
Pernikahan mereka dilangsungkan dengan sangat sederhana. Tak ada seorang pun dari kalangan persilatan yang diundang. Upacara itu hanya dihadiri oleh keluarga dekat saja. Namun Ouwyang Kuan menyempatkan diri untuk pergi ke Kuil Abadi bersama Sui She untuk memohon doa restu dari Biksu Hung Chi.
Biksu Hung Chi menyadari bahwa akhirnya beban berat yang selalu mewarnai wajah Ouwyang Kuan pun lenyap. Ia bersyukur atas kebahagiaan kedua mempelai.
Upacara pernikahan itu bagaikan mimpi bagi Chien Wan dan Ouwyang Ping. Keduanya tidak saling berbicara sejak peristiwa mengenaskan itu. Mereka bahkan tidak mau saling memandang. Bukan karena saling membenci. Namun justru karena di antara mereka telah terjalin cinta yang demikian kuat sehingga mustahil rasanya mengubah kasih itu menjadi kasih persaudaraan.
Tiga hari setelah upacara, Ouwyang Ping membuat pernyataan yang mengejutkan. Ia berpamitan.
“Apa-apaan ini?!” hardik Tuan Ouwyang Cu.
“Ping-er, mengapa...?” Sui She menggenggam lengan gadis itu dengan khawatir.
“Jangan berkata seperti itu!” Ouwyang Kuan memarahi putrinya. “Apa maksudmu ingin pergi mengembara? Kau ini mau ke mana? Kau masih kecil, tidak punya pengalaman dan belum pernah ke mana-mana sendirian.”
Ouwyang Ping tampak tenang. Ia sudah tahu reaksi keluarganya akan seperti ini. Namun keputusannya sudah bulat. Ia tidak tahan lagi berada di sana lebih lama lagi. Ia harus pergi. Berada di satu tempat dengan Chien Wan tanpa boleh mencintainya terasa sangat menyiksa. Ia bahkan tidak menunggu sampai semua tamu sudah pulang. Ia mengucapkan niatnya justru pada saat semua orang sedang berkumpul di aula tengah. Seluruh keluarganya hadir, juga keluarga Luo dan Meng Huan.
“Ayah dan Ibu sudah bersatu. Perasaanku sudah lebih tenang sekarang. Apa lagi yang dapat kulakukan di sini?” Ouwyang Ping tersenyum sedih.
“Ping-er, jangan macam-macam!” bentak kakeknya.
Ouwyang Ping menatap kakeknya. “Kakek, aku tahu selama ini kakek selalu menginginkan seorang penerus untuk mewarisi Lembah Nada. Kakek kecewa karena Ayah hanya memiliki aku yang perempuan ini. Sekarang Kakek sudah memiliki penerus. Kakek juga menyayanginya. Kehadiranku tidak berguna lagi.”
“Jadi sebenarnya kau marah?” sela Sui She sedih. “Sebenarnya kau tidak rela aku menjadi ibumu? Kau tidak menginginkan aku di sini? Karena ada aku maka kau ingin pergi. Jadi untuk apa aku menikah dengan ayahmu?”
“Ibu!” Ouwyang Ping mengerutkan kening. “Aku tidak membenci Ibu. Sebaliknya, aku mengagumi Ibu. Aku hanya....” Ia menghentikan kata-katanya karena dadanya terasa sesak.
“Kalau begitu jangan pergi!”
Semua orang berebut bicara untuk mencegah kepergian Ouwyang Ping, semua orang mengemukakan keberatannya, hanya Chien Wan yang diam membisu. Hanya Chien Wan yang tidak mengucapkan sepatah kata pun. Pemuda itu hanya diam terpekur dengan mata menerawang jauh.
Ouwyang Ping memandangnya dengan sedih. Lalu ia kembali memusatkan perhatiannya kepada yang lainnya. Ia menunggu sampai mereka semua selesai.
Akhirnya semua berhenti bicara. Dan Ouwyang Ping melanjutkan, “Ayah, aku akan pergi untuk mencuci dosa ibuku. Aku tak semestinya ada di tengah-tengah kalian. Kalian bertiga adalah keluarga yang sebenarnya. Aku cuma akan mengganggu kalian saja. Aku ingin mengembara dan berbuat baik. Mungkin dengan begini, dosa ibuku akan bisa terhapuskan.”
Perkataan itu diucapkan dengan begitu halus dan tulus. Raut wajah gadis itu tampak pasrah, rela, dan sama sekali tidak menunjukkan rasa marah maupun dendam. Bibirnya menyunggingkan senyum sedikit gemetar.
__ADS_1
“Ping-er....” Ouwyang Kuan sangat sedih mendengar kata-kata putrinya.
“Aku mohon Ayah bisa mengerti aku. Ibu dan Kakak Wan telah menjadi keluarga Ayah. Mereka akan merawat Ayah menggantikan aku. Ayah, relakan aku pergi,” mohon Ouwyang Ping.
Ouwyang Kuan menggeleng panik.
“Tidak bisa, Ping-er!” hardik Tuan Ouwyang Cu tajam. “Aku tak mengizinkan!”
“Kakek, aku tak pernah membantahmu. Sekali ini saja mohon maafkan aku.” Ouwyang Ping berlutut dan membenturkan keningnya.
Tuan Ouwyang Cu terperangah. Cucunya ini tak pernah berlutut padanya. Ia pun mengerti permohonan ini penting sekali artinya. Ia pun tak mengatakan apa-apa lagi.
“Ping-er....” Sui She mendekati gadis itu, namun Ouwyang Ping mundur.
“Selamat tinggal, Semuanya!” Ouwyang Ping berseru dengan suara parau. Dan sebelum semua sadar, ia berkelebat meninggalkan ruangan.
“Ping-er!”
Teriakan Ouwyang Kuan menyadarkan Chien Wan dari kebekuannya. Ia terkejut melihat kelebat bayangan keemasan menghilang di hadapannya. Dan ia tak mengucapkan sepatah kata pun! Maka tanpa mengatakan apa-apa, ia pun berkelebat pergi mengejar gadis itu.
“Chien Wan!” seru Sui She cemas, takut kalau-kalau putranya akan pergi juga.
***
“Ping-er!”
Chien Wan telah mengerahkan seluruh tenaganya mengejar Ouwyang Ping. Gadis itu telah meninggalkan wilayah Lembah Nada tanpa sanggup dicegah oleh Empat Tambur Perak. Chien Wan menemukannya tak jauh dari wilayah Lembah Nada, tengah duduk di bawah sebuah pohon, seolah-olah menunggunya.
Gadis itu mendengar panggilan Chien Wan. Inilah pertama kalinya mereka berduaan lagi setelah peristiwa menyedihkan beberapa hari yang lalu. Ia tidak menoleh ke arah Chien Wan.
Jari-jemari Ouwyang Ping yang lentik mulai memetik dawai harpa. Lagu yang dimainkannya begitu indah, namun juga begitu memilukan. Lagu itu adalah cerminan jiwa Ouwyang Ping yang tengah terluka dan begitu sakit.
Chien Wan terpaku mendengarnya. Kepedihan membayangi hatinya.
“Kakak Wan....” Terdengar suara lirih Ouwyang Ping. Ucapannya tidak terlalu jelas terdengar karena bercampur dengan dentingan harpa. “Masih ingat janji kita di kaki bukit Lembah Nada dulu? Kita akan selalu bersama. Masih ingat, bukan?”
__ADS_1
Chien Wan menelan ludah.
Ouwyang Ping tidak menunggu tanggapan Chien Wan. ia melanjutkan kata-katanya sambil tetap memetik dawai harpa. “Kita akan melanglang buana bersama, memainkan lagu kita. Kau dengan sulingmu... aku dengan harpaku.... Kita akan bahagia. Benar, kan?”
“Ping....”
“Tapi kini janji tinggal janji. Kita... tidak ditakdirkan untuk bersatu. Aku harus meninggalkan semua dan melupakan impian kita....” Suara gadis itu makin lama makin lirih.
Chien Wan tidak tahan lagi. “Ping-er, kita masih bisa bersama-sama....”
Ouwyang Ping tertawa aneh.
“.... sebagai kakak beradik,” lanjut Chien Wan sedih.
Gadis itu menghentikan petikan harpanya. Perlahan-lahan ia menengadah.
Chien Wan tertegun. Wajah gadis itu aneh. Pipinya basah dan berkilat. Matanya yang biasanya cerah berseri kini tampak memperlihatkan kehancuran hati yang parah. Wajah itu memunculkan guratan kepahitan yang tak ada sebelumnya. Bibirnya yang selalu menyunggingkan senyum kini bergetar menahan derita hati. Ia pucat pasi.
“Justru itu yang aku tidak bisa!” seru Ouwyang Ping. Air matanya mengalir kembali. Derita dan kepedihan yang ditahannya selama berhari-hari akhirnya meledak tak terkendali. “Setelah sekian lama aku menganggapmu sebagai kekasihku, setelah sekian lama aku mencintaimu dengan seluruh jiwa ragaku...! Tiba-tiba aku harus menganggapmu sebagai kakak! Aku tidak bisa! Aku tidak sanggup!” teriaknya dengan napas tersengal-sengal. Dan tangisnya meledak tersedu-sedu.
Hati Chien Wan hancur mendengarnya. Ia ingin memeluknya namun tubuhnya tak mampu digerakkan.
“Karena itulah....” Tangis Ouwyang Ping mereda dan ia mampu melanjutkan kata-katanya walau dengan suara parau. “Aku harus meninggalkanmu. Aku tidak bisa membiarkan hubungan kita yang suci menjadi hubungan yang terlarang....”
“Ping-er....”
“Mungkin waktu bisa menghapuskan perasaan cintaku kepadamu. Namun aku tahu, bahwa jika aku terus berada di dekatmu aku takkan bisa berhenti mencintaimu. Aku takkan pernah bisa melupakan hasratku untuk menjadi istrimu. Mungkin bila aku pergi, aku bisa melupakanmu. Dan kita bisa bertemu lagi. Bukan sebagai kekasih, namun sebagai saudara yang saling menyayangi dengan tulus....”
“Tapi, Ping-er....”
Ouwyang Ping berdiri. “Selamat tinggal, Kakak Wan. Jagalah Ayah, Ibu, dan Kakek baik-baik....” Wajah gadis itu basah dan tubuhnya gemetar.
“Ping-er!” Chien Wan hendak maju, hendak meraih gadis itu.
“Jaga dirimu baik-baik!” Ouwyang Ping melompat dan berkelebat pergi tanpa dapat dihentikan lagi.
__ADS_1
“Ping-eeeeerrr!!!”
Chien Wan menjatuhkan diri sambil memejamkan matanya. Air matanya mengalir menuruni pipinya yang pucat dan jatuh ke pangkuannya. Perasaannya hancur luluh. Gadis itu telah pergi meninggalkannya. Meninggalkan sejuta kenangan dan penderitaan yang tak mungkin dilupakannya.