Suling Maut

Suling Maut
Ke Lembah Nada


__ADS_3

Sung Siu Hung dan A Te terlebih dahulu tiba di Lembah Nada ketimbang Chien Wan dan Dua Tambur Perak. Mereka, terutama Siu Hung, agak heran karena Lembah Nada tidak dijaga oleh Empat Tambur Perak. Entah ke mana mereka gerangan. Mengapa yang ada di gerbang hanya pengawal biasa?


Para pengawal itu mengenali Siu Hung, maka tanpa banyak bicara mereka membawa gadis itu masuk.


Suasana di Lembah Nada sangat sepi dan mencekam. Aroma kesedihan begitu terasa di sana. Siu Hung meringis tidak suka. Ia terus melangkah masuk menuju ruangan tempat Ouwyang Kuan dan istrinya biasa duduk bersama A Lee. Dan mereka memang tengah berada di sana, lengkap bersama Tuan Ouwyang Cu.


Kedatangan Siu Hung mengejutkan mereka.


“Siu Hung? Mengapa kau datang? Ada yang tidak beres?” tanya Ouwyang Kuan heran.


“Aku datang untuk menyampaikan kabar,” sahut Siu Hung riang. “Kakak Ouwyang tidak bersalah!”


Sui She yang semenjak beberapa waktu ini selalu merenung dengan wajah pucat, kontan melompat berdiri. “Apa?” serunya gugup dan penuh harap.


“Betul. Dia dijebak orang!” angguk Siu Hung tegas.


Tuan Ouwyang Cu memandang gadis itu dengan mata menyipit. “Kalau bicara yang jelas!”


“Kurang jelas apa lagi, sih?” Siu Hung mencibir.


Lekas-lekas A Te menengahi. “Biar saya yang bercerita, Tuan.” Ia mulai menceritakan semua yang diceritakan oleh Kui Fang saat berada di Bukit Merak. Pendekar Sung memintanya mendampingi Siu Hung dan menceritakan kejadian itu dengan jelas karena tahu betul Siu Hung tidak mampu menguraikan keseluruhan kisah dengan baik. Gadis itu terlalu bersemangat dan tidak sabaran.


Ketiga pendengarnya mendengarkan dengan mata terbelalak. Perlahan-lahan wajah mereka menjadi cerah. Kesedihan masih ada karena duka akibat kematian penghuni Wisma Bambu. Namun kelegaan tidak bisa dielakkan karena akhirnya mereka tahu bahwa Chien Wan bukanlah pembunuh keji itu.


“Aku tahu putraku tidak mungkin melakukannya!” tangis Sui She penuh kelegaan.


“Tentu saja dia tidak melakukannya!” Tuan Ouwyang Cu menggelegar. “Keturunan keluarga Ouwyang adalah pendekar sejati!”


“Mulut besar, mulut besar,” gumam Siu Hung.


Tuan Ouwyang Cu berkacak pinggang dan menatap Siu Hung dengan garang. “Seharusnya aku menghukummu karena kurang ajar, Bocah Lancang! Tapi kau datang dengan kabar baik. Aku akan berbaik hati padamu. Kau boleh tinggal di Lembah Nada dan belajar silat dariku!”


Wajah Siu Hung berseri, namun ia pura-pura meremehkan. “Aaah! Apa hebatnya belajar silat darimu?” cibirnya.


“Lihat saja nanti!” bentak Tuan Ouwyang gusar.


“Tuan Wan pulang!”


***


Pemberitahuan ini membuat Ouwyang Kuan dan istrinya serentak berdiri. Mereka menoleh ke pintu masuk dan melihat Chien Wan memasuki ruangan dengan wajah letih dan penuh debu. Kepedihan begitu nyata di wajahnya sehingga membuat semua orang di sana sedih.


“Anakku!” Sui She menghampiri putranya dan memegang kedua tangannya erat-erat. Air mata membanjiri wajahnya.


“Ibu, maafkan aku....”


“Siapa yang menyuruhmu minta maaf!” Suara Tuan Ouwyang Cu menggelegar. “Ke sini kau!”


Chien Wan melepaskan genggaman tangan ibunya dan berjalan menghadapi kakeknya dengan pasrah. Ia siap jika kakeknya ingin membunuhnya sekali pun. Ia sama sekali tidak menyadari kehadiran Siu Hung dan A Te di sana.


“Kakek, aku....”


“Lihat mataku!” bentak Tuan Ouwyang garang.

__ADS_1


Chien Wan menatap mata kakeknya yang tajam. Ia sangat sedih. Sejak memasuki ruangan, ia tak berani memandang mata mereka semua. Takut kalau-kalau ia melihat sorot jijik di sana. Kini ia memberanikan diri menatap kakeknya atas perintah beliau. Namun yang dilihatnya hanyalah sorot tajam serta garang seperti biasa.


“Apa kau membunuh paman dan bibimu?” tanya Tuan Ouwyang tajam.


“Tidak,” jawab Chien Wan tegas.


“Apa kau membunuh anggota Wisma Bambu lain?”


“Tidak.”


“Apa kau membunuh Sung Cen?”


“Tidak.”


“Apa kau mencemarkan Ting Ting?!”


“Tidak!”


Senyum Tuan Ouwyang mengembang. “Bagus. Kau tegas. Anggota keluarga Ouwyang memang harus begitu!”


“Kakek percaya padaku?” tanya Chien Wan ragu.


“Tentu saja!”


“Sekarang semua orang tidak percaya padaku. Semua pendekar ingin membunuhku. Bahkan... Ping-er juga tidak mempercayaiku.” Chien Wan menelan ludahnya yang terasa pahit.


“Ping-er?” Ouwyang Kuan mendekat.


“Chien Wan... sebenarnya siapa yang melakukannya? Siapa yang begitu tega mencelakakan anggota Wisma Bambu dan menimpakan semua kesalahan atas namamu?” keluh Sui She pilu.


Chien Wan melihat tangis ibunya yang begitu memilukan. Ia mendekati ibunya dan merangkulnya. “Ibu... jangan menangis. Aku tidak punya penjelasan apa-apa. Salahkan aku bila itu membuatmu merasa lebih baik.”


“Tidak!” Sui She menggeleng kuat-kuat dalam pelukan putranya. “Aku tidak mau menyalahkanmu. Sudah cukup kau disalahkan oleh semua orang. Masa ibumu sendiri juga mau menyalahkanmu?”


“Aku sedang berusaha mencari petunjuk. Tetapi aku tidak pernah menemukan apa-apa. Aku bahkan tidak bisa berada di satu tempat cukup lama untuk mencari bukti atau petunjuk karena selalu dihadang dan diserang.”


“Benar-benar menyebalkan!” gerutu Tuan Ouwyang Cu.


“Untung saja Siu Hung datang dan menjelaskan semua,” sela Ouwyang Kuan.


Chien Wan kaget. “Siu Hung?” Cepat ia menoleh dan melihat Siu Hung sedang berdiri di sudut sambil menyengir lebar. Ia tidak mengetahui kehadiran gadis itu. Gadis itu melompat-lompat dan berlari mendekati Chien Wan. Ia menggenggam tangan Chien Wan dan mengguncang-guncangnya.


“Kakak Ouwyang, kita semua sedang mencari cara untuk membuktikan kau tak bersalah!” kata Siu Hung riang.


Chien Wan tertegun.


“Tidak semua orang memusuhi Anda, Pendekar Ouwyang,” kata A Te. “Sekarang ini Pendekar Sung dan semua penghuni Bukit Merak, dibantu Nona Wu dan dua pengawalnya, sedang berembuk. Mereka sedang mencari cara untuk membersihkan nama baik Anda.”


Chien Wan tertegun.


“Para pendekar itu memang menyebalkan!” seru Siu Hung sebal. “Bahkan ayahku pun tidak mau didengar oleh mereka. Mereka semua sibuk menyalahkanmu sampai-sampai ayahku sendiri kewalahan meminta mereka tenang! Ugh! Mau rasanya aku meninju mereka semua!”


“Kau sudah melakukannya, Nona.” A Te meringis. “Kau meninju salah satu anggota Perkumpulan Naga Langit yang berkeras mengatakan bahwa Suling Maut hanyalah penjahat kecil.”

__ADS_1


“Masa?” Tuan Ouwyang menyipitkan mata.


Siu Hung mengangkat bahunya. “Habis orang itu sok!” katanya sebal. Ia memandang wajah Chien Wan dengan tatapan penuh kemenangan bercampur rasa sayang.


Tuan Ouwyang mengelus-elus jenggotnya yang panjang dan berwarna putih dengan serius. Siu Hung memandanginya dengan penuh minat.


***


Sementara keluarganya tengah berembuk di Lembah Nada, Ouwyang Ping memilih untuk mengupayakan petunjuk yang membuktikan kakaknya tidak bersalah. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Dan ia sungguh terkejut mendapati bahwa sekarang ini Chien Wan tengah menjadi sasaran kemarahan seluruh anggota Dunia Persilatan.


Ia kesal pada Sen Khang yang begitu mudahnya menyebarkan peristiwa itu demi membalas Chien Wan. Bahkan berita tercemarnya Ting Ting pun kini sudah diketahui Dunia Persilatan. Mengapa Sen Khang tega melakukan itu? Mengapa Sen Khang tidak berpikir panjang dan menyadari bahwa nafsu balas dendamnya akan membuat aib Ting Ting diketahui orang banyak?


Ia ingin sekali pulang ke Lembah Nada untuk menenangkan orangtuanya yang sudah pasti merasa terpukul sekali. Ia yakin sepenuhnya bahwa berita itu tentu sudah sampai ke sana. Hanya saja ia tidak tahu harus mengatakan apa kepada mereka, sebab ia sendiri tidak tahu apakah Chien Wan bersalah atau tidak.


Kesedihan membebani hatinya membuatnya ingin menangis. Tetapi ia harus kuat! Ia harus segera mencari petunjuk tentang keadaan yang sebenarnya. Jikalau memang kakaknya bersalah, maka ia tidak dapat melakukan hal lain selain bergabung dengan para pendekar untuk meminta kakaknya mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun jika kakaknya tidak bersalah, ia akan mati-matian membelanya.


Sekarang ia harus mulai dari mana?


Siapa orang yang paling dihormati di kalangan Dunia Persilatan saat ini? Tentu saja Ketua Persilatan Sung Han! Ouwyang Ping hendak memukul kepalanya sendiri karena tidak memikirkan hal ini dari semula. Pendekar Sung pasti dapat mengendalikan para pendekar yang murka dan meminta mereka agar tidak bertindak gegabah sebelum menemukan bukti yang jelas.


Maka ia bergegas menuju Kota Lok Yang.


Sudah agak lama ia tidak bertemu dengan Pendekar Sung. Sejak dua tahun lalu sampai sekarang, ia memang tidak berhubungan dengan Dunia Persilatan. Mungkin Pendekar Sung sudah tidak mengenalinya sekarang. Tetapi ia mengenal baik Sung Siu Hung. Gadis remaja itu akan menjadi penghubung yang baik antara mereka.


Ia tiba di Kota Lok Yang tanpa menemui hambatan. Namun alangkah kecewanya dia ketika tiba di kediaman Pendekar Sung dan mendapati bahwa Pendekar Sung sedang tidak berada di tempat.


Ouwyang Ping berjalan gontai di jalanan kota. Ia bermaksud mencari penginapan. Ia akan menunggu sampai Pendekar Sung kembali.


Ia tidak menduga saat itu Chang Fei Yu sedang berada di jalan yang sama dengannya.


Fei Yu terkejut melihat Ouwyang Ping.


“Ouwyang Ping!”


Ouwyang Ping menoleh. “Lho, Fei Yu?”


Mereka bergegas saling menghampiri.


“Mengapa kau ada di sini? Bukankah kau sedang di Wisma Bambu?” tanya Fei Yu beruntun.


“Aku ingin menemui Pendekar Sung,” jawab Ouwyang Ping. Keningnya berkerut. “Dari mana kau tahu aku ada di Wisma Bambu?”


Fei Yu berdecak. “Berita tentang peristiwa itu dan kejadiannya sudah tersebar.”


Wajah Ouwyang Ping murung sekali. “Kau juga sudah tahu.”


“Ya. O ya, Paman Sung sedang di tempatku sekarang. Kau ikut saja denganku,” ajak Fei Yu.


“Baiklah.”


Mereka berjalan beriringan menuju Bukit Merak. Fei Yu membawa bungkusan yang tampak berat. Ia memang pergi ke kota karena disuruh ayahnya membeli beberapa perlengkapan. Orang tidak akan mengira bahwa Dewa Seribu Wajah biasa membeli perlengkapan yang dipakainya untuk membuat alat menyamar di pasar kota. Dan kenyataanya, memang tidak ada yang aneh dalam belanjaan Fei Yu. Hanya bermeter-meter kain dalam berbagai jenis bahan serta kosmetik. Penampilan Fei Yu yang seperti bangsawan muda membuat orang-orang tidak merasa heran melihatnya membeli kosmetik. Orang yang memperhatikannya akan berpikir bahwa Fei Yu membeli semua itu untuk menyenangkan istri atau kekasihnya. Sudah hal yang lumrah di kalangan bangsawan.


***

__ADS_1


__ADS_2