Suling Maut

Suling Maut
Cheng Sam Kembali Lolos


__ADS_3

Cin Mei tersadar di dalam sebuah kamar. Ia mengenali kamar itu sebagai kamarnya sendiri. Hanya bedanya, setelah seminggu tidak ditempatinya, kamar itu menjadi jauh lebih berantakan dan berbau aneh. Ia terbaring di atas pembaringannya sendiri yang sekarang entah mengapa membuatnya jijik.


Pria gempal tadi ada di dekatnya, memandanginya dengan mata liar.


Cin Mei sangat takut. Ia bangun beringsut ke pojok sambil menutupi dadanya dengan kedua tangannya, melindungi dirinya. Ia masih berpakaian lengkap, namun tetap saja pandangan mata pria itu membuatnya telanjang.


“Mau apa kau? Pergi!” jeritnya ketakutan.


Pria itu mendekat dan duduk di tepi pembaringan. “Jangan begitu, Manisku. Aku akan baik padamu,” rayunya.


“Tidak! Pergi!” Cin Mei semakin ngeri melihat pria itu begitu dekat dengannya.


Pria itu tidak menanggapi ketakutan Cin Mei, malah semakin senang melihatnya begitu. Ia mengulurkan tangan dan membelai pipi halus gadis itu. Gadis itu sangat jijik dan ia menepiskan tangan itu. Namun pria itu semakin gemas dan menyerbu menubruk gadis itu.


“Tidaaaakk!!!”


BRAK!


Pintu kamar terbuka dan masuklah dua orang laki-laki. Salah satunya langsung merenggut tubuh gempal itu dan mendorongnya menjauh. Pria gempal itu menoleh dan hendak menyerang namun langkahnya terpaku melihat siapa yang mendorongnya itu. Seketika tubuhnya meremang.


Pendekar Yang segera menolong Cin Mei dan menyelimuti tubuhnya yang terbuka karena pakaiannya disobek pria itu. Cin Mei menangis terisak-isak, lega bercampur takut.


“Suling Maut!” seru pria itu tanpa sadar.


Dan Chien Wan pun yakin.


“Senang bisa berjumpa lagi, Cheng Sam.”


Pria itu terpaku. “Dari mana...?”


“Kau boleh mengubah wajahmu. Tetapi aku tidak akan pernah melupakan suara dan bentuk tubuhmu. Cheng Sam. Pengkhianat Bukit Merak. Pembuat malapetaka di Wisma Bambu.”


Cheng Sam lupa bahwa dia seharusnya tidak kenal Chien Wan.

__ADS_1


“Bukannya itu kau sendiri, Ouwyang Chien Wan?” serunya sinis.


Chien Wan mencabut sulingnya dan melompat dengan gerakan luar biasa. Cheng Sam tidak siap sama sekali ketika tangan Chien Wan melayang ke arah rahangnya tepat di bawah telinga.


Bret!


Topeng kulit itu sobek dan tampaklah wajah asli Cheng Sam yang basah berkeringat. Ternyata topeng kulitnya tidak mampu menyerap keringatnya sehingga keringat yang memenuhi wajahnya saat ini mengumpul di balik topeng.


Chien Wan memandangi wajah licik itu dengan mata menyipit.


“Keparat!” Cheng Sam hendak menyerbu Chien Wan. Namun seseorang masuk.


“Gawat, Tuan! Rombongan pendekar menyerbu!” lapornya setelah sesaat tertegun melihat Cheng Sam sudah kembali ke wajah asli.


“Goblok semua!” bentak Cheng Sam.


“Termasuk kau, Cheng Sam,” kata Chien Wan dingin. “Sekarang, ikut aku ke Bukit Merak!” bentaknya. Ia melompat hendak merambet Cheng Sam dan menangkapnya. Namun Cheng Sam mengelak dan balas melancarkan serangan tangan kosong.


Pertempuran mereka berlangsung di dalam kamar itu dan memporakporandakan barang-barang di sana. Suling Chien Wan menderu-deru menyambar titik-titik berbahaya di tubuh Cheng Sam. Setiap kali suling itu bergerak, angin menembus ke tiap lubang, menimbulkan bunyi mendengung berirama. Bunyi itu semakin kuat setiap gerakannya.


Cheng Sam kewalahan. Ia tahu ia bukan tandingan Chien Wan. Maka ia mencelat keluar lewat jendela. Chien Wan tak mau melepaskannya dan ia pun melompat menyusul Cheng Sam.


Pendekar Yang dan Cin Mei berlari keluar untuk kembali menyaksikan pertarungan.


Ternyata halaman itu penuh dengan orang yang tengah bertarung. Para pendekar bertarung dengan seru melawan orang-orang Cheng Sam. Di antara orang-orang Cheng Sam, ada enam orang yang ilmu kepandaiannya begitu hebat. Enam orang itu mampu menandingi lawan-lawan dengan sangat luar biasa. Enam orang inilah yang membuat para pendekar itu kewalahan.


Kui Fang menyerang beberapa orang anak buah Cheng Sam dengan selendangnya yang meliuk-liuk luar biasa. Beberapa waktu ini ia memperdalam ilmunya dengan mempelajari beberapa jurus dari Chien Wan. Terbukti ia adalah murid yang sangat cerdas. Semua yang diajarkan Chien Wan mampu dikuasainya dengan baik. Ini sangat berguna dalam menuntaskan lawan-lawannya.


Chien Wan berhasil menangkap Cheng Sam dan membawanya ke tengah-tengah mereka semua. Ia baru akan mengumumkan tertangkapnya Cheng Sam tatkala matanya melihat seorang pria menyerang Kui Fang dari belakang. Tanpa mempedulikan Cheng Sam lagi, ia segera melompat menghalangi serangan itu.


Kui Fang menoleh dan melihat Chien Wan yang sedang bertarung di belakangnya.


“Kakak Wan!”

__ADS_1


“Hati-hati, Kui Fang!”


Kui Fang mengangguk dan segera berkonsentrasi melawan penyerangnya.


Chien Wan menatap sekelilingnya dan melihat pertarungan itu berlangsung dengan mulus. Cheng Sam dan orang-orangnya tampak kewalahan melawan rombongan Pendekar Sung yang merupakan pendekar-pendekar tangguh. Anak buah Cheng Sam telah dapat ditaklukkan, termasuk Cheng Sam sendiri. Namun enam orang di antara mereka masih bertarung dengan alot. Seorang di antaranya melawan Pendekar Sung, seorang lagi melawan Pendekar Fu, sedang empat sisanya mengeroyok Chien Wan.


Pertarungan antara Chien Wan dengan empat lawannya sungguh menakjubkan. Masing-masing lawan mengerahkan kepandaiannya memainkan senjata. Kepungan senjata yang bertubi-tubi mengancam keselamatan jiwa Chien Wan. Namun Chien Wan sendiri bergerak dengan amat mengagumkan. Sulingnya digunakannya seperti menggunakan belati. Tusukan ujung suling menyambar-nyambar ke titik mematikan di tubuh empat orang itu.


Namun Chien Wan hanya sendirian. Tak ada orang yang berani membantunya karena khawatir hanya akan merepotkan Chien Wan sendiri. Selain itu, sulit menembus kepungan senjata empat orang itu. Maka lama-kelamaan Chien Wan mulai terdesak. Ia pun mengerahkan senjata andalannya.


Ia melompat dan meniup sulingnya. Suara melengking menghunjam genderang telinga lawan, termasuk para penonton. Sebenarnya Chien Wan tidak bermaksud melukai yang lainnya. Ia meniup hanya untuk mengacaukan konsentrasi lawannya. Dan berhasil.


Empat lawannya berhenti menyerang untuk mengatur tenaga dalam dan menutup pendengaran mereka. Saat itulah Chien Wan menyerang mereka dengan totokan.


Semua lawan sudah berhasil dilumpuhkan.


Namun saat anak buah Pendekar Sung mendekati semua penjahat itu dan hendak meringkus mereka, muncul sesosok bayangan berkelebat dan langsung melontarkan sesuatu ke tengah-tengah mereka.


DUAR!


Sesuatu itu meledak membuat mereka semua terpaksa melompat menyingkir. Asap tebal menyelubungi mereka, membuat mereka terbatuk-batuk. Saat asap itu menipis, Cheng Sam dan beberapa anak buahnya sudah lenyap.


Chien Wan berlari hendak mengejar, namun langkahnya terhenti karena mereka semua sudah hilang tak berbekas. Ia mengepalkan tangan dengan geram. Cheng Sam lolos lagi!


“Kakak Wan!” Kui Fang menghampiri.


“Dia lolos,” geram Chien Wan penuh kemarahan.


Kui Fang mendesah.


Sisa anak buah Cheng Sam yang tertinggal segera diringkus dan disingkap penyamarannya. Ternyata mereka rata-rata adalah mantan anak buah Tuan Chang di Bukit Merak. Mereka mengaku ikut Cheng Sam karena diancam. Tentu saja pengakuan mereka tidak dipercaya begitu saja. Mereka digiring ke Kota Lok Yang.


Ketua Kam dan keluarganya sangat berterima kasih atas bantuan Chien Wan dan kawan-kawannya. Maka ia meminta mereka untuk tinggal sejenak di sana karena ia bermaksud menjamu mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2