
Keadaan di Wisma Bambu tidak lagi sesuram beberapa minggu yang lalu. Kini sudah tampak kegiatan yang dilakukan oleh penghuninya. Sesekali, suara tawa mulai terdengar di sana. Sen Khang sudah mulai mantap melaksanakan kewajibannya sebagai pemilik Wisma Bambu. Dalam menjalankan tugasnya sehari-hari ia banyak meminta bimbingan dari Ouwyang Kuan yang untuk sementara tinggal di sana. Sen Khang tidak lagi mengandalkan Meng Huan untuk mengurus segalanya.
Diam-diam Sen Khang merasa malu pada dirinya sendiri. Dalam kesedihan dan kemarahannya beberapa waktu lalu, ia sungguh tidak berdaya. Ia berterima kasih kepada Meng Huan dari lubuk hatinya yang paling dalam. Jika bukan karena Meng Huan, entah apa yang terjadi dengan Wisma Bambu.
Keadaan mulai kembali damai dan hangat, namun yang paling menggembirakan adalah keadaan Ting Ting. Kini ia sudah mulai bisa menerima kenyataan hidupnya. Walau terkadang ia masih suka merenung, namun ia tidak pernah berniat lagi untuk menyakiti dirinya sendiri maupun janin yang dikandungnya. Wajahnya masih pucat dan kurus, namun kini ia sudah mulai sering tersenyum.
Semua ini berkat dukungan dari orang-orang yang mencintainya.
Keluarga Ouwyang masih ada di sana. Mereka tidak tega meninggalkan Wisma Bambu, terutama Ting Ting. Mereka bermaksud membantu ketiga anak muda itu sebisanya. Segala cara yang memungkinkan dibicarakan.
Bahkan diam-diam Sui She membicarakan suatu hal dengan suami dan putrinya. Dengan rela ia bermaksud membicarakan kemungkinan perjodohan antara Ting Ting dengan Chien Wan. Ia tidak ingin bayi yang dikandung Ting Ting tidak punya ayah. Lagi pula ia mendengar selentingan kabar yang mengatakan bahwa Ting Ting sebenarnya jatuh cinta pada Chien Wan.
Keluarga Ouwyang membicarakan hal itu pada malam hari—di kamar Ouwyang Kuan dan Sui She.
“Bagaimana menurut kalian?” tanya Sui She setelah mengutarakan maksudnya.
Ouwyang Kuan berpandangan dengan putrinya. Diam-diam pria itu merasa lega karena ia tidak lagi melihat guratan penderitaan di mata Ouwyang Ping seperti dulu. Itu mengungkapkan bahwa ternyata asmara yang dipendam gadis itu sudah hilang. Namun ia tidak rela mendengar maksud istrinya.
“Istriku, apa kau tidak merasa ini tidak adil bagi Chien Wan?” tanya Ouwyang Kuan hati-hati.
Sui She mengerutkan keningnya. “Maksudmu?” tanyanya. Matanya menyipit kesal. “Oh, apa karena Ting Ting sudah tidak suci lagi dan sedang mengandung anak haram maka kauanggap ini tidak adil bagi Chien Wan?”
Ouwyang Kuan cepat menggeleng. Ia sadar istrinya tersinggung. Namun yang dimaksudkannya bukan itu. “Tidak, bukan karena itu. Aku bukan orang yang berpikiran sempit, Sui She. Aku tahu itu bukan kesalahan Ting Ting. Yang kumaksudkan adalah, Chien Wan tidak mencintai Ting Ting. Kehidupan rumah tangga mereka tidak mungkin bahagia jika mereka tidak saling mencintai. Chien Wan tidak bahagia. Ting Ting juga tidak. Perempuan mana yang bahagia bila suaminya menikahinya karena terpaksa dan hanya didorong oleh rasa kasihan semata?” jelasnya panjang-lebar.
Sui She tertegun.
__ADS_1
“Chien Wan pasti tak akan menolak bila kita yang memintanya. Tetapi aku khawatir, suatu hari nanti dia akan menyesal,” lanjut Ouwyang Kuan.
Sui She menunduk. “Kurasa kau benar,” katanya lirih. “Tapi aku benar-benar ingin meringankan beban Ting Ting.”
Ouwyang Ping memalingkan wajahnya ke arah lain. Sepasang matanya berkaca-kaca. Sejujurnya ia sependapat dengan ibunya. Ting Ting mencintai Chien Wan. sudah sepantasnya bila dia mengecap kebahagiaan bersama orang yang dicintainya setelah semua penderitaan yang dialaminya selama ini. Namun ayahnya juga benar. Bagaimana bila ternyata bukan kebahagiaan yang didapatkan Ting Ting melainkan perasaan malu dan menyesal?
Dan mengenai perasaannya sendiri.... Ia tidak bisa mengingkari hatinya dengan mengatakan bahwa dirinya sudah tidak apa-apa. Sesungguhnya, masih ada sedikit rasa tidak rela di hatinya. Ia masih mengenangkan masa lalu yang indah. Tetapi hidup tidak bisa berpatokan pada masa lalu. Hidup harus berjalan seperti seharusnya.
Tiba-tiba, ia mendengar suara pelan di depan jendela. “Siapa itu?” serunya.
Ouwyang Kuan dan Sui She cepat menoleh ke arah jendela. Mereka sangat cemas. Namun terdengar sahutan pelan, “Ini aku, Ping-er. Meng Huan.”
Cepat Ouwyang Ping membuka jendela dan melihat pemuda itu berdiri di sana dengan wajah keruh. Ia menggeleng. Sudah berapa lama pemuda itu berdiri di sana dan mendengarkan pembicaraan mereka.
“Masuklah, Kakak Chi.”
“Maafkan kelancanganku, Paman dan Bibi. Aku tidak bermaksud menguping. Aku hanya lewat dan mendengar nama Ting Ting disebut-sebut. Aku... aku ingin tahu... rencana kalian terhadap Ting Ting,” kata Meng huan pelan.
“Tidak apa,” kata Ouwyang Kuan ramah.
“Ini bukan pembicaraan rahasia,” tambah Sui She.
Meng Huan menghela napas. Ia tampak bimbang, seolah memikirkan sesuatu yang membebaninya. Ia mengangkat wajahnya. “Bibi, Paman, tadi aku mendengar sekilas. Kata Bibi, Bibi hendak menjodohkan Ting Ting dengan Chien Wan. Apa itu betul?” tanyanya lirih.
Sui She memandang suaminya, lalu Ouwyang Ping. Ia tertegun karena pandangan mata Ouwyang Ping menampakkan rasa iba ketika memandang Meng Huan.
__ADS_1
Dengan ragu-ragu, Sui She mengangguk. “Benar, Meng Huan. Tetapi ini baru rencana kami saja. Kami belum membicarakannya dengan Ting Ting dan Sen Khang. Apalagi Chien Wan.”
Meng Huan menggigit bibirnya. “Ting Ting sudah begitu menderita. Sudah sepantasnya dia bahagia. Sejak kecil, di hati Ting Ting hanya ada Chien Wan. dia tidak pernah mempedulikan orang lain selain Chien Wan,” katanya pelan.
“Aku sudah mengetahuinya. Maka dari itu aku bermaksud menjodohkan mereka,” sambut Sui She. Ia melirik suaminya.
“Itu....” Ouwyang Kuan mengerutkan kening.
Ouwyang Ping menukas, “Kakak Chi, kau juga menyukai Ting Ting, bukan?”
Ucapan Ouwyang Ping membuat Meng Huan tersentak. Seketika wajahnya merona dan ia menunduk. Namun ia tidak menyangkal perkataan Ouwyang Ping, membuktikan bahwa gadis itu benar menerka perasaannya.
Sui She dan Ouwyang Kuan terkejut. Sui She mengangkat tangannya menutupi mulut tanpa terasa. Ia tidak menduganya sama sekali. Ternyata di balik semua ketegaran Meng Huan, tersimpan hati yang luka. Luka karena gadis yang dicintainya dinodai orang lain. Dan kini bertambah terluka karena Ting Ting hendak dijodohkan dengan orang lain. Dan semua orang seenaknya saja mengatur kehidupan Ting Ting tanpa memikirkan kemungkinan adanya orang lain yang juga ikut menderita.
“Apa kau tetap mencintainya walau Ting Ting sudah...?”
Pertanyaan Ouwyang Ping dipotong dengan cepat, “Yang aku cintai adalah Ting Ting. Bukan tubuhnya! Bukan kesuciannya!”
Ouwyang Ping menghela napas. “Dan kini kau kecewa mendengar ibuku hendak menjodohkannya dengan Kakak Wan?”
Meng Huan memalingkan mukanya. “Aku ingin Ting Ting bahagia. Bila dengan Chien Wan dia bisa bahagia..., aku tidak akan keberatan sama sekali. Aku bahagia bila Ting Ting bahagia.”
Ouwyang Kuan dan Sui She berpandangan.
Ouwyang Ping menatap haru.
__ADS_1
***