
Chien Wan dan Kui Fang menemui Ouwyang Kuan dan Sui She untuk berpamitan. Mereka hendak kembali ke Partai Kupu-Kupu sesuai rencana semula. Chien Wan sadar ia harus menepati janjinya kepada Ketua dan Nyonya Wu untuk segera mengantarkan Kui Fang pulang. Sudah terlalu lama ia membawa Kui Fang pergi.
“Mengenai masalah A Ming....”
“Kau jangan khawatir tentang masalah A Ming, Chien Wan,” potong Ouwyang Kuan. “Kami semua akan mengurusnya. Kau tenang saja.”
Chien Wan mengangguk.
Kui Fang memegang tangan Sui She dengan hangat. “Kami akan segera kembali, Bibi. Kali ini aku akan meminta pada ayahku untuk mengizinkan aku meninggalkan partai untuk waktu yang lama.”
Sui She tersenyum. “Semua orangtua pasti akan selalu mengkhawatirkan anaknya, Kui Fang. Aku sendiri sebenarnya selalu berat melepas anak-anakku pergi. Itu juga yang dirasakan oleh orangtuamu.”
“Kalau begitu, aku berjanji akan membawa Kakak Wan kembali dengan selamat.”
Semua tersenyum mendengar kata-kata Kui Fang yang lucu.
Setelah berpamitan, mereka berdua meninggalkan Wisma Bambu.
Perjalanan ke Partai Kupu-Kupu memang cukup jauh. Mereka harus melewati beberapa tempat dan menginap selama beberapa malam sebelum mencapai wilayah partai.
Entah mengapa, semakin dekat ke Partai Kupu-Kupu, perasaan Kui Fang menjadi tidak enak. Jantungnya berdegup kencang tanpa sebab. Ia menjadi gelisah.
Kegelisahan ini juga dirasakan oleh Chien Wan.
“Ada apa, Kui Fang?”
“Entahlah, Kak. Aku merasa tidak enak.”
Chien Wan mengerutkan kening. Seketika jantungnya juga berdetak kencang. Ia khawatir bahwa rasa tidak enak yang ada dalam hati Kui Fang adalah merupakan sebuah firasat. Apakah terjadi sesuatu dengan Partai Kupu-Kupu?
Mereka tiba di wilayah Partai Kupu-Kupu. Anehnya, tak ada satu pun penjaga yang menghadang mereka, seperti yang dahulu selalu dilakukan.
“Mengapa tidak ada yang menjaga gerbang?” gumam Kui Fang heran.
Kali ini, Chien Wan-lah yang merasa cemas. “Kita masuk!”
Mereka berlari masuk ke dalam wilayah partai.
***
Partai Kupu-Kupu sedang dilanda duka cita yang mendalam. Hampir semua anggota—atau lebih tepatnya anggota yang tersisa—sedang berkumpul di ruang dalam. Tidak seperti biasa, mereka tidak mengenakan pakaian cerah berwarna-warni yang selalu menjadi ciri khas mereka. Sebaliknya, mereka mengenakan pakaian berkabung yang suram. Suasana di sana sangat kelam dan penuh kesedihan. Isak tangis terdengar dari antara mereka.
Brak!
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka dan Kui Fang masuk bersama Chien Wan. Mereka langsung pucat pasi.
Di tengah ruangan, terdapat dua jenasah yang terbaring dalam peti mati. Sebuah altar dipasang di depan kedua peti tersebut. Seluruh anggota berlutut mengelilinginya. Banyak hio tertancap pada hiolo dan menebarkan asap beraroma wangi yang menyesakkan dada.
Sam Hui berdiri melihat kedua anak muda itu. Air mata membasahi wajahnya.
“Nona....”
“Tidaaaaak!!!”
Tubuh Kui Fang terkulai. Pasti ia akan terbanting ke lantai keras kalau saja Chien Wan tidak menangkapnya.
Segera saja para anggota menjadi sibuk. Beberapa anggota perempuan mengiringi Chien Wan yang tengah memondong Kui Fang menuju kamarnya. Setelah yakin bahwa Kui Fang akan diurusi dengan baik, Chien Wan kembali ke ruang depan di mana Sam Hui dan anggota lain berkumpul.
Pemuda itu langsung menuju ke arah dua peti mati yang diletakkan sejajar. Ia sangat terguncang melihat kedua jenasah yang terbaring di dalamnya. Ketua Wu dan istrinya tampak begitu kaku dan pucat. Mereka sungguh amat berbeda dari yang diingat Chien Wan.
Mengapa? Mengapa jadi begini?
Chien Wan tak bisa mengucapkan sepatah kata pun karena terlalu terpukul.
Sam Hui mendekat.
“Pendekar Ouwyang....”
“Tenangkan dirimu, Pendekar Ouwyang.” Sam Hui memapah Chien Wan duduk di kursi di sudut ruangan.
Chien Wan menghela napas. Ia merasa amat berduka, terutama untuk Kui Fang. Ia bisa membayangkan betapa hancurnya hati gadis itu. Matanya terpejam. Semua ini salahnya! Kalau saja ia tidak mengajak Kui Fang, tentu....
Tetapi tunggu! Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi? Mengapa Ketua dan Nyonya Wu bisa meninggal hanya dalam waktu beberapa minggu saja padahal mereka masih segar-bugar saat ia pergi bersama Kui Fang? Ini pasti... pembunuhan!
Chien Wan membuka mata. “Paman, ada apa?”
Sam Hui terenyak sedih di sisi Chien Wan. “Kami salah perhitungan, Pendekar Ouwyang. Kami pikir, sudah tidak ada bahaya mengancam partai ini sejak dimusnahkannya Hutan Bunga. Tetapi ternyata....”
“Hutan Bunga tidak benar-benar musnah!” sela Wen Chiang berapi-api. “Rombongan Cheng Sam telah kembali ke Hutan Bunga dan menyusun rencana!”
Chien Wan menoleh bingung.
“Sabar, Wen Chiang. Biar aku yang bercerita,” kata Sam Hui letih.
Wen Chiang pun menutup mulutnya.
Maka Sam Hui bercerita.
__ADS_1
Saat upacara peringatan setahun kematian Tuan dan Nyonya Luo, Ketua Wu mengutus Sam Hui dan Wen Chiang untuk pergi mewakili Partai Kupu-Kupu. Menurut Ketua Wu, sekarang ini keadaan Wisma Bambu sangat rentan karena semua anggota keluarga sedang berkumpul dalam kondisi berduka. Maka itu, dibutuhkan bantuan semua pendekar untuk melindungi mereka. Semua pendekar yang tidak memiliki keterlibatan emosional dengan keluarga Luo, dengan demikian bahaya yang diperkirakan mengancam akan dapat diatasi dengan adanya bantuan mereka.
Namun justru karena itulah, keadaan di Partai Kupu-Kupu sendiri menjadi sangat rapuh. Dengan perginya Sam Hui dan Wen Chiang yang merupakan dua anggota dengan kepandaian tinggi, otomatis Partai Kupu-Kupu tidak memiliki perlindungan.
Saat itulah rombongan Cheng Sam menyerang. Mereka membebaskan Wie Yun Cun dan Lan Sie, lalu menyerang Ketua Wu dan istrinya. Lo Koai telah terlebih dahulu mereka bunuh saat hendak menghalangi mereka membebaskan tahanan.
Cheng Sam sesumbar dan mengatakan bahwa mereka salah besar bila mengira rombongannya tidak bisa menggunakan Hutan Bunga lagi. Kenyataannya, Hutan Bunga masih dapat mereka manfaatkan.
Sam Hui dan Wen Chiang datang terlambat. Kedatangan mereka disambut sejumlah anggota yang terluka parah dan mayat-mayat bergelimpangan—termasuk jenasah Ketua dan Nyonya Wu.
“Para anggota yang selamat menceritakan apa yang terjadi, Pendekar Ouwyang. Itulah sebabnya kami tahu mereka bersembunyi di Hutan Bunga.” Sam Hui mengakhiri kisahnya.
“Apa mereka...?”
“Tidak,” tukas Wen Chiang geram. “Aku memimpin beberapa orang pergi ke Hutan Bunga. Tapi mereka sudah tidak ada.”
“Terkutuk!” maki Chien Wan penuh kemarahan.
Tiba-tiba, Kui Fang sudah ada di dalam ruangan itu. Ia melesat menghambur ke peti kedua orangtuanya dan menangis tersedu-sedu penuh kepedihan.
“Ayaaah! Ibuuu!!!” jerit Kui Fang.
Chien Wan menghampirinya dan merangkul bahunya. “Kui Fang, tenanglah....”
“Tidak! Bagaimana aku bisa tenang?” teriak Kui Fang. Air mata membanjiri wajahnya yang pucat pasi. “Chi Meng Huan dan rombongannya yang telah melakukan hal ini, bukan? Aku akan bunuh mereka!” Ia meronta ingin melepaskan diri dari pelukan Chien Wan dan hendak menghambur menuju pintu.
Namun Chien Wan memeluknya semakin erat. “Tidak, Kui Fang. Tenangkan dirimu!”
“Tidaaak!”
“Kui Fang, diam!”
Bentakan Chien Wan menghentikan gerakan Kui Fang. Dengan kaget dan terluka ia menatap pemuda yang dicintainya itu. Mengapa dia malah membentaknya? Tidak tahukah Chien Wan bahwa saat ini ia sangat menderita?
Chien Wan menatap gadis itu lekat-lekat. “Yang dibutuhkan oleh orangtuamu sekarang adalah baktimu sebagai anak. Kau tidak boleh meninggalkan mereka saat ini. kau harus tenang dan memikirkan segalanya dengan baik. Kau mengerti?” tegurnya dengan nada dingin.
Isak Kui Fang membuat dadanya sesak. Sepasang matanya yang lebar dan basah menatap Chien Wan dengan sakit hati.
Dan hati Chien Wan terasa nyeri sekali melihat tatapan gadis itu. Dengan lembut, dipeluknya gadis itu. Dan dibelainya rambut gadis itu penuh kasih.
“Aku akan selalu membantumu, Kui Fang. Kau masih punya aku,” bujuknya.
Air mata Kui Fang kembali membanjir membasahi pipinya.
__ADS_1
***