
Ting Ting tengah berada di depan altar. Ia tengah termenung dan bercakap-cakap dengan ayah dan ibunya dalam hati. Itu biasa dilakukannya sejak ia tahu dirinya mengandung. Ia memasang hio dan berdoa untuk arwah orangtuanya dan anggota Wisma Bambu yang pergi bersama mereka. Ia tidak tahu bahwa saat ini di ruang tamu ada seseorang yang tidak pernah disangkanya akan datang.
“Ting Ting.”
Mendengar suara kakaknya, Ting Ting tersenyum dan menoleh ke belakang. Tetapi senyumnya pudar seketika saat ia melihat seseorang di samping kakaknya. Seseorang yang telah mengisi hatinya sepanjang masa remajanya. Seseorang yang telah memiliki seluruh cintanya. Seseorang yang selalu didambakannya. Akan tetapi juga seseorang yang paling tidak ingin ditemuinya saat ini karena rasa malu yang luar biasa.
Chien Wan menghela napas. Ia telah menduga reaksi Ting Ting akan seperti ini. Paras Ting Ting memucat, mulutnya menganga. Namun yang paling menyentuh adalah sorot matanya. Begitu penuh dengan derita, penyesalan, juga rasa malu.
“Ting Ting,” sapa Chien Wan, berusaha agar suaranya terdengar biasa.
Ting Ting menggeleng-geleng dengan dagu bergetar hebat. Air mata berjatuhan membasahi pipinya. “Ja... jangan! Jangan lihat aku! Jangan temui aku! Aku telah bersalah padamu!” jeritnya sambil mundur dan menabrak altar sembahyang. Sebuah papan arwah jatuh dan itu adalah papan arwah ayahnya.
Untunglah Chien Wan segera melompat dan menangkap papan arwah Tuan Luo sebelum menyentuh lantai.
Sen Khang mendekat dan merangkul tubuh adiknya. Dengan lembut ia berusaha menenangkannya. Dapat dirasakannya tubuh Ting Ting yang menggigil hebat. Ia mengerti perasaan Ting Ting yang begitu malu dan terguncang. Tuduhannya terhadap Chien Wan ternyata salah. Ting Ting begitu malu dan menyesal. Ia juga merasa terhina dan tidak pantas lagi berhadapan dengan Chien Wan.
“Ting Ting, sudahlah. Jangan bersikap seperti ini,” bujuk Sen Khang. “Chien Wan tidak menyalahkanmu, dia juga tidak membencimu. Dia datang karena ingin menyembahyangi orangtua kita, juga melihat kita. Melihatmu.”
Ting Ting masih menggigil di pelukan Sen Khang.
Chien Wan meletakkan papan arwah Tuan Luo di tempatnya. Lalu ia berlutut di samping Ting Ting.
“Ting Ting, aku tidak pernah membencimu. Lihatlah aku! Aku masih tetap Chien Wan yang dulu,” kata Chien Wan dengan suara tenang. Sama sekali tidak menampakkan perasaan apa pun selain kelembutan.
Perlahan-lahan Ting Ting mengangkat wajahnya. Dilihatnya Chien Wan yang berada dekat dengannya. Ya. Dia memang tidak berubah. Tetap Chien Wan yang dulu, yang selalu menghormati dan menyayanginya. Juga yang tidak pernah mencintainya.
“Ka... Kakak Wan! Kakak Wan!” Ting Ting menghambur dan menangis di dada Chien Wan. “Maafkan aku! Maafkan aku!” isaknya pilu.
Chien Wan menepuk-nepuk punggung Ting Ting. Tak sepatah kata pun ke luar dari mulutnya.
Semua orang memperhatikannya dengan penuh haru. Sui She dan Ouwyang Ping tak bisa menahan air matanya. Ouwyang Ping menggigit bibirnya, merasakan iba yang menghancurkan hatinya. Penderitaan Ting Ting amat berat. Mungkin ibunya benar, Chien Wan adalah satu-satunya orang yang bisa membahagiakannya.
Di antara semua orang yang tengah memperhatikan mereka, Kui Fang-lah satu-satunya yang tidak memahami semua yang tengah terjadi. Ia memperhatikan Ting Ting yang tengah menangis tersedu-sedu di dada Chien Wan. Perasaannya mulai tidak enak. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Chien Wan? Bagaimanakah kehidupan Chien Wan di masa lalu? Ia tidak enak karena dialah satu-satunya orang yang tidak memahami semua yang terjadi.
Beberapa saat kemudian, tangis Ting Ting mereda. Ia melepaskan pelukannya dan beringsut menjauh. Ia harus tahu diri. Ia bukan Ting Ting yang dulu, yang masih suci. Yang merasa berhak berada di dalam pelukan Chien Wan. Kini ia adalah gadis yang ternoda dan tengah mengandung anak haram. Ia tidak pantas berdekatan dengan Chien Wan.
Chien Wan menoleh mencari Kui Fang.
“Kui Fang, kau juga mau menyembahyangi paman dan bibiku?”
Kui Fang mengangguk.
Sen Khang menyulut hio dan memberikannya pada Chien Wan dan Kui Fang. Mereka berdua berdiri di depan altar dan memejamkan mata, mengucapkan doa dalam hati.
Ting Ting masih terisak saat memandangi mereka berdua. Di antara kesedihan dan keharuan hatinya, ia sempat memperhatikan perhatian yang diberikan Chien Wan kepada gadis itu. Ia juga memperhatikan tatapan lembut Chien Wan yang ditujukan pada Kui Fang, yang mungkin bahkan tidak disadari oleh Chien Wan sendiri.
Mendadak Ting Ting teringat keadaan dirinya sendiri. Ia mengutuk dirinya sendiri. Sekarang ia tak boleh mengharapkan apa-apa lagi.
__ADS_1
Kui Fang telah lebih dahulu selesai. Ia memberikan hionya kepada Sen Khang yang lalu menusukkannya di tempat hio. Ia menoleh dan pandangannya bertemu dengan Ting Ting. Sorot mata Ting Ting menyentuh hatinya karena begitu penuh duka dan kesedihan.
Ting Ting menunduk, menghindari tatapan mata gadis itu.
Chien Wan mendekati Kui Fang. “Kau sudah memperkenalkan dirimu?”
Kui Fang tersenyum. “Aneh, ya?” bilangnya pada Ting Ting. “Kita sudah beberapa kali bertemu, tapi belum berkenalan secara resmi. Aku Wu Kui Fang.”
Ting Ting mengangkat wajah dan berhasil memaksakan seberkas senyum tipis.
***
Malam telah tiba. Chien Wan melangkah ke tengah Hutan Bambu, menuju makam Sung Cen. Ia berlutut di depan makam yang saat ini sudah jauh lebih baik daripada dulu, menandakan seseorang sering mengunjungi dan membersihkannya. Pasti Sen Khang, pikirnya.
“Paman,” kata Chien Wan pelan. “Aku datang mengunjungimu.”
Suasana sunyi meliputi tempat itu. Chien Wan mengulurkan tangannya dan mengusap nisan kayu bertuliskan nama Sung Cen yang ditulisnya dengan darah.
“Akhir-akhir ini, aku ditimpa berbagai masalah. Aku yakin Paman juga sudah tahu. Aku bersalah karena membiarkan hal ini menimpamu,” kata Chien Wan lagi. “Paman telah melakukan banyak hal untuk keselamatanku di masa lalu, namun aku belum bisa membalas jasamu, Paman.
“Aku bahkan belum bertemu dengan putrimu. Bahkan aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Paman, aku berjanji akan mencarinya sampai ketemu dan membantunya menjalani kehidupannya....”
Chien Wan termangu. Ia tidak tahu mesti mengatakan apa lagi. Ia bukanlah orang yang pandai berkata-kata. Namun sejenak kemudian ia meraih sulingnya. Sung Cen-lah orang pertama yang memperkenalkannya pada keindahan musik, menanamkan kecintaannya pada alat musik itu.
“Paman, Suling Bambu Hitam ini adalah pemberianmu. Aku akan memainkan lagu pertama yang kuciptakan... hanya untukmu,” kata Chien Wan.
Suara suling yang merdu mulai mengisi keheningan malam. Seisi dunia seakan ikut menikmatinya. Burung malam menghentikan kicaunya, daun-daun berhenti bergoyang sehingga suara gemerisiknya lenyap, angin pun seolah berhenti berhembus. Lagu yang teramat merdu dan menyentuh. Begitu indah. Sesuai dengan keinginan Sung Cen semasa hidupnya, mendengarkan musik para dewa.
Tampak Ouwyang Ping melangkah mendekatinya. Harpa emasnya ada di tangan kirinya sementara jemari tangan kanannya yang lentik bergerak gemulai di dawai-dawai harpa. Ia melangkah perlahan dan pakaiannya yang berkilau berkibar walau angin hanya bertiup lemah. Ia benar-benar bagaikan seorang bidadari.
“Kenapa kau berhenti meniup, Kakak Wan?” tanya Ouwyang Ping, menyunggingkan senyum menawannya.
Perasaan Chien Wan berkecamuk tak menentu. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Kata-kata bukanlah keahliannya. Ia pun mengangkat sulingnya ke bibirnya dan mulai meniup dengan sepenuh perasaan.
Suara suling yang lembut dan indah berpadu dengan denting dawai harpa secara harmonis, menimbulkan irama lagu yang begitu menakjubkan. Lagu yang mengalun terdengar begitu mempesona. Menyejukkan jiwa. Mendamaikan raga.
Lagu usai dimainkan.
“Kakak Wan, kau makin pandai. Tiupan sulingmu semakin kuat dan penuh penjiwaan. Aku kagum padamu,” puji Ouwyang Ping tulus.
Chien Wan tersenyum tipis. “Kau juga.”
“Ilmu silatmu pasti mengalami kemajuan pesat. Kakek pasti melatihmu mati-matian.”
“Benar,” angguk Chien Wan. “Dan kau?”
“Selama ini aku belajar pada Kelelawar Hitam. Kau masih ingat dia?”
__ADS_1
Chien Wan mengangguk.
Mereka terdiam, tak tahu harus mengatakan apa lagi. Sudah lama sekali mereka tak berjumpa. Mereka merasa canggung. Dulu mereka berikrar sebagai sepasang sejoli. Kini kenyataan membuktikan bahwa mereka kakak-beradik. Hal-hal yang dahulu begitu menyenangkan untuk dibicarakan, kini tak patut diucapkan lagi.
Namun ada sesuatu yang berbeda. Kasih di antara mereka jelas tidak mungkin dapat dihilangkan. Masa lalu mereka juga tak bisa diubah. Namun ada sesuatu yang berubah dalam perasaan mereka masing-masing saat ini. Ternyata pertemuan tidaklah sesulit yang mereka bayangkan. Segalanya telah sirna. Asmara di hati mereka hanyalah kenangan semata. Hanya ilusi.
Dan mereka tidak pernah menyadarinya hingga saat ini. Saat mereka akhirnya berjumpa kembali.
Chien Wan menatapnya. “Ping-er, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
Ouwyang Ping mengangkat wajah dan menatap kakaknya. “Apa?”
Kebimbangan muncul di benak Chien Wan, namun ia mengeraskan hati. Bagaimana pun hal ini tidak bisa terus dibiarkan menggantung. “Selama ini aku sangat mengenalmu. Tadi begitu melihatmu aku langsung tahu. Kau sudah berhasil mengubah perasaanmu,” katanya pelan.
“Kakak Wan!”
Chien Wan tersenyum. “Mungkin kau sendiri tidak menyadarinya. Tetapi sekarang, di matamu aku bukan lagi Chien Wan yang dulu. Kenangan itu sudah berlalu. Sekarang bagimu aku adalah kakakmu. Dan aku senang, Ping-er. Karena aku pun demikian.”
Ouwyang Ping menatapnya dengan pedih. “Kau sudah bisa menganggapku adik?”
Chien Wan mengangguk. Ia mendesah. “Mulanya sangat sulit bagiku....”
“Bagiku juga, Kakak Wan!” potong Ouwyang Ping dengan berlinangan air mata. “Sulit sekali bagiku untuk melupakanmu dan menganggapmu hanya sebagai kakak. Mulanya aku memang tidak bisa menerima kenyataan ini. namun seiring dengan berlalunya waktu, aku sadar bahwa aku tidak bisa terus membiarkan perasaan itu. Karena bagaimana pun tulusnya, cinta kita yang lalu itu sangat terlarang.”
Chien Wan mengangguk lega. Ia tersenyum. “Dan orang yang berhasil menyadarkanmu adalah Sen Khang.”
Seketika wajah Ouwyang Ping merona sementara matanya masih basah, membuatnya terlihat sangat cantik.
“Perasaannya padamu.... Seharusnya aku menyadarinya.”
“A... aku bukan anak kecil, Kak. Aku tahu perasaan Kakak Luo padaku....”
Chien Wan tersenyum lagi. “Apa kau juga suka padanya, Ping-er?”
Ouwyang Ping menundukkan kepalanya. “Entahlah...,” jawabnya bimbang. “Kalau kautanyakan itu dua tahun yang lalu, dengan mantap akan kujawab tidak. Karena waktu itu hatiku sudah terpaku padamu. Tetapi kini... dia sangat baik padaku... dan....”
“Kurestui kalian jika kalian ingin melangkah lebih jauh lagi,” kata Chien Wan bersungguh-sungguh.
Kembali mata gadis itu berkaca-kaca. “Kakak Wan, saat ini aku belum dapat memastikan perasaanku sendiri. Ini bukan hal yang mudah bagiku....”
“Sen Khang pemuda yang baik. Dia sangat cocok untukmu. Ayah dan Ibu juga sangat menyukainya.”
“Aku tahu!” tukas Ouwyang Ping. “Hanya....”
Chien Wan meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan sayang. Perasaannya benar-benar damai. Ia sudah berhasil menganggap gadis itu sebagai adiknya sepenuhnya. Ia menyayangi gadis itu dengan tulus. Kasih sayang yang wajar dan murni sebagai seorang kakak. Dan ia merindukan gadis itu dengan kerinduan yang tulus selayaknya seorang kakak yang merindukan adiknya.
Ouwyang Ping menengadah menatap Chien Wan. Dilihatnya perubahan sorot mata Chien Wan. Sinar mata Chien Wan kala menatapnya saat ini sungguh berbeda dengan dahulu.
__ADS_1
Kali ini kasih di antara mereka telah menjadi kasih persaudaraan.
***