
“Mulai!” perintah Tuan Ouwyang.
Siu Hung mengangguk sigap. Lalu ia mulai bergerak perlahan-lahan. Gerakannya sangat lentur dan luwes. Karena ia bergerak melawan arah angin, ia bisa menghasilkan gelombang suara yang mendengung indah. Gerakannya makin lama makin cepat. Suara angin bergelombang naik-turun bagai irama nyanyian indah.
Itulah Ilmu Nyanyian Dewa, ilmu khas Lembah Nada yang sangat terkenal.
Tuan Ouwyang dan Dewa Obat memperhatikan Siu Hung dengan takjub. Anak ini sungguh berbakat, pikir mereka. Ternyata Siu Hung tidak mengada-ada, ia benar-benar sudah bisa. Gerakannya sempurna, pengaturan napasnya tepat, tenaganya kuat dan mantap namun juga halus. Entah bagaimana caranya berlatih hingga bisa sehebat ini. padahal baik Tuan Ouwyang maupun Dewa Obat hampir tak pernah melihat Siu Hung latihan.
Siu Hung melakukan gerakan terakhirnya dengan sempurna. Lalu ia menghampiri Tuan Ouwyang dan Dewa Obat dengan keringat bercucuran di wajah dan tubuhnya. Meski berkeringat, senyumnya masih tampak cerah di wajahnya. Napasnya pun biasa-biasa saja, tidak tersengal-sengal walau banyak bergerak.
“Kau lihat, kan?” kata Siu Hung bangga.
Tuan Ouwyang mengangguk-angguk. Ia tak menampakkan kekagumannya. Ia tahu Siu Hung akan menjadi besar kepala jika ia menonjolkan rasa terkesannya sekarang ini.
“Lalu? Mana janji Kakek?” desak Siu Hung.
“Sabar dululah,” ucap Tuan Ouwyang santai.
“Kau baru saja mengeluarkan tenaga yang tidak sedikit. Masa sudah mau melatih jurus lain lagi,” tambah Dewa Obat.
“Tapi aku, kan sudah menunjukkan bahwa aku bisa!” bantah Siu Hung. “Aku tidak melakukan kesalahan sedikit pun!”
“Ya ya, kau lumayan juga.” Tuan Ouwyang nyengir. “Baiklah. Aku akan peragakan jurus pertama. Lihat ini!”
Siu Hung sangat gembira. Ia memperhatikan dengan serius.
Gerak silat yang diperlihatkan Tuan Ouwyang tampak aneh. Sangat berbeda dengan jurus-jurus silat pada umumnya. Gerakannya kadang luwes dan kadang kaku. Kadang lincah dan kadang lamban. Kadang ringan dan kadang berat. Telapak tangan Tuan Ouwyang terbuka dan jari-jarinya saling merapat satu sama lain. Pada akhir gerakan, ia memukul angin.
Bang! Bang!
__ADS_1
Siu Hung mengangakan mulutnya. Kelihatannya Tuan Ouwyang hanya menepuk perlahan, namun bunyi yang ditimbulkan seperti suara tabuhan genderang perang. Dan yang paling mengejutkan, walau telapak tangan Tuan Ouwyang memukul udara, batu yang jaraknya sekitar lima kaki dari tempatnya berdiri hancur berkeping-keping dengan menimbulkan bunyi menggelegar.
Blarr!!
Siu Hung terlonjak kaget. Dewa Obat pun terpukau. Ilmu Genderang Surgawi memang pantas dijuluki ilmu terhebat di dunia. Ledakan batu tadi sungguh dahsyat, padahal itu baru jurus pertama.
Tuan Ouwyang berhenti, lalu mengatur napasnya.
“He... hebat...!” gumam Siu Hung takjub.
Tuan Ouwyang mendengus pongah. “Tentu saja hebat!” katanya. “Ayo, sekarang giliranmu! Akan kita lihat apakah kau sehebat yang selalu kaubilang!” perintahnya. “Ingat, hawa murni harus kau salurkan ke telapak tangan. Hawa murni dibiarkan berputar di pusar dan salurkan ke pergelangan tangan, lalu ke telapak. Jari harus menempel dan jangan biarkan merenggang. Paham?”
“Ya!” Siu Hung mengangguk penuh semangat. Ia melompat ke tengah pekarangan dan mulai bergerak.
Tuan Ouwyang kembali dibuat kagum, demikian pula Dewa Obat. Gerakan Siu Hung sama sekali tak bercela. Begitu sempurna dan tak ada salahnya sama sekali. Padahal Siu Hung hanya melihatnya sekali saja. Tak diragukan lagi, bakatnya memang luar biasa.
Bang! Bang! Prak!
“Bagus, Siu Hung!” puji Dewa Obat.
Siu Hung cemberut. “Bagus apanya? Batu itu tidak meledak dan batu yang di sana sama sekali tidak bergerak!”
“Tapi kau kan, baru belajar sekali. Wajarlah kalau masih ada kekurangan,” hibur Dewa Obat.
Siu Hung meringis.
“Dasar bodoh!” dengus Tuan Ouwyang. “Sudah, tak usah belajar lagi! Pulang saja ke Kota Lok Yang!” ejeknya.
Siu Hung melotot. “Kakek jelek! Siapa bilang aku bodoh?” serunya.
__ADS_1
Tuan Ouwyang mencibir. “Kalau kau pintar, batu itu pasti meledak. Dan bunyi angin tadi? Hah! Itu bukan Ilmu Genderang Surgawi! Itu cuma Ilmu Menepuk Nyamuk!” ejeknya kejam.
Siu Hung mengepal tinjunya dan mengacungkannya pada Tuan Ouwyang. Dia sangat tersinggung. Masa dia dibilang bodoh? Kalau berlatih lagi dia pasti bisa. Dia itu sangat pintar!
“Kakek jelek! Kakek cerewet! Lihat saja nanti! Aku pasti bisa menghancurkan batu yang jaraknya enam kaki! Aku pasti bisa dan kau tidak bisa bilang kalau aku bodoh!” sesumbar Siu Hung kesal. Lalu ia melompat pergi menuju pantai.
“Ouwyang Cu, dia tersinggung!” kata Dewa Obat khawatir.
Tuan Ouwyang tertawa geli. “Justru itu yang kuharapkan. Dia terlalu mirip denganku. Aku tahu betul wataknya. Aku mengerti bagaimana sifatnya. Justru dia akan berlatih lebih giat kalau merasa tersinggung. Dia terpacu untuk membuktikan diri bahwa dia lebih baik.”
Dewa Obat menghela napas. “Mirip sekali denganmu.”
“Mau tahu penilaianku? Gerakannya tadi tak bercela. Dia bisa menyerap semua yang kuajarkan dengan sempurna, padahal baru melihatnya sekali saja. Kalau pun tadi batu itu tidak meledak, itu hanya masalah tenaga dalam saja. Kalau dia latihan lebih keras, dia pasti bisa melakukan gerakan seperti aku. Tapi kalau tadi aku memujinya, dia akan besar kepala dan malas latihan,” jelas Tuan Ouwyang panjang-lebar.
“Seperti kau.”
“Aku pintar, bukan?” Tuan Ouwyang tampak puas sekali pada dirinya.
Dewa Obat menyeringai. Puluhan tahun tidak mengubahnya sama sekali, pikirnya. Ia tetap sombong dan angkuh, tapi juga kekanak-kanakkan dan senang sekali dipuji. Persis muridnya itu!
***
Demikianlah, kelima pemuda-pemudi itu berlatih dengan tekun di bawah pengawasan kedua kakek sakti. Latihan demi latihan yang sangat giat itu menghasilkan kemajuan yang mengagumkan. Mereka tidak menyadari kemampuan mereka meningkat demikian pesat, namun kedua kakek sakti itu memperhatikannya dan merasa begitu puas dengan kemajuan mereka.
Kelimanya, terutama Chien Wan dan Sen Khang, menyadari sepenuhnya masalah serius yang akan mereka hadapi sekembalinya mereka ke daratan. Musuh mereka saat ini juga pasti tengah berusaha menyembuhkan diri. Dan berdasarkan apa yang mereka dengar, Chi Meng Huan tidak mungkin bisa menguasai kedua ilmu yang mengerikan itu tanpa kehadiran seorang guru.
Dan apabila Chi Meng Huan pulih dan memperdalam ilmunya, ia pasti mempunyai rencana mengerikan di masa mendatang. Ditambah dengan adanya Cheng Sam dan orang-orangnya, serta campur tangan orang Khitan, besar kemungkinan rencana itu melibatkan perang yang akan menyengsarakan kehidupan banyak orang.
Apabila perang terjadi, negara dan para pendekar Dunia Persilatan akan bahu-membahu menghadapi musuh. Namun pihak yang paling menderita adalah rakyat kecil. Merekalah yang akan menjadi korban.
__ADS_1
Bagaimanapun juga, Chi Meng Huan harus dihentikan. Walau harus mengorbankan nyawa mereka sendiri!
***