
Ting Ting meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari dua gadis pelayan yang memeganginya. Wajahnya kusut masai bersimbah air mata. Tangannya menggapai-gapai berusaha meraih pisau yang tadi hendak ditusukkan ke tubuhnya sebelum Meng Huan memukul tangannya. Meng Huan segera memanggil pelayan untuk memegangi gadis itu sementara ia sendiri memanggil Sen Khang.
“Lepaskan! Lepaskan! Aku mau mati!” jerit Ting Ting sambil terus meronta.
“Nona, jangan!” bujuk pelayan-pelayan itu sambil mati-matian memeganginya.
“Lepas! Lepaskan!”
Fei Yu datang dan melihat kejadian itu. “Ting Ting!”
Rontaan Ting Ting berhenti karena terlalu kaget melihat kehadiran pemuda itu. Ia tidak tahu bahwa sejak tadi Fei Yu ada di rumahnya. Ia tidak menyangka sama sekali akan dapat melihat pemuda itu lagi.
Ketercengangan Ting Ting dimanfaatkan Fei Yu untuk menendang pisau itu jauh-jauh. Ia menghampiri gadis yang masih berada dalam cekalan pelayannya itu. Ia mendekat dan berdiri di hadapan gadis itu. Digenggamnya kedua tangannya. Sorot matanya penuh dengan kasih sayang.
“Ting Ting....”
Ekspresi Ting Ting yang tercengang langsung digantikan dengan kengerian. Ia merasa begitu tidak berharga dalam kondisinya sekarang. Betapa hinanya dia di hadapan pemuda yang pernah mencintainya itu! Ia yakin sekarang ini yang dirasakan Fei Yu terhadapnya hanyalah perasaan jijik karena dirinya sudah begitu kotor sebagai seorang perempuan.
“Ting Ting...!”
“Tidak! Tidak!” Ting Ting langsung meronta lagi dengan kuat. Ia menangis tersedu-sedu sehingga sekujur tubuhnya gemetar hebat. “Jangan lihat aku! Aku kotor! Aku kotor!” jeritnya.
“Tidak, Ting Ting! Jangan bilang begitu!” Fei Yu berusaha menenangkannya. Tangannya menggenggam tangan Ting Ting erat-erat.
“Pergi! Pergi!” Ting Ting berusaha memalingkan muka. Ditariknya tangannya dari genggaman Fei Yu.
Fei Yu tercengang. Terguncang.
Datanglah Sen Khang dan Meng Huan.
“Ting Ting!” Sen Khang langsung menghampiri adiknya yang langsung meringkuk dalam pelukannya sambil menangis tersedu-sedu.
Meng Huan gemetar karena marah. “Apa yang kaulakukan terhadapnya?!” bentaknya pada Fei Yu.
“Aku tidak melakukan apa-apa!”
“Keparat! Tidakkah kaulihat dia sudah begitu terluka?!” Meng Huan mendorong tubuh Fei Yu keluar kamar sehingga mau tidak mau Fei Yu mundur dan terus mundur sampai keluar dari kamar Ting Ting. “Keluar!”
__ADS_1
Di luar kamar, mereka berhadapan dalam kemarahan.
Fei Yu tidak bisa melampiaskan kekecewaannya atas penolakan Ting Ting, maka ia menumpahkan kemarahannya kepada Meng Huan—orang yang memang tidak disukainya sejak dulu. “Apa hakmu mengusirku?” desisnya.
“Aku punya hak! Aku adalah kakak seperguruannya! Aku orang yang peduli padanya!” seru Meng Huan yang juga marah.
“Kau peduli padanya?” ejek Fei Yu. “Sejak kapan penjilat macam kau peduli pada orang lain?”
“Keparat!” Meng Huan kehilangan pengendalian dirinya. Wajahnya yang biasa ramah kini berubah keras dan penuh kebencian. “Kau sendiri juga harus bertanya pada dirimu sendiri!”
Ketika itu keluarga Ouwyang, Tuan Chang, Pendekar Sung, dan Kui Fang datang ke tempat itu. Betapa terkejutnya mereka melihat pertengkaran antara Meng Huan dengan Fei Yu.
“Apa maksudmu?”
“Jangan-jangan kau sendiri orang yang menyamar menjadi Chien Wan? Bukankah kau punya kesempatan dan kemampuan untuk menyamar? Ayahmu saja Dewa Seribu Wajah!” Meng Huan balas mengejek.
“Bedebah!” Ejekan itu semakin menyulut api amarah yang memang sudah berkobar dalam diri Fei Yu. Tanpa berpikir panjang, ia melompat menyerang Meng Huan dengan kipasnya.
Meng Huan mencabut pedang di punggungnya dan menangkis serangan itu. Bunga api berpijar akibat pertemuan kedua senjata itu.
“Apa-apaan ini?!” seru Ouwyang Kuan.
Namun seruan kedua pria setengah baya itu sama sekali tak dipedulikan oleh kedua anak muda yang tengah dilanda amarah itu. Mereka terus saja bertarung dengan mengerahkan ilmu silat yang mereka miliki.
“Fei Yu, Meng Huan, cukup!”
Sen Khang keluar dari kamar adiknya karena mendengar suara pertempuran. Ia melompat ke tengah arena dan berdiri di tengah-tengah pertempuran. Kedua temannya seketika menahan serangan karena takut melukainya.
Tuan Chang dan Pendekar Sung menghampiri mereka.
“Kau ini apa-apaan, Fei Yu!” maki Tuan Chang pada putranya.
Fei Yu diam saja dengan napas tersengal.
“Saudara Chi, jangan sembarangan menuduh orang!” tegur Pendekar Sung serius. Ia mendengar sendiri ejekan yang dilontarkan Meng Huan pada Fei Yu tadi dan ia merasa kurang suka dengan ucapan itu.
Meng Huan tersentak. Wajahnya berubah pucat. “Ya ampun! Aku... aku tidak bermaksud begitu...!” katanya gugup. Ia segera menghampiri Tuan Chang. “Maafkan perkataanku, Tuan Chang. Aku tidak bermaksud begitu. Tadi aku merasa gusar, jadi....” Ia menggeleng kalut.
__ADS_1
Tuan Chang menepuk bahu pemuda yang tampak begitu menyesal itu dengan bijak. “Dalam kemarahan, orang biasa mengucapkan sesuatu tanpa dipikirkan lagi. Tidak apa-apa, Anak Muda.”
Fei Yu mendengus muak. Ia berbalik meninggalkan tempat itu. A Nan yang setia mengikutinya.
Ouwyang Kuan, Sui She, dan Ouwyang Ping menghampiri Sen Khang.
“Ting Ting...?”
Sen Khang menarik napas. “Aku sudah menenangkannya. Sekarang dia tidur kelelahan.”
“Apa dia cukup makan?” tanya Ouwyang Ping prihatin. “Waktu itu dia sempat tidak mau makan apa-apa.”
“Sampai sekarang juga dia jarang makan,” beritahu Meng Huan pelan.
“Tidak boleh!” seru Sui She kalut. “Perempuan hamil harus makan makanan bergizi. Sebab ia bukan hanya makan untuk dirinya sendiri melainkan juga untuk bayinya.”
“Sudah diputuskan sesuatu mengenai bayi itu?” tanya Ouwyang Kuan lirih.
Sen Khang langsung mengerti, dan menggeleng. “Aku... aku tidak bisa memutuskan apa-apa, Paman. Ting Ting sendiri yang harus memutuskannya.”
“Keputusan mengenai apa?” tanya Meng Huan heran.
“Dipertahankan atau digugurkan...?” gumam Ouwyang Kuan.
“Apa?” Wajah Meng Huan langsung pucat. “Mau menggugurkannya?” serunya tertahan. “Tetapi... bukankah bayi itu tidak berdosa? Mengapa harus digugurkan?”
Sen Khang menatap Meng Huan serius. “Coba kaupikirkan mengenai masa depan Ting Ting. Bagaimana dia bisa hidup dengan menanggung aib? Mengandung anak yang tidak jelas siapa ayahnya. Dan bahkan bila kita tahu siapa ayahnya pun, jelas tidak mungkin aku menikahkannya dengan Ting Ting sebab orang itu pulalah yang telah menghabisi nyawa orangtua kami!” geramnya.
Tuan Chang dan Pendekar Sung menatap iba ke arah Sen Khang. Betapa malangnya nasib pemuda gagah itu. Kehilangan orangtuanya, kehilangan orang-orangnya, dan kini harus melindungi adiknya supaya tidak dicela orang karena hamil di luar nikah. Walau dengan begitu ia sendiri harus menanggung dosa.
“Tetapi masih ada cara lain,” sela Ouwyang Ping. Ia sependapat dengan Meng Huan. Bayi itu tidak berdosa, bukan kesalahannya bila ia diciptakan dari benih seorang penjahat. Bahkan sebagian darinya adalah milik Ting Ting. Apakah Ting Ting sendiri akan dengan rela membiarkan anak itu hilang? Apakah dia selamanya tidak akan dihantui perasaan berdosa apabila harus menggugurkan anak itu.
“Cara lain?” Sui She menatap putri tirinya itu dengan penuh minat.
Ouwyang Ping mengangguk. “Biarkan Ting Ting melahirkan bayinya. Lalu setelah itu, kita serahkan bayinya ke tangan orang lain. Biar mereka merawatnya.”
Sen Khang tertegun. Ditatapnya Ouwyang Ping. “Kau yakin Ting Ting sendiri bersedia mengandung dan melahirkan, kemudian menyerahkan anaknya begitu saja?”
__ADS_1
“Kita harus menanyakannya pada Ting Ting, bukan?”
***