Suling Maut

Suling Maut
Hati yang Luka


__ADS_3

Chien Wan tengah duduk di taman sambil meniup sulingnya, memainkan lagu lembut. Pikirannya melayang tak menentu memikirkan kehidupannya selama ini. Ia tidak mendengar kedatangan Ting Ting.


“Kakak Wan....”


Chien Wan menoleh. Ia agak terkejut melihat Ting Ting. Selama beberapa hari ini, Ting Ting selalu terlihat kesal dan murung, jarang menyapanya.


Chien Wan bangkit dari duduknya. “Nona Ting Ting.”


Ting Ting mendekat. “Kau sedang meniup suling?”


“Ya.”


Ting Ting *******-***** tangannya. “Besok kami akan pulang ke Wisma Bambu.”


“Aku tahu. Sen Khang sudah mengatakannya.”


Ting Ting memandang pemuda yang dikasihinya itu dengan putus asa. “Kakak Wan, apakah sedikit pun kau tak mau berusaha mencegah?” desisnya. Sebenarnya ia malu merendahkan dirinya seperti ini, namun sudah kepalang tanggung. Ia tak ingin lagi menahan perasaannya. Ia harus mengungkapkan perasaan dan keinginannya.


Chien Wan terpaku.


“Apakah kau sedemikian bencinya padaku sehingga sedikit pun kau tak memandangku?” Kesedihan, kekecewaan, kemarahan, namun juga harapan tekandung dalam pertanyaannya.


“Nona....”


“Padahal aku sudah sangat merendahkan diri seperti ini, hanya supaya kau mengerti. Ketika kita berpisah dulu, aku memberikan tali sutra putih padamu sebagai lambang perasaanku. Tetapi... ternyata kau sekali pun tidak menanggapinya....” Bibir Ting Ting gemetar. “Lalu aku mesti bagaimana lagi?” Air mata meluncur turun dari pelupuk matanya.


Chien Wan terpana. Ia menjilat bibirnya gugup. Ternyata Sen Khang tidak mengada-ada sama sekali. Ting Ting memang begitu mencintainya, bahkan secara begitu dalam sampai rela merendahkan dirinya dengan memohon seperti itu.


“Nona, dengarlah.” Chien Wan bergerak dan berdiri membelakangi Ting Ting. Ia tak tahu mesti bagaimana supaya gadis itu tidak terguncang, namun ia tahu bahwa satu-satunya cara adalah dengan tidak memberinya harapan sama sekali. “Aku sama sekali tidak membencimu. Aku menghargaimu. Tali sutra putih itu pun masih tergantung erat di sulingku. Aku menghormatimu, amat sangat. Tetapi tidak lebih dari itu. Kuharap Nona mau mengerti.” Ia berbalik dan menatap gadis itu.


Kata-kata yang diucapkan Chien Wan terdengar begitu tegas. Ting Ting memandangnya dengan mata indah yang penuh air mata. Pandangannya agak kabur, tapi ia dapat melihat kepastian yang kejam di wajah Chien Wan.


“Ba... bagaimana dengan Ouwyang Ping?” tanya Ting Ting cemas. Ia berharap Chien Wan juga tidak menyukai Ouwyang Ping lebih dari sekadar adik. Ia ingin perasaan Chien Wan terhadap Ouwyang Ping sama dengan perasaan Chien Wan padanya.


“Ping-er?” tanya Chien Wan, agak terkejut. Ia menghela napas. “Nona, Ping-er berbeda darimu....”


“Apa bedanya?” tukas Ting Ting galak. “Dia dan aku sama-sama perempuan. Kami sama-sama pernah tinggal denganmu dalam waktu yang cukup lama. Aku malah lebih lama bersamamu dibanding dia. Kalau masalahnya cuma karena sering bersama-sama, seharusnya aku-lah yang ada di hatimu. Karena aku jauh lebih lama bersamamu. Kau tinggal di tempatku selama enam tahun. Dengan dia hanya tiga tahun!”


Chien Wan menggeleng. “Aku tak bisa menjelaskan perasaanku padanya, Nona. Ini bukan masalah bersama lebih lama, tapi... ada hal lain lain yang tak bisa kulukiskan. Aku tak tahu pasti bagaimana tepatnya. Yang pasti, dia ada di hatiku... selalu.”

__ADS_1


Ucapan Chien Wan pelan, namun terasa bagai sambaran halilintar di kepala Ting Ting. Mukanya serasa ditampar! Ia sangat terpukul mendengarnya. Air matanya bercucuran deras. Hatinya serasa dicabik-cabik. Lalu ia berlari meninggalkan Chien Wan.


Ya Tuhan! Tolonglah! Mengapa harus menjadi seperti ini? Aku mencintainya, sangat mencintainya! Dia adalah cinta pertamaku! Aku tak mau kehilangan dia! Hati gadis itu menjerit pilu. Tak ada yang dapat menghentikan kepedihannya.


Chien Wan terkejut saat gadis itu berlari meninggalkannya, naum ia tak kuasa mengejarnya. Ia sangat sedih melihat Ting Ting berduka seperti itu, tapi apa yang dapat dilakukannya?


“Chien Wan!” bentak seseorang.


Chien Wan menoleh, namun tiba-tiba sebuah pukulan melayang di depan wajahnya. Ia tidak siap untuk menangkisnya, maka tak pelak lagi pukulan itu menghantam wajahnya! Chien Wan terhenyak dan terhuyung-huyung mundur sambil memegang wajahnya yang kena tinju. Ia menatap penyerangnya dengan nanar. “Meng Huan....”


Meng Huan menatapnya dengan sorot mata berapi-api. Kedua tangannya terkepal ketat sehingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya yang biasanya tenang dan lembut kini memancarkan amarah yang luar biasa.


“Keparat kau! Kau membuatnya menangis lagi!” bentak Meng Huan bengis sambil menerjang lagi dan kembali mendaratkan pukulan keras di wajah Chien Wan. Kali ini, mata Chien Wan berkunang-kunang. Ia terjatuh.


Semua penghuni penginapan keluar karena mendengar keributan, termasuk juga Sen Khang dan Ouwyang Ping. Ouwyang Ping terpekik melihat Chien Wan terduduk di tanah dengan wajah membiru bengkak dan sudut bibir yang berdarah.


“Kakak Wan!” pekik Ouwyang Ping sambil bergegas menghampiri pemuda itu dan berlutut di sampingnya.


Sen Khang melompat menghentikan Meng Huan yang tampak mulai bergerak lagi, bersiap-siap menghajar Chien Wan. Meng Huan meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari tekanan Sen Khang, namun tak berhasil karena tenaganya kurang kuat.


“Ayo berdiri, Jahanam!” bentak Meng Huan sambil terus menggeliat-geliat dari pitingan Sen Khang.


“Lepaskan aku!”


“Hentikan! Kau membuat kita menjadi tontonan!” bentak Sen Khang tegas.


Meng Huan menghentikan rontaannya, namun pandangan penuh kebenciannya masih diarahkan pada Chien Wan. Sen Khang menyadari hal ini sehingga ia tak melepaskan cengkeramannya. Ia menyeret Meng Huan pergi.


Ouwyang Ping memapah Chien Wan berdiri dan menyusul kedua temannya.


Di kamar, Sen Khang memarahi Meng Huan.


“Apa yang merasukimu hingga bertindak seperti tadi?” bentak Sen Khang tajam.


“Dia telah membuat Ting Ting menangis. Aku harus menghajarnya!”


“Bukan kau yang harus menghajarnya!” hardik Sen Khang. “Kalau ada orang yang harus menghajarnya, itu adalah aku! Karena Ting Ting adikku. Tapi itu tak kulakukan. Mengapa? Karena aku tak berdaya memaksakan perasaan seseorang!”


“Tapi...!”

__ADS_1


“Ting Ting menangis karena kecewa. Seiring dengan berlalunya waktu, ia akan kembali ceria. Sekarang ini, tak ada satu pun yang bisa kaulakukan yang akan menghentikan tangisnya. Dengan memukul Chien Wan, kau tidak akan menyelesaikan apa-apa. Malah kau akan kehilangan persahabatan yang sudah kita jalani selama bertahun-tahun. Sekarang aku tanya, apakah kau rela?”


Meng Huan diam dengan hati membara.


Saat itu, Chien Wan dan Ouwyang Ping masuk.


Meng Huan melihatnya. Sinar matanya dipenuhi kemarahan. Ia tak tahan lagi dan melesat pergi meninggalkan mereka semua, tanpa mampu dihentikan.


***


Ting Ting terengah-engah sambil menghentikan laju larinya. Ia tak tahu sudah berapa jauh jaraknya dari penginapan. Yang ia tahu, ia berlari sekuat tenaga dan sejauh-jauhnya untuk mengusir kekecewaannya. Ia tiba di perbatasan Kota Lok Yang. Saat itu hari sudah gelap, dan tempatnya berhenti sangat sunyi. Namun ia tak memperhatikan.


Wajahnya merah dan basah oleh air mata. Ia menyandarkan diri pada sebatang pohon sambil memejamkan mata. Ia ingin sekali mengusir bayangan Chien Wan dari benaknya, namun lagi-lagi wajah itu terbayang.


Ting Ting menggigit bibirnya dengan hati pilu.


“Kakak Wan... Kakak Wan... teganya kau padaku...,” isaknya pedih.


Ting Ting tenggelam dalam kesedihan hatinya hingga ia tak menyadari kemunculan seseorang yang menghampirinya. Orang itu makin lama makin dekat dengannya namun ia tak juga merasakannya.


Krak!


Suara ranting patah menyadarkannya dari lamunan. Ia menoleh dan terbelalak melihat seseorang berbaju putih berdiri demikian dekat dengan dirinya.


“Kau...!”


Sosok itu langsung menggerakkan tangannya menotok jalan darah Ting Ting. Ketika Ting Ting terkulai, sepasang tangan orang itu langsung menangkapnya dan membawanya pergi.


Sementara itu, Meng Huan yang tampak kebingungan mencari-cari Ting Ting telah tiba di hutan.


“Ting Ting! Ting Ting! Di mana kau?” seru Meng Huan berulang-ulang.


Tetapi sosok Ting Ting tak ada di mana pun.


“Ting Ting!” teriak Meng Huan lagi.


Tak terdengar sahutan. Namun tak lama kemudian, matanya yang tajam melihat seseorang di kejauhan. Meng Huan tersenyum lega melihat sosok tubuh berbaju merah muda itu. Ia menghampiri.


“Ting....”

__ADS_1


Sosok itu berbalik dan menyemprotkan asap pembius. Meng Huan yang sama sekali tidak waspada hanya bisa terpana sebelum akhirnya terkulai pingsan.


__ADS_2