
Puncak Bukit Ayam Emas tampak megah karena dipenuhi oleh bendera-bendera aneka warna yang menandakan bahwa di sana tengah terjadi perayaan besar. Tidak seperti puncak bukit lain di mana pun, puncak Bukit Ayam Emas berbentuk datar menyerupai sebuah lapangan luas yang dapat digunakan sebagai arena pertandingan dan tempat bermalam bagi para undangan. Di samping itu, jaraknya dari daratan tidak terlalu jauh. Dengan mudah, orang dapat mencapai puncak tanpa kesulitan.
Sebelum pertemuan diadakan, para pendekar sudah mulai berdatangan dari berbagai penjuru. Mereka bermalam di penginapan-penginapan yang terletak di kaki bukit karena sudah terlalu malam bagi mereka untuk mendaki. Ada juga yang mendirikan tenda di jalanan karena tidak kebagian kamar.
Sen Khang dan Ouwyang Ping adalah dua dari sekian banyak pendekar yang memutuskan untuk bermalam di penginapan di kaki bukit. Mereka tiba di kaki bukit saat hari sudah malam dan tubuh mereka pun penat sehingga tidak mungkin melanjutkan perjalanan mendaki bukit. Esok hari barulah mereka pergi ke puncak bukit.
Mereka menuju penginapan dan masuk untuk memesan kamar. Saat mereka masuk, mereka melihat banyak orang yang tengah duduk-duduk di sana. Paras orang-orang itu tampak serius dan waspada.
Sen Khang dan Ouwyang Ping berpandangan. Mereka dapat merasakan ketegangan yang terjadi di ruang makan itu.
“Pendekar Luo, Nona Ouwyang!”
Keduanya menoleh. Di salah satu sudut ruangan, berkumpullah orang-orang yang sudah mereka kenal. Para pendekar dari Kun Lun, salah satunya adalah Pendekar Lei.
“Pendekar Lei,” sapa Sen Khang. Ia dan Ouwyang Ping serentak memberi hormat. Pendekar Lei dan yang lainnya balas memberi hormat.
“Rupanya kalian sudah tiba. Duduklah bersama kami,” tawar Pendekar Lei.
Keduanya duduk.
Ouwyang Ping memandang berkeliling. “Pendekar Lei, mengapa orang-orang di sini tampak serius dan waspada?” tanyanya hati-hati.
Pendekar Lei menghela napas. “Sebenarnya ada dua hal yang membuat kami semua merasa tidak senang. Pertama karena pengunduran diri Pendekar Sung dari jabatan. Kita semua tahu tak ada orang yang lebih tepat darinya dalam memimpin Dunia Persilatan. Dia adalah seorang yang sangat adil dan jujur, di samping kepandaiannya yang tinggi. Entah apakah kita akan mendapat pengganti yang sama bagusnya dengan Pendekar Sung.”
Sen Khang mengangguk. “Aku juga berpendapat begitu. Pendekar Sung itu sulit digantikan.”
“Lalu apa hal kedua?” sela Ouwyang Ping.
__ADS_1
Pendekar Lei menganggukkan kepalanya ke arah beberapa pendekar berwajah muram. “Beberapa hari yang lalu, dalam perjalanan mereka ke sini, undangan mereka dicuri orang. Seperti yang kalian tahu, untuk mencegah hadirnya orang yang tak diharapkan, sengaja dikirimkan undangan hanya kepada orang yang bersangkutan. Artinya, bila tak memiliki undangan, siapa pun tak boleh masuk ke dalam tempat pertemuan. Sejumlah penjaga ditempatkan di sekeliling arena.”
“Jadi karena undangan hilang, mereka tak dapat memasuki arena pertemuan?” kata Ouwyang Ping.
“Bukan hanya itu,” tukas Pendekar Lei dengan raut cemas. “Bisa jadi undangan itu dicuri oleh orang-orang tak bertanggung jawab yang bertujuan mengacaukan pertemuan. Dan mereka bisa memasuki arena. Bukankah mereka memiliki undangan?”
Sen Khang mengelus-elus dagunya. “Betul juga.”
“Apakah ada petunjuk siapa yang mencuri undangan itu?” tanya Ouwyang Ping serius.
Pendekar Lei menggeleng.
“Kalau begitu, penjagaan harus lebih diperketat lagi,” komentar Sen Khang. “O ya, siapa saja calon kuat Ketua Persilatan kali ini, Pendekar Lei?”
Pendekar Lei tersenyum. Wajahnya kembali berseri karena pembicaraan dialihkan kepada topik yang menarik. “Sebenarnya pemilihan Ketua Persilatan kali ini akan diperebutkan.”
“Maksud Anda?”
“O, begitu,” gumam Sen Khang.
“Kami mengharapkan keikutsertaan kalian dalam pemilihan Ketua Persilatan kali ini. Termasuk Suling Maut, tentunya. Kami harap salah satu dari kalian akan menduduki jabatan itu!”
Sen Khang dan Ouwyang Ping berpandangan. Mereka kaget dan bingung mendengar ucapan Pendekar Lei.
“Wah, Pendekar Lei.” Sen Khang tertawa. “Sungguh suatu kehormatan bahwa Anda sekalian berpikir demikian tentang kami. Tetapi menjadi Ketua Persilatan tak pernah terlintas dalam pikiran kami.”
“Sebaiknya Anda memikirkannya masak-masak, Pendekar Luo. Dunia Persiatan akan aman dan maju di tangan orang-orang muda seperti Anda. Itu juga alasan pengunduran diri Pendekar Sung, supaya Dunia Persilatan dapat dipimpin oleh pendekar-pendekar muda yang tangguh,” desak Pendekar Lei.
__ADS_1
“Kami akan memikirkannya, Pendekar Lei.” Sen Khang berusaha tidak memperpanjang pembicaraan itu. Ia menjanjikan hal itu hanya supaya Pendekar Lei berhenti membicarakan kemungkinan dirinya sebagai Ketua Persilatan.
Pendekar Lei menyadari maksud pemuda itu, maka ia tidak memperpanjang pembicaraan mengenai Ketua Persilatan. Sebaliknya, mereka banyak berbincang-bincang mengenai hal-hal yang ringan.
Hari sudah sangat larut ketika akhirnya mereka menghentikan obrolan. Sen Khang telah berhasil mendapatkan sebuah kamar untuk Ouwyang Ping. Hanya ada satu kamar tersisa dan Ouwyang Ping bisa menempatinya sendirian karena dialah satu-satunya gadis yang ada di sana.
“Aneh sekali,” kata Sen Khang geli pada saat mereka pergi ke kamar Ouwyang Ping. “Bisa-bisanya kita ditawari jadi Ketua Persilatan. Apa pendapatmu, Nona Ouwyang?” godanya pada gadis di sampingnya itu.
Ouwyang Ping tersenyum dipanggil ‘Nona Ouwyang’ oleh Sen Khang. “Kurasa tak ada salahnya, Pendekar Luo. Hitung-hitung cari pengalaman,” timpalnya serius.
Sen Khang tergelak. “Bisa saja kau!”
Ouwyang Ping tertawa kecil.
“Sudah malam, Ping-er,” kata Sen Khang saat mereka tiba di depan kamar kecil yang disewa Sen Khang. “Sebaiknya kau masuk sekarang dan tidurlah. Besok kita bangun pagi-pagi dan harus mendaki untuk sampai ke puncak.”
Ouwyang Ping tidak membantah. Ia memang sudah mengantuk sekali.
“Selamat tidur, Ping-er.” Sen Khang menatapnya lembut dan menepuk pipi halus gadis itu dengan kelembutan yang nyata.
Ouwyang Ping tersenyum. Ini memang salah satu kebiasaan Sen Khang semenjak mereka dijodohkan dahulu. Dan gadis itu sama sekali tidak berkeberatan dengan kebiasaan Sen Khang itu.
“Selamat malam, Kakak Luo.”
Sen Khang menunggu sampai gadis itu masuk ke dalam kamarnya. Kemudian ia menggelar kain selimut tebal di dekat pintu kamar Ouwyang Ping. Ini bukan hal yang aneh. Hampir semua pendekar yang tidak kebagian kamar melakukan hal yang sama.
Ia duduk di atas hamparan selimut sambil melamun. Hatinya berbunga-bunga. Ia selalu bahagia bila mengingat bahwa kini Ouwyang Ping telah menjadi miliknya. Betapa lamanya ia mencintai gadis itu. Dan begitu sulit meyakinkan Ouwyang Ping akan ketulusan cintanya. Sampai sekarang pun ia masih sulit mempercayai keberuntungannya karena bisa mendapatkan gadis itu.
__ADS_1
Baru saja Sen Khang memejamkan matanya dan bersiap tidur saat ia mendengar pekik lirih dari dalam kamar. Ia langsung tersentak dan membuka mata. Tanpa pikir panjang, ia menerjang masuk ke dalam kamar.
***