
Kotaraja merupakan ibukota Kekaisaran Song, sebuah kota besar dengan banyak bangunan besar tempat tinggal para bangsawan dan pejabat istana. Pusat dari kota besar itu adalah sebuah istana yang luar biasa megah dan luas yang dikelilingi oleh tembok tinggi sehingga tak ada rakyat biasa yang bisa melihat bagian dalam dari istana. Istana memiliki satu gerbang utama yang dijaga ketat oleh puluhan penjaga istana berilmu tinggi.
Kekaisaran Song dipimpin oleh Kaisar Thai Cung, seorang kaisar yang gagah perkasa walau telah berusia separuh baya. Kaisar ini merupakan saudara muda dari Kaisar Tai Cu, pendiri Dinasti Song.
Sebelum Dinasti Song didirikan oleh Kaisar Tai Cu, Tiongkok berada dalam masa sulit setelah berakhirnya Dinasti Tang. Selama 54 tahun, terdapat lima kerajaan yang silih berganti menguasai negeri, yang disebut dengan Zaman Lima Kerajaan. Kerajaan terakhir yang memimpin adalah Kerajaan Fu Chou (Houw Chiu). Pada tahun ke sembilan kerajaan tersebut berkuasa, rakyat jenuh dengan kepemimpinan silih berganti itu dan akhirnya mereka mengadakan revolusi dengan dipimpin oleh seorang gagah bernama Cu Khung Yen (Tio Khong Ien). Revolusi tersebut berhasil dan dinasti baru bernama Dinasti Song berdiri, menobatkan Cu Khung Yen sebagai kaisar bergelar Kaisar Tai Cu.
Setelah Kaisar Tai Cu pensiun, kedudukannya digantikan oleh saudara mudanya Thai Cung. Hal itu terjadi karena Kaisar Tai Cu tidak memiliki keturunan yang bisa diandalkan untuk memimpin negara yang masih baru itu. Maka Kaisar Thai Cung naik tahta dan berhasil membawa Dataran Tionggoan menuju kemakmuran.
Saat ini Kaisar Thai Cung telah memimpin negara selama kurang lebih lima belas tahun. Dan sampai saat ini, kedudukannya sebagai kaisar tak tergoyahkan. Ia adalah seorang kaisar yang bijaksana dan dicintai rakyat. Semua orang menghormatinya, termasuk dari kalangan Dunia Persilatan.
Chien Wan dan Kui Fang tiba di pintu gerbang Kotaraja dan membiarkan diri mereka diperiksa pasukan istana sebelum berhasil masuk ke dalam Kotaraja.
“Mengapa untuk memasuki kota saja kita mesti diperiksa?” Kui Fang menoleh ke arah para penjaga setelah meninggalkan gerbang untuk memasuki bagian dalam kota.
“Ini Kotaraja. Mereka harus memperketat keamanan. Posisi sebagian besar penduduk kota sangat rawan. Mereka merupakan sasaran empuk bagi para pengacau,” jelas Chien Wan singkat.
Kui Fang mengangguk-angguk. “Di mana kita akan bertemu Kakak Chang?”
Chien Wan menggeleng. “Entahlah.” Ia dan Fei Yu tidak sempat menegaskan tempat pertemuan mereka. Namun ketika itu ia tidak mengetahui bahwa Kotaraja sebesar ini.
“Apa kira-kira mereka sudah tiba?”
Chien Wan mengerutkan kening. “Mestinya sudah. Perjanjian kita waktu itu adalah tanggal 3 bulan sembilan, tepat sebulan setelah terakhir kita berpisah. Sekarang sudah tanggal 3.”
“Bagaimana kalau kita mulai dari penginapan saja? Kakak Chang pasti menginap di suatu tempat. Kita berkeliling kota saja mencari penginapan yang kira-kira ditempati oleh Kakak Chang. Kita bisa bertanya pada pemilik penginapan apakah Kakak Chang terdaftar di sana,” usul Kui Fang.
“Kau benar.” Chien Wan mengangguk. “Ayo kita pergi.”
Mereka mulai berjalan di sepanjang jalanan Kotaraja. Berhenti pada setiap penginapan yang mereka lewati dan masuk untuk menanyakan keberadaan seorang pemuda bernama Chang Fei Yu. Pekerjaan itu lumayan menyita waktu karena jumlah penginapan di Kotaraja cukup banyak dan rata-rata besar dan dikelola dengan baik.
Akhirnya mereka tiba di sebuah penginapan yang bernama Wisma Pendekar. Konon penginapan itu didirikan oleh seorang pendekar Dunia Persilatan yang sudah pensiun dan menikah dengan gadis Kotaraja. Sebab itu dinamakan Wisma Pendekar. Dan sudah menjadi kebiasaan, semua pendekar Dunia Persilatan yang kebetulan memiliki keperluan di Kotaraja pasti akan menginap di sana.
Kedatangan mereka disambut oleh seorang pelayan berpakaian rapi. Dengan ramah pelayan itu menanyakan apakah mereka butuh kamar.
__ADS_1
“Kami memang butuh kamar. Tetapi kami juga ingin menanyakan seseorang bila kau tidak keberatan,” kata Kui Fang.
“Silakan, Nona.” Pelayan itu agaknya sudah terbiasa dengan kelakuan para anggota persilatan.
“Apakah seseorang bernama Chang Fei Yu terdaftar di sini?”
Pelayan itu mengerutkan kening. “Oh, kalau yang Nona maksud adalah Pendekar Chang dari Bukit Merak, memang benar. Beliau menginap sejak kemarin.”
“Di mana dia?” tanya Chien Wan tenang.
“Sekarang beliau sedang keluar bersama teman perempuannya.”
Chien Wan dan Kui Fang berpandangan. “Teman perempuan...?” gumam Kui Fang.
“Mungkin A Nan,” bilang Chien Wan.
Kui Fang mengangguk paham.
Setelah meletakkan barang, mereka pergi ke ruang makan untuk beristirahat dan mengisi perut.
***
Baru beberapa saat Chien Wan dan Kui Fang duduk sambil menikmati hidangan makan malam mereka, datanglah Fei Yu dan A Nan dari arah pintu. Mereka tampak lega begitu melihat Chien Wan.
“Chien Wan, Kui Fang.”
Chien Wan menoleh dan tersenyum kecil.
“Kakak Chang, kami mencarimu ke mana-mana,” bilang Kui Fang.
Fei Yu tertawa dan menghenyakkan dirinya di samping Chien Wan dengan letih. “Seharusnya aku yang mengatakan hal itu!” katanya. “Aku dan A Nan tiba kemarin sore, langsung menuju ke penginapan ini. Aku pernah menginap di sini bersama ayahku beberapa tahun yang lalu. Tiba-tiba aku sadar, kita tak pernah mengatakan akan bertemu di mana. Maka sejak pagi tadi aku dan A Nan berkeliling kota mencari kalian.”
“Sama!” seru Kui Fang. “Itu juga yang kami lakukan setibanya kami di sini tadi siang!”
__ADS_1
Fei Yu dan A Nan berpandangan dan tertawa. “Rupanya sejak tadi kita berselisih jalan terus. Sudahlah. Kalian dari mana saja?”
“Sebaiknya kita juga makan malam sekarang, Tuan Muda. Biar saya memesannya.” A Nan memanggil pelayan dan memesan beberapa jenis masakan kesukaan Fei Yu.
Fei Yu menunggu dengan tidak sabar sampai pelayan pergi. Lalu ia kembali mengajukan pertanyaan yang sama.
Chien Wan membiarkan Kui Fang yang menceritakan semua pengalaman mereka selama sebulan ini. Tentang bantuan yang mereka berikan pada Perguruan Elang Merah sampai akhirnya mereka mengetahui masa lalu Cheng Sam. Tentang Cheng Sam yang nyaris saja dapat mereka tangkap bila tak ada seseorang datang menyelamatkannya. Lalu tentang kepergian mereka ke Wisma Bambu dan diskusi yang mereka lakukan dengan Sen Khang.
Tangan Fei Yu terkepal mendengar cerita Kui Fang.
“Begitu rupanya!” Tinju Fei Yu yang terkepal dihantamkan ke meja dan menimbulkan suara keras yang menyebabkan beberapa orang menoleh ke arah mereka.
Pada saat yang bersamaan, pelayan datang membawakan pesanan mereka.
“Kau sendiri bagaimana?” tanya Kui Fang setelah ceritanya selesai. Ia sengaja tidak menceritakan pertunangan Ting Ting dengan Meng Huan. Entah bagaimana dia mendapat firasat bahwa Fei Yu memendam perasaan lain terhadap Ting Ting ketimbang hanya sekadar iba.
Fei Yu menyeringai. “Aku sibuk membenahi Bukit Merak dan memperketat pengamanan. Di antara anggota baru yang kuterima, ada beberapa orang yang mempunyai potensi bagus dan bisa dipercaya. Aku memberikan tugas berat pada mereka, tentu. Lalu aku meninggalkan Bukit Merak sepuluh hari yang lalu.
“Hampir tak ada waktu bagiku untuk mencari informasi. Tetapi beberapa hari yang lalu aku dan A Nan diserang oleh enam orang yang berilmu tinggi.”
Chien Wan langsung waspada. “Enam orang?”
“Benar!” angguk Fei Yu. “Kami diserang di sebuah lembah sepi tak berpenghuni yang kami lewati untuk mencapai Kotaraja.”
“Apa mereka berpakaian seperti orang Khitan?”
Fei Yu menggeleng. “Tidak. Penampilan mereka tak ada beda dengan kita. Seperti pendekar-pendekar Tionggoan biasa saja. Tetapi kalau kuingat-ingat lagi, raut wajah mereka memang agak asing. Bisa jadi mereka memang orang Khitan yang sering kau sebut-sebut, Chien Wan!”
“Bagaimana kejadiannya?” tanya Chien Wan.
“Begini. Tiga hari yang lalu....” Fei Yu memulai kisahnya.
***
__ADS_1