Suling Maut

Suling Maut
Hari-Hari Bahagia di Pulau Ginseng


__ADS_3

Pulau Ginseng yang biasanya selalu sepi dan sunyi, selama sebulan terakhir ini mengalami perubahan suasana. Sekarang selalu terdengar suara tawa dan pertengkaran di sana-sini. Bahkan kadang-kadang makian sengit. Alunan suling dan harpa hampir setiap malam terdengar merdu dan indah. Suara orang latihan pun terdengar setiap siang dan sore.


Sen Khang dan Chien Wan yang berlatih di tempat yang berjauhan telah mengalami kemajuan pesat. Sekitar tiga hari sekali Dewa Obat mendatangi mereka untuk memberi petunjuk. Namun mereka berdua tetap tak diperkenankan bertemu.


Pada pagi dan sore hari, makanan mereka diantarkan oleh Ouwyang Ping dan Kui Fang. Tentu saja Dewa Obat tahu hubungan mereka masing-masing, sehingga tugas mengantar makanan pun dilimpahkan kepada pasangan masing-masing. Tugas mengantar makanan pada Sen Khang jatuh pada Ouwyang Ping. Dan Chien Wan diantarkan oleh Kui Fang. Dengan demikian mereka bisa mencuri waktu untuk berduaan.


Kadang-kadang Siu Hung ikut dengan kedua gadis itu. Ia bergantian menemani mereka. Namun yang paling sering adalah bersama Kui Fang. Sebab tujuan gadis itu adalah pantai. Siu Hung tergila-gila pada pantai. Ia senang berlatih di tengah-tengah pasir.


Sen Khang tengah berlatih jurus terakhir dari Ilmu Pukulan Badai. Ketika itu hari sudah sore, sudah hampir tiba waktunya makan malam. Ia segera menyelesaikan latihannya. Gerakannya demikian mantap dan sempurna. Dewa Obat bangga sekali melihat kemajuan pemuda itu.


Pada akhir latihan, ia melihat Ouwyang Ping tengah mendaki jalan setapak menuju tempatnya. Dengan segera ia menghentikan latihannya. Ia segera menghampiri Ouwyang Ping.


“Ping-er, ulurkan tanganmu!” seru Sen Khang saat gadis itu hampir mencapai tempatnya. Jalan yang harus dilaluinya memang cukup curam.


Ouwyang Ping mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Sen Khang. Pemuda itu menariknya ke atas. Sebenarnya tanpa dibantu pun gadis itu mampu mendaki sendiri. Namun Sen Khang tak pernah melewatkan kesempatan untuk sekadar memegang tangan halus gadis itu.


“Kakak Luo, aku membawakanmu makanan,” senyum Ouwyang Ping. Ia meletakkan keranjang makanannya.


Sen Khang balas tersenyum. “Terima kasih, Ping-er.”


Lalu mereka duduk di dekat gua yang ada di dinding tebing. Sen Khang mempergunakan gua itu untuk berlindung saat hari hujan, atau pada waktu tidur.


Sen Khang membuka keranjang makanan dan melihat isinya.


“Aku membuat cah kembang kol dan tumis ikan dengan daun bawang. Kui Fang membuat mantou tanpa isi untuk Kakak Wan dan isi kacang manis untuk kita semua.” Ouwyang Ping tertawa kecil. “Yang untuk Kakak Wan dia buat hambar. Dia sendiri juga makan itu.”


Sen Khang ikut tertawa. “Dia ingin merasakan hal yang sama dengan Chien Wan. Gadis itu benar-benar sayang pada Chien Wan.”


Ouwyang Ping mengalihkan pandangannya.


“Maafkan aku,” gumam Sen Khang. Ia sedih karena tampaknya gadis itu belum sepenuhnya melupakan masa lalunya.


Senyum Ouwyang Ping kembali lagi. “Mengapa minta maaf? Tidak apa-apa. Yang kaukatakan itu betul. Mereka memang pasangan serasi,” katanya lembut. “Sudahlah. Sebaiknya kau makan. Jangan-jangan sayurnya sudah dingin. Mudah-mudahan masih cukup enak.”


“Tentu saja!” Sen Khang mengambil sumpit dan mulai mencicipi cah kembang kolnya. “Wah, enak sekali!” pujinya. Lalu ia mencicipi ikan masak daun bawang. “Ini juga sedap sekali! Wah, kau memang sangat pandai memasak!”


“Kau selalu bilang begitu setiap kali makan!” sergah Ouwyang Ping malu.


“Itu memang betul, kok. Masakan apa pun yang kaubuat selalu enak.” Sen Khang menatap Ouwyang Ping dengan wajah berseri. “Kau akan menjadi istri yang baik....”


Ouwyang Ping tersipu, lalu menunduk. Pujian Sen Khang membuatnya malu, tetapi juga senang. Dadanya bergemuruh dan wajahnya merah merona. “Kau bisa saja...,” gumamnya.


Lagi-lagi Sen Khang merasa sangat terpesona. Tadi ia mengatakan, ‘kau akan jadi istri yang baik’, dalam hati ia menambahkan, ‘bagiku’. Ia sangat ingin terus berada di samping Ouwyang Ping. Ia ingin memandanginya setiap hari, melindunginya kala merasa takut, memeluknya saat sedih, menikmati masakannya, mendengarkan permainan harpanya yang merdu.


Permainan harpa....


“Ping-er, aku punya permintaan. Maukah kau mengabulkannya?” usik Sen Khang lembut.


Ouwyang Ping mengangkat kepalanya yang sejak tadi ditundukkan. “Permintaan apa, Kakak Luo?”


“Maukah kau memetik harpa dan memainkan lagu untukku?” pinta Sen Khang. Sorot matanya penuh dengan harapan yang mendalam, bercampur dengan sinar cinta yang melimpah.

__ADS_1


Ouwyang Ping tak menyangka Sen Khang akan memintanya memetik harpa. Itu memang kesukaannya sekaligus keahliannya. Tentu saja ia tak keberatan. Ia mengangguk. “Baiklah, Kakak Luo. Kau dengarkan saja sambil makan.”


Sen Khang meneruskan makannya dan melihat gadis itu bersiap-siap.


Suara denting harpa mengisi kesunyian pulau. Lagu yang dimainkan Ouwyang Ping begitu indah dan merdu. Lagunya bukan lagu yang menampakkan duka hati, melainkan lagu tentang kedamaian hati. Saat ini suasana hati gadis itu tengah diliputi kedamaian dan ia ingin membagi kedamaian ini dengan orang lain. Terutama dengan Sen Khang.


Sen Khang memandanginya, memperhatikan kelentikan jari-jari Ouwyang Ping kala memetik dawai harpa. Ia meresapi keindahan lagu itu bukan hanya melalui telinga, namun juga dengan jiwanya. Ia merasakan kebahagiaan dan ketentraman.


***


“Kakak Wan!”


Chien Wan menoleh dan melihat Kui Fang tengah berjalan menghampirinya. Keranjang makanan ada di tangannya. Segera ia menghampiri dan menggantikan gadis itu membawa keranjangnya.


Keduanya duduk di pasir pantai, menghadap ke laut lepas. Mentari jingga membulat di atas samudera membentuk bola besar membara yang siap menenggelamkan diri ke dalam lautan. Pemandangan matahari terbenam di Pulau Ginseng luar biasa indahnya. Mereka tak pernah bosan memandanginya.


Kui Fang membuka keranjangnya. Ia membawa makanan yang sama seperti yang dibawa Ouwyang Ping untuk Sen Khang. Namun ia tahu Chien Wan hampir tak pernah menyentuh lauknya. Selezat apa pun suatu makanan, tak ada artinya bagi Chien Wan. Karena makanan apa pun yang dirasakannya selalu sama; hambar.


Chien Wan memakan mantou tanpa isi yang dibawa Kui Fang. Lauk lezat masakan Ouwyang Ping sama sekali tak menimbulkan seleranya. Ia cukup senang hanya menghirup baunya saja.


“Kenapa kau hanya makan mantou saja, Kui Fang?” tanya Chien Wan heran melihat gadis itu hanya memakan mantou tanpa menyentuh lauk lainnya.


Kui Fang tersenyum. Ia takkan pernah mengatakan apa yang dilakukannya. Ia ingin merasakan hal yang sama dengan Chien Wan sebagai bukti cintanya pada pemuda itu. Namun ia tak mau pemuda itu tahu. Chien Wan pasti akan menegurnya karena ia tak setuju.


“Aku tak suka ikan, Kak.”


Chien Wan tidak bertanya lagi.


“Kakak Wan, ada apa?” tanya Kui Fang heran melihat pemuda itu tersenyum sendiri. Ia tidak dapat mendengar bunyi denting harpa karena pendengarannya memang tidak setajam Chien Wan.


Chien Wan menggeleng. “Tidak apa.”


Kui Fang menarik napas panjang. “Kakak Wan, aku ingin menanyakan sesuatu. Boleh, kan?”


“Ya.”


“Apa Kakak Wan masih... punya perasaan tertentu pada Ping-er?” tanya Kui Fang. Wajahnya agak merah saat menanyakan hal itu. Suaranya terbata dan ia tersipu.


Chien Wan terpana mendengar pertanyaan itu. Kui Fang sudah tahu akan masa lalunya karena Meng Huan memberitahukan padanya. Tetapi selama ini mereka tak pernah sekali pun membicarakannya. Ia sadar, bagaimana pun juga gadis itu berhak tahu segalanya, termasuk perasaannya.


“Ping-er adalah adikku, Kui Fang. Apa pun yang terjadi di waktu lalu, semua itu sudah tak berarti apa-apa bagiku.”


“Tapi....” Kui Fang menatap pemuda itu dengan resah. “Kenangan itu tidak mudah dilupakan. Apalagi kenangan yang indah.”


Chien Wan mengangguk. “Kenangan itu memang akan selalu tersimpan di hatiku. Namun bukan berarti aku hidup di dalamnya.”


Kui Fang menunduk.


“Apa aku harus minta maaf?” Chien Wan bertanya halus.


Seketika Kui Fang tersentak. Ia menggeleng keras-keras. “Tidak! Aku tidak ingin Kakak Wan minta maaf. Kakak Wan tidak bersalah padaku,” katanya. Ia mendekat dan merebahkan kepalanya di bahu pemuda itu. “Akulah yang bersalah karena menyinggung-nyinggung soal masa lalu. Maafkan aku, Ka....”

__ADS_1


Ucapan Kui Fang terputus karena ujung jari Chien Wan menutup mulutnya.


Gadis itu mengangkat kepalanya sehingga kini mereka berpandangan. Beberapa saat lamanya mereka hanya bertatapan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hanya sinar mata mereka yang mengungkapkan segala yang tak bisa diucapkan. Seolah waktu berhenti berputar.


“Kakak Ouwyang! Kui Fang!”


Tiba-tiba saja Siu Hung ada di hadapan mereka, memutuskan kemesraan di antara keduanya. Kui Fang tersipu dan cepat-cepat memutuskan pandangannya. Chien Wan pun menoleh dan melihat Siu Hung cengar-cengir di dekat mereka.


Entah dari mana datangnya Siu Hung dan bagaimana ia bisa tiba di sana tanpa terdengar gerakannya. Akhir-akhir ini Siu Hung memang mengejutkan. Gerakannya tak terduga dan cepat sekali.


“Siu Hung!” seru Kui Fang.


“Kau dari mana?” tanya Chien Wan.


Siu Hung tertawa-tawa. “Kaget, ya? Kaget, ya?” godanya nakal.


Chien Wan geleng-geleng kepala melihat kelakuannya.


“Kalian sedang makan, ya?” tanya Siu Hung riang. Matanya melirik ke lauk yang masih tersisa banyak. “Kok lauknya tidak dimakan, sih?”


Chien Wan dan Kui Fang berpandangan. Sejak tadi mereka hanya makan nasi dengan mantou saja.


“Bagimu sayur itu hambar, kan? Tapi kenapa Kui Fang juga ikut-ikut tidak makan, sih?” Siu Hung memonyongkan mulut. “Oh, aku tahu! Kui Fang ingin menyesuaikan diri, kan? Biar sama-sama merasakan keadaan seperti Kakak Ouwyang!”


Langsung saja Kui Fang tersentak dengan muka memerah.


Chien Wan tertegun. Benarkah itu?


“Lauknya harus habis. Kalau tidak kan sayang sekali!” Siu Hung langsung duduk di dekat mereka dan mengambil mangkuk lauk. “Buat aku saja, ya? Nanti biar kuberitahu yang lain bahwa ini semua kalian yang makan!” ujarnya dengan mata berbinar nakal.


Chien Wan tertawa kecil. “Ya sudah.”


Kui Fang tak berani menatap Chien Wan. Siu Hung terlalu, rutuknya dalam hati. Mengapa dia bisa menerka dengan tepat perasaannya?


Siu Hung mulai makan. “Uh, aku lapar sekali!” gumamnya dengan mulut penuh. “Kakek tidak mengatakan bahwa latihan Ilmu Genderang Surgawi bisa membuat orang jadi lapar!”


Chien Wan tertarik mendengarnya dan memandang gadis itu penuh minat. “Kakek mengajarimu Ilmu Genderang Surgawi? Itu ilmu yang sangat sulit.”


“Memang. Tadinya dia tidak mau mengajariku karena dia bilang aku bodoh. Tapi akan kubuktikan aku bisa!” kata Siu Hung berapi-api.


“Dulu Kakek pernah mengatakan akan mengajariku. Tapi aku menolaknya karena tidak berminat. Semoga kau berhasil,” kata Chien Wan dengan nada tulus. Ia senang kakeknya sudah menemukan orang yang tepat untuk mewarisi Ilmu Genderang Surgawi, walau tentu saja ia bertanya-tanya mengapa kakeknya tidak menunggu sampai A Lee dewasa.


“Tentu saja!” Siu Hung berkata yakin. “Aku pasti berhasil! Aku ini kan pintar sekali!”


Chien Wan dan Kui Fang berpandangan sambil menahan senyum.


Siu Hung melanjutkan makannya dengan cepat. Tak lama kemudian piring-piring sudah licin tandas. “Ah, kenyang!” gumamnya puas. Ia membereskan keranjang dan membawanya. “Biar aku yang bawa ini pulang. Kalian mengobrol saja di sini.” Ia berkelebat pergi.


Chien Wan dan Kui Fang terperangah karena lagi-lagi Siu Hung sudah menghilang dengan gerakan sangat ringan dan cepat. Chien Wan yakin kakeknya tidak salah memilih murid. Siu Hung ternyata memiliki bakat yang luar biasa.


***

__ADS_1


__ADS_2