
Fei Yu dan A Nan meninggalkan Bukit Merak setelah keadaan di sana berangsur-angsur pulih. Mereka memilih lewat jalan kecil dan sepi untuk dapat mencapai Kotaraja. Mereka tidak berjalan dengan tergesa-gesa karena berharap menemukan petunjuk sepanjang jalan.
“Sayang sekali Kakak Lo dan Kakak Hauw tidak bisa ikut kita,” komentar A Nan. “Kalau ada mereka, kita akan mendapat bantuan yang berarti.”
“Chien Wan sudah memerintahkan mereka kembali ke Lembah Nada setelah semua urusan di Bukit Merak beres. Lagi pula, tak enak rasanya merepotkan mereka terus. Mereka sudah banyak sekali membantu kita selama di Bukit Merak.” Fei Yu menggeleng-geleng.
A Nan tersenyum. “Saya tahu. Hanya saja....”
“Jangan-jangan kau tertarik pada Kakak Hauw!” goda Fei Yu nakal.
Wajah A Nan merona. “Tuan Muda!”
Fei Yu tergelak-gelak. Ia senang bila hal itu memang terjadi. A Nan sudah berusia 28 tahun namun tak pernah menampakkan keinginan untuk berumah tangga walau hal itu sudah beberapa kali dibicarakan oleh Tuan Chang. Bila kini ia tertarik pada Hauw Lam, alangkah bagusnya! Hauw Lam beberapa tahun lebih tua dari A Nan, dan masih bujangan. Mereka akan menjadi pasangan yang serasi.
Mereka berjalan melewati desa dan hutan, seringkali menginap di jalan bila malam tiba. Dan akhirnya mereka tiba di sebuah lembah sunyi yang terletak tak jauh dari Kotaraja. Lembah itu agak menyeramkan, apalagi mereka tiba di sana pada saat matahari mulai terbenam. Namun mereka tak mempedulikan suasana sepi dan seram itu karena sudah tak sabar lagi ingin segera tiba di Kotaraja.
Ketika mereka berada di tengah lembah, beberapa sosok tubuh berlompatan dan menghadang mereka. Keduanya langsung waspada, apalagi mereka dikepung dan tak ada jalan keluar. Fei Yu dan A Nan berpandangan dengan terkejut, menghitung dalam hati jumlah penghadang itu. Semuanya ada enam orang.
“Kaukah Chang Fei Yu dari Bukit Merak?” tanya salah seorang dari mereka. Suaranya garang dan angkuh.
“Benar!” Fei Yu berkacak pinggang. “Kalian mau apa?!”
“Membunuhmu!”
Serentak para penghadang itu langsung menyerbu Fei Yu dan A Nan. Mereka mengeroyok keduanya dengan serangan-serangan yang amat lihay. Fei Yu melompat dan menarik A Nan, melemparnya ke pinggir jalan. “Hati-hati, A Nan!”
A Nan terguling dan langsung berdiri. Untung saja mereka tidak menyerangnya karena terlalu sibuk berkonsentrasi dengan Fei Yu. Rupanya mereka menganggap A Nan bukan ancaman.
Dengan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa, Fei Yu melompat dan melancarkan serangan dahsyat ke lawan-lawannya. Kipasnya menyambar-nyambar dengan lincah dan gesit. Serangannya tajam dan akurat.
Salah seorang penyerang melemparkan senjata rahasia berujung hitam ke arah leher Fei Yu. Sudut mata Fei Yu yang awas melihat laju senjata rahasia itu dan ia segera melompat menghindar. Senjata rahasia itu menancap di batang pohon yang memang ada di belakang Fei Yu. Sungguh luar biasa! Dahan pohon langsung menghitam dan mengeluarkan asap karena hangus. Itu pertanda senjata rahasia itu mengandung racun mematikan.
__ADS_1
Fei Yu tak sempat memperhatikannya karena sebatang golok melayang hendak menebas lehernya. Ia berkelit menghindar dan menangkis golok itu dengan kipasnya. Pijaran bunga api memercik dari pertemuan kedua senjata itu. Belum lagi ia sempat menangani golok, kali ini sebuah tombak mengarah kepadanya, siap menusuk dadanya. Ia melentingkan tubuh dan melayang menjauh dari keenamnya.
“Siapa kalian?” bentak Fei Yu gusar.
“Kau takut, Bocah?” ejek mereka.
Mata Fei Yu menyipit mengamati mereka. Keenam orang itu masing-masing membawa senjata yang berbeda. Ada yang membawa golok, pedang bengkok, belati, dan tombak. Dua tidak membawa apa-apa, namun Fei Yu tahu salah satunya adalah ahli senjata rahasia.
“Siapa yang menyuruh kalian?” bentak Fei Yu garang.
“Tak ada!”
Serangan pun dimulai lagi.
Fei Yu seorang diri dikeroyok oleh enam orang yang berkepandaian tinggi. Ilmu silat Fei Yu sangat tinggi. Ia memiliki ilmu meringankan tubuh di atas rata-rata orang kebanyakan. Namun menghadapi enam orang sakti sekaligus, lama-kelamaan ia agak kewalahan juga. Ia memutar tubuhnya bak gasing dan melancarkan serangan bergantian.
Kesaktian Fei Yu mengejutkan enam orang itu. Rupanya mereka agak meremehkan Fei Yu. Mereka tak menyangka bahwa seorang tuan muda pesolek dari Bukit Merak ini ternyata memiliki kepandaian yang luar biasa.
Namun lawan yang tak seimbang membuat Fei Yu keteteran. Ia menjadi agak panik dan lengah. Itulah sebabnya salah satu lengannya bisa tersabet oleh pedang bengkok lawannya.
Fei Yu mencelat sambal memegangi lengannya yang berdarah.
“Tuan Muda!” seru A Nan cemas.
Fei Yu tidak sempat menjawab karena lawan-lawannya kembali merangsek dengan serangan-serangan dahsyat. Fei Yu memutar kipasnya, namun luka di lengannya terasa nyeri dan kaku. Yang bisa ia lakukan hanyalah menangkis agar serangan itu tidak melukainya kembali.
Pada saat yang kritis itu, muncullah sesosok bayangan hitam yang langsung menerjunkan diri di tengah-tengah pertempuran. Ia langsung membantu Fei Yu dengan gerakan menyambar-nyambar.
Fei Yu berseru girang, “Paman Kelelawar Hitam!”
Kelelawar Hitam menyeringai dan terus berkelahi membantu Fei Yu.
__ADS_1
Adanya tenaga bantuan membuat semangat Fei Yu melonjak. Ia segera menotok lengannya untuk menghentikan pendarahan, lalu melompat dan menyerang kembali. Gerakannya menjadi makin kuat dan dahsyat.
Keenam orang itu pun mundur. Melumpuhkan Fei Yu seorang diri saja mereka kewalahan, apalagi ditambah dengan seorang Kelelawar Hitam. Akhirnya mereka mundur dan melompat pergi.
Kelelawar Hitam hendak mengejar, namun Fei Yu mencekal lengannya.
“Biarkan saja, Paman! Jangan-jangan mereka sudah menyiapkan jebakan di sana!”
Kelelawar Hitam pun batal mengejar. Ia menyeringai malu-malu pada Fei Yu.
A Nan bergegas menghampiri. “Tuan Muda, kau terluka!” serunya. Segera saja ia mengeluarkan obat luka yang dibawanya dan membubuhkannya pada luka Fei Yu.
“Paman dari mana? Mengapa bisa tiba-tiba ada di sini?” tanya Fei Yu saat mereka bertiga sudah duduk.
“Aku kan selalu mengembara tanpa tujuan. Sejak Ping-er pergi, aku kesepian. Aku pergi ke mana-mana. Terakhir aku ke Bukit Merak, tapi kau sudah pergi. Lalu aku bermaksud menyusul. Saat menyusul itu, aku melihat serombongan orang yang mencurigakan sedang membicarakan niat mereka mencelakakanmu. Aku mengikuti mereka diam-diam,” jelas Kelelawar Hitam panjang-lebar.
“Rombongan?”
Kelelawar Hitam mengangguk. “Ya, ada banyak orang. Salah satunya perempuan.”
“Perempuan?” Fei Yu semakin terkejut.
“Betul. Cantik, tapi perutnya agak gendut. Tidak secantik Ping-er, sih.”
Fei Yu berpandangan dengan A Nan. “Kau kenal dengan mereka?” tanya Fei Yu lagi.
Kelelawar Hitam mengerutkan keningnya, mengingat-ingat. “Ada satu orang yang pernah kulihat. Aku pernah melihatnya di Bukit Merak. Cheng Sam.”
“Cheng Sam?” seru Fei Yu dan A Nan bersamaan.
Kelelawar Hitam mengangguk.
__ADS_1
***