
Suara sinis dan tajam itu membuat semua orang menoleh dan menatap takjub, terutama yang belum pernah melihatnya. Pria tua berkumis dan berjenggot putih yang mengenakan pakaian berwarna emas. Gagah dan garang dengan wajah sinis dan tatapan mata tajam.
“Ayah!” seru Ouwyang Kuan terkejut. “Kenapa Ayah ada di sini?”
Tuan Ouwyang Cu mendengus tajam. “Kau dan putrimu pergi begitu saja tanpa berpamitan padaku! Aku sangat kaget waktu Fu Ming memberitahuku kau pergi ke Wisma Bambu. Aku langsung mengikutimu saat itu juga. Aku tahu ada yang tidak beres!”
Ouwyang Ping mendekat. Wajahnya tampak cemas.
“Kakek!”
“Guru!”
Seruan ‘guru’ ini diucapkan bersamaan oleh tiga orang sekaligus. Chien Wan, Sui She, dan... Paman Khung!
Kehadiran Paman Khung di sana semakin mengejutkan mereka. Terutama sapaannya terhadap Tuan Ouwyang Cu. Bagaimana mungkin Paman Khung memanggil guru pada Tuan Ouwyang Cu?
“Paman Khung?” seru Tuan Luo sambil mendekat. “Apa yang kaulakukan? Apa yang kaukatakan?”
Paman Khung tidak menjawab. Ia malah mendekati Tuan Ouwyang dan berlutut di hadapannya. Ia bersujud dan membenturkan keningnya ke lantai.
“Aku telah menjadi murid yang sangat tidak berbakti! Aku melalaikan kewajibanku melayani Guru selama dua puluh tahun! Mohon Guru menghukum aku!”
Tuan Ouwyang Cu berkacak pinggang. “Hukumanmu akan menyusul, Sung Cen! Sekarang katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?”
“Sung Cen?” seru Ouwyang Kuan. Ia segera menghampiri Paman Khung dan mencengkeramnya serta membangkitkannya. “Kau benar-benar Sung Cen?”
Paman Khung melakukan perbuatan yang sangat mengejutkan semua yang hadir di sana. Ia memegang rahangnya sendiri, menarik kulit di bagian rahang dan merobeknya dengan gerakan menyentak. Tampaklah wajah yang gagah dan masih muda—kira-kira seusia Tuan Luo. Sangat berbeda dengan wajah Paman Khung yang sudah keriput.
“Kau...! Kau penipu! Kau bukan Paman Khung!” Tuan Luo terkejut dan marah sekali. Wajahnya merah padam. “Ternyata kau orang Lembah Nada yang menyusup ke kediaman kami! Pantas saja kau mati-matian meminta aku mengirim Chien Wan ke sana!”
Paman Khung alias Sung Cen menghela napas. “Aku memang telah menyusup. Tetapi bukan dengan maksud buruk.”
“Apa yang terjadi sebenarnya, Sung Cen?” tanya Tuan Ouwyang Cu kesal. “Aneh sekali kau melakukan sesuatu di luar pengetahuanku! Aku bahkan mengira kau sudah mati!”
“Sebelum aku menjelaskan semuanya, izinkanlah aku memperkenalkan seseorang padamu, Guru.” Sung Cen menarik Chien Wan yang hanya bisa terpaku dan tak mampu berkata apa-apa. Ia masih shock karena orang yang disayanginya selama sepuluh tahun ini ternyata tidak seperti yang dipikirkannya.
“Apa-apaan ini? Dia Chien Wan! Aku sudah mengenalnya!”
“Guru,” ulang Sung Cen hormat, “perkenalkan, pemuda ini adalah Ouwyang Chien Wan. Cucumu.”
Begitu kata-kata ini diucapkan, suasana di sana langsung sunyi senyap. Keluarga Luo terpaku tak percaya. Kejutan ini terlalu luar biasa sehingga tak bisa dipercaya. Ouwyang Ping sangat terpukul, namun masih belum percaya. Meng Huan diam saja. Tuan Ouwyang Cu memandang dengan mata menyipit. Sedangkan Chien Wan sendiri mematung tak bisa berkata apa-apa.
Hanya Ouwyang Kuan dan Sui She yang tampak tak terkejut. Mereka saling berpandangan dengan mata basah.
Tuan Luo memandangi Sung Cen, lalu pandangannya beralih ke arah Ouwyang Kuan dan adiknya yang saling berpandangan dengan penuh kerinduan. Seketika pengertian menghantam kepalanya, membuat wajahnya pias.
__ADS_1
“Sepertinya kita semua butuh penjelasan.”
***
Mereka duduk di ruang duduk. Tuan dan Nyonya Luo duduk di kepala ruangan dengan Ting Ting duduk di sisi mereka. Meng Huan duduk di samping Ting Ting. Tuan Ouwyang Cu duduk bersebelahan dengan Ouwyang Kuan dan Sung Cen. Luo Sui She tidak mau jauh-jauh dari Chien Wan, maka ia duduk di sisi Chien Wan sedang Sen Khang di sisi satu lagi. Ouwyang Ping duduk di hadapan mereka dengan wajah terpukul.
Ouwyang Kuan memulai kisahnya.
“Lebih dari dua puluh tahun lalu, Sui She datang ke Lembah Nada untuk mempelajari musik. Kecantikan dan kelincahannya sangat memikat hatiku. Tanpa dapat dicegah, aku jatuh cinta. Aku sangat bahagia karena ia pun mencintaiku. Singkat cerita, kami menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi. Namun lama-lama akhirnya semua orang di Lembah Nada tahu juga. Termasuk ibuku.
“Ibuku—semoga arwahnya tenang di alam baka—adalah seorang yang sangat keras hati dan pemarah. Beliau tidak menyetujui hubunganku dengan Sui She karena ingin aku menikah dengan Sie Hui Lun. Beliau menyukai Hui Lun sejak lama karena Hui Lun adalah putri seorang pejabat tinggi istana. Lagi pula ibu Hui Lun masih berkerabat dekat dengan ibuku.
“Akhirnya aku berterus terang kepada ibuku dan Hui Lun. Bahwa aku hanya menginginkan Sui She dan... sejujurnya kami sudah bertindak terlalu jauh dan mengakibatkan Sui She mengandung. Ibuku marah sekali. Demikian pula Hui Lun. Ternyata Hui Lun mencintaiku dan selalu ingin menikah denganku. Cintanya membuatku ketakutan. Dia adalah gadis yang keras dan kejam. Dia tak segan-segan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Dia mempunyai teman-teman yang berilmu tinggi yang dapat dengan mudah dipengaruhinya untuk mencelakakan Sui She.
“Ancaman Hui Lun dan ibuku membuatku tak berdaya. Maka saat mereka memintaku memilih antara memutuskan hubungan dengan Sui She dan membiarkannya pergi dengan selamat, atau meneruskan hubungan kami dengan risiko kehilangan nyawanya. Aku memilih yang pertama, namun meminta waktu untuk merawat Sui She sampai anak kami lahir dengan selamat. Setelah itu aku berjanji akan memulangkan Sui She ke Wisma Bambu dan segera menikahi Hui Lun.
“Aku tak mengatakan apa-apa tentang masalah ini pada Sui She. Sui She mengira masalahnya sudah beres dan hubungan kami baik-baik saja. Dia memintaku menikahinya dan aku... terpaksa berbohong dan mengatakan bahwa kami akan menikah begitu anak kami lahir—“
“Tetapi aku malah kehilangan bayiku!” tukas Sui She marah. Dengan cemas seolah takut kehilangan, ia meraih tangan Chien Wan dan menggenggamnya erat-erat. “Saat melahirkan, aku mengalami kesulitan dan dia tidak mau meminta bantuan siapa-siapa kecuali Sung Cen. Aku kehabisan tenaga dan hanya sempat melihat bayiku dan memeriksanya sebentar sebelum jatuh pingsan—untungnya aku sempat melihat tanda lahirnya, kalau tidak aku takkan mengenalinya! Begitu sadar, anakku sudah hilang. Aku sangat marah dan terpukul sekali!”
Ouwyang Kuan menatap perempuan itu dengan sorot mata pedih. “Maafkan aku! Aku tidak punya pilihan lain.”
“Apa maksudmu: tidak punya pilihan lain?” tukas Tuan Ouwyang geram. “Kau selalu bisa menemuiku! Tapi ini? Bahkan kau menyuruh Sui She pulang tanpa seizinku! Aku kaget sekali waktu ibumu mengatakan Sui She sudah berpamitan pulang. Aku tidak bisa mencegah karena waktu itu Sui She sudah pergi. Sekarang aku baru tahu!”
Ouwyang Kuan menghela napas panjang. “Aku tahu itu sekarang. Namun waktu itu, mendiang ibu selalu mengatakan padaku bahwa Ayah tidak menghargaiku dan kecewa terhadapku. Aku... aku tidak ingin Ayah mengetahui perbuatanku terhadap Sui She.”
Wajah Ouwyang Kuan memerah menahan malu. “Ayah tidak pernah ada untukku. Aku selalu ditinggalkan bersama Ibu. Kita tidak pernah dekat. Aku tidak ingin Ayah lebih kecewa lagi terhadapku.”
“Kau benar-benar dungu! Ibumulah yang menyebabkan kita tidak dekat! Seharusnya kau tahu! Jika kau ingin bicara, ruanganku selalu terbuka!”
Ouwyang Kuan memejamkan mata. Ia tidak pernah menyadari bahwa ibunyalah yang menciptakan jurang pemisah antara ia dan ayahnya. Setelah ibunya meninggal, ia baru menyadarinya.
Sung Cen berdiri dan menghampiri gurunya. “Guru, tenangkan dirimu. Semuanya akan kami buka hari ini. Jangan salahkan A Kuan.”
“Dan kau!” hardik Tuan Ouwyang. “Apa urusanmu dalam hal ini? Kau tidak lebih baik daripada anakku! Kautinggalkan istrimu dalam keadaan mengandung, membuat hubungan Lembah Nada dan Bukit Merak memburuk. Utusan dari Bukit Merak datang dan memohon untuk bertemu denganmu karena Cin Mei istrimu sudah melahirkan anak perempuan. Tapi kau tidak ada! Aku bahkan mengira kau ada di Bukit Merak! Sekarang coba kaupikir, bagaimana menurutmu pandangan kakak iparmu si Dewa Seribu Wajah terhadap Lembah Nada!”
Teriakan Tuan Ouwyang mengejutkan anak-anak muda di sana.
“Dewa Seribu Wajah kakak ipar Paman Khung—eh, Paman Sung Cen?” seru Sen Khang tanpa dapat menahan diri.
“Kau mengenalnya?” Sung Cen kaget.
“Ya, kami—“
“Tunggu dulu!” sela Tuan Luo. “Masalah itu nanti saja. Aku ingin tahu bagaimana kelanjutan cerita Tuan Ouwyang Kuan.” Ia menoleh dan menatap tajam Ouwyang Kuan. “Tuan Ouwyang, silakan teruskan!”
__ADS_1
Ouwyang Kuan melanjutkan, “Malam itu, aku panik melihat Sui She yang tampak sulit melahirkan. Aku berlari mencari ibuku untuk meminta bantuan. Namun ternyata, aku menemukan ibuku sedang bersama Hui Lun. Mereka sedang menyusun rencana untuk membunuh bayiku agar kelak di kemudian hari, tak ada penghalang dalam keluarga kami.
“Aku ketakutan. Aku tidak ingin mereka mencelakakan anakku. Akhirnya aku memutuskan bahwa mereka sama sekali tidak boleh tahu malam itu Sui She melahirkan. Maka aku memohon bantuan Sung Cen yang kebetulan sedang berkunjung, untuk membawa anakku ke Wisma Bambu ke perlindungan kakeknya. Aku ingin anakku berada di tempat yang aman, dan bagiku tempat yang paling aman adalah bersama kakeknya dan ibunya yang akan menyusul sebentar lagi, karena aku bermaksud mengirim Sui She pulang beberapa hari kemudian. Aku juga memberikan leontin bergambar burung hong sebagai pengingat bahwa dia masih punya ayah yang akan selalu menantinya.” Ouwyang Kuan memandang Chien Wan dengan sedih.
“Aku datang hari itu hendak mengunjungi Guru karena sudah lama aku tidak pulang ke Lembah Nada,” kata Sung Cen kemudian. “Setelah menikah aku tinggal di Bukit Merak bersama istriku. Aku tidak tahu bahwa saudaraku sedang mengalami kesulitan besar. Setelah tahu, aku tidak bisa tinggal diam. Aku dan A Kuan sangat dekat, kami saling mengasihi layaknya saudara kandung—bahkan lebih. Pengabdianku pada A Kuan dan Lembah Nada melebihi segalanya. Bahkan terhadap keluargaku sendiri pun aku tidak begitu.
“Maka ketika A Kuan memohon agar aku membawa bayinya ke Wisma Bambu dan memintaku menjelaskan segalanya pada Tuan Luo Senior—ayah Sui She, aku langsung menyanggupinya.
“Malam itu juga aku membawa bayi itu pergi. Aku tak menduga kepergianku dibayangi seseorang yang berilmu sangat tinggi. Orang itu selalu berusaha mencelakakanku. Aku harus sering bersembunyi dan mencari jalan lain untuk mengecoh orang itu. Memakan waktu hampir sebulan untuk mencapai Hutan Bambu.
“Aku belum sempat masuk ke dalam hutan saat orang itu muncul secara tiba-tiba dan menyerangku. Kepandaian orang itu sangat luar biasa, terutama ilmu ringan tubuhnya. Aku berusaha melawan dan melindungi si bayi. Namun ternyata aku kalah darinya. Dia melukaiku dengan sangat parah. Akhirnya aku jatuh dengan luka-luka di sekujur tubuhku. Dia mengira aku mati saat itu juga.
“Dia sudah akan membunuh bayi itu, namun si bayi menangis. Dia ragu dan akhirnya pergi. Mungkin dia pikir toh lama-lama bayi itu akan mati sendiri. Tetapi aku belum mati. Aku tidak sanggup berdiri, jadi aku melanjutkan perjalanan dengan merangkak.
“Saat aku berada di dalam Hutan Bambu, aku tak tahan lagi. Ketika itulah aku melihat seorang perempuan pencari kayu bakar. Dia menghampiriku. Aku lalu menyerahkan bayi itu beserta leontin pemberian A Kuan, serta memintanya mengantarkan bayi itu ke Wisma Bambu. Aku sendiri pingsan.”
Sung Cen mengakhiri ceritanya.
“Ternyata begitu!” Ouwyang Kuan berdiri dan merangkul saudaranya dengan penuh haru. “Aku sangat khawatir karena kau lenyap tanpa jejak. Aku tak tahu bagaimana keadaanmu. Aku meminta Hua Liu mengantar Sui She pulang. Saat Hua Liu kembali, aku menanyakan padanya apakah dia melihatmu dan mengetahui kabarmu. Namun Hua Liu tidak tahu apa-apa.
“Hui Lun mendengar aku mencemaskanmu. Ternyata dia diam-diam menertawakanku. Pada malam pengantin kami, dia mabuk dan mengatakan padaku bahwa dia menyuruh orang mengikutimu dan membunuhmu! Ternyata dia tahu semua yang kita lakukan malam itu. Aku marah sekali padanya! Aku semakin membencinya!”
Terdengar suara terkesiap. Semua menoleh ke arah Ouwyang Ping yang tampak begitu pucat dan terpukul. Ouwyang Kuan terpana. Ia terlalu gegabah. Ia lupa di sana ada Ouwyang Ping, putri Hui Lun.
“Tetapi aku tidak mati,” kata Sung Cen tenang. “Aku pingsan dengan tubuh penuh luka. Ketika sadar, aku sudah dirawat di dalam pondok oleh seorang laki-laki tua bernama Paman Khung. Dia baru saja pensiun dari pekerjaannya sebagai pelayan senior di Wisma Bambu. Dia sudah tua dan sakit, namun ternyata ia cukup mengerti pengobatan. Perlahan-lahan aku pulih.
“Setelah hampir setahun menderita luka parah, aku pun sembuh. Aku berusaha mencari kabar tentang bayi itu. Akhirnya aku tahu perempuan itu tak pernah mengantarkan si bayi ke Wisma Bambu. Aku pun tahu Sui She sudah kembali dan aku kaget saat mengetahui dia menderita gangguan jiwa dan kehilangan ingatan. Aku berusaha mencari si bayi sekuat tenaga, namun tak juga menemukannya.
“Aku tak punya muka untuk bertemu A Kuan karena telah menghilangkan anaknya, maka aku tak kembali ke Lembah Nada. Aku pergi ke Bukit Merak untuk menemui istriku. Ternyata... dia pun sudah meninggal dan membawa putriku bersamanya. Aku hancur dan tak punya harapan lagi.
“Ketika aku kembali ke pondok Paman Khung, ternyata dia pun sudah meninggal karena penyakit yang dideritanya. Aku benar-benar putus asa dan muncullah ide gila ini. Aku menguasai ilmu menyamar dan sanggup membuat topeng kulit yang menyerupai wajah orang lain dengan sangat baik. Dewa Seribu Wajah sendiri yang mengajariku. Maka aku membuat keputusan untuk menyamar menjadi Paman Khung dan memohon untuk dapat bekerja di Wisma Bambu. Jenazah Paman Khung sendiri kukuburkan di dekat pohon tua tak jauh dari pondok. Karena tempat itu terpencil, tak ada seorang pun menduga bahwa di sana ada kuburan. Lagi pula aku tak membuat nisan untuknya.
“Itulah satu-satunya yang dapat kulakukan. Setidaknya, aku dapat menjaga Sui She secara diam-diam. Aku selalu berusaha sedapat mungkin untuk bekerja sebaik-baiknya, bukan hanya supaya Tuan Luo tidak curiga, tetapi juga karena aku benar-benar menghormati keluarga ini.”
Tuan Luo terpekur memandangi Sung Cen yang selama ini dikiranya Paman Khung. Selama dua puluh tahun ini, Sung Cen tak pernah melakukan kesalahan terhadap keluarganya, malah sebaliknya. Pengabdiannya betul-betul mengagumkan.
“Bagaimana dengan Chien Wan? Bagaimana Paman bisa sampai mengetahui tentang dia? Bukankah dia sendiri tak tahu siapa dirinya?” sela Sen Khang.
Sung Cen menatap Chien Wan yang sedang mematung. Hatinya sedih melihat betapa kaget dan terpukulnya pemuda itu. Lalu ditatapnya Ouwyang Ping yang juga membisu dengan wajah pucat. Ia mendesah panjang.
“Semula aku tidak tahu. Aku juga tidak mempedulikannya. Namun suatu hari aku berkesempatan melihat kalung dan tanda lahirnya. Aku terkejut sekali waktu itu. Apalagi sewaktu aku tahu bahwa dia sangat menyukai musik. Saat itulah aku mengetahui kekuatan takdir. Takdirlah yang membuat ibu angkatnya sakit dan memberitahunya bahwa dia bukan anak kandungnya. Takdir pula yang menggerakkan mulut ibu angkatnya untuk menyuruhnya datang ke Wisma Bambu. Dan yang terutama, takdir pulalah yang membuat Chien Wan memiliki kemampuan musik luar biasa yang memang menurun pada orang-orang Lembah Nada. Dan aku... dengan segala cara berusaha agar Chien Wan bisa pergi ke Lembah Nada,” jelas Sung Cen.
“Mengapa kau tidak jelaskan sejak semula pada kami tentang asal-usul Chien Wan?” tanya Nyonya Luo yang sejak tadi berdiam diri.
“Jika sejak semula saya katakan, apakah keadaannya akan menjadi lebih baik? Bagaimana jika Tuan Luo menolak kehadirannya? Bukankah kalian semua tidak mengetahui masalah yang sebenarnya? Kalian akan menganggap saya mengada-ada. Apalagi Sui She sendiri hilang ingatan dan tidak bisa dimintai keterangan.” Sung Cen menggeleng-geleng sedih.
__ADS_1
Tuan dan Nyonya Luo berpandangan, menyadari bahwa yang dikatakan oleh Sung Cen itu beralasan.
“Aku berusaha memupuk kecintaannya terhadap musik dan sejak semula berusaha menanamkan kecintaan terhadap Lembah Nada. Di tempat itulah takdirnya. Dia berdarah Ouwyang. Dia harus berada di sana. Di sanalah akarnya!”