
Dengan gelisah, Fei Yu membalik-balikkan halaman bukunya. Saat itu ia tengah berada di perpustakaan. Sesungguhnya ia bukannya ingin membaca, melainkan hanya ingin meluangkan waktu saja. Sejak semalam ia sama sekali tak bisa tidur. Ia sibuk memasang telinganya semalaman, mencoba mendengarkan apakah Ting Ting tenang-tenang saja. Ia bersiap-siap pergi ke kamar gadis itu bila sedikit saja ia mendengarkan gerakan aneh dari sana.
Saat terjaga semalaman itulah ia memikirkan apa yang dikatakan Ouwyang Kuan beberapa saat sebelumnya. Tentang aib Ting Ting.
Ouwyang Kuan memang betul. Kondisi Ting Ting memang memprihatinkan. Tak terbayangkan apa yang dirasakan gadis itu bila kandungannya semakin membesar. Dan bila ada seseorang datang menanyakan siapa ayahnya, apa yang harus dikatakan oleh Ting Ting?
Bila semuanya terserah kepada Fei Yu, tanpa ragu ia akan mengatakan pada semua orang agar jangan khawatir. Dialah yang akan menikahi Ting Ting. Dialah yang akan menanggung semua itu untuk Ting Ting. Bila kelak timbul pertanyaan semacam itu, maka ia akan menjawab dengan lantang bahwa dialah ayahnya!
Kalau saja semua tergantung kepada Fei Yu!
Namun tidak semudah itu. Ting Ting tidak mencintainya, itu masalahnya! Bila saja gadis itu mencintainya, tanpa ragu ia akan melamarnya.
“Tuan Muda.”
Teguran A Nan menyadarkan Fei Yu dari lamunan. Ia menoleh.
“Ada apa, A Nan?”
“Tuan Besar datang. Beliau ada di ruang tamu bersama Tuan Ouwyang.”
Fei Yu berdiri. Ia gembira sekali mendengarnya. Kebetulan, pikirnya, ia memang membutuhkan masukan dari ayahnya. “Bagus!” serunya. Lalu ia melangkah lebar meninggalkan perpustakaan.
Di ruang tamu, Tuan Chang tengah berbincang-bincang dengan Ouwyang Kuan dan istrinya. Wajah mereka bertiga tampak sangat serius.
“Ayah!” panggil Fei Yu.
Tuan Chang menoleh dan berdiri. “Fei Yu.”
Fei Yu mendekat. “Ada masalah apa, Ayah?” tanyanya langsung melihat wajah ayahnya tampak muram.
Tuan Chang menghela napas. “A Ming pergi meninggalkan Bukit Merak. Tak ada seorang pun tahu ke mana dia pergi. Dia juga tidak berpamitan padaku.”
Kening Fei Yu berkerut muram.
“Aku sudah mengutus beberapa orang ke biara tempatnya dibesarkan. Namun sampai sekarang belum ada kabarnya.”
“Jangan-jangan....” Fei Yu tersentak.
“Apa, Fei Yu?”
“Apa mungkin dia menemui Chi Meng Huan?”
Semua orang di ruangan itu terperanjat mendengar kata-kata Fei Yu.
“Tidak mungkin!” Tuan Chang menggeleng keras. “Aku sudah menasihatinya. Dia sudah menyesali perbuatannya. Mengapa kau mengira dia ikut dengan Chi Meng Huan?”
Fei Yu mendesah keras. “Chi Meng Huan itu sangat pintar merayu. Dia bermulut manis. Mungkin saja dia mengatakan hal-hal yang menyentuh hati A Ming sehingga dia menjadi luluh dan mau memaafkannya.”
“Tapi....”
__ADS_1
“Fei Yu bisa jadi benar, Kakak Chang,” sela Sui She. “Kadangkala, kami kaum perempuan, suka buta bila berhadapan dengan orang yang dicintai. Kami bisa menutup mata terhadap semua kesalahan yang diperbuatnya. Setia padanya sampai kapan pun.”
“Tapi itu konyol!” sergah Tuan Chang.
“Memang. Tapi... mau apa lagi? Begitu kenyataannya.” Sui She mendesah dan melirik suaminya yang tampak agak tersipu.
“Itu cinta yang salah,” bantah Tuan Chang lagi.
“Mungkin.” Sui She mengangkat bahu.
“Tak ada gunanya mengharapkan A Ming kembali bila dia memang benar bersama Chi Meng Huan,” gumam Ouwyang Kuan.
Tuan Chang gusar sekali. Ia merasa amat bersalah pada mendiang adiknya dan Sung Cen. Ia menyesal karena tak bisa mendidik A Ming dengan baik.
“Sudahlah, Ayah. Berharap saja semoga aku salah. Mudah-mudahan saja A Ming memang pulang ke biara.” Fei Yu meringis.
Tuan Chang mengangguk lesu. Ia teringat sesuatu dan menoleh pada Sui She. “Bagaimana dengan Chien Wan? Apa sudah ada kabar?”
Wajah Sui She menjadi murung. Ia menggeleng lesu.
“Sama sekali tak ada berita mengenai putra kami, Kakak Chang. Mudah-mudahan saja itu berarti mereka sekarang berada di Pulau Ginseng,” ujar Ouwyang Kuan.
Tuan Chang mengangguk. “Dan Ting Ting?”
Kontan wajah Fei Yu yang menjadi keruh. “Dia sangat menderita,” gumamnya.
Tuan Chang memandang putranya dengan risau.
***
“Ayah.”
Tuan Chang tersentak dan menoleh. Senyumnya merekah melihat putranya sudah berdiri di dekatnya. “Oh, kau Fei Yu.”
Fei Yu menghampiri dan duduk di kursi sebelah ayahnya. “Aku ingin bicara.”
Tuan Chang menutup bukunya setelah memberi tanda pada ujung buku. “Baik. Apa yang ingin kaubicarakan?”
Fei Yu menghela napas. “Ini mengenai... masa depanku.”
Tuan Chang mengerutkan kening. “Ya?”
“Beberapa bulan yang lalu, Ayah pernah bertanya padaku mengenai masalah jodohku. Ayah ingin menjodohkan aku dengan seorang gadis. Masih ingat?”
“Tentu saja!” Tuan Chang berseru penuh semangat. “Memang sudah waktunya!”
“Ayah.” Fei Yu menatap ayahnya dengan mantap. “Aku ingin Ayah melamar pada... Paman dan Bibi Ouwyang. Aku ingin Ayah meminang—“
“Tentu saja!” sambar Tuan Chang tertawa. “Aku sudah yakin kau akan menyukainya! Tentu saja, Fei Yu!”
__ADS_1
“Ayah....”
“Aku memang sudah lama merencanakannya!”
“Ayah, aku....”
“Aku akan meminang Ouwyang Ping untukmu. Aku sangat setuju. Kalian memang serasi!”
“Ayah! Dengar dulu!” seru Fei Yu kesal karena sejak tadi ayahnya selalu memotong kata-katanya.
Tuan Chang terdiam dan menatap putranya dengan bingung.
Fei Yu menghembuskan napas panjang. “Bukan Ouwyang Ping,” katanya. “Aku ingin Ayah melamar gadis lain untukku.”
“Ta... tapi, kaubilang aku harus melamar pada Adik Ouwyang...?” tanya Tuan Chang terbata. Seketika hatinya tidak enak.
“Gadis itu tidak punya keluarga lain selain Paman dan Bibi Ouwyang.”
“Mak... maksudmu Luo Ting Ting?”
Fei Yu mengangguk.
Tuan Chang tercengang.
“Dia adalah satu-satunya gadis yang kuinginkan untuk menjadi pendampingku.”
Kata-kata Fei Yu yang tegas membuat Tuan Chang tertegun. Ia tidak menyangka Fei Yu akan selugas ini menyatakan perasaan hatinya. Tetapi kalau mau jujur, ia berkeberatan. Sangat berkeberatan. Ting Ting memang seorang gadis yang cantik dan baik, serta berasal dari keluarga baik-baik. Tapi dia sudah mengandung! Dia bukan seorang gadis yang layak dijadikan istri.
“Aku keberatan!” bilang Tuan Chang.
Fei Yu berdiri dengan kesal. “Kenapa? Apa karena dia sudah ternoda?” serunya gusar. “Aku tidak menyangka ternyata Ayah punya pikiran sesempit itu! Memangnya kenapa kalau dia ternoda? Kenapa kalau dia mengandung anak di luar nikah? Semua itu bukan kesalahannya!”
“Ya, tapi... tapi....”
“Aku mencintainya, Ayah!” potong Fei Yu tegas. “Selama bertahun-tahun aku mencintainya!”
Tuan Chang terperangah. Inilah pertama kalinya Fei Yu mengatakan bahwa ia jatuh cinta. Tetapi... mengapa harus Ting Ting?
“Fei Yu, duduklah. Kita bicarakan hal ini dengan kepala dingin,” pinta Tuan Chang lembut sehingga Fei Yu tak punya pilihan lain selain menuruti kehendak ayahnya. “Aku bukannya menyalahkan Ting Ting atas peristiwa yang dialaminya. Semuanya akan berbeda jika saja dia tidak mengandung. Peristiwa itu adalah musibah. Dia telah banyak menderita, aku tahu itu. Tetapi, dia mengandung seorang bayi. Bayi yang akan menyandang nama seorang penjahat besar.”
“Bayi itu tidak berdosa, Ayah. Tidak bisakah dia hidup dengan damai tanpa harus diingatkan akan kejahatan ayahnya?” tukas Fei Yu gusar. “Bila Ting Ting menikah denganku, bayi itu akan menjadi anakku.”
“Kau satu-satunya anakku. Di tanganmu terletak kelangsungan keluarga Chang. Bila kau mengakui bayi itu sebagai anakmu, bagaimana dengan keluarga kita?”
“Aku masih bisa mempunyai anak lain.”
Tuan Chang mendesah. “Kita harus memikirkannya terlebih dahulu, Fei Yu. Jangan gegabah memutuskan seperti itu. Bisa saja yang kaurasakan ini bukanlah cinta yang sebenarnya, melainkan rasa kasihan.”
“Jangan meremehkan perasaanku, Ayah!” Fei Yu menggeleng gusar. “Aku tahu bedanya cinta dengan kasihan. Aku ingin menikahi Ting Ting karena aku mencintainya. Tak jadi soal apakah dia itu perawan atau bukan, mengandung atau tidak. Aku bahagia bila bersamanya. Pikirkanlah itu, Ayah. Bukankah Ayah selalu bilang aku boleh melakukan apa saja asal aku bahagia?”
__ADS_1
Tuan Chang tertegun.
***