
Fei Yu menanti jawaban ayahnya dengan hati galau. Ia sendiri sebenarnya sudah berketetapan. Disetujui atau tidak, ia tetap ingin menikahi Ting Ting. Memang masih ada masalah sendiri dalam hubungan mereka. Belakangan ini Ting Ting memang dekat dengannya. Namun bukan berarti Ting Ting sudah bisa menerimanya sebagai pendamping hidup.
“Aku akan membicarakannya dengan Adik Ouwyang,” kata Tuan Chang menyerah.
Wajah Fei Yu menjadi cerah.
Tuan Chang langsung pergi mencari Ouwyang Kuan dan istrinya di perpustakaan. Fei Yu sendiri pergi menemui Ting Ting yang sedang ditemani A Nan.
Ouwyang Kuan dan istrinya tengah berdiskusi di perpustakaan, membicarakan masalah pengeluaran di Wisma Bambu. Sambil berdiskusi, mereka mencatat dan menghitung dengan sempoa.
“Adik Ouwyang, Adik Ipar,” sapa Tuan Chang.
Sepasang suami-istri itu menoleh dan tersenyum.
“Kakak Chang, silahkan masuk.”
Tuan Chang masuk dan tanpa basa-basi langsung menyampaikan maksud dan tujuannya untuk meminang Ting Ting.
Ouwyang Kuan dan istrinya terperanjat mendengarkan perkataan Tuan Chang mengenai permintaan Fei Yu. Mereka berpandangan resah. Bagaimana pun mereka merasa tidak berhak membuat keputusan tanpa melibatkan orang yang bersangkutan. Akhirnya mereka memutuskan untuk memanggil Ting Ting.
Ting Ting pergi ke perpustakaan diiringi oleh Fei Yu yang gelisah. Ia tidak tahu untuk apa ia dipanggil oleh paman dan bibinya, dan mengapa Fei Yu ikut pergi bersamanya. Ia hanya menduga hal ini berkaitan erat dengan kehamilannya.
“Ada apa, Paman, Bibi?” tanya Ting Ting, yang bertambah heran melihat kehadiran Tuan Chang bersama mereka.
Ouwyang Kuan tersenyum pada keponakannya. “Begini, Ting Ting.” Ia menceritakan pinangan Tuan Chang atas dirinya untuk dijodohkan dengan Fei Yu.
Kontan wajah Ting Ting menjadi pucat.
Ia tahu bagaimana perasaan Fei Yu padanya. Tetapi ia tak percaya Fei Yu masih menyukainya setelah segala peristiwa yang menimpa dirinya.
“Ta... tapi....”
“Kau tidak mau?” sambar Fei Yu kecewa. “Apa kau sebegitu bencinya padaku?”
Ting Ting menggeleng-geleng panik. “Bukan begitu! Aku hanya... maksudku... aku ini sudah ternoda...! Aku mengandung anak haram! Aku tidak pantas...!”
“Ting Ting!” sergah Fei Yu kesal. “Mengapa kau mengungkit-ungkit semua itu? Kami semua sudah mengetahuinya. Aku tahu. Ayahku tahu. Aku tetap ingin menikahimu, memang kau pikir kenapa?”
Air mata merebak di mata Ting Ting kala ia memandang Fei Yu. “Kau... kasihan padaku?” tanyanya mengiba.
__ADS_1
“Kasihan!” hardik Fei Yu gusar. “Aku tidak akan menikahi seseorang hanya karena kasihan! Aku bukan orang yang baik hati. Kaupikir aku senang harus hidup bersama dengan orang yang tidak kusayang walau aku kasihan setengah mati padanya? Tidak! Lebih baik aku membantu dengan cara lain.”
“Yang ingin Fei Yu katakan,” sela Tuan Chang sambil melirik jengkel pada Fei Yu, “adalah dia ingin menikahimu karena dia mencintaimu. Itu sebabnya.”
Fei Yu langsung memalingkan mukanya yang merona.
Dagu Ting Ting gemetar. “Masih?”
“Apa maksudmu masih?” Fei Yu cemberut.
“Aku ini....”
“Kalau kau mau bilang hal-hal seperti itu lagi, aku marah!” seru Fei Yu. Ia mengguncang lengan Ting Ting.
Ting Ting menangis dan merenggut tangannya dari cengkeraman Fei Yu dan berlari keluar dari perpustakaan menuju kamarnya.
“Ting Ting!”
Tanpa berpikir panjang, Fei Yu berlari menyusulnya.
“Haiss! Anak ini,” gerutu Tuan Chang. Ia gemas sekali melihat ketidaksabaran anak satu-satunya itu.
Mereka memutuskan untuk membiarkan sepasang muda-mudi itu membicarakan hal ini sendiri tanpa campur tangan mereka. Namun tentu saja diam-diam mereka menyusul dan memperhatikan dari jauh.
Pintu kamar Ting Ting tertutup rapat. Fei Yu mencoba mendorongnya, namun tertahan sesuatu. Agaknya Ting Ting menahan pintu dengan badannya.
“Ting Ting, buka pintunya!”
“Tidak! Pergi sana!” seru Ting Ting. Ia menangis terisak menumpahkan perasaannya. Sesungguhnya ia amat tersentuh dengan segala perhatian Fei Yu padanya. Ia mulai tergantung pada pemuda itu. Ia selalu menanti saat-saat di mana ia bisa berdua dengan pemuda itu. Hatinya bahagia bila Fei Yu memperhatikannya.
“Ting Ting!”
Ting Ting tidak menjawab.
“Kalau kau tidak mau menikah denganku, aku tidak akan menikah selama-lamanya! Bila keluargaku tidak punya penerus, semua itu adalah kesalahanmu!” ancam Fei Yu sebagai senjata terakhirnya.
Tangis Ting Ting berbaur dengan tawa yang mulai merambati dadanya. Mengapa di dunia ini ada orang seperti Fei Yu?
Fei Yu menanti dengan gelisah. Ia mulai yakin Ting Ting tak tergerak. Ia menghela napas panjang dan membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat itu. Otaknya berputar cepat memikirkan cara untuk membujuk Ting Ting. Apapun yang terjadi, dia harus bisa meyakinkan Ting Ting bahwa cintanya tulus, bahwa ia benar-benar ingin membuat Ting Ting bahagia, bahwa ia betul-betul tidak berkeberatan menerima bayi Ting Ting sebagai anaknya sendiri. Tetapi sepertinya Ting Ting masih meragukannya…
__ADS_1
Tiba-tiba saja pintu kamar Ting Ting terbuka.
“Fei Yu!”
Fei Yu berbalik. Ia melihat gadis yang dicintainya itu berdiri di sana dengan wajah bersimbah air mata. Namun senyum tersungging di bibirnya yang bergetar, seolah gadis itu telah berdamai dengan dirinya sendiri. Sepasang mata indahnya yang basah menatap Fei Yu dengan penuh rasa haru.
Tanpa mengatakan apa-apa, Fei Yu mendekat dan langsung meraih tubuh gadis itu dan memeluknya erat-erat.
“Dasar bodoh!” isak Ting Ting. “Kau memang benar-benar bodoh!”
“Memang,” senyum Fei Yu. “Dan kau akan menikah dengan si bodoh ini!”
“Aku belum bilang setuju.”
Fei Yu merenggangkan pelukannya. “Awas kalau kau bilang tidak! Aku akan menculikmu lagi dan kali ini aku takkan pernah membebaskanmu!”
Ting Ting tertawa di sela-sela tangisnya, teringat penculikan yang dilakukan Fei Yu hampir tiga tahun lalu untuk berkenalan dengannya. Ia harus membiasakan diri dengan kegilaan pemuda itu. Bukankah ia akan menjadi istrinya?
Plok plok plok!
Suara tepukan tangan terdengar dari arah samping. Mereka menoleh dan melihat Ouwyang Kuan, Sui She, Tuan Chang, dan A Nan sudah ada di sana. Mereka bertepuk tangan. Wajah suami istri Ouwyang tampak berseri-seri. A Nan juga demikian. Tuan Chang sendiri akhirnya bisa menerimanya, walau ia masih berkeberatan dengan bayi itu.
A Nan yang tengah menggendong A Lee menghampiri dengan wajah berseri-seri. Ia ikut bahagia. Dirinyalah yang paling tahu betapa dalam cinta Fei Yu terhadap Ting Ting. Akhirnya perjuangan Fei Yu membuahkan hasil yang manis.
“Selamat, Tuan Muda. Selamat, Nona Ting Ting,” kata A Nan.
A Lee ikut-ikut bertepuk tangan dengan wajah lucu, membuat semua tertawa melihat kelucuannya.
Luo Sui She merangkul keponakannya tersayang dengan penuh kebahagiaan. “Selamat, Anakku sayang,” ucapnya dengan mata basah karena haru. “Akhirnya kau menemukan kebahagiaanmu.”
“Bibi…” isak Ting Ting sambil balas memeluk bibinya.
“Kita akan membicarakannya dengan Sen Khang saat mereka semua sudah pulang,” bilang Ouwyang Kuan.
“Dan sebaiknya pernikahan kalian dilangsungkan secepatnya,” tambah Tuan Chang tanpa mengatakan bahwa kondisi Ting Ting mengharuskannya menikah segera sebelum perutnya membesar.
Wajah Ting Ting merona merah. Fei Yu tertawa melihatnya.
***
__ADS_1