruh keluarga Ouwyang yang ketika itu tengah berkumpul di ruang duduk. Tuan Ouwyang tidak kelihatan di sana karena seperti biasa, orang tua itu sibuk dengan urusannya sendiri. Ouwyang Kuan bersama istri dan kedua anaknya tengah duduk dan bercakap-cakap ringan. Mereka gembira melihat kepulangan Sung Cen. Mereka mempersilakan Sung Cen dan rombongannya duduk dan bercakap-cakap dengan mereka sambil menyantap makanan kecil. Sementara A Nan dengan tahu diri pergi ke belakang bersama Hauw Lam.
“Jadi ini putrimu, Sung Cen.” Ouwyang Kuan tersenyum pada A Ming yang tampak canggung. Senyumnya ramah dan hangat membuat kecanggungan A Ming hilang.
“Benar,” sahut Sung Cen bangga.
Sui She menatap gadis berpakaian hijau itu dengan lembut. “Siapa namamu, Nak?”
“A Ming, Nyonya. Nama saya Sung Lien Ming.”
“Jangan panggil nyonya. Panggil saja aku bibi. Kukira usiamu tidak jauh beda dengan putri kami Ping-er,” kata Sui She sambil meraih tangan Ouwyang Ping yang duduk di sisinya.
“Putriku lebih tua dari Ping-er,” sela Sung Cen. “A Ming hanya beberapa bulan lebih muda dari Chien Wan.”
Ouwyang Ping tidak banyak bicara. Ia masih agak sukar memulai percakapan dengan Sung Cen. Bagaimana pun peristiwa menyakitkan dua tahun lalu masih membekas dalam ingatannya dan Sung Cen-lah yang menyebabkannya. Maka ia diam saja dan hanya menyimak percakapan di sekitarnya.
Ia agak terkejut melihat kedatangan rombongan itu. Apalagi ternyata sebagian besar dari mereka sudah dikenalnya. Ia mengenali Chang Fei Yu dan Sung Siu Hung. Ia cukup senang bertemu mereka lagi walau sesungguhnya ia masih belum paham akan hubungan antara kedua orang itu dengan Sung Cen.
Tetapi baru kali ini ia melihat A Ming. Gadis itu pendiam dan agak asing dengan suasana sekitarnya. Ouwyang Ping terus mengamatinya.
Mendadak pandangan mata A Ming bersirobok dengan mata Ouwyang Ping. Kedua gadis itu berpandangan dengan dalam. Masing-masing mempunyai dugaan tersendiri tentang lawan pandangnya.
Ketika itulah A Lee memutuskan bahwa ia bosan dengan percakapan orang-orang dewasa itu dan merayap turun dari pangkuan kakaknya. Ia melangkah tertatih-tatih menuju ke pintu depan.
Sesaat tak ada yang memperhatikannya, namun Siu Hung—yang juga mulai bosan dengan semua basa-basi itu—melihat anak itu. Secepat kilat gadis itu berlari ke arah pintu dan menangkap A Lee.
A Lee tertawa keras saat Siu Hung mengayunkannya ke atas kepalanya.
Semua orang menoleh mendengar suara tawa A Lee.
Ouwyang Ping menghampiri mereka. “A Lee, sejak kapan kau ada di sini?” tegurnya. Ia menatap Siu Hung. “Untung kau melihatnya keluar.”
“Aku bosan!” celetuk Siu Hung riang. “Dan dia sama bosannya seperti aku. Boleh kuajak dia keluar?”
“Ayo kita keluar sama-sama.” Ouwyang Ping menoleh pada ayah dan ibu tirinya. “Ayah, Ibu, kami keluar dulu. Permisi, semuanya.”
Sen Khang memandangi kepergian ketiganya. Ia mengeluh dalam hati. Sesungguhnya yang paling diinginkannya adalah pergi juga bersama Ouwyang Ping. Tetapi ia tahu, tidak sopan meninggalkan percakapan ini begitu saja.
Agaknya Ouwyang Kuan paham betul perasaan Sen Khang. “Lebih baik kau mengajak Fei Yu dan A Ming berjalan-jalan, Sen Khang. Biar kami yang tua-tua ini melanjutkan pembicaraan,” suruhnya.
Senyum Sen Khang mengembang. “Baik, Paman.”
Mereka bertiga keluar dan menyusul Ouwyang Ping dan Siu Hung.
***
Ouwyang Ping duduk di atas gundukan rumput di kaki bukit sebelah selatan Lembah Nada yang luas dan sejuk. Ia memetik harpanya dengan penuh konsentrasi mendentingkan nada-nada indah dan merdu, memainkan lagu lembut yang mempesona. Lagu itu mengiringi Siu Hung yang tengah melompat-lompat lincah bak kancil sambil menjunjung A Lee di bahunya.
A Lee tertawa keras-keras, merasa girang dengan permainan baru ini. Ia dan Siu Hung langsung lengket seolah sudah lama saling mengenal. Salah satu tangan gemuknya sibuk melambai-lambai sementara yang satu lagi mencengkeram rambut Siu Hung untuk berpegangan.
“Hiyyaaa!” Siu Hung mulai berderap seperti kuda dan itu membuat anak itu semakin girang.
__ADS_1
Sen Khang dan yang lainnya datang ke sana dan melihat pemandangan itu. Mereka merasa geli melihat Siu Hung bertingkah seperti itu.
Sen Khang duduk di samping Ouwyang Ping diikuti oleh kedua temannya.
“Kau tidak khawatir anak itu menjatuhkan adikmu?” tanya Sen Khang sambil tertawa memandangi kelakuan Siu Hung.
Ouwyang Ping menggeleng. Pandangan matanya begitu lembut kala memandangi adiknya. “Siu Hung memegangi A Lee baik-baik. Lagi pula aku kan mengawasi mereka.”
“Ya, kau tinggal terbang menyambut adikmu jika mereka terjatuh,” goda Sen Khang.
“Terbang?” dengus Fei Yu. “Mana ada manusia yang bisa terbang?”
“Kau sendiri bergerak seperti terbang ketika mengacau pertemuan para pendekar dulu,” ledek Sen Khang.
Fei Yu agak tersipu. “Itu bukan terbang!” elaknya. “Itu ilmu ringan tubuh tingkat tinggi!”
“Ping-er sekarang sudah mampu menandingimu. Kau hati-hati saja, Fei Yu!” goda Sen Khang. “Dia juga belajar dari Kelelawar Hitam!”
Mata Fei Yu terbelalak. “Benarkah?” serunya. “Kalau begitu kau masih bisa dibilang adik seperguruanku!”
Ouwyang Ping tersenyum kecil. “Betul.”
“Bagus kalau begitu!” Fei Yu mengangguk-angguk. “Tentunya sebagai kakak, aku bisa menguji ilmu silatmu!”
“Boleh.”
Fei Yu berdiri dan mengulurkan tangan, mengajukan tantangan. “Kalau begitu, mengapa tidak sekarang saja?”
Ouwyang Ping menghentikan petikan harpanya. Ia berdiri. “Apa persyaratannya?”
“Hanya itu?”
“Tadinya aku ingin kau tidak menggunakan harpa, tapi kemudian aku ingat bahwa semua ilmu orang Lembah Nada pasti berhubungan dengan alat musik. Maka kau boleh menggunakan harpa dan aku akan memakai kipasku. Bagaimana?” Fei Yu menyeringai.
Ouwyang Ping mengangguk anggun.
Sen Khang ikut berdiri. “Hei, kalian serius, ya?”
“Tentu!” angguk Fei Yu.
Siu Hung melompat-lompat mendekat dengan mata berbinar. “Kalian mau bertarung, ya? Aku ikutan, ya?”
“Kau menonton saja!” suruh Fei Yu tegas. Siu Hung mencibir.
“Ping-er....” Sen Khang mencoba menghalangi.
“Kakak Luo, kau bawa Siu Hung dan Nona Ming serta A Lee ke pinggir, ya? Bila suara harpaku terlalu memekakkan, kau sumbat telinga mereka dengan sumbat khusus. Kau membawanya kan?” tanya Ouwyang Ping.
Sen Khang menatapnya dan melihat semangat yang tidak pernah dilihatnya semenjak mereka bersama-sama lagi. Ia pun mendesah dan mengangguk. “Baiklah, akan kubawa mereka menyingkir.”
Fei Yu melompat ke tengah lembah dengan gerakan yang sangat ringan, nyaris seperti melayang. Ia mencabut kipas yang diselipkan ke ikat pinggangnya dan membuka lipatannya, lalu mulai mengipas-ngipas dengan ekspresi mengejek.
__ADS_1
Ouwyang Ping menyusul dengan gerakan yang sama ringannya. Ia bersiap-siap dengan harpanya.
“Bersiaplah, Ouwyang Ping! Aku tidak akan setengah-setengah!”
“Aku juga tidak.”
Mereka bergerak bersamaan. Gerakan mereka sangat indah dan lentur, seolah-olah sedang menari. Ilmu ringan tubuh Fei Yu yang luar biasa dan selama ini nyaris tidak dapat ditandingi kini mendapat imbangannya. Ouwyang Ping mampu mengelak setiap serangan dan membalas dengan sama ringan dan cepat.
Semua yang menonton terpana dan terpukau. Mereka seperti bukan sedang menyaksikan pertarungan, melainkan menonton pertunjukkan tari. Siu Hung melompat-lompat menyemangati.
“Ayo, Fei Yu! Ayo, Ping-er! Hebat!” teriak Siu Hung kagum.
“Bat!” A Lee ikut-ikutan.
Sen Khang terperangah melihatnya. Dua tahun lebih yang lalu, kepandaian Fei Yu belum seperti ini. Mereka dulu seimbang dengan Fei Yu yang lebih unggul dalam ilmu ringan tubuh. Kini Fei Yu tampak sangat maju. Rupanya selama dua tahun ini Fei Yu banyak berlatih dan berhasil menguasai ilmu-ilmu keluarganya yang rumit dan sakti. Sekarang jika mereka bertarung lagi, belum tentu ia mampu menandinginya. Dan Ouwyang Ping... ia tak menduga sama sekali ternyata kemajuan gadis itu sepesat ini! Kepandaian gadis itu sangat luar biasa!
Gerakan mereka yang demikian cepat nyaris tak mampu diikuti oleh A Ming. Ia hanya mampu melihat kelebatan baju emas dan putih yang dipakai Ouwyang Ping dan Fei Yu. Ia tidak berlatih ilmu silat dengan baik. Di biara ia tidak mendapat pendidikan kungfu. Baru dua tahun ini ia berlatih. Menurut pamannya, ia cukup baik. Kini melihat Fei Yu dan Ouwyang Ping, ia tahu dirinya bukan apa-apa. Mau tak mau ia kagum sekali. Ternyata sepupunya Fei Yu begitu luar biasa!
Setelah beberapa lama, tampaklah bahwa Fei Yu lebih unggul dalam pertarungan jarak dekat. Ia sering mendapat kesempatan untuk melumpuhkan Ouwyang Ping. Dalam pertarungan yang sebenarnya, ia pasti sudah melumpuhkan gadis itu. Namun karena ini hanya pertandingan biasa, ia pun menahan serangannya.
Ouwyang Ping sendiri menyadari keunggulan Fei Yu. Jika mereka terus bertarung dalam jarak dekat, tak diragukan lagi ia akan kalah. Maka ia melayang menjauh dan mulai memetik harpanya.
Jari-jemari Ouwyang Ping yang lentik mulai menyentuh dawai harpa. Terdengarlah denting nada pertama, dan seterusnya terdengarlah alunan nada indah yang tercipta. Namun lama-kelamaan, nada yang indah dan merdu berubah menyeramkan. Bunyinya sangat mengerikan bagai alunan irama kematian yang mencekam. Tenaga dalam yang dikerahkannya menyebabkan angin bertiup kencang. Burung-burung beterbangan kian-kemari. Pohon-pohon di sekitar mereka bergoyang hingga daun-daunnya berguguran dan beterbangan.
Konsentrasi Fei Yu terganggu. Bunyi itu menyakitkan telinganya dan semakin lama semakin menyakitkan. Ia pun bersila dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi pendengarannya, menutup saluran telinganya supaya bunyi itu tidak menyakitinya.
Sen Khang mulai bertindak begitu mendengar denting pertama. Dibagikannya sumbat telinga pada A Ming dan Siu Hung, ia memakaikan sumbat itu pada A Lee. Ia sendiri pun mulai berkonsentrasi mengerahkan tenaga dalam.
Puncaknya, Ouwyang Ping mendadak melesat dan terus mendentingkan harpa. Bunga api berpendar setiap kali ia memetik. Bunga api itu melesat bagai anak panah dan menuju Fei Yu yang sementara itu sudah waspada. Dengan kipasnya ia mengibas dan menangkis kedatangan bunga api itu. Setiap tangkisan mengakibatkan ledakan kecil.
Akhirnya mereka berhenti. Angin berhenti bertiup dan daun-daun yang tadi beterbangan mulai berjatuhan di sekeliling mereka bagai hujan.
Penonton mereka ternganga, merasa kagum dan juga ngeri.
Siu Hung-lah yang mula-mula tersadar dari keterpanaannya. Ia langsung bersorak dan berlari menghampiri mereka sambil mencabut sumbat telinganya. “Hebat sekali!” serunya girang. Ia meninju bahu Fei Yu dengan main-main. “Kalau aku tahu kau sehebat ini, aku akan minta kau mengajariku!”
Fei Yu menatap ngeri. “Astaga! Sampai dunia runtuh pun aku tak mau jadi gurumu!”
Siu Hung memberengut. “Kenapa?”
“Kaupikir aku tidak tahu kelakuanmu pada guru-guru yang pernah mengajarimu? Mereka kebanyakan hanya bertahan beberapa minggu sebelum akhirnya memohon untuk pergi! Mereka bilang, kau adalah murid paling mengerikan yang pernah mereka temui!”
“Apa kaubilang?” Siu Hung melompat dan memukul-mukul lengan Fei Yu dengan galak. “Aku ini kan sangat luar biasa! Apanya yang mengerikan? Kau mengada-ada! Dasar anak Dewa Seribu Wajah! Ayahmu punya seribu wajah, kau punya seratus wajah! Dua ratus, tiga ratus wajah. Sini kau! Kubuat wajahmu kembali normal, hanya satu!”
Fei Yu berlari-lari menghindari pukulan itu sambil terbahak.
Selama dua tahun ini, Fei Yu akrab sekali dengan Siu Hung. Siu Hung sering pergi ke Bukit Merak. Pada ayahnya ia mengatakan ingin bertemu dengan sepupunya, A Ming. Namun kenyataannya ia selalu bersama Fei Yu. Fei Yu sangat menyukainya. Siu Hung bagaikan adik yang tak pernah dimilikinya. Kekecewaannya karena sepupunya sendiri begitu pendiam, terobati dengan kehadiran Siu Hung. Gadis remaja itu datang, merecoki latihan kungfunya, mencampuri setiap urusannya, dan menjadi rekannya dalam mengerjai Cheng Sam. Ia kesal jika Siu Hung datang dan merecokinya, namun jika ia tidak datang Fei Yu akan bertanya-tanya, bahkan menyusulnya ke Kota Lok Yang.
Sen Khang tertawa memperhatikan mereka. Lalu ia menghampiri Ouwyang Ping.
“Luar biasa, Ping-er!” pujinya. “Aku tidak menyangka ilmu silatmu maju secepat ini. Sekarang aku tidak yakin apakah aku bisa menandingimu!” Sepasang matanya bersinar menatap gadis itu.
__ADS_1
Ouwyang Ping hanya tersenyum tipis dan tak mengucapkan sepatah kata pun.
A Ming memperhatikan mereka berdua bergantian. Sebuah pengertian melintas di benaknya, membuatnya terluka.