Suling Maut

Suling Maut
Berpisah Dengan Kui Fang


__ADS_3

Chien Wan dan Kui Fang sedang melakukan perjalanan untuk mencari bukti bahwa peristiwa itu sama sekali bukan kesalahan Chien Wan. Mereka berusaha menemukan petunjuk tentang siapa pelaku sebenarnya dan mengapa orang itu berusaha menimpakan kesalahan pada Chien Wan.


Chien Wan menceritakan kejadian yang dialaminya sewaktu ia masuk ke Wisma Bambu. Pada waktu itu ia bertabrakan dengan seseorang yang anehnya sangat menyerupai dirinya. Ia tidak sempat melakukan apa-apa karena perhatiannya terpecahkan oleh keadaan Wisma Bambu yang penuh mayat.


“Berarti dialah yang waktu itu dilihat oleh Ting Ting!” seru Kui Fang. “Mengapa kau tidak mengatakannya pada Kakak Luo waktu itu?”


“Aku tidak punya kesempatan,” kata Chien Wan pelan.


Kui Fang tercenung. Betul juga. Waktu itu Sen Khang begitu murka sehingga nyaris tidak memberikan kesempatan pada Chien Wan untuk bicara.


Chien Wan melirik pedang yang selalu dibawa-bawanya. Pedang yang telah menghabisi nyawa 23 anggota Wisma Bambu. Hanya pedang itulah satu-satunya petunjuk yang dimilikinya.


“Bagaimana kalau sekarang kita pergi ke Bukit Merak?” usul Kui Fang. “Kita bisa minta bantuan semua orang untuk memecahkan masalah ini?”


“Ya,” angguk Chien Wan. “Aku juga berpikir begitu.”


Maka mereka pun segera pergi ke Bukit Merak.


Anehnya, selama melakukan perjalanan ke Bukit Merak mereka seperti diawasi oleh banyak orang. Mereka memang tidak mengetahui bahwa peristiwa itu sudah tersebar ke mana-mana, dan bahwa Chien Wan sedang diincar oleh semua pendekar Dunia Persilatan.


“Kakak Wan,” tegur Kui Fang pelan. Selama itu ia memang sudah mengubah panggilan dari Kakak Ouwyang menjadi Kakak Wan. “Apa kau merasa ada yang mengawasi kita?” bisiknya.


Chien Wan mengangguk. Ia sudah merasakannya selama dua hari belakangan ini. Mereka hampir tiba di Bukit Merak, hanya perlu melewati satu desa dan hutan kecil. Selama itu ia merasakan ada banyak mata yang mengawasi mereka. Ia langsung waspada, mengira Cheng Sam dan anak buahnyalah yang melakukannya.


“Kakak Wan?”


“Ssst, hati-hatilah.” Chien Wan waspada dan menghentikan langkahnya.


Kui Fang langsung membeku di sisi Chien Wan.


Nyaris seketika itu juga, puluhan orang berlompatan mengelilingi mereka. Orang-orang itu mengenakan pakaian yang menunjukkan mereka berasal dari beberapa perkumpulan silat. Dari antara mereka, ada beberapa orang yang dikenali Chien Wan. Ia pernah bertemu dengan mereka pada pertemuan para pendekar.


“Pendekar Hua, Pendekar Can,” sapa Chien Wan sambil memberi hormat. “Ada apa ini?”


“Jangan banyak mulut!” bentak pria yang dipanggil Pendekar Hua.


“Suling Maut, kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!” bentak Pendekar Can.


Chien Wan tertegun. “Apa yang...?”


“Kau sungguh bejat! Kauhabisi nyawa orang-orang yang tidak berdosa!”


“Kau bukan manusia!”


Chien Wan tidak mampu lagi bicara. Ia terpukul sekali mendengarkan tuduhan-tuduhan itu. Ternyata berita itu sudah tersebar di Dunia Persilatan, dan semua orang menyalahkannya!


“Hentikan!” seru Kui Fang marah. “Kalian salah menuduh orang!”


“Jangan banyak bicara. Serbu!”


Segera saja puluhan orang itu menyerang Chien Wan dan Kui Fang. Gerakan-gerakan silat orang-orang itu sangat lihay. Mereka merupakan pendekar-pendekar yang terlatih dalam ilmu silat. Mereka juga sudah berpengalaman dalam berkelahi. Dengan sengit mereka bernafsu hendak melumpuhkan Chien Wan.


Chien Wan mencabut sulingnya dan menggunakan suling itu untuk menangkis serangan-serangan yang ditujukan padanya. Ia sama sekali tidak meu menggunakan pedang pembunuh yang saat ini tergantung di punggungnya. Ia tidak bisa menggunakannya karena ia memang tidak terlatih dalam menggunakan pedang.


Selendang Kui Fang menyambar-nyambar dengan lincah, membalas serangan orang-orang itu. Ia mati-matian membela dirinya sendiri dan Chien Wan. Kepandaiannya cukup tinggi dan ia sangat ahli memainkan selendangnya, namun ternyata ia kewalahan menghadapi orang-orang itu.


Perkelahian itu sangat tidak seimbang. Sehebat apa pun ilmu silat yang dimiliki Chien Wan, ia tidak sanggup menghadapi puluhan pendekar berilmu tinggi apalagi sambil melindungi Kui Fang. Maka ia berkelebat menarik Kui Fang mundur.


“Jangan lari!” seru para pendekar itu dalam kemarahan membabi buta.


Chien Wan tidak melihat jalan lain. Ia mendekatkan lubang suling ke mulutnya dan meniup. Sebuah nada tinggi melengking menyambar pendengaran mereka semua membuat konsentrasi mereka terpecah. Saat itulah Chien Wan berkelebat pergi sambil membawa Kui Fang.


Dan ketika para pendekar itu pulih, mereka berdua sudah lenyap.

__ADS_1


“Sialan!”


***


Chien Wan dan Kui Fang berlari menghindari para pengeroyoknya menjauhi daerah itu. Mereka tiba di sebuah desa yang sunyi. Napas mereka tersengal-sengal kelelahan, lalu mereka beristirahat di tempat yang kelihatannya bekas sebuah kedai.


“Gawat, Kakak Wan!” kata Kui Fang cemas. “Rupanya mereka sudah mendengar kejadian itu dan mereka semua mempersalahkan kau, persis seperti Kakak Luo!”


Chien Wan tampak cemas. Ternyata Sen Khang begitu marah kepadanya. Ia tega menyebarkan kejadian sebagai kesalahan Chien Wan! Rupanya kebencian sudah membutakan mata hati Sen Khang sehingga tidak mampu lagi melihat semuanya dengan mata yang jernih.


Belum sempat mereka beristirahat, belasan orang kembali mengepung mereka.


Kali ini rombongan Pendekar Fu.


Chien Wan dan Kui Fang langsung bangkit dan bersikap waspada.


Pendekar Fu adalah sahabat karib Pendekar Sung. Ia pernah bertemu dengan Chien Wan beberapa kali dan ia tahu pasti betapa Pendekar Sung menghargai pemuda itu. Maka itu ia tidak mau bersikap gegabah.


“Pendekar Fu, Anda juga hendak menyerang dan membunuhku?” tanya Chien Wan tenang.


Pendekar Fu mengerutkan kening. Jauh di lubuk hatinya ia tidak yakin Chien Wan bisa melakukan kekejian itu. Namun bagaimana pun penghuni Wisma Bambu tidak mungkin berbohong.


“Saudara Ouwyang, bila kau mau ikut kami dan tidak melawan, kami tidak akan membunuhmu,” kata Pendekar Fu tegas.


“Bagaimana jika aku menolak?”


“Maka tidak ada pilihan bagi kami.”


“Tunggu! Apa kalian tidak mau menanyakan versi Kakak Wan mengenai kejadian ini? Mengapa kalian hanya mendengarkan secara sepihak?!” seru Kui Fang marah.


Pendekar Fu menggeleng. “Nona, kami sudah menyelidiki semuanya. Memeng benar seluruh anggota Wisma Bambu sudah tewas. Memang benar Saudara Luo Sen Khang sendiri yang menyaksikan peristiwa itu. Mau tidak mau akmi harus mempercayainya.”


“Tapi...!”


“Kui Fang,” tegur Chien Wan membuat gadis itu terdiam. Lalu ia menatap Pendekar Fu dengan tenang. “Aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku bila aku memang melakukannya. Tetapi aku tidak bersalah. Dan aku akan melakukan apa pun untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah. Bila aku harus menjadi buronan untuk pembuktian itu, maka itu akan kulakukan.”


Chien Wan mendorong Kui Fang menepi. “Jangan ikut campur!” katanya tegas membuat gadis itu terpaksa menurut. Dan Chien Wan sendiri menghadapi mereka.


Pertarungan kembali terjadi. Lawan kali ini tidak sebanyak yang pertama tadi. Namun pertarungan lebih alot karena mereka lebih tangguh dari yang tadi. Pendekar Fu merupakan anggota sebuah perguruan silat yang sudah sangat terkenal di Dunia Persilatan. Ilmu silatnya sangat tangguh. Dan orang-orang yang bersamanya adalah adik-adik seperguruannya. Mereka merupakan lawan yang amat tangguh dan sulit ditundukkan.


Chien Wan berusaha semampunya supaya bisa menangkis serangan mereka tanpa membuatnya harus meniup suling. Namun ternyata itu mustahil. Ia tidak mempu mengalahkan mereka hanya dengan ilmu silatnya. Kepandaian para pendekar itu sangat tinggi dan membuatnya kewalahan. Lagi pula ia sudah kelelahan akibat mengeluarkan tenaga pada pertarungan sebelumnya.


Lagi-lagi Chien Wan tidak punya pilihan. Ia mendekatkan sulingnya ke mulutnya dan meniupnya. Namun kali ini bukan suara melengking menyakitkan yang keluar, melainkan semacam gaung menyeramkan yang mendirikan bulu roma.


Gaung itu begitu mencekam dan membuat para pengeroyoknya kehilangan konsentrasi. Mereka seperti mengalami halusinasi. Gaung itu membuat mereka seolah berada di sebuah tempat yang kosong dan hampa udara. Mereka tersengal panik saat mengira bahwa tidak ada lagi udara yang bisa mereka hirup. Kepanikan itu membuat formasi silat mereka kacau dan mereka terhuyung berusaha membebaskan diri dari jeratan kekosongan itu.


Chien Wan menjauhi arena pertempuran dan mendekati Kui Fang yang tidak terpengaruh karena tidak terlibat dengan pertarungan. Tanpa banyak cakap mereka segera meninggalkan tempat itu.


Sepeninggal Chien Wan, halusinasi itu pun lenyap.


Pendekar Fu tercengang. Sadarlah ia bahwa nama besar Suling Maut bukan omong kosong. Ia baru saja merasakan salah satu kehebatan ilmu meniup suling yang tidak banyak orang yang mampu menguasainya.


“Kakak Fu!” Salah seorang adik seperguruannya mendekat cemas.


Pendekar Fu menggeleng. “Kita tidak mampu mengalahkannya,” katanya muram.


“Kita kejar!”


Pendekar Fu mengangguk walau hatinya tidak yakin apakah mereka akan pernah bisa menangkap Suling Maut.


***


Chien Wan dan Kui Fang berkali-kali berhadapan dengan rombongan pendekar yang bernafsu ingin menangkap atau membunuh Chien Wan. Selama ini mereka berhasil meloloskan diri berkat kehebatan ilmu suling Chien Wan.

__ADS_1


Mereka tidak bisa pergi ke suatu tempat tanpa menarik perhatian karena wajah maupun nama besar Chien Wan sudah terkenal ke mana-mana. Sekarang bukan kekaguman atau pun pujian yang diterima Chien Wan, melainkan cacian dan makian, serta upaya pembunuhan terhadapnya.


Bahkan pergi ke Bukit Merak pun bukan perkara mudah. Lagi pula sekarang mereka tidak yakin lagi apakah penghuni Bukit Merak akan percaya bahwa Chien Wan tidak bersalah. Jangan-jangan mereka pun sama saja seperti para pendekar itu, lebih memilih untuk mempercayai kabar burung ketimbang mendengarkan penjelasan dari Chien Wan.


Hari itu mereka tengah bersembunyi di sebuah kuil bobrok setelah berhasil menghindari kelompok pendekar yang juga bermaksud membunuh Chien Wan.


“Bagaimana caranya kita mencari petunjuk kalau ke mana pun kita pergi selalu diburu orang?” tanya Kui Fang kesal. “Heran aku. Mengapa mereka picik sekali sih? Hanya mau mendengarkan kabar yang tidak mereka lihat sendiri!”


Chien Wan menghela napas. “Begitulah sifat manusia, Kui Fang.”


Kui Fang bangkit dan berjalan mondar-mandir. “Jadi, apa yang harus kita lakukan?”


Chien Wan tercenung. Ia sudah memikirkan masalah ini baik-baik. Tidak ada gunanya Kui Fang bersamanya. Selain berbahaya karena ia selalu dikejar orang, juga karena mungkin saja sekarang nama baik Kui Fang sudah tercemar pula karena bersama seorang pembunuh.


“Aku sudah berpikir, Kui Fang. Dan... sebaiknya kau kembali ke Partai Kupu-Kupu sekarang,” kata Chien Wan berat.


Kui Fang tertegun. “Apa?”


“Bila bersamaku kau akan mendapat celaka. Aku tidak bisa terus-menerus melindungimu. Ada saatnya aku akan menjadi lemah dan mereka mungkin saja akan menangkapku juga. Aku tidak ingin kau juga mendapat celaka.” Chien Wan berkata tegas dan pasti.


“Tidak mau!” seru Kui Fang panik. Entah mengapa membayangkan akan berpisah dengan Chien Wan membuat hatinya terasa amat sakit. “Aku ingin membantumu mencari petunjuk. Aku tidak akan meninggalkanmu!”


“Kui Fang, ini demi kebaikan kita semua.”


“Tapi... tapi....”


“Pikirkan juga aku. Gerakanku terbatas bila harus bertarung sambil melindungimu juga,” bilang Chien Wan. Ia terpaksa mengatakan hal ini untuk menggugah rasa bersalah Kui Fang.


Perkataan itu berhasil. Kui Fang tampak sedih. “Jadi aku menghambatmu, ya?”


Chien Wan mengangguk.


Kui Fang menghela napas. “Baiklah kalau begitu,” katanya pelan sambil memalingkan mukanya, menyembunyikan matanya yang mendadak basah. “Dari sini sudah dekat ke Partai Kupu-Kupu. Aku berangkat sendiri saja.”


“Aku akan mengantarmu.”


Kui Fang ingin menolak, namun batal. Jika Chien Wan mengantarnya, berarti mereka bisa bersama untuk beberapa waktu lagi. Bagi Kui Fang itu sudah cukup.


Maka setelah beristirahat beberapa saat, mereka pergi menuju Partai Kupu-Kupu.


Namun baru saja mereka keluar dari kuil dan berjalan beberapa lama, beberapa sosok berpakaian warna-warni menghadang. Mereka adalah orang-orang yang ditugaskan Ketua Wu untuk mencari Kui Fang. Wie Yun Cun yang memimpin mereka.


“Pembunuh, bebaskan nona kami!” bentak Wie Yun Cun galak.


Kui Fang meradang, “Paman Wie! Apa-apaan ini?”


“Kami ditugaskan untuk melindungi Nona sekaligus membunuh Suling Maut!” kata Wie Yun Cun. Ia memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengepung Chien Wan sementara ia sendiri melompat dan menyambar Kui Fang sebelum gadis itu sadar. “Serang Suling Maut!”


Anak buah Wie Yun Cun yang berpakaian warna-warni itu segera mengepung Chien Wan dan segera saja pertarungan terjadi.


“Kakak Wan!” Kui Fang meronta dalam pegangan erat Wie Yun Cun.


Chien Wan melirik sekilas. Hatinya sedih menyadari bahwa mulai saat ini ia akan berpisah dengan gadis yang selama tiga minggu ini selalu menjadi penyemangat hidupnya. Tanpa kepercayaan gadis itu yang begitu besar kepadanya, pasti ia sudah menyerah dan tidak ingin mencari pembuktian lagi.


“Bunuh dia!” perintah Wie Yun Cun bernafsu.


Serangan orang-orang itu semakin membabibuta. Namun mereka bukan tandingan Chien Wan. Mereka memang lincah dan gerakan mereka sangat lihay, namun Chien Wan lebih lihay dari mereka.


Dengan cepat, Chien Wan dapat melumpuhkan mereka tanpa harus meniup sulingnya. Lawannya tidak terlalu tangguh baginya dan hanya berjumlah sekitar tujuh orang, maka ia tidak mengalami kesulitan. Ia pun melompat mundur.


“Kakak Wan....”


“Selamat tinggal, Kui Fang.”

__ADS_1


“Kakak Waaan!!”


Chien Wan mencelat pergi diiringi jeritan Kui Fang dan makian Wie Yun Cun.


__ADS_2