Suling Maut

Suling Maut
Cinta Chi Meng Huan


__ADS_3

“Aku tidak mau!”


Semua orang menoleh pada Ting Ting yang sejak tadi hanya menunduk dan diam saja. Ting Ting telah mengangkat mukanya dan memandang mereka semua dengan tajam. Dan kali ini wajahnya yang pucat tidak menampakkan derita dan putus asa. Sebaliknya, ia tampak begitu tegar. Tak ada air mata setetes pun pada wajahnya.


“Ting Ting?” Sen Khang mendekat.


Namun Ting Ting tidak mempedulikan kakaknya. Pandangan matanya yang tajam menghunjam Chien Wan. “Kakak Wan, aku mau menanyakan sesuatu padamu. Apakah kau pernah mencintaiku?”


Chien Wan hanya mampu menatap Ting Ting, dan tidak bisa menjawabnya. Ia merasa bimbang. Bila ia menjawab ‘ya’, artinya ia membohongi semua orang termasuk hati nuraninya sendiri. Tetapi bila ia menjawab ‘tidak’, ia akan menyakiti hati Ting Ting dan mengecewakan ibunya.


“Jawablah! Mengapa kau diam saja?” desak Ting Ting.


Sen Khang berusaha menenangkan. “Ting Ting, Chien Wan sudah bersedia. Mengapa kau masih mengajukan pertanyaan itu?” bujuknya.


“Karena aku ingin tahu,” jawab Ting Ting. Pandangan matanya tetap tajam menghunjam mata Chien Wan.


“Jangan mempersulit Chien Wan, Ting Ting.” Sen Khang mengerutkan kening.


“Ting Ting, Chien Wan sudah mengatakan padaku bahwa ia akan menikahimu,” sela Sui She. Ia merasa serba salah. Mengapa Chien Wan tak segera menjawabnya?


“Jawablah, Kakak Wan!” tekan Ting Ting tanpa mempedulikan kakak dan bibinya.


Chien Wan menatap Sen Khang serba salah.


“Jangan melihat pada orang lain, Kakak Wan! Kaulah yang harus menjawabnya,” kata Ting Ting tajam. “Kau tinggal jawab, ya atau tidak. Kau hanya perlu mengucapkan satu kata saja. Apa susahnya?”


Chien Wan menghela napas. Ia merasa letih sekali. “Ting Ting, jangan mempersulit aku,” katanya pelan. “Kau tahu aku tak pernah mengungkapkan perasaanku di depan orang banyak. Apa gunanya jawabanku itu? Bukankah aku sudah bersedia menikahimu?”


“Karena dulu kau berkali-kali menolakku.” Ting Ting mengucapkannya dengan suara gemetar.


Chien Wan terpana. Semua terpana.


“Dulu aku adalah seorang gadis yang masih murni. Aku merasa diriku cukup baik untukmu. Dengan segala yang kumiliki, aku tawarkan diriku kepadamu. Aku berusaha menggapai hatimu dengan sekuat tenagaku. Tetapi apa yang kudapat? Kau tak pernah mau menanggapiku. Kau bilang, kau hanya menganggapku adik. Dan ketika aku memaksa, kau bersikap dingin padaku....” Ting Ting memalingkan mukanya yang merah padam.


Chien Wan menelan ludah.


“Tetapi kini keadaanku sudah berbeda! Aku sudah ternoda oleh orang yang juga menghabisi keluargaku. Aku mengandung anak haram, anak yang tak jelas siapa ayahnya ini di dalam perutku. Aku juga sudah tidak secantik dulu lagi. Sekarang penampilanku kacau dan kusut masai. Dan sekarang... dengan keadaanku yang seperti ini kau mau menikahiku?” Ting Ting terengah-engah menahan beban batinnya yang semakin menyesakkan.


“Ting Ting....” Sen Khang ternganga. Ia tak menyangka Ting Ting yang selama ini begitu rapuh dan lemah bisa berkata seperti itu.


“Jelaslah sudah bagiku,” lanjut Ting Ting, kembali menatap Chien Wan. “Kau terpaksa! Kau sangat menghormati ibumu. Dan kau kasihan padaku. Karena rasa ibamu padaku maka kau mau menikahiku.”


“Ting Ting, bukan begitu!” seru Sui She.


“Kau tak pernah mencintaiku. Aku tak mau menikah dengan orang yang tak pernah mencintaiku. Aku tak mau kau menikahiku hanya karena kasihan, apalagi terpaksa!” seru Ting Ting.


“Hentikan, Ting Ting!” Ouwyang Ping mendekat dan merangkulnya, berusaha menenangkannya. Namun Ting Ting meronta dan merenggut dirinya dari rangkulan Ouwyang Ping, membuatnya sangat terkejut.


Tak ada setitik pun air mata di mata Ting Ting. Ia sudah lebih mampu mengendalikan emosinya. Pandangan matanya kini sudah tak setajam tadi. Ia menatap Chien Wan dengan tegar.


“Kakak Wan, aku sangat berterima kasih atas maksud baikmu padaku. Di mataku, kau adalah Kakak Wan yang dulu, yang tidak pandai bicara namun sangat tulus dan baik hati, yang selalu memikirkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri....” Ting Ting memandang Chien Wan dengan lembut.


Chien Wan terpana menatap gadis itu.

__ADS_1


“Dulu aku begitu mementingkan diriku sendiri. Aku berpikir kalau bisa menikah denganmu maka aku akan bahagia. Aku sama sekali tidak memikirkan apakah kau juga akan bahagia atau tidak,” lanjut Ting Ting dengan sedih. “Tetapi, kejadian demi kejadian yang telah menimpaku telah membuatku berubah. Aku sadar, cintaku padamu dahulu bukanlah cinta sejati. Aku bukannya mencintaimu melainkan hanya mencintai diriku sendiri. Aku hanya memikirkan kepentinganku sendiri tanpa pernah peduli akan kepentinganmu. Asal aku bahagia, yang lainnya tak menjadi masalah....


“Tetapi aku sudah berubah. Aku tak ingin kau menikahiku hanya karena kasihan. Kau takkan bahagia dengan menikahiku. Dan jangan kaupikir dengan menikahiku aku akan bahagia! Perempuan mana yang bisa bahagia bila suaminya tak pernah mencintainya?” Ting Ting melemahkan suaranya. Lalu dengan lemas ia terhenyak ke kursinya semula.


Chien Wan menunduk terpekur, lalu mengangkat kembali wajahnya.


“Inikah kemauanmu, Ting Ting?” tanyanya datar.


Ting Ting mengangguk tegas. Pendiriannya terpampang jelas di matanya.


“T... tapi, bagaimana dengan anakmu?” sela Sui She cemas. “Apa kau tega dia lahir tanpa ayah?”


“Anak ini memang tidak punya ayah,” sahut Ting Ting tenang.


Sui She tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa sedih sekali.


“Bibi.” Ting Ting bangkit dan mendekati Sui She. Dengan penuh kasih ia merangkul bibinya. “Aku tahu Bibi bermaksud baik padaku. Aku sangat menghargainya. Aku harap Bibi bisa menerima keputusanku. Tolong, mengertilah perasaanku.” Kali ini matanya berkaca-kaca, tanda sejak tadi sebenarnya ia menahan perasaannya.


Sui She mendesah dan merangkul keponakannya itu dengan sayang. “Bibi mengerti, Anakku.”


Tiba-tiba, Meng Huan berdiri.


“Karena semuanya sudah berkumpul, aku ingin mengatakan sesuatu,” bilangnya dengan suara mantap.


Semua mata memandang Meng Huan.


Meng Huan memusatkan perhatiannya pada Ting Ting. “Ting Ting, sejak dulu aku memang tak pernah mengatakan apa-apa. Aku tak pernah berterus-terang padamu atau siapa pun, tetapi aku yakin kau sudah tahu perasaanku padamu.”


Wajah Ting Ting merona. Ia sudah bisa menebak apa yang hendak dikatakan Meng Huan.


Hampir semua yang hadir di sana tidak terkejut lagi mendengarnya. Mereka hanya tidak menyangka Meng Huan akan menggunakan kesempatan ini untuk mengajukan pinangannya. Tak diragukan lagi rencana itu sudah dipikirkannya. Meng Huan hanya akan meminang Ting Ting bila perjodohan dengan Chien Wan tidak berhasil.


“Kakak Huan....” Ting Ting terpana.


“Aku memang lancang,” kata Meng Huan sedih. “Aku tak punya orangtua yang dapat menjadi waliku. Aku sudah tak punya keluarga. Selama ini aku menganggap keluarga Luo sebagai keluargaku, menganggap Guru dan Bibi Luo sebagai orangtuaku yang sesungguhnya. Betapa sedih dan hancurnya hatiku melihat mereka tewas. Bertambah hancur setelah melihat keadaanmu. Tetapi jangan salah, aku bukan merasa kasihan padamu sehingga mengajukan pinangan ini. Aku ingin menjagamu seumur hidupku. Dan membahagiakanmu.”


Ting Ting terperangah mendengarnya. Bibirnya gemetar dan matanya berkaca-kaca. “Kakak Huan....”


“Kumohon, terimalah aku,” kata Meng Huan penuh harap. “Aku akan menjadi suami yang baik. Aku akan membahagiakanmu. “


Suara dan ekspresi wajah Meng Huan begitu mengharukan. Semua orang yang ada di sana sangat tersentuh mendengar permohonan itu. Sen Khang menghampiri Meng Huan dan menepuk bahunya. Ketika Meng Huan menoleh, ia tersenyum. Tanda bahwa ia sepenuhnya merestui mereka.


Ting Ting menunduk, kedua tangannya saling meremas dengan resah. Semua mata memandanginya dengan penuh perhatian.


“Ting Ting.” Sen Khang angkat bicara. “Bagaimana keputusanmu?”


Ting Ting mengangkat wajahnya yang berurai air mata. “Kakak Huan, aku sudah kotor. Aku mengandung anak haram....”


“Jangan berkata begitu tentang anakmu!” tukas Meng Huan. “Dia bukan anak haram. Dia adalah anakku. Aku akan menyayanginya dengan sepenuh hatiku,” janjinya. “Dan jangan pernah menyatakan dirimu kotor. Bagiku, kau adalah gadis yang suci dan bersih.”


Ting Ting sangat terharu. Ia terisak lirih.


“Ting Ting.... “ Meng Huan mendekat dan memandang penuh harap.

__ADS_1


“Ya...,” bisik Ting Ting hampir tak terdengar.


Meng Huan ingin menegaskan lagi. “Apa?”


Kepala Ting Ting terangkat. Bibir gadis itu menyunggingkan senyum haru yang gemetar. “Ya, Kakak Huan. Aku bersedia menikah denganmu.”


Seketika wajah Meng Huan berseri-seri. “Oh, terima kasih! Aku akan membuatmu bahagia. Aku janji!” katanya penuh semangat.


Ouwyang Ping merangkul Ting Ting. “Selamat, Ting Ting!” katanya dengan kegembiraan tulus.


Sui She ikut merangkul Ting Ting. “Bibi ikut bahagia, Ting Ting.”


Sen Khang mendekati Meng Huan. “Kau benar-benar akan membahagiakan Ting Ting?” tanyanya pelan.


Meng Huan mengangguk. “Aku janji!”


Chien Wan mendekat dan menepuk bahu Meng Huan. “Selamat,” katanya.


Senyum Meng Huan melebar. “Terima kasih.”


“Kau orang yang tepat untuknya.” Chien Wan mengerling Ting Ting yang sedang dirangkul oleh ibu dan adiknya.


“Nona Wu juga orang yang tepat untukmu.”


Chien Wan terperangah. Ditatapnya Meng Huan dengan heran.


Meng Huan tertawa. “Dia sangat menyukaimu. Kau memang sangat beruntung. Sejak dulu selalu dicintai oleh gadis-gadis yang istimewa.”


“Bagaimana kau tahu?” Chien Wan mengernyit. “Dia... dia mengatakan sesuatu?”


Meng Huan mengangkat bahu. “Aku bertanya apakah dia menyukaimu. Dia hanya menunduk saja dengan muka merah,” gelaknya. “Dia tidak membantahnya. Aku yakin dia mencintaimu. Lihat saja pembelaannya terhadapmu!”


“Dia....”


“Aku memberitahunya mengenai masa lalu kita semua. Aku minta maaf jika kau menganggapku lancang. Tetapi menurutku dia patut mengetahuinya bila dia hendak menjadi pendampingmu,” kata Meng Huan. “Ternyata perasaannya tidak goyah walau sudah mendengar keteranganku.”


“Kau menceritakan semuanya?” sela Sen Khang.


“Segalanya!”


Sekonyong-konyong Chien Wan menjadi gelisah. “Sen Khang, kau lihat Kui Fang?”


Sen Khang mengerutkan keningnya. “Tidak. Mungkin dia masih di kamar.”


“Dia selalu bangun pagi. Mana mungkin sesiang ini dia masih tidur?” Chien Wan menggeleng resah. Lalu ia menghampiri adiknya yang masih sibuk bicara dengan ibunya dan Ting Ting. “Ping-er, kau lihat Kui Fang?”


Ouwyang Ping menggeleng. “Tidak, Kak.”


Sui She tersenyum. “Mungkin dia ada di kamarnya.”


Chien Wan menggeleng. Ia meninggalkan ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ouwyang Ping heran dengan kelakuannya yang tak biasanya. Maka ia mengikuti kakaknya.


Yang lainnya tidak terlalu memperhatikannya karena masih disibukkan dengan urusan Ting Ting dan Meng Huan. Mereka mendiskusikan kapan sebaiknya pernikahan dilangsungkan. Dan akhirnya ditetapkan bahwa pernikahan akan dilangsungkan sebulan lagi. Mereka tidak mungkin menunggu lama-lama. Karena perut Ting Ting sedang mengandung seorang bayi, dan bisa dipastikan tak lama lagi akan membesar.

__ADS_1


***


__ADS_2